
Sia-sia semuanya. Seperti ada kabut tebal dalam pikirannku dan aku tersesat di tengahnya. Sulit rasanya mengingat kembali alasan dari semua kekacauan ini, berharap semua hanyalah mimpi buruk. Aku berusaha bangun, dan benar saja ternyata aku bermimpi. Tapi siapa pria yang duduk disebelahku? Dia tertidur pulas sambil memegang tangan kiriku. Kulirik sekeliling dan tersadar ternyata aku sedang berada di atas udara dalam pesawat terbang. Kemana tujuanku?
Waktu terus berlalu dan kuhabiskan dengan rasa penasaran. Setiap detik pergerakan jarum jam terasa sangat menyakitkan dengan ingatan kosong. Satu hal yang berusaha kuingat, apa aku kaya dan punya banyak uang hingga berada dalam bisnis class pesawat terbang?
Aku berhenti tanpa berpikir, memandangi pria disebelahku berharap dia terbangun dan memiliki jawaban dari semua pertanyaan yang tak terhitung banyaknya. Kulirik keluar jendela, membuka lebar mataku berusaha sekuat mungkin menahan kantuk agar tak kembali ke mimpi buruk yang kulewati tadi. Sebenarnya sama saja, aku tidak mengingat apa pun juga disini, tapi setidaknya ada yang menemaniku.
Aku merasakan jemari membelai dahiku, disusul kemudian dihamparkannya selimut. Aku menoleh terkejut. "Kamu sudah bangun?" tanya pria yang kuletakan semua harapanku padanya. Dia tersenyum manis dan seketika aku merasa bukan kali pertama menyukai senyuman ini. Ingin sekali aku menyuruhnya untuk jangan berhenti tersenyum, namun terhenti ketika jemarinya menempel dipipi kananku. Sekali lagi dia bertanya yang sama. "Aku sudah bangun sejak tadi." jawabku datar. Kuposisikan badanku kesamping dan menatap pria ini dalam, "Kamu siapa dan siapa aku?" lanjutku penuh semangat.
Dia berdiam diri lama, menundukkan kepala hingga aku sempat bertanya-tanya apakah ia mendengar aku bertanya. Akhirnya ia mulai berbicara dan terdengar seperti pertanyaan. "Seandainya aku tidak menjawab pertanyaanmu, apa yang akan kau lakukan?"
Aku terdiam dengan rasa takut memenuhiku. Aku pun tidak langsung menjawab, dan dia mendongak untuk mengecek ekspresiku.
"Aku akan teriak dan terjun keluar pesawat"
"Memangnya kamu berani terjun?"
"Kamu punya bukti?" tanyaku lagi
"Aku meninggalkan semua bukti di Indonesia tempat kali pertama kita bertemu. Tapi kamu akan mempercayaiku setelah ini." jawabnya meyakinkan.
Aku mendengarkan, mataku terbelalak lebar dan tak mampu berkata apa-apa. Aku kebingungan, haruskah aku mempercainya? Namun saat ini hanya dia yang kupunya. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk mempercai pria ini, apakah dia hanya orang asing atau aku yang tak mengingatnya. Kembali kupandangi wajahnya, aku tahu dia sedang menunggu reaksiku, tapi aku tak sanggup bicara.
Dengan lembut diremasnya jari-jariku. Aku menatap matanya berusaha mencari tahu kebenaran tanpa kata, hatiku bagai diremas keras-keras. Dia tersenyum lagi, kali ini karena jantungku yang mulