
Ini adalah awal cerita dari seorang gadis bernama "Andini Putria" . Gadis ceria dan cerdas yg tumbuh dengan kasih sayang melimpah dari kedua orang tuanya. Orang tuanya bernama bapak "Sukardi" dan ibu "Asmina". Keluarga ini tergolong sebagai keluarga menengah kebawah. Awalnya kehidupan gadis ini sangat patuh dan menyayangi kedua orang tuanya. Namun beberapa tahun kemudian, karna kehidupan disekolah yang dijalani gadis ini, semakin lama semakin membantah kedua orang tuanya. Sampai pada akhirnya gadis ini rela meninggalkan kedua orang tuanya demi lelaki yang dicintainya.π
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π₯π₯π₯_ _ _
Saat subuh berkumandang,keluarga kecil ini sudah terbangun dari mimpinya. Ibu dan ayah Andini memang sudah biasa bangun pagi seperti ini. Sebelum memulai aktivitasnya, mereka melakukan sholat subuh bersama2.
"Nduk ayo tangi wes subuh..( Nak ayo bangun udah subuh..)" kata ibu Andini membangunkan anak semata wayangnya sambil mngguncang-guncang tubuhnya.
"Ehmmm..nggih mak..(Ehmmm..iya bu..)" jawab Andini sambil menggeliat.,tapi langsung bangun karna memang sudah terbiasa bangun pagi semenjak kecil.
Andini lalu bergegas ke kamar mandi didapurnya. Berwudhu lalu sholat berjamaah dengan ibunya. Sebab ayahnya pergi ke masjid.
Tidak lupa mereka berdoa setelah shalat agar selalu diberi kemudahan dan kecukupan walaupun sebenarnya kehidupannya jauh dari kata cukup.
Ibu Andini selalu berpesan untuk ank semata wayangnya agar jangan sampai melupakan Penciptanya. Sesulit apapun keadaan kita,selagi kita masih bisa besujud,bersujudlah. Selagi kita masih bisa memohon,memohonlah.π(maaf yach,,,author bukan sok bijak,,tapi cuma mau mengingatkan aja bagi qt yang kurang bersyukur atas nikmatNYAπ,smoga qt termasuk golongan yang selalu bersyukur kepadanyaππ)
Setelah shalat,Andini kembali tidur. Ibunya menuju dapur untuk memasak. Ya,mereka memasak hanya satu kali saat pagi. Dan sore hari tinggal menghangatkan saja. Walaupun jaman sudah modern. Tapi karna keterbatasan ekonomi ibu Andini masih menggunakan tungku seadanya. Bukan kompor gas. ( duh,kasihan kan gaezz... hari gini masih pake tungku.. makanya kita yang diberikan kelebihan jangan lupa bersyukur, bersyukur dan bersyukur, karna dibawah kita masih ada yang lebih membutuhkan).π π
Setelah selesei memasak,ibu Andini membangunkan Andini untuk sarapan bersama dengan ibu dan ayahnya sebelum brangkat untuk glidik.(bekerja).π
Mereka makan bersama2 dengan penuh hikmat. Menu hari ini adalah oseng kangkung yang kemarin metik disawah sama tempe goreng beli tetangga yang jualan tempe.π (yach...walaupun dicrita ini aku bikin kluarganya miskin,tapi aku juga gak twga kalo misalkan makannya cuma ama garam nasi, crita ini ak buat real aja sesuai kenyataan sekarang. karna aku memang pernah lihat keadaan orang sperti ini. jadi,walaupun hidupnya serba berkekurangan,tapi selalu masih bisa bersyukur dan bersyukur..)
"Din, mak karo pak e mangkat neng sawah disik ya,kowe ati2 neng omah!( Din,ibu sama ayah berangkat kesawah dulu ya,kamu hati2 dirumah!)" pamit emak saat akan brangkat kesawah bekerja sebagai buruh selesei mereka sarapan.
Walaupun tergolong keluarga ekonomi rendah,tapi keluarga Andini selalu menyempatkan sarapan pagi bersama. Mereka sarapan bukan dimeja makan mewah lo π,tetapi di dalam dapur mereka. Mereka duduk disebuah kursi kayu yang sudah agak lapuk.
Yach..πwalaupun seperti itu, tetapi Andini selalu bersyukur diberikan kedua orang tua yang sangat menyayanginya..
"Iyo nduk,tapi ati2 yo.. ojo lali mangan nek mak e urung mulih..( Iya nak,hati2 ya.. jangan lupa makan kalo ibu belum pulang..) pesan ibu kepada Andini.
Sebagian besar mayoritas didesa "Suka Jaya" adalah bertani padi disawah. Tapi ,keluarga Andini tidak mempunyai lahan sendiri. Jadi,kedua orang tuanya hanya mnggntunggan hidup menjadi buruh tetangga setempat.
"Ah, mak e karo pak e wes mangkat,aku tak dolan nomahe Laras sek. ( Ah ibu sama ayah udah berangkat,aku mau main dulu lah kerumah Laras.)" gumam Andini.
Laras adalah tetangga sekaligus sahabat Andini dari kecil. Keluarga Laras tergolong keluarga agak mampu. Sebab mereka memiliki sawah sendiri. Tapi ya tidak terlalu banyak. Hanya cukup begitu aja.
Setelah jalan beberapa langkah,karena memang rumahnya berdekatan. Hanya berjarak kurang lebih 100 meter karena terhalang kebun dan pekarangan rumah. Akhirnya Andini sampai kerumah Laras.
"Ras,ayo dolan neng lapangan yok?(Ras,ayo main kelapangan yuk?)" kata Andini kepada Laras yang memang sedari tadi Laras sedang brmain dengan adiknya didepan rumahnya.
"Sek yo,ak tak kondho mak ku.(Sebentar ya ak tak bilang ibuku.) jawab Laras yang memang berada diluar rumah,smbil bergegas masuk rumah mencari ibunya untuk berpamitan pergi bermain. Walaupun Laras anak dari keluarga agak mampu,tapi panggilannya tetap sama yaitu "emak". karna mayoritas orang desa sini memang begitu panggilannya,emak sama bapak.π
"Mak, aku arep neng lapangan yo karo Dini.( Bu,saya mau kelapangan ya ama Dini.)" pamit Laras kepada ibunya,sambil membawa adiknya masuk kedalam rumah.
"Yo nduk,ati2.. mengko nek awan wayahe mangan mulih yo..(Ya nak,hati2.. nanti kalo siang waktunya makan pulang ya..)" jawab ibu Laras.
"Nggih mak...(Ya mak...)" jawab Laras sambil berlalu kedepan lagi menghampiri Andini yang menunggu didepan rumah.
Ibu Laras bernama Sari. Bapak Laras bernama pak Budi. Ibu Laras adalah seorang IRT,sedangkan pak Budi adalah seorang ketua rt didusun tersebut. Kadang setiap pagi pak Budi brangkat kesawah mngelola lahannya bersama orang2 yang dipekerjakannya. Salah satunya orang tua Andini. Laras mempunyai seorang adik bernama Dino yang saat ini masih berusia 1tahun.
Akhirnya stelah perjalanan kurang lebih 50meter dari rumah Laras mereka sampai dilapangan.