
Iya, kak Zinni, katanya gak restuin kita nikah ya kak? kenapa? apa karena saya janda kak?" tanya disebrang telpon membuat Zinnia mematung seketika.
Bocah semprul! polos amat sih! Kalo kayak gini mati kutulah! gerutu Zinnia dalam hati mengatai adiknya.
"Ekhem, begini tante Luna, adik saya Yurcel ini masih belum cukup dewasa dan baru saja cerai kemarin, saya khawatir kalau nikah lagi sekarang, ujung-ujungnya cerai lagi, jadi tak perlu buru-burulah!" jelas Zinnia sambil menatap serius wanita didalam video call tersebut.
"Kak kita sama-sama saling mencintai, dan kita juga punya itikad ingin menghalalkan hubungan kita, Cel juga ingin pernikahan sakinah mawadah warrohmah kak!" bela Yurcel di dalam video call terlihat kesal karena tak kunjung direstui.
Zinnia ingin sekali muntah mendengar pernyataan adiknya, selalu saja kalimat itu yang digunakan untuk merayu kakaknya agar diijinkan menikah lagi.
Basi! ucap Zinnia dalam hati.
"Jadi bisa kan kak Zin restui hubungan kita?" tanya wanita disebrang itu.
Manggil Zin, emang aku setan apah! kesal Zinnia dalam hati mengerutu.
Zinnia menghembuskan nafasnya panjang, sama sekali tidak ada niatan Zinnia memberikan peluang bagi Yurcel menikah melangkahinya lagi.
"Maaf sekali lagi tante Luna, keputusan penolakan ini bukan dari saya sepihak tapi orang tua kami juga menolaknya," jawab Zinnia membuat wanita didalam video call terlihat murung.
"Kak tolong dong, biarin aku nikahin tante Luna! pokoknya aku akan tetap nikahin tante Luna titik!" ucap Yurcel langsung mengakhiri panggilan video callnya.
Zinnia hanya mampu menghela nafas, Zinnia juga ikut kesal terpancing dengan sikap adiknya. Dia memutuskan tidur karena besok jam mengajarnya sangat padat, butuh stamina yang kuat.
-----------*****---------
Semenjak video call semalam Yurcel nampak marah sekali pada Zinnia. Tapi Zinnia membiarkan Yurcel mendiamkannya, Zinnia yakin Yurcel pasti akan baikan lagi.
Langkah kaki Zinnia terhenti saat melihat seorang lelaki yang sudah berada di kantor membawa bingkisan. Jantungnya berdebar, lelaki itu tersenyum.
"Datang tepat waktu bu Zizi," ucapnya sambil tersenyum.
"iya pak Halil," ucap Zinnia berusaha menutupi kegugupannya.
"Oh iya bu, ini saya bawakan beberapa makanan dari Jepang, tapi kayaknya belum pada datang ya," ucap Halil.
"Owalah pak Halil udah balik aja dari bulan madu di Jepang," seru Soka yang tiba-tiba muncul.
Halil nampak bersemu merah menanggapi perkataan Soka, sedangkan Zinnia mendengarnya saja sudah terasa tertusuk-tusuk hatinya. Tidak pernah ada yang tahu, selama ini Zinnia naksir kepada Halil.
"Ini bu silahkan dicoba!" ucap Halil sambil tersenyum mendekati Zinnia menyodorkan sewadah buah strawberry.
Zinnia tanpa melihat Halil mengambil satu buah strawberry, lalu Halil berjalan melewatinya dan menyodorkan pula ke Soka. Terasa manis buah strawberry tersebut dimulut Zinnia, membuatnya ketagihan menikmati buah itu.
"Enak sekali pak Halil buahnya!" pekik Sokkasihbt membuat Halil tersenyum.
"Itu diambil langsung dari kebun isteri," ucap Halil begitu bangga mengatakannya.
"Isterinya rajin berkebun, terima kasi enak sekali buahnya," ucap Zinnia mencoba bersikap biasa saja, padahal hati sedang remuk.
Zinnia nampak melemparkan senyuman, lalu fokus membuka laptopnya, tidak ingin banyak bercengkrama dengan Halil. Dirinya takut semakin berharap kepada lelaki yang kini statusnya sudah menjadi suami orang.
-----------*****----------
Dua hari sudah berlalu Yurcel adiknya tidak kunjung menelponnya, ada keresahan dihati Zinnia. Tapi Zinnia tidak berniat menghubunginya terlebih dahulu, sebaiknya membiarkan adiknya merenung dan meluapkan marahnya.
