
"Pernikahan kontrak?" tanya Yuki yang bingung.
"Iya, itu cukup menguntungkan bagi kalian bukan?"
"Tentu saja, adik ipar," sahut cepat Iky dengan tersenyum-senyum.
Arthur langsung mengernyit dahinya, mendengar kata "adik ipar" tersebut.
"Bukankah sudah tertulis di perjanjian, semua hubungan yang ada di pihak B akan di hilangkan? Jadi hiduplah dengan baik tanpa mengenal gadis yang ada di depanmu itu!!" seru Arthur dengan tatapan tajam.
Iky langsung terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Arthur menatap Dion mengarahkan matanya agar Iky di hilangkan dari pandangannya, kemudian Dion langsung menyeret Iky.
"Tunggu sebentar," panggil Yuki, membuat Dion terhenti.
"Di loteng ada pohon kaktus, di bawahnya ada kotak. Si situ ada uang tabunganku, pakailah untuk kebutuhanmu. Sandinya hari lahir ku dan jangan temui aku lagi anggap saja aku sudah tiada," lanjut Yuki.
"Berapa tanggal lahir mu?" tanya Iky.
"Hah, tentu kau tak tahu," gumam Yuki yang hanya di dengar Arthur.
"Dion!!" seru Arthur.
"Hei... berapa tangg... hufff...." Mulut Iky di dekap Dion.
"Bos, ini suratnya." Aurel menyodorkan kontrak tersebut berserta cap jari.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Yuki.
"katakan," sahut dingin Arthur.
"Apa yang harus saya kerjakan? Saya bisa mencuci, mengepel dan bisa membuat beberapa makanan, saya juga bis...."
"Cukup diam dan jangan membuat masalah, mulai sekarang kau akan menjadi istriku. Kau aja menjadi Nyonya yang terpandang jadi jaga saja sikap mu itu!!" seru Arthur.
"Baiklah." Yuki diam kembali.
"Yuki Kiara. Mulai hari ini kamu akan menjadi, Nyonya Kiara Altezza. Dan tolong cap di sini, Nyonya," Aurel menyerahkan cap jari dan surat pernikahan kontrak.
Setelah mengecap perjanjian, kepala Yuki merasa sangat pusing dan tenggorokannya terasa kering.
"Bisakah saya meminta segelas air putih?" tanya Yuki.
Aurel langsung menuju ke kulkas yang ada di sudut ruangan itu. Sembari berkata, "Nyonya, mulai sekarang jangan pakai bahasa formal. Ahh, maaf... Nyonya di sini tidak ada air putih hanya ada alkohol."
Padangan Yuki mulai memudar dan menghitam. "Kalau begitu, tidak jad...."
Brukk.... Yuki terbaring membuat Arthur yang sedang meriksa berkas-berkas dan Aurel yang menuju ke arahnya tersentak.
Beberapa hari kemudian, Yuki mulai membuka matanya dengan perlahan, pengelihatannya masih sedikit kabur. Saat matanya melihat dengan jelas ia terkejut sudah ada di sebuah kamar yang amat besar. Kamar itu hampir sebesar rumahnya dulu, ia melihat sekeliling kamar memperhatikan setiap detail.
Kasur dengan king size, lukisan yang terpanjang terlihat sangat mahal, guci, sofa, tv hingga gorden yang ia lihat, jika di jual mungkin bisa membeli satu bangunan.
"Nyonya, Anda sudah bangun. Anda ingin makan terlebih dahulu atau mandi?" tanya wanita itu.
"E... itu... siapa nama, Anda?" jawab Yuki dengan Formal.
"Nyonya, tolong jangan berkata formal dengan saya. Lalu nama saya, Sua, Nyonya. Nyonya, juga bisa memanggil saya kepala pelayan," jelas Sua.
"Baiklah... eh... baik," sahut Yuki canggung dengan bahasa informal.
"Berapa lama a-aku tertidur?" tanya Yuki.
"Sudah 4 hari, Nyonya. Maka dari itu, saya menyarankan, Anda, makan bubur ini terlebih dahulu." Sua menyodorkan bubur kepada Yuki.
"Terima kasih, Sua. Bisakah ambilkan remit tv," pinta Yuki.
"Tentu saja, Nyonya." Sua mengambil dan menyodorkan remote. "Jika, Anda, membutuhkan sesuatu panggil saja, ada beberapa pelayan yang berjaga di depan pintu, Nyonya. Kalau begitu saya undurkan diri." Sua membungkuk sedikit lalu meninggalkan Yuki.
"Wah dia sangat elegan sekali." Yuki terkagum sembari menyuap bubur yang di berikan, lalu menghidupkan tv.
"Berita terkini, CEO Tezza Company telah klarifikasi atas tuduhan dirinya seorang gay, dengan mengatakan akan mengenalkan calon istrinya kepada seluruh negeri."
"Di mana calon istri, Anda sekarang?" tanya reporter.
"Dia sakit," sahut dingin Arthur.
"Kapan, Anda, menunjukkan wajahnya kepada selur negeri?"
"Saat dia sembuh!! Kalian reporter yang menjengkelkan!!" seru Arthur membuat semua Reporter terdiam membeku.
"Hahaha... terima kasih atas pertanyaannya, kami akan segera melakukan konferensi pers. Jadi, kalian bisa bertanya di sana," ucap Dion membuat para wartawan membuka jalan untuk Arthur.
Prang....
Mangkuk bubur Yuki terlepas dari tangannya, membuat Sua yang baru saja keluar pintu mendengar sesuatu pecah kembali ke dalam.
"Nyonya, apa Anda terluka?" tanya Sua melihat mangkuk bubur sudah berserakan di bawah.
"Tezza Company? Dia CEO nya?" Tubuh Yuki tiba-tiba menggetar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TBC....
Jika kalian suka ceritanya jangan lupa like, komen dan votenya😉
^^^RiskaMawar^^^
...----------------...