
Pagi itu Zinnia sudah bersiap berangkat ke kantornya. Dia memakai pakaian gamisnya dan memoleskan sedikit pewarna bibir. Kakinya melangkah riang memasuki kantor. Dia berjalan memasuki ruang pengajar.
Tiba-tiba manajernya menghampiri Zinnia yang sedang membuka laptopnya. Zinnia tersenyum dan menyapa manajernya yang dibalas anggukan.
" Bu Zizi bisa ikut ke ruangan saya sebentar?"
"Tentu pak!"
"Kalau begitu saya tunggu diruangan saya!"
Zinnia mengangguk dan manajernya sudah melangkah menuju ruangannya, Zinnia sendiri langsung merapihkan kembali laptopnya. Soka yang melihatnya berkerut dahi.
"Tumbenan Manajer memanggilmu?" Kata Soka keheranan.
"Aku juga tidak tahu, aku kesana dulu ya!" Kata Zinnia sambil melambaikan tangannya.
"Iya semoga itu menyangkut hal baik Zizi!" Kata Soka sambil menghela nafasnya.
Zinnia tersenyum dan mengangguk, kakinya melangkah menuju ruangan manajernya. Zinnia mendorong pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu. Lalu dia mengucapkan salam dan memasuki ruangan tersebut.
"Silahkan duduk bu Zizi!"
"Terima kasih pak!"
Zinnia beringsut duduk dihadapan manajernya yang membolak balikan berkas. Beberapa saat dia harus mengurus kerjaannya. Zinnia dibuat menunggu. Setelah itu manajernay membuka kacamatanya dan memujat pelipisnya.
"Bu Zizi ada laporan ke saya masuk! Kamu berpacaran dialun-alun malam minggu kemarin!"
Kaget bukan main Zinnia tersentak mendengar perkataan tersebut, bisa-bisanya ada yang melaporkan kalau dia berkencan. Sepertinya ada yang salah paham.
"Ma-maf pak sepertinya ini salah paham! Saya tidak berpacaran!" Kata Zinnia.
"Ya awalnya saya juga tidak percaya omongan tersebut, tapi mau bagaimana lagi ya Zinnia." Telihat Managernya membuang nafanya berat
"Tapi sungguh pak saya tidak berpacaran, yang kemarin itu saya dengan keponakan pak!" Kata Zinnia mencoba menjelaskan.
"Hmm.. Bu Zizi tahu kan peraturan disini, pengajar tidak boleh berpacaran. Jika ketahuan dia berpacarah kami terpaksa memutus kontrak kerjanya!" Kata Managernya menatap lurus pada Zinnia.
"Ta-tapi pak ini benaran kesalahpahaman, saya tidak bisa menerimanya"
"Mau bagaimana lagi bu Zizi, beberapa orang meilhatnya! Para siswa juga membicarakan hal ini!"
Seketika itu Zinnia tertunduk lesu. Percuma dia menjelaskan pun ternyata tidak ada yang mau mendengarnya, entah siapa yang menyebarkan rumor tersebut dan sampai melaporkannya tanpa berbicara dulu pada Zinnia.
"Zinnia apapun itu, tetap saja sulit orang mempercayai kalau dia hanya keponakan kamu saja!"
"Memang dia hanya keponakan saya Pak"
"Bu Zizi silahkan jelaskan foto-foto ini!"
Secarik foto disodorkan diatas meja ada sekitar tiga foto. Zinnia menatap terkejut dengan foto tersebut. Manajernya melipat tangan dimeja.
"Saya tidak mungkin memanggil bu Zizi kalau hanya laporan tanpa bukti!"
"Ini hanya salah paham pak! Saya memang pergi malam minggu dengan keponakan saya!" Kata Zinnia sambil mengigit bibir bawahnya menahan suaranya agar tidak menanggis.
"Bagaimana ya bu, laporan ini juga sudah tembus ke pusat! Dan kami sudah merapatkannya secara seksama! Sekarang saya minta keridhoan ibu untuk mengundurkan diri." Kata Manajernya.
Zinnia menunduk menatap kosong ke lantai, dia tidak kuasa membendung rasa sesak dihatinya. Dia mengengam kedua tangannya dengan erat, menahan diri untuk tidak menanggis.
"Setidakmya beri saya penangguhan, agar hal ini bisa diluruskan!"
"Bagaimana ya masalah ini sudah menjadi konsumsi siswa siswi disini, saya juga tidak tahu kenapa bisa menyebar, kalau belum menyebar saya bisa mempertahankan ibu. Tapi mulai bermunculan komplen dari orang tua siswa juga."
Lagi-lagi hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Zinnia memgangkat wajahnya sedikit menatap ke manajernya.