Selepas melewati hari yang penat dengan kepadatan jadwalmengajar dua hari berturut-turut, Zinnia menjadi lebih mudah mengantuk. Begitu sampai dikontrakannya, Zinnia langsung tepar diatas kasurnya.
Drrt drrt drrt
Alarmnya berbunyi, jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi, Zinnia melihat banyak sekali panggilan masuk. Zinnia memilih mengambil. wudhu untuk menunaikan shalat tahajud.
Sambil menunggu subuh, Zinnia mencoba menelpon kedua orang tuanya.yang panggilannya tidak diangkat. Panggilan tidak perlu lama menunggu, suara ibunya langsung terdengar disebrang telpon.
"Assalamualaikum, Zizi kamu kok baru nelpon sih!" ucap ibunya.
" Waalaikumsalam, maaf mah, semalem Zizi kecapean jadi langsung tidur," jawab Zinnia.
" Gini Zizi, ternyata ayahnya wanita itu datang ke rumah semalam!" ucap Ibunya berubah serius.
"Maksudnya mah?" tanya Zizi tidak paham.
"Ayahnya Luna itu dateng melamarkan anaknya, bahkan mereka sudah menentuka tanggal pernikahan," ucap Ibunya.
"Apah mah!" pekik Zinnia dipagi buta saking kagetnya.
"Mamah sama ayah sudah bicara baik-baik dengan ayahnya wanita itu, tapi mereka sudah menentukan pernikahan akan segera dilangsungkan hari jumat selepas jumatan nak," tutur ibunya.
Zinnia semakin terbakar emosinya dengan berita dadakan tersebut.
"Sekarang mamah sama ayah minta keridhoan kamu aja mengikhlaskan Yurcel nikah," ucap Ibunya lembut.
"Gak bisa dibilangin bocah itu!" kesal Zinnia.
"Udah Zi, sekarang ikhlasin ya dia melangkahi kamu lagi," ucap ibunya.
"Ya sudah mau bagaimana lagi!"ucap Zinnia pelan.
" Ekhem dan ada satu lagi Zi, Yurcel butuh modal buat nikah, bisa kamu kasih pinjam dia?" ucap Ibunya.
Dasar bocah tengik, kalo belum punya modal, ngapain buru-buru nikah! batin Zinnia emosi.
"Berapa mah?" ucap Zinnia malas.
"10 juta ada gak?" tanya ibunya.
"Iya ada, Zinnia transfer ya!" ucap Zinnia.
"Jangan! mamah gak ngerti ngambil uang di atm, langsung aja pulang ya bawa uang tunainya. Yurcel sekaranh juga sudah ada dirumah!" ucap ibunya.
"Dirumah ada Yurcel Mah, suruh saja dia yang ambil," ucap Zinnia masih ada nada kekesalan.
"Yurcel gak mau, pengen ketemu langsung aja katanya!" ucap Ibunya.
"Iya sudah aku pulang hari ini palingan agak sorean!"ucap ibunya.
"Jangan sore-sore, Yurcel belum beli mas kawinnya sama barang-barang seserahan!" ucap ibunya.
"Apah! hal sepenting itu juga belum siap, padahal dia mau nikah besok! dasar belum dewasa!" gerutu Zinnia tidak bisa lagi terbendung.
"Sudah-sudah, pokoknya sekarang juga pulang ya!" ucap ibunya.
"Iya, Mah" jawab Zinnia pelan.
Setelah mengucapkan salam, panggilan diakhiri. Zinnia masih mematung, rasanya dia baru tersambar petir dipagi hari.
Langkahnya gontai memasuki kamar mandi, membersihkan diri lalu memasukan beberapa pakaian ke dalam tas gendongnya.
Setelah selesai sholat subuh, Zinnia mengirim pesan kepada atasannya untuk membatalkan jadwal mengajarnya selama dua hari.
Zinnia mengunci kontrakannya lalu berjalan menuju stasiun menunggu bis pagi yang lewat. Sepanjang jalan lamunannya tertuju pada adiknya yang akan menikah. Sekitar 4 jam Zinnia baru sampai ke rumahnya.
Hatinya semakin sesak melihat rumahnya tampak orang lalu lalang bantu-bantu untuk acara pernikahan.
"Zinnia pulang toh!" seru seorang ibu yang sedang memasak yang langsung Zinnia salami.
" Iya bi, mamah sama Yurcel ada?" tanya Zinnia.
"Ada di kamar kayaknya Zizi," ucap bibinya.
Zinnia mengangguk, dengan sedikit berlari ke dalam rumahnya, Zinnia segera menerobos masuk ke kamar adik laki-lakinya.
bugh
bugh
Zinnia memukul adiknya yang hendak menyambutnya dengan tas gendongnya saking kesalnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...