I Love U, My Parent'S

I Love U, My Parent'S
keceriaan



Sinar mentari mulai menampakkan diri disebelah timur belahan bumi waktu indonesia setempat(wkwkwwk lebay amat sich nich author). Andini mulai bersiap-siap akan brangkat sekolah. Ini adalah tahun 2015 saat Andini masih berusia 7 tahun.


"Mak,aku mangkat sekolah disik yo?!" (Bu,saya brangkat sekolah dulu ya) ,pamit Andini.


"Iyo nduk,,ati2 yo.. Mengko nek mlaku minggir yo,ojo neng tengah dalan" ( Iya nak,hati2 ya.. Nanti jalannya minggir ya,jangan ditengah jalan) pesan ibu Andini kepada anaknya.


Setelah berpamitan,Andini lalu brangkat bersama teman2nya yang akan pergi kesekolah. Sebab memang jarak sekolah dari rumah tidak terlalu jauh. Jadi,mereka memilih untuk berjalan kaki ramai2. Teman Andini sedesa ada 3 anak,mereka berempat bersama Andini. Mereka bernama Dio ,Laras , Adi, dan Andini sendiri.


"Heh, kowe2 mau disanguni duit piro?(Heh,tadi kalian dikasih uang jajan berapa?)" tanya Adi memulai percakapan dalam perjalanan.


"Aku dikei makku rong ewu ki!(Aku tadi dikasih ibuku dua ribu nich!) jawab Andini.


Andini memang gadis yang selalu ceria dan mudah bergaul,berbeda dengan Laras sahabatnya itu anaknya agak pemalu. Mereka semua mayoritas didesa itu seorang petani. Tapi sayang,kedua orang tua Andini tidak memiliki lahan untuk bertani. Jadi,mereka menggantungkan hidup mereka dengan bekerja sebagai buruh ditempat orang2 yang mempunyai lahan luas.


"Kok podo karo aku! (kok sama kayak aku)" cakap Dio.


"Aku yo podo!( Aku juga sama!) cakap Adi.


"Kowe piro Ras?(Kamu berapa Ras?)" tanya Andini kepada Laras yang sedari tadi hanya diam saja.


Walaupun Andini pling miskin diantara ketiga temannya,tapi tidak sedikitpun dia merasa malu atau berkecil hati dengan keadaan keluarganya. Dia adalah gadis yang selalu ceria.


"Podo,,aku yo rong ewu!(Sama,,saya juga dua ribu!)" jawab Laras.


Setelah melewati jalan setapak dan beberapa sawah penduduk,akhirnya mereka sampai disekolah. Ya,mereka melewati jalan pintas agar cepat sampai disekolah.


Tak terasa perjalanan mereka akhirnya sampailah mereka disekolah pertama mereka. SDN Harapan Jaya.


"Akhire wes teko yo!(Akhirnya udah sampai ya!)" kata Adi. Memang Adi yang paling mudah bergaul diantara keempat anak itu.


"Iyo,awakke dewe kudu mlaku koyok ngene sampek 6tahun lo,bayangno!(Iya,kita harus jalan kayak gini sampek 6 tahun loch,bayangkan!) "tutur Dio.


"Alhamdulillah Yo disyukuri ae, seenggk e awak e dewe isih biso sekolah, bayangno bocah2 sing ra iso sekolah ngunu kae!(Alhamdulillah Yo,setidaknya kita masih bisa bersekolah,bayangkan anak2 yang gak bisa sekolah itu!)" kata Andini dengan bijak.


"Iyo ki Dio ra iso bersyukur!(Iya nich Dio gk bisa bersyukur!)" kata Adi.


"Yowes2 ayo lhang mlebu kelas,mengko ndak selak mlebu!(Udah2 ayo cepet masuk kekelas,nanti keburu bel masuk lagi!)" tutur Laras.


Akhirnya mereka tiba dikelas mereka. Disana sudh ada beberapa siswa -siswi dari dusun sebelah yang memang sekolahnya menjadi satu. Mereka berkenalan satu sama lain dengan akrab karna sebelumnya mereka adalah dusun tetangga yang masih merupakan satu desa. Dan mereka juga sering main bersama. Hanya ada satu anak yang agak sombong diantara mereka. Gadis itu bernama Tasya. Dia adalah anak dari bapak kades didesa itu. Dia sebenarnya baik,cuma kurang kasih sayang orang tuanya. Yang merawat keperluan mereka sehari2 adalah pembantu keluarga mereka.


"Hy cewek, oleh kenalan pora?(Hy cewek,boleh kenalan gak?)" tanya Adi pada Tasya. yang langsung diteriaki temen2 sekelasnya. Hhuuuuuuuu......wkwkwkwk


"Eh ,kowe ngerti ora kui sopo?(Eh,kamu tahu gak dia itu siapa?)" tanya salah satu temen sekelas mereka kepada Adi.


"Yo ngertilah,,,lha wong kui anakke pak kades kok!(Ya tahu lah,,,itu kan anaknya pak kepala desa kita!)" jawab Adi kepada temannya itu.