"Kalau begitu saya ingin tahu yang melaporkan mengenai ini! Karena ini sama dengan pencemaran nama baik pak!"
"Yang melaporkan meminta untuk dirahasiakan bu!"
"Tapi dia sudah memfitnah saya pak!"
"Hmm.. Mohon maaf bu itu sudah perjanjian, yang melaporkan meminta dirahasiakan."
"Setidaknya dia tabayun dulu dengan saya pak, bukan main lapor seperti ini!"
"Saya menunggu surat pengunduran diri secepatnya bu! Pihak pusat sudah menunggunya dan pengganti ibu juga sudah datang besok! Jadi mulai besok ibu tidak perlu mengajar lagi."
Kata-kata itu cukup menusuk hatinya, kinu kakinya terasa semakin lemas untuk sekedar menopang tubuhnya. Zinnia sudah berusaha menjelaskan pun tidak bisa merubah keputusan dari lembaganya.
Saat ini hanya Allah swt. yang lebih memahami luka dibatinya. Zinnia mengadu dalam sujudnya meminta ketenangan hati menerima keputusan tersebut.
"Wajburni ya zabbar!" Terus terusan kalimat itu dilantunkan dalam doanya.
Tiada yang memahami kecuali Allah swt, Zinnia menyendiri di mushola menghabiskan waktu mengadu pada sang Kholik. Zinnia percaya akan ada keajaiban yang direncanakan untuknya.
Setelah ashar Zinnia masih menyempatkan mengajar untuk terakhir kalinya dengan raut wajah tidak seperti biasanya. Setelah jam 8.00 malam. Zinnia keluar dari kelas disambut pelukan oleh Soka yang menanggis memeluknya.
Zinnia yang masih syok dengan keputusan dikelaurkan ditambah sikap Soka yang entah darimana dia mengetahui kalau Zinnia dikeluarkan, membuatnya kembali berurai air mata.
"Zizi sabar!" Ucapnya sambil terisak memeluk Zinnia.
Zinnia kembali menanggis diruang pengajar yang masih terdapat beberapa orang disana. Ada yang memang belum mengetahui perihal tersebut memilih mengacuhkannya. Dan beberapa orang yang sudah mendegar isu mereka menatap iba pada Zinnia.
"Zi aku nginep dikontrakan kamu ya!" Kata Soka sambil menguraikan pelukannya.
Hanya anggukan dari Zinnia, dia sibuk menghapus air matanya. Tidak banyak bicara Zinnia hanya berjalan beriringan dengan Soka melewati gang-gang sempit menuju kontrakannya.
Ditempat lain
Seorang lelaki tengah menatap layar ponselnya sambil tersenyum mandangi foto pernikahan ibunya. Dia bukan senang melihat foto pengantin tapi dia fokus ke foto wanita yang berdiri disebelah dirinya.
"Shit! Kenapa jadi mikirin Zizi sih!" Gumamnya sambil mengacak rambutnya.
tok tok tok
"Hamiz makan dulu!"
" Iya mah!"
Hamizan langsung bangkit sambil melemparkan ponselnya diatas kasur. Dia berjalan menuju ruang makan, disana ayah mudanya sudah duduk menanti. Siapa lagi kalau bukan Yurcel adiknya Zinnia. Ia segera mendaratkan pantatnya dikursi, dan menyedokkan makanan.
"Hamiz!" Sapa Yurcel yang masih cangung dengan anak tirinya.
"Iya?"
"Soal pinjaman ayah ke kak Zinnia, ayah belum bisa ganti sekarang-sekarang, "
"Ih mas kayak bukan ke anak sendiri aja main utang-utangan, udah gak usah diganti mas!" Kata ibunya Hamizan yang sekarang berstatus sebagai isterinya Yurcel.
"Iya tidak usah diganti, tidak apa-apa!" Kata Hamizan sambil menyuapkan makanannya.
"Gimana ya kabar kak Zizi sekarang? Aku jarang nelpon dia!" Kata Yurcel.
"Ya udah telpon mas," Kata isterinya Yurcel.
Setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya, Luna langsung duduk dipangkuan Yurcel. Sontak Hamizan yang berada didepannya langsung tersedak melihat pemandangan tersebut.
"Yang, malu sama Hamiz!"
" Udah biasa dia!" Jawab Luna sambil terkekeh.
"Aku makan di kamar aja! Ada kerjaan belum. beres!" Kata Hamiz sambil mengambil piring dan gelasnya.
"Alesan, tapi baguslah anak mamih ini" Kata Luna sambil tergelak.
Sementara Hamiz langsung bergegas meninggalkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Pikirannya terkadang kesal kenapa ibunya bertingkah selayaknya anak ABG yang lagi jatuh cinta bermesraan tidak tahu tempat,.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...