I Love You, Nephew

I Love You, Nephew
Pembelaannya



Berita mengenai Zinnia menyebar cepat dikeluarga besar Zinnia. Yurcel yang mendengar kabar tersebut bercerita di meja makan dihadapan Hamizan. Mendengar hal tersebut saat sedang makan malam, Hamizan memutuskan berangkat menemui Zinnia. Dia tidak mau menjadi penyebab Zinnia dipecat. Dan kejadian itu juga termasuk salah paham.


Pagi itu Zinnia sudah mengepak semua barangnya yang ada dikontrakannya. Dia tidak menyadari seseorang tengah berdiri digawang pintu memperhatikannya.


" Assalamualaikum Aunty!" Suara Bass itu membuat jantung Zinnia berdebar.


Seketika Zinnia menoleh, senyuman merkah terukir dibibir Hamizan. Siapapun yang melihatnya akan meleleh.


" Apa yang sedang Aunty lakukan?" Kata Hamizan basa basi.


" Huh! Apa kamu tidak bisa lihat!" Kata Zinnia memberengut.


" Aunty! Mari kita luruskan masalah ini!"


" Tidak perlu! Sudahlah tidak apa-apa!"


" Aunty! Ini salah paham semua orang akan mengira aunty orang gak bener! Cepat ikut aku!" Bentak Hamizan.


Gila bocah ini bisa membentakku juga! Batin Zinnia yang tersentak.


" Apa!! Kamu berani membentakku!" Kata Zinnia melotot sambil bertolak pinggang kehadapan Hamizan.


Hamizan tergagap karena kini jaraknya sangat dekat dengan Zinnia. Bahkan deru nafas Zinnia saja bisa ia dengarkan.


" Iya! Kenapa aku tidak bisa membentak aunty!" Kata Hamizan dengan pura-pura marah menutupi kegugupannya.


" Ohya! Sana keluar!" Usir Zinnia sambil mendelik.


"OKEH!" Kata Hamizan dengan kesal.


Tapi tiba-tiba, Hamizan mengangkat tubuh Zinnia secara tiba-tiba, Hamizan dengan wajah datarnya dan Zinnia wajahnya langsung merona karena malu. Semua orang yang berada di daerah kontrakan Zinnia melonggo melihat Hamizan mengendong ala bridal style.


"Hamizan!" Bentak Zinnia.


" Apa! Mau minta turun! Jangan harap!" Kata Hamizan membuat Zinnia melonggo.


" HAMIZAAN! Aku malu!" Kata Zinnia mencubit otot tangan Hamizan yang besar.


" Bodo Amat! Gak peduli!" Kata Hamizan acuh dengan keadaan sekitar yang sudah mulai gaduh.


" Witwiwwwww! Pagi-pagi bro udah mesra-mesraaan!" Kata tukang ojeg yang dilewati oleh Hamizan yang berjalan tegas menuju kantor tempat bekerja Zinnia.


" Apa! Iri? Pengen juga digendong!" Ketus Hamizan yang masih emosi.


Tukang ojeg tersebut melonggo melihat sikap dingin Hamizan. Sepanjang jalan adegan tersebut mencuri perhatian. Zinnia bener-bener sudah mengerutu dalam hatinya, ingin sekali dia mencekik keponakannya itu.


Tidak lama kemudian, Zinnia merasakan kakinya berpijak diatas bumi. Dia bisa bernafas lega. Namun detik kemudian rasa malu menyergapnya. Pasalnya semua pegawai kantor sedang melihat Zinnia.


Mata Hamizan menatap tajam seperti elang sedang mencari mangsanya. Sampai akhirnya matanya jatuh ke seorang lelaki yang melipat tangan didadanya dengan menatap tidak senang ke arahnya.


" Hamiz mau kemana!"Teriak Zinnia hendak menghalangi Hamizan yang melangkah cepat menghampiri Halil.


Bugh


" Hamiz!!!" Pekik Zinnia saat melihat Hamizan meninju Halil sampai sempoyongan.


"Hamiz!!! Hentikan!" Zinnia memburu Hamizan tapi tangan Hamizan mengibas mendorong Zinnia menjauh darinya.


" Eh lo kan yang fitnah uwa gue!" Kata Hamizan dengan kasar sambil mencengkram kerah baju Halil.


" Apa-apaan ini main tuding seperti itu!" Bela Halil sambil memegang tangan Hamizan.


" Jangan pura-pura **** lo! Gue tau cowok model kayak lo! Murahan cara lo! Gue tau lo cemburu lihat gue sama Zizi!" Bentak Hamizan.


Mendengar itu Zinnia langsung merona dan melonggo, rasa malu yang besar jangan ditanya lagi. Tapi dua lelaki disana masih saling menatap tajam.


"Anda jangan sembarangan bicara!" Balas Halil sambil mendorong Hamizan.


" Hah! Dasar cowok pengecut!" Ledek Hamizan.


Bugh


Halil meninju pipi Hamizan, para wanita menjerit membuat satpam dan manajer kantor turun ke arah kerumunan dan suara riuh tersebut.


"ADA APA INI!" Suara tinggi itu cukup menghentikan adu jotos dua lelaki.


" Ada melakukan kesalahan pak! Lelaki ini kan yang menyebarkan fitnah mengenai Zinnia!" Kata Hamizan menatap tajam pada manajer sambil menyusut sudut bibirnya.


Manajer tersebut terdiam, dia meminta semua orang yang berada disana membubarkan diri. Zinnia menghampiri Hamizan.


" Kita bicarakan ini di ruangan saya!" Kata manajer tersebut.