
Zinnia nampak cemberut setelah puas menghujani adiknya dengan pukulan tasnya. Dia duduk disamping ranjang menahan kesal yang belum sepenuhnya tersalurkan.
"Kak, bukan aku yang minta, aku juga kaget," ucap Yurcel menunduk.
"Terserah kamu saja!" ucap Zinnia membuka tasnya dan menyodorkan amplop coklat.
Yurcel menerimanya sambil menatap wajah kakaknya, yang masih cemberut. Yurcel menghambur memeluk erat kakaknya.
"Maafin, Yurcel ya kak. Cel janji pernikahan sekarang Cel akan menjaganya dengan baik," serunya sambil memeluk kakaknya.
Zinnia yang masih kesal berubah karena adiknya memeluknya. Kekesalannya seketika menguap.
"Iya, nikah yang bener!" ucap Zinnia membalas pelukan adiknya sambil menepuk punggungnya.
Ibunya melihat Zinnia dan Yurcel nampak akur dibalik celah pintu kamar langsung tersenyum. Zinnia menguraikan pelukannya dan bangkit dari duduknya keluar kamar.
"Jangan lupa hutangnya setelah nikah nanti!" peringatan dari Zinnia saat depan pintu.
"Siap kakak!" kata Yurcel mengangkat tangannya menghormat pada Zinnia.
Zinnia mengukir senyuman tipis, lalu pergi menemui ibunya dan bersih-bersih badannya. Rumah kecilnya kini begitu sesak karen hilir mudik orang-orang menyiapkan makanan.
Malamnya rumahnya semakin ramai, ayahnya tengah berdiskusi dengan para tetua dikampung mengenai acara seserahan besok. Sedangkan para gadis sedang merangkai seserahan.
Zinnia melihat keluar sebentar menyapa beberapa orang disana, lalu kembali ke kamarnya dan istirahat.
Saat fajar menyingsing, semua orang sudah bersiap mengenakan pakaian terbaiknya mengiring pengantin, tidak terkecuali Zinnia mengenakan kebaya merah muda yang senada dengan ibunya, sedangkan Yurcel mengenakan kemeja polos dan celana hitam serta peci bertahta dikepalanya.
Zinnia menatap adiknya yang sudah dua kali menduda ini masih terlihat seperti bujangan, ketampanannya masih bisa memikat para gadis yang mengiring seserahan pengantin.
"Kak! aku sudah tampan bukan?" goda adiknya.
Zinnia mendengus kesal, menghampiri adiknya lalu merapihkan kerah kemeja putih yang belum terlipat.
"Aku berdoa kakak menemukan jodoh secepatnya!" bisik Yurcel diteliga Zinnia.
Zinnia memukul pelan pundak adiknya yang terkekeh. Seserahan pengantin ini dilakukan dengan jalan kaki karena jaraknya hanya antar desa yang tidak jauh.
30 menit kemudian rombongan pengantin pria sampai di kediaman mempelai wanita, rumahnya sudah dihias dan kursi pelaminan megah berada berhadapan dengan panggung pesta.
Zinnia menatap tidak percaya, pikirnya tidak akan semewah ini pernikahan duda dan janda itu. Nampak rangkaian acara dimulai. Seorang ustad kampung memberikan wejangan kepada calon pengantin mengenai bahtera rumah tangga.
Setelah itu penghulu datang dan mempelai wanita dan laki-laki bersiap mengucapkan ijab qobulnya. Zinnia berada dibelakang Yurcel. Disamping wanita calon isteri Yurcel terlihat seorang pria muda yang sesekali mencuri pandangan pada Zinnia.
Yurcel berjabat tangan dengan calon mertuanya mengucapkan ijab qobul dengan lantang, dan suara saksi mantap mengatakan 'sah'. Terlihat haru diantara kedua pengantin yang baru sah menikah.
Acara selanjutnya hiburan dangdutan. Zinnia memilih mengantri parasmanan, dia fokus mengambil beberapa makanan yang dihidangkan. Lalu Zinnia memilih duduk disatu kursi, namun tiba-tiba seorang lelaki ikut duduk disampingnya.
Zinnia menoleh sebentar melihat pemuda disampingnya.
Tampan juga! seru hatinya bersorak melihat keindahan sosok disampingnya.
Tiba-tiba pemuda tersebut menolehnya, tersenyum ramah membuat Zinnia semakin bersemu.
Wah manis sekali, andai dia jomblo aku akan mengajaknya menikah! pikir Zinnia liar.
"Aduh kelamaan jomblo kok jadi gini!" batin Zinnia.
"Hallo uwa!" sapa pemuda tersebut membuat Zinnia semakin membulatkan matanya.
"Uwa?" kata Zinnia tidak mengerti.
"Iya, Uwa cantik!" godanya sambil tersenyum.
"Tunggu! kamu anaknya..." ucapan Zinnia mengantung.
"Iya, aku anaknya ibu Luna," ucap pemuda tersebut sambil mengangguk.
Zinnia langsung bengong, runtuh sudah harapannya. Baru saja seperdetik tadi dia dibuat jatuh cinta tiba-tiba mendengar hal tersebut, rasanya ingin menenggelamkan wajahnya dilautan luas.
Bisa-bisanya aku mikir mau nikahin dia! dia ponakan aku! ucap Zinnia dalam hatinya mengurut dahinya.
"Uwa cantik! habis ini kita ambil foto!" serunya mengoda Zinnia.
"Uwa uwa!" kesal Zinnia membuang mukanya membuat lelaki yang berada disamping Zinnia terkekeh.
"Wah aku punya uwa galak sekali beda dengan wajahnya yang manis ya!" ucapnya masih menatap samping wajah Zinnia sambil tersenyum.
Zinnia merasa tidak nyaman diperhatikan oleh keponakan tirinya itu, ingin sekali dia berlari karena saat ini dia merasa gugup dan salah tingkah.
Pemuda tersebut nampak manggut-manggut dan fokus menyantap makanan dipiringnya. Sejujurnya lelaki itu sangat menawan sekali, hati Zinnia terasa meloncat-loncat.
"Aku Hamizan, jangan menatapku dengan memuja uwaku yang cantik" godanya.
Zinnia yang tertangkap basah langsung memalingkan wajahnya, Hamizan tersipu melihat sikap Zinnia yang terlihat salah tingkah.
"Jangan panggil aku uwa cantik! aku jijik!"ketus Zinnia.
Hamizan langsung terkekeh mendengar ucapan Zinnia.
"Lalu harus dipanggil apa?" tanyanya menoleh pada Zinnia sambil mengangkat satu alisnya.
Lagi-lagi Zinnia beradu mata dengan lelaki tersebut, semakin merah pipinya.
"Terserah! asal jangan uwa cantik!" ucap Zinnia kembali membuang mukanya.
"Baiklah, auntie!" ucapnya tersipu.
Zinnia tidak menyahutinya, rasanya tidak terlalu buruk dipanggil auntie, Zinnia fokus melahap makanan dipiring itu, ingin segera dia menghabiskannya, berlama-lama dengan keponakannya bisa gila.
Zinnia makan cepat sampai tersedak membuat, pemuda disampingnya menoleh.
"Auntie mau kemana sih! makan kok buru-buru!" ucapnya sambil mengerlingkan matanya lalu menepuk punggung Zinnia.
Zinnia menepis sentuhan keponakannya, dia langsung minum air di aqua gelas. Zinnia menghembuskan nafasnya, lalu berdiri melewati Hamizan.
Hamizan hanya menatapnya melihat Zinnia, entah ada sesuatu yang membuatnya begitu tertarik dengan auntienya. Senyuman terukir dibibirnya.
Saatnya sesi berfoto keluarga, Zinnia dengan malas naik ke atas panggung berdiri disamping Yurcel adiknya yang mengandeng isteri tuanya.
Tiba-tiba Hamizan ikut berdiri disamping Zinnia, saat Zinnia akan berpindah posisi, kamera sudah siap memotret.
Satu
Dua
Hamizan dengan jahilnya menarik ujung kerudung bagian belakang Zinnia, dan mengetuk pundak Zinnia dengan satu jarinya, sontak Zinnia menoleh ke arah Hamizan.
Cekrek
Kamera menangkap pose tersebut, Zinnia yang terkejut dan Hamizan tersenyum meraka saling berpandangan. Si fotoghraper tersenyum dengan hasil fotonya.
Zinnia langsung mencubit pinggang Hamizan karena kesal.
"Aw sakit!" seru Hamizan sambil memegang perut dan menangkap jari tangan Zinnia.
Semua orang melirik Hamizan, menatap khawatir namun Hamizan langsung tersenyum.
"Aku hanya sakit perut Mah," kata Hamizan sebelum ibunya bertanya.
"Oh, dikirain kenapa! ya udah sana ke toilet!" kata Lunaria.
"Iya, mah!" ucapnya tersenyum, semua kembali bersiap berfoto.
Hamizan meremas jari Zinnia yang disembunyikan di balik lengan kekarnya, Zinnia sangat ingin berteriak dengan tingkah keponakan nakalnya itu.
Hamizan melepaskan tangan Zinnia, lalu berbisik manja ditelinganya.
"Auntie mau ikut?" bisiknya langsung membuat Zinnia merah padam.
Sebelum Zinnia kembali mencubitnya, Hamizan lebih dulu menghindar turun dari panggung sambil tersenyum. Sementara Zinnia sudah mengepal karena keponakannya menjahilinya terus.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...