
Tezza Company sebuah perusahaan yang sangat berpengaruh dan sudah terkenal di seluruh penjuru negeri. Tezza pendiri perusahaan tersebut dulunya terbilang cukup kaya saja, dengan nekat mendirikan perusahaan hanya dengan modal kepercayaan diri. Entah itu takdir atau keberuntungan, setelah istrinya tercinta melahirkan seorang putra yang tampan, tiba-tiba saja perusahaan mereka menjadi terkenal dan terus berkembang hingga saat ini. Iya, anak itu tidak lain adalah Arthur Altezza.
Setelah ia lahir, Alena, ibunya Arthur di nyatakan tak bisa memiliki anak lagi karena rahimnya terlalu lemah. Dokter mengatakan itu sebuah keberuntungan bisa memiliki Arthur dengan kondisi rahim yang tak sempurna, bahkan Arthur pun lahir dengan sehat tanpa cacat sedikit pun. Maka dari itu semua aset warisan di atas namakan Arthur seorang, Iya dia adalah anak tunggal kaya raya. Orangtua yang sangat menyayanginya, terlahir dari sendok perak, apa yang tidak bisa ia di dunia ini.
"Hah... aku menikah dengan orang itu? Siapa yang tidak mengenal dia, hah!! Bahkan sejarah itu bisa di masukkan di dalam museum, jika mereka menginginkannya. Lalu mengapa hanya dengan kabar dia seorang gay membuat perusahaannya hancur?"
"Ini dunia yang sudah di jaman berbeda, mengapa kalian peduli sekali jika dia menyukai laki-laki? Tapi memang benar, pria tampan menyukai pria tampan, hehehe."
Celoteh Yuki sendiri, dengan mengacak-acak rambutnya dan senyum-senyum sendiri. Beberapa saat kemudian, Dion, menjemput Yuki untuk melakukan persiapan konferensi pres, setelah selesai mereka melakukan pengukuran baju pernikahan.
"Cantiknya," gumam Yuki, menatap sebuah berwarna putih-ungu, di kelilingi dengan kupu-kupu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Arthur.
"Hah? Ah... iya mereka terlihat cantik, bukan?" sahut Yuki, terus tersenyum memandangi gaun tersebut.
"Tentu saja, Nona, itu adalah gaun yang baru selesai saya buat tadi subuh. Setelah mendengar, Tn. Arthur datang ke butik saya, tiba-tiba inspirasi meledakan otak saya," ucap Amude.
Amude, adalah seorang desainer terkenal, ia tidak pernah menerima pesanan, ia hanya membuat pakaian saat inspirasi mengalir dalam otaknya saja. Tetapi, pakaian yang ia buat tak pernah tidak terjual, bahkan harganya satu pakaian ia buat bisa membeli sebuah tanah berhektar-hektar.
"Amude, ganti temanya dengan pakaian yang ia inginkan. Kau bisa meminta biaya kepada, Dion. Jangan lupa aku tak ingin ada kesalahan di hari pernikahanku, pastikan berjalan lancar!!" seru Arthur.
"Baik, Tn, Arthur," sahut Amude dengan sigap.
Setelah Arthur selesai berbincang-bincang dengan Amude, mereka pun langsung pulang. Tentu saja, Arthur tak ikut pulang, Yuki tak pernah melihat Arthur ada mansion itu. Tak terasa hari pernikahan mereka pun tiba. Yuki sudah di bangunin subuh sekali untuk melakukan persiapan.
Mereka mengadakan acara pernikahan di sebuh gedung pribadi milik Arthur, Yuki masih menunggu di ruang tunggu hingga pelayan memanggilnya.
"Ini hanya pernikahan kontrak, tetapi aku sangat gugup," gumam Yuki terus mengusap kedua tangannya.
"Dion, apa kau ada di luar?" panggil Yuki.
"Nyonya, Tn. Dion tidak ada. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya seorang pria yang belum pernah Yuki liat.
"Siapa kamu?" tanya Yuki dengan menggetar.
"Ahh, Nyonya jangan takut. Saya anak buah Tn. Arthur. Panggil saja saya Lou," sahut Lou dengan hati-hati.
"Jika, Nyonya, tak percaya saya. Maka lihat mereka, Anda mengenal mereka, bukan?" Lou membuka pintu, di depan pintu berjejer pria kekar yang Yuki temui saat melakukan perjanjian kontrak.
"SELAMAT ATAS PERNIKAHAN, NYONYA," ucap pria kekar tersebut bersamaan sembari membungkukkan badan.
"Wahh menyeramkan!!" gumam Yuki tertekan.
"Terima kasih, istirahatlah jika kalian lelah, jangan memaksakan diri," lanjut Yuki.
"Hah... Lou, bisakah kau memberikan obat penenang. Aku sangat gugup."
"Tentu saja, Nyonya. Ini obatnya dan ini minumnya."
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang dan mengatakan acara sudah mulai, ia datang menjemput Yuki. Yuki, menari napasnya lalu berjalan dan di ikuti para pengawal tadi. Ruangan yang besar tersebut, menjadi seperti istana, putih dan ungu berpadu, dengan cahaya yang remang-remang, membuat suasana menjadi sangat klasik.
Semua orang yang hadir di acara tersebut, bukanlah orang biasa, mereka semua adalah pebisnis ternama, bahkan beberapa presiden dari negara lain pun datang. Dengan tubuh yang menggetar karena gugup Yuki tetap tersenyum dan jalan perlahan menuju ke arah Arthur.
"Hari ini dia sangat tampan," batin Yuki.
Mengapa tidak Yuki mengatakan itu, jas putih berpadu dengan rambutnya yang sehitam arang, kulit sawo matang dengan matanya seperti biru laut. Ahh... tentu saja orang itu adalah Artur. Pria yang sudah memegang penghargaan beberapa tahun yaitu pria tertampan di dunia.
"Tentu saja, tidak semua Nona, menyukaiku. Apalah dayaku yang hanya anak sendok plastik dan remahan kerupuk ini," gumam Yuki.
"Apa yang kau katakan?" tanya Arthur.
"Tidak ada, aku hanya gugup saja. Kaki ku cukup lemas." Yuki mulai sempoyongan.
"Tahanlah sedikit saja lagi." Arthur merangkul pinggang Yuki membantu Yuki berjalan.
"Ohh,, Sayang, lihat anak kita yang dingin itu. Aku tak percaya dia sangat jantan sekali, huhu...," ucap Tezza, ayahnya Arthur.
"Diamlah, kau sudah tua, mengapa masih menangis, hiss...," sahut Alena, sembari mengelap air mata Tezza.
"Ohh... anak ku sudah dewasa, hikss...."
Acara pun di mulai, mereka mengucapkan sumpah pernikahan di depan pendeta, semua persyaratan sudah di lakukan.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami-istri, sekarang kalian bisa berciuman," ucap pendeta.
Yuki tersentak lalu menatap Arthur.
"Tutup saja matamu," ucap Arthur.
Yuki langsung menutup matanya, kedua tangan Arthur menggenggam wajah Yuki. Ya, mungkin semua orang melihat itu ciuman yang sangat romantis tetapi, sebenarnya jari Arthur menutup mulut Yuki. Arthur hanya mencium jarinya sendiri, itu membuat Yuki membuka matanya, lalu mata mereka bertatapan. Ciuman romantis tersebut berhenti saat suara tepukan tangan mulai meriah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......TBC.......
^^^riskamawar^^^
...----------------...