
Setelah beberapa hari dari pernikahan Yurcel, Zinnia mulai mengerjakan aktivitas hariannya, berangkat jam 10 pagi dan pulang jam 8.00 malam.
Lelah, jangan ditanya lagi. Zinnia memang sibuk hingga melupakan urusan asmaranya. Pekerjaannya membuatnya sulit mendapatkan ijin libur. Saat pernikahan Yurcel saja Zinnia menukar dengan jatah cutinya.
Ketika kembali masuk Zinnia mendapatkan jadwal mengajar padat, menganti dua hari mengajar yang ditinggalkannya. Kesibukannya bekerja sampai melupakan waktu.
Tiba-tiba saja sudah memasuki malam minggu, Zinnia pulang dari kantornya, mengetahui hari itu malam minggu, tentu dari banyaknya pasangan muda-muda yang berkencan.
Kedua kakinya berjalan melewati gang yang remang-remang menuju kontrakanya. Saat sudah depan pintu kontrakannya. Dirinya dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang menunggunya.
"Ka-kamu kenapa ada disini!" Todong Zinnia gugup.
"Uh auntie cantik memangnya aku tidak boleh main kesini apa!" Ucap Hamizan memberengut.
"Ya, bukan begitu Hamizan! Tapi kamu ada perlu apa?" Ucap Zinnia sambil membuka kunci pintu.
"Mau nyicil hutang ayah!" ucap Hamizan menatap lekat wajah Zinnia.
"Oh," Jawab Zinnia.
Pintu kontrakan didorong, Zinnia merasa enggan mempersilahkan Hamizan masuk kontrakan. Hamizan sengaja dibiarkan mematung didepan pintu kontrakannya.
"Apa aku tidak boleh masuk auntie?" Tanya Hamizan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mendengar suara keponakannya, Zinnia menimbang lagi.
"Hamiz, ini sudah malam sebaiknya langsung saja ke intinya, aku juga sudah lelah sekali," Menolak lagi secara halus.
Hamizan memahami auntienya yang sangat agamis dimatanya, dia segera mengeluarkan amplop coklat dan menyodorkannya pada Zinnia.
"Aku menyicilnya satu juta per bulan ya auntie, soalnya gajiku gak banyak," Ucap Hamizan.
Zinnia langsung menerima amplop tersebut dan membukanya lalu menghitungnya, kepalanya memgangguk.
"Nanti kamu tidak perlu jauh-jauh kesini, transfer aja bayarnya," Ucap Zinnia.
Hamizan dalam hati sebenernya sengaja menyicilnya agar bisa menemui auntie cantiknya. Mendengar auntienya mengatakan seperti itu, dia memutar otak agar tetap bisa menemui auntienya setiap saat.
"Auntie, aku sekalian menjenguk auntie jadi aku kasih cash aja," Ucap Hamizan sambil cengegesan.
Zinnia memutar bola matanya, segera menyimpan amplop ditempat yang aman. Sementara Hamizan masih berdiri mematung diambang pintu.
Dalam hati, Zinnia senang Hamizan tidak memaksa masuk masih tetap berdiri disana.
"Kamu langsung pulang atau menginap dihotel? " Tanya Zinnia menatap Hamizan.
"Em, nginep dikontrakan auntie aja gimana?" Goda Hamizan sambil mengangkat satu alisnya.
"Jangan!" Tolak Zinnia menolak keras sambil bertolak pinggang.
"Iya aku bercanda Auntie!" Ucap Hamizan cengegesan yang sebenarnya ingin mengerjai auntienya.
"Ya sudah, auntie mau istirahat, makasih ya!" Usir Zinnia.
"Tunggu Auntie!" Cegah Hamizan saat Zinnia akan menutup pintu.
"Ada apa lagi?" Tanya Zinnia malas.
"Aku lapar auntie! bisa temani aku beli makanan sekitaran sini," Pinta Hamizan setengah memelas.
Melihatnya memelas, Zinnia tidak tegang langsung berbalik mengambil dompetnya dan kunci kontrakan.
"Ayo!"Ajak Zinnia mengunci kontrakan.
"Auntie serius! Ya sudah naik motor aku saja!"Ajak Hamizan kegirangan langsung menuju motornya.
Mereka pun berangkat, Hamizan sambil bersiul menikmati udara malam bersama auntie kesayangannya.
"Kamu mau makan apa Hamiz?" Tanya Zinnia sambil melihat-lihat jalanan yang menjajakan makanan.
"Em, sebentar auntie, aku berpikir dulu!" Ucap Hamizan sengaja mengulur waktu.
Hamizan mengendarai motornya mengelilingi alun-alun kota. Lalu berhenti di parkiran. Keduanya turun dan berjalan saling beriringan.
"Kamu jangan lama-lama, aku sudah mengantuk!" Keluh Zinnia.
"Iya Auntie," Jawab Hamizan tersenyum lebar kepada Auntienya.
Hamizan berjalan didepan sambil diikuti Zinnia yang sudah menguap beberapa kali, sampai akhirnya Hamizan berhenti di tukang jualan jagung rebus.
"Auntie kita makan ini saja, bagaimana?" seru Hamizan.
"Terserah, kamu yang mau makan," ucap Zinnia.
Hamizan pun membeli jagung dan kacang kedelai rebus. Zinnia terus mengikutinya dibelakang, lalu Hamizan memesan dua gelas susu jahe
Saat menunggu pesanan Hamizan, Zinnia menangkap seseorang sedang bersama wanita berjalan ke arahnya. Saat bertemu mata keduanya terlihat kaget.
"Bu Zizi ada disini!" Sapa Halil tersenyum.
"Sama siapa?" Tanyanya penasaran sambil mengandeng tangan isterinya menunjukan kepemilikannya pada Zinnia.
"Sama _" Ucapannya terpotong karena panggilan Hamizan.
"Auntie! Ayo kita makan!" Teriak Hamizan mengalihkan pandangan Zinnia.
"Iya!" Jawab Zinnia kembali menatap Halil yang penuh tanda tanya.
Pandangannya tidak suka melihat Zinnia ternyata bersama lelaki.
"Maaf Pak, saya kesana dulu," Ucap Zinnia pamitan langsung meninggalkan Halil dan bergabung dengan Hamizan.
Hamizan melihat kearah lelaki yang terus melihat Zinnia, dalam hatinya ada kecurigaan melihat lelaki itu menatap berbeda pada auntienya.
"Auntie dia siapa?" Tanya Hamizan selidik.
"Teman kantor," Jawab Zinnia singkat langsung menyantap jagung rebus.
"Bukan pacar?" Ucap Hamizan sambil melihat ekspresi auntienya yang tersedak.
"Dia sudah menikah, cepatlah makan!" Ucap Zinnia mengalihkan topik.
"Tapi dia sepertinya menyukai auntie," Ucap Hamizan sambil mengigit jagung rebus.
Telihat wajah Zinnia langsung memerah mendengar perkataan Hamizan, dan pura-pura tidak mendengarnya.
"Auntie menyukainya juga?" Tanya Hamizan masih terus penasaran.
"Sudah itu tidak penting, sebaikanya cepat habiskan makanannya!" Telak Zinnia.
Hamizan tersenyum tahu bahwa Zinnia dan lelaki itu sama-sama saling menyukai, dia beralih memakan kacang kedelai rebus, sambil menikmati suara pengamen jalanan.
" Auntie, pernah kencan?" tanya Hamizan.
"Uhuk!" Zinia langsung terbatuk.
"Auntie pelan-pelan," Cemas Hamizan langsung menyodorkan susu jahe merah.
Zinnia langsung menyeruputnya, malam ini Hamizan terlalu banyak bertanya sesuatu yang membuatnya jantungan.
"Kau tidak kerja?" Tanya Zinnia mengalihkan topik.
"Aku kerja Auntie, aku juga sudah menabung untuk menikah," Jawabnya sambil melihat hilir mudik muda mudi dijalanan.
Zinnia kini mengalihkan pandangannya ke arah pemuda disampingnya. Selalu tampan pemuda tersebut dilihat dari berbagai sisi.
"Memangnya kapan mau menikah? sudah punya calonnya?" Tanya Zinnia penasaran dalam hatinya agak kecewa jika keponakan tirinya memiliki tambatan hati.
Pertanyaan auntienya membuatnya tersenyum menunduk lalu beralih menatap lekat bola mata auntie kesayangannya.
"Sudah Auntie" Jawabnya sambil menatap lekat mata auntienya.
"Oh," Jawab Zinnia mengalihkan pandangannya menutupi kekecewaannya.
Namun disisi lain dia juga merasa kenapa dia harus kecewa, Hamizan ini keponakannya dan tidak mungkin akan menikah dengannya.
"Kalau auntie masih jomblo terus! aku bisa menjadikan auntie isteri keduaku!" Ucapnya sambil tersenyum.
Zinnia mendengar perkataan keponakan tengilnya, rasanya ingin menjitaknya. Meskipun jauh dilubuk hatinya terselip kebahagiaan.
"Jangan harap! aku tidak mau jadi isteri kedua!" Jawab Zinnia membuang mukanya yang sudah memerah.
"Kenapa auntie? bukannya bagus kalau auntie jadi isteri muda," Ucap Hamizan sambil cengegesan.
"Sudah Hamiz jangan ngawur!" Ucap Zinnia sambil cemberut.
Hamizan tergelak melihat auntienya cemberut, semakin senang mengerjainya. Hamizan mencodongkan tubuhnya ke dekat Zinnia.
"Auntie cantik sekali!" Godanya sambil mencolek hidung mancung Zinnia.
Seketika Zinnia pikirannya melayang jauh, perlakukan Hamizan cukup membuatnya ingin guling-guling diaspal saking senangnya. Tapi tidak mungkin dilakukannya nanti orang mengira dirimya orang gila.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....