
"Ceritanya panjang, akan kuberitahu nanti."
Suara itu tajam, bernada datar, dan datang dari sudut ruangan yang kutempati. Aku memandang Leonel dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dimataku. Dia yang sedang berbicara ditelepon dan tiba-tiba berhenti saat menatapku. Aku memperhatikan, ada alat suntik yang digenggamnya. Aku menarik napas dalam, dengan sedikit rasa takut. "Apa yang terjadi? ", kataku dalam hati dan menunggunya menghampiriku.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya sambil mengelus rambutku.
"Apa yang terjadi?" Akhirnya aku berani bertanya.
Leonel tersenyum. "Seperti biasa aku baru selesai melakukan tugasku, menyuntikmu."
"Apa aku sakit?"
"Iya, kamu sakit. "
"Sakit apa?" Tanyaku kaget hingga berusaha bangun dan duduk disamping Leonel yang tiba-tiba tertunduk. Aku memegang kedua pipinya, mengarahkan wajahnya padaku, dan mengisyaratkan butuh jawaban.
"Sakit karena melupakanku." Jawabnya datar, namun ada amarah diwajahnya.
"Kenapa kamu yang menyuntikku?"
Leonel melepaskan kedua tanganku dari pipinya. Dia bangkit berdiri dengan tatapan dingin.
"Lupakah kamu? Aku seorang dokter. Marine! Tidak bisakah kamu berusaha untuk sedikit mengingat tentang aku?!"
Nada suara Leonel membuatku terkejut. Dia seperti menahan marah. Aku bisa mendengar gemuruh didadanya.
"Leonel." Aku memanggilnya dengan suara yang tak lebih dari bisikan, suaraku gemetar karena takut. Dia lalu menghilang keluar pintu. Aku mendongak dan memandangnya dari sela-sela air mataku. Aku menghembuskan napas, menyadari masalahnya. Sekeras apa pun aku berusaha mengingat Leonel, tetap saja sia-sia. Aku menangis keras, meratapi kenyataan, atau kah aku belum bangun dari tidur. Besar harapanku, agar aku hanya bermimpi. Seandainya saja.
Aku menghampiri Leonel yang sedang duduk di depan teras rumah sambil menatap pantai dengan tatapan kosong dan wajah yang datar. Aku duduk disebelahnya, meletakkan kepala dibahunya.
"Aku minta maaf." Kataku sambil perlahan meraih lengannya.
"Minta maaf adalah kewajiban yang dilakukan oleh orang bersalah, dan orang yang membuat orang lain marah."
"Apakah minta maaf seperti sebuah rayuan? "
"Iya. Rayuan agar dimaafkan."
Leonel kembali mengelus rambutku. Sungguh segampang itu memecahkan amarahnya. Sepertinya aku sudah mulai memahami Leonel. Tawa Leonel meyakinkan aku bahwa semuanya baik-baik saja. Tawanya juga membuatku lupa dengan kenyataan tentang ingatan kosongku. Aku membutuhkannya dan aku bahagia.
Matahari tenggelam begitu cepat, hari terasa sangat pendek. Kembali aku menikmati senja bersama sosok laki-laki yang masih timbul tanya, namun kuabaikan. Leonel meraih tanganku, mengajakku ke dapur, dan menontonnya memasak. Katanya untuk makan malam. Rasanya seperti menonton Leonel dari balik layar kaca TV. Sesekali kami beradu pandang dan tertawa kompak. Entah apa yang ditertawakan, tetapi kami begitu menikmati waktu. Setelah makan malam, Leonel mengambil sebuah gitar yang terletak didekat pendiangan. Aku suka tempat ini, terasa hangat dengan lampu remang-remang dan sofa yang empuk. Aku duduk sambil menikmati coklat hangat yang Leonel buatkan untukku. Suara alunan gitar terdengar damai, senyuman Leonel yang menyejukkan hati, tidak lagi mimpi yang kuharapkan tapi kenyataan. Dia mulai bernyanyi...
Life is beautiful
If we are always grateful
Life is beautiful
If we are not worried
Life is beautiful
If we love each other
Oh, love is still the only answers in life.
Seketika aku membeku mendengar kata per kata dari lirik lagu yang Leonel nyanyikan. Pikiranku mulai bekerja lagi.
.. bersambung