
Zinnia beberapa kali melirik jam tangannya, ijin liburnya hanya dua hari itu artinya besok harus sudah masuk kerja lagi. Sedangkan sekarang dia masih dihajatan pernikahan adiknya. Orang tuanya malahan masih asyik berjoged dipanggung.
"Gak ikut joged?" seru seseroang tepat dekat telinganya.
Zinnia langsung menoleh dan nampaklah wajah pemuda itu begitu dekat. Senyuman terukir indah dibibirnya.
"Gak, " jawab Zinnia singkat malas berhadapan dengan keponakannya itu yang bisa membuat jantungnya copot.
"Gak bisa joget?" ucapnya sambil menaikkan alisnya.
"Iya," jawab Zinnia singkat.
"Aku ajarin auntie, ayo!" serunya hendak mengandeng tangan Zinnia namun segera ditepisnya.
" Gak mau, gak suka joget!" ucap Zinnia membuang wajahnya.
Ganteng sih tapi aneh kelakuannya, batin Zinnia mengerutu.
Tidak ada aura damai dari Zinnia membuat lelaki tersebut beringsut meninggalkannya. Zinnia menatap punggung bidang lelaki yang berstatus keponakan.
Jika bukan keponakannya, Zinnia tidak akan sejutek itu dengan pemuda tersebut. Sikapnya itu karena Zinnia takut terbawa suasana.
Saat lagu kembang gadung sudah selesai, kedua orang tuanya dengan sumringah turun dari panggung, Zinnia bersorak karena dia sudah tidak sabar ingin meninggalkan tempat ini.
"Mah, Zizi harus segera balik, soalnya besok ngajar lagi, " ucap Zizi pada mamah dan ayahnya yang berdiri tidak jauh.
"Masa acara belum selesai kita udah pulang, itu tidak sopan," kata Mamahnya membuat Zizi cemberut.
Tanpa disadar Zizi, Yurcel dan Lunaria sudah bergabung dengan mereka. Lunaria mengengam erat lengan Yurcel seolah takut ada yang merebutnya.
"Mah, ibu minta mamah sama ayah ke dalam," ucap Lunaria lembut membuat mamah dan ayah Zinnia tersenyum.
"Ya nanti kita kedalam, Ya udah Zizi kamu pulang duluan aja kalau begitu," kata Mamahnya.
"Loh kenapa kak Zizi?" ucap Lunaria membuat Zinnia ingin muntah dipanggil kakak oleh wanita yang jelas lebih tua darinya.
"Aku besok masuk kerja, kalau kesorean nanti gak nemu bis!"ucap Zinnia datar.
"Tunggu kak Zizi, biar Hamizan aja yang anter kaka kesana!" usul Lunaria ramah.
"Oh tidak usah merepotkan," tolak Zinnia.
" Tidak merepotkan kok, yang penting sekarang kakak ke dalam dulu nanti habis isya Hamizan antarkan kakak ke kontrakannya," pungkas Lunaria tidak menerima penolakan Zinnia.
"Sudah kak Zizi, sekali ini aja kok, sekalian kakak mengenal anak aku," ucap Yurcel sambil cengir.
Rasanya Zinnia ingin melemparkan kursi pelaminan ke wajah Yurcel, sok-sokan mengatakan dirinya sebagai ayah membuatnya gatel telinga. Ayah macam apa yang usianya lebih muda dari anaknya.
Zinnia dirayu oleh satu keluarganya memilih mengalah mengikuti keinginan keluarganya. Walau jauh dilubuk hatinya ada rasa bahagia juga bisa dekat dengan keponakan tampannya, tapi disisi lain dia takut semakin memuja keponakannya.
Setelah isya Zinnia dan keluarganya nampak pamitan dari rumah mempelai wanita yang kini sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Zinnia kembali ke rumahnya hanya mandi lalu mengambil tasnya serta membawa sedikit beras dan daging sisa hajatan ke dalam tasnya.
Kakinya melakah keluar, disana orang tuanya sedang berbincang dengan Hamizan yang mengenakan jaket kulit hitam dengan celana jean hitam, terlihat semakin tampan.
Sekilas pikiran halunya melintas, melihat Hamizan bersama orang tuanya seperti lelaki yang sedang ijin mengajak anak gadis kencan. Zinnia tersenyum dalam hatinya menertawakan pikirannya.
"Eh udah siap?" seru Hamizan melihat Zinnia sudah mengendong tasnya.
"Dari tadi," ucap Zinnia kembali dingin.
"Ya sudah bu kami pamit dulu," ucap Hamizan yang dibalas anggukan.
Hamizan dan Zinnia bergantian menyalami orang tuanya. Hamizan menyalakan mesin motornya dan memakai helm.
Zinnia mengenakan helm, lalu naik ke jok belakang motor, lalu memgucapkan salam dan melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya.
Sepanjang jalan tidak ada percakapan, hening tidak ada yang berinisiatif mengobrol, akhirnya Zinnia membuka suaranya.
"Kamu kuliah?" tanya Zinnia langsung ke intinya.
"Iya, baru beres S2, kenapa auntie? kalau aku gak kuliah auntie mau menyekolahkanku?" jawab Hamizan sambil cengegesan.
"Kagak, nanya aja!" ucap Zinnia menyesal menanyakannya.
"Oh, auntie punya pacar?" tanyanya cukup membuat semburat merah dipipi Zinnia.
"Gak," jawab Zinnia singkat menyembunyikan gemetar suaranya.
"Hmm... Baguslah, aku bebas mengoda auntie kalau begitu!" serunyap sambil tersenyum terlihat dari kaca spion.
Zinnia terdiam tidak menyahutinya lagi, sibuk melihat pemandangan.
"Auntie tidur?" tanya Hamizan.
"Enggak! kalau tidur sudah dipastikan membuat pulau di jaketmu!" jawab Zinnia disambut gelak tawa oleh Hamizan.
"Auntie galak dan lucu ya," ucap Hamizan.
"Terserah," jawab Zinnia.
"Auntie!" seru Hamizan.
"Em," jawab Zinnia.
"Auntie orang baik, harus dapat cowok yang bandel!" ucap Hamizan sambil terkekeh.
"Sembarangan ngomong! enggak maulah mau yang baik juga!" telak Zinnia sambil memukul punggung Hamizan.
"Em, seandainya aku lebih dulu bertemu auntie, aku pastikan auntie yang duduk dipelaminan hari ini!" ucapnya sambil fokus menatap jalanan.
"Auntie terpesona ya dengan ucapanku?" ucap Hamizan sambil mengulum senyumannya.
Sial ! dia mengodaku rupanya! batin Zinnia kesal.
"Hahaahah, Auntie kelihatan banget ngebet nikah, efek kelamaan jomblo ya auntie!" ledek Hamizan.
Kalau bukan diatas motor ingin sekali Zinnia menjambak rambutnya, seenaknya keponakannya berbicara.
"Auntie jangan tidur!" serunya karena tidak ada respon dari Zinnia.
"Gak tidur kok!" jawab Zinnia.
"Ya udah pegangan auntie aku mau ngebut!" ucap Hamizan.
Zinnia belum sempat berpegangan, Hamizan sudah menancap gas, Zinnia kelabakan mencari pegangan niat memengan pundak malah jatuh ke helamnya ditarik.
"Auntie jangan tarik helmku! peluk aja! " teriak Hamizan.
"Hah apa! " balas Zinnia yang kini berpindah tanganya mencari pegangan menjiwir jaket Hamizan.
Goloprak
Helm yang dikenakan oleh Zinnia kebesaran dan tidak ada pengait dilehernya terlepas bergelindingan di aspal.
"Hamizan!" pekik Zinnia.
Hamizan mendengar suara memekik dekat telinganya mengerem mendadak, membuat Zinnia terdorong kedepan bersentuhan dengan punggung Hamizan.
Semburat merah muncul dipipi Hamizan, namun tidak ada yang mengetahuinya.
"Hamizan! jangan ngerem mendadak!" tegur Zinnia kesal.
"Iya! singkirkan tubuh auntie aku merasa ada yang kenyal menyentuh punggungku!" ucap Hamizan.
Mendengar perkataan Hamizan seketika bulu kuduknya merinding, Zinnia langsung menjaga jarak dari punggung Hamizan.
"Ada apa sih Auntie! " ucapnya sambil menoleh ke belakang.
"Kau tidak lihat kepalaku kedinginan," ucap Zinnia.
"Auntie kemana helmnya!" pekik Hamizan terkejut sambil setengah ingin tertawa.
"Tuh" ucap Zinnia menunjuk ke tengah jalan yang tergeletak helm disana.
Hamizan memakirkan motornya, diikuti Zinnia yang turun dari motornya. Hamizan berjalan ke tengah jalan yang untungnya lagi sepi mengambil helm tersebut.
"Helm kok bisa lepas gini sih auntie," ucap Hamizan sambil mengulum senyuman.
"Entahlah, kamu terlalu ngebut," ucap Zinnia cemberut terlihat sangat mengemaskan dimata Hamizan.
"Owalah pantesan gak ada ininya!" ucap Hamizan memeriksa helm tersebut.
"Namanya juga pinjem punya tetangga," ucap Zinnia.
Hamizan pun langsung memasangkan helmnya dan mengikatnya agar tidak terlepas lagi. Mereka pun melanjutkan kembali perjalanannya.
Motor pun berhenti tepat depan kontrakan, Zinnia turun dari motor mengendong tasnya. Hamizan ikut turun mengekori Zinnia yang membuka pintu kontrakan. Zinnia berdiri depan pintu dan berbalik.
"Sudah sampai sini saja, terimakasih Hamizan, hati-hati dijalan," ucap Zinnia sambil mengukir senyuman.
Senyuman yang baru dilihat oleh Hamizan, pasalnya sejak diacara pernikahan, Zinnia tidak menampakan senyuman sama sekali.
Senyuman Zinnia ternyata sangat manis, bahkan lebih manis dari gula. Hamizan dibuat salah tingkah hanya melihat senyuman auntienya.
"Ya sudah, aku pamit auntie cantik," ucap Hamizan berbalik hendak pergi.
Namun, Hamizan menghentikan langkah kakinya berbalik, dan mengapai tangan Zinnia dan menciumnya. Terlihat senyuman dibibir Hamizan.
"Keponakan auntie lupa tidak cium tangan," ucapnya sambil cengir.
"Gak usah!" ucap Zinnia melotot.
"Ya sudah, aku pamit auntie assalamualaikum," ucapnya sambil mengerlingkan matanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zinnia pelan.
Matanya ikut melihat kepergian Hamizan dari pekarangan kontrakannya. Zinnia kembali menormalkan degup jantungnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...