I Love You, Nephew

I Love You, Nephew
Menganggur



Setelah kejadian tersebut berlalu, Zinnia sudah melamar pekerjaan kesana kemari tidak juga mendapatkan lowongan. Awalnya Zinnia masih bertahan dikota Bandung tempatnya dulu berkerja, tapi kebutuhan hidup semakin hari membuatnya terkuras uangnya. Zinnia pun memutuskan pulang ke rumah.


Sudah menjadi kebiasaan, Zinnia pulang ke rumah selalu disambut baik oleh orang tuanya. Ibunya menyiapkan hidangan terlezat untuknya. Mengenai dirinya yang menganggur sebulan lebih di kota, sudah barang tentu diketahui oleh orang tuanya.


" Tidak apa-apa Zizi! Sekarang kamu mungkin harus istirahat dulu!" Kata ibunya.


" Iya, pasti nanti juga ada rezeki yang lain!" nasihat ayahnya.


" Iya bu ayah, maaf Zizi jadi merepotkan lagi." Kata Zinnia.


" Zizi tidak apa-apa, kenapa harus minta maaf!" Kata ibunya.


" Zizi jadi tidak bisa memberikan uang bulanan lagi ke ibu!" Keluh Zinnia.


" Sudah ibu sama ayah juga masih ada uang kok buat hidup!" Kata Ibunya.


Zinnia pun terdiam, rasanya sebulan menganggur juga cukup membuatnya tidak tenang. Meskipun kedua orangtuanya tidak merasa keberatan dengan keadaan Zinnia yang dirumah saja tanpa pekerjaan.


Tapi Zinnia selalu merasa risih setiap bertemu tetangga atau temannya yang selalu menanyakan perihal pekerjaan. Rasanya dia ingin menanggis, dan ada rasa malu harus menjawab jujur. Seperti pagi itu juga tetangganya datang ke rumah hendak meminjam alat semprot tanaman hama.


Zinnia yang tengah duduk dipekarang rumah dikagetkan oleh tetangganya yang datang pagi-pagi menanyakan ayahnya.


" Zizi ada disini?"


" Iya Bi!"


" Loh lagi libur kerjanya?"


" Oh lagi gak kerja!"


" Gak kerja gimana?"


" Iya, sekarang Zizi dirumah aja Bi! belum nemu kerjaan baru!" Jelas Zizi sambil menahan malu dan sedih hatinya.


" Owalah jadi udah gak kerja di tempat itu ya?"


" Iya Bi!"


" Waduh! Mudah-mudahan cepet dapet kerjaan baru lagi ya!"


Meskipun tidak ada perkataan yang menyakitkan, dan wajar saja mereka bertanya perihal pekerjaan, tapi tetap saja Zizi merasa tidak nyaman membicarakan pekerjaan, rasanya sangat sensitif hatinya.


Segala cara Zizi coba, dimulai dengan membuka channel belajar online melalui youtube, tapi hasilnya tidak ada pemasukan, karena dia baru. Sesekali Zinnia mengurung diri dirumahnya untuk menghindari orang-orang bertanya mengenai pekerjaannya.


Zinnia hanya sibuk membuat makanan ringan dirumahnya, atau belajar bahasa asing untuk menghilangkan suntuknya. Saat Zinnia sedang membuat brownies, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Dirumah hanya ada dirinya saja, mau tidak mau Zinnia segera mengenakan jilbabnya lalu membukakan pintu. Terkejut bukan main, saat itu yang datang bertamu rupanya keponakannya.


" Eh, Hamiz!" Jawab Zinnia.


" Boleh masuk?"


" Hmm.. Ibu sama bapak lagi gak ada!"


" Oh jadi gak boleh masuk ya Aunty! Padahal ada hal yang mau aku obrolin ke Aunty!"


" Hmm.. Ya sudah!" Kata Zinnia membuka lebar daun pintu.


Hamizan pun duduk disalah satu sofa, Zinnia tidak lekas duduk. Dia berjalan menuju dapur mengambil beberapa makanana dan minuman untuk disuguhkan ke tamunya.


" Wah, aku berasa jadi tamu ya aunty!" Kata Hamizan.


"Hmm! Kalau suka makanlah!" Kata Zinnia sambil menyimpan makanan dan minuman dari nampan ke atas meja.


" Tentu saja aku menyukai yang aunty sediakan!" Kata Hamizan.


" Iya baguslah!"


" Aunty!"


" Iya!"


" Aunty terlihat stres, mau jalan-jalan?" Tanya Hamizan.


"Tidak usah Hamiz! Aku hanya ingin istirahat saja dirumah!"


" Mau sampai kapan Aunty! Hayolah main!"


" Kau saja!" Kata Zinnia dengan malas.


" Hayolah Aunty ikut denganku!"


" Aku sedang malas keluar Hamiz!"


" Temani aku aunty!" Kata Hamizan


" Iya.. iya kamu rewel!"


" Ya sudah sekarang aunty ganti bajunya dong!"


"Huh"


Zinnia dengan malas bangkit dari duduknya, semantara Hamizan terlihat senang melihat Auntynya menuruti keinginannya.