
Harus bagaimanakah aku bersikap? Tersenyum. Iya, Cuma itu yang bisa dilakukan olehku yang pura-pura paham dengan situasi sekarang. Namun entah bagaimana, bahkan dengan ingatan kosongku dan sejuta tanya yang mengitari isi kepalaku, juga tawa riang yang hadir dalam ruangan ini, membuatku tersadar kalau sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja.
“Hei, kau lapar?” tanya Leonel setelah berpapasan dengan entah siapa.
Aku mengangguk iya, perutku keroncongan karena belum makan seharian.
“Apakah ada makanan disini?” balasku bertanya sambil melirik meja yang tepat berada di bawah tangga dengan tumpukan makanan di atasnya.
“Ayo,” seru Leonel lalu berjalan mendahuluiku menuju meja makan. Dia menawarkan hamburger dan beberapa steak daging yang membuatku tak sabar menahan nikmat. Dalam hitungan menit aku lahap semuanya.
“Pelan-pelan saja makannya,” bisik Leonel sambil tertawa.
“Apa mungkin aku sudah setahun tidak makan?”
“Iya, sepertinya begitu,”
“Pantasan aku lapar sekali,”
“Makanya kalau jadi putri tidur jangan kelamaan tidurnya, perlu juga ingat jam makan.”
Aku melototinya seperti makanan yang ingin kulahap. Dia berlalu menjauhiku dengan sepotong pizza. Aku menghela nafas dan kembali fokus dengan makananku.
“Marine, oh Marine!” seorang perempuan tua beruban yang tak kukenal menyapaku.
“Hai,” jawabku bingung namun penuh senyum sambil mengunyah.
“Bagaimana liburannya Marine? Apa sangat melelahkan?”
“Iya, sepertinya begitu. Liburan yang sangat
melelahkan dan penuh kejutan.”
“Terdengar menarik. Lalu apa Leonel sudah memberimu,,”
“Oh God, madam Mark,” seru Leonel mengagetkan dan tiba-tiba saja memotong pembicaraan. Aku melihat keanehan dari mimiknya.
“Apa kabar madam Mark? Lama tidak bertemu,” lanjutnya,
“Leonel sayangku,” balas perempuan tua yang
panggilannya madam Mark sambil memeluk hangat Leonel.
“Kau tampak lebih muda dan makin cantik saja. Apa rahasiamu madam Mark?” rayu Leonel manis.
“Kuncinya adalah selalu bersyukur. Lalu pertanyaanku siapa yang paling cantik antara aku dan Marine?”
“Bagaimana menurutmu Marine, apa Leonel sudah menjadi perayu handal?”
Aku hanya menjawab dengan tawa. Sepertinya mereka berdua akrab. Leonel tertawa melihat ekspresiku yang berusaha pura-pura akrab. Pikiranku bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya ingin dikatakan madam Mark sebelum Leonel datang memotong pembicaraan. Aku penasaran namun rasa kantuk mendatangiku, lebih tepatnya datang karena cukup lelah. Ini lebih tidak bisa kuabaikan daripada rasa penasaranku. Kuputar bola mataku kesudut ruangan yang terdapat sofa, mungkin cukup nyaman untuk berbaring. Leonel dan madam Mark yang sedang asik dengan pembicaraan mereka kutinggalkan tanpa sepata kata dan
langsung menuju sofa.
Aku membaringkan diriku dan sofa ini terasa sangat nyaman. Langit-langit rumah balas menatapku, pikiranku melayang, berpikir apa
lagi yang akan terjadi setelah aku bangun nanti. Aku berusaha menepis tanda tanya
itu, lalu memposisikan diriku agar nyaman dan tertidur.
Cahaya yang terasa hangat dan sedikit nyeri dilenganku membangunkan aku dari tidur. Sudah pagi rupanya, tapi kenapa lengan kiriku
terasa nyeri seperti tertusuk sesuatu. Kuperiksa lenganku mencari apa penyebabnya, lalu kemudian Leonel muncul dengan dua gelas orange juice ditangannya.
“Selamat pagi Marineku,” ucapnya manis sambil tersenyum.
“Selamat pagi Leonel,” aku membalas dan ikut tersenyum. Aku merasa ada bahagia yang mengalir begitu saja lewat senyumanku.
Kulirik Leonel dan besar harapanku dia juga sama seperti itu.
“Pagi yang indah bukan?” lanjutnya bertanya.
Aku menarik nafas dalam sambil mengucap syukur dalam hati karena masih diberi kesempatan untuk tetap hidup walau tak mengingat apapun, namun aku rasa itu keharusan. Ini adalah awal yang baru untukku dan aku punya banyak harapan dihari yang baru dan indah ini.
Terdengar suara ombak dari luar rumah, lalu aku bangkit berdiri meraih tangan Leonel agar ikut keluar denganku. Dia tersenyum pasrah.
Kami duduk di teras rumah sambil menikmati suara ombak dan keindahan pantai yang tepat berada tidak jauh dari depan rumah. Ini sungguh luar biasa menakjubkan. Aku kembali tersenyum manis kearah Leonel dan tentu saja mendapat balasan. Dia memberiku segelas minuman.
“Ayo diminum,” ajaknya.
“Cheers,”
“Cheers,”
Kuteguk orange juice yang dibuatnya dan terasa segar. Hingga di tegukan ketiga aku melihat pantai seperti buram dan aku tak kuasa menahan kantuk. Sedetik sebelum itu kusempatkan melirik Leonel yang masih
tersenyum lalu aku tertidur.
bersambung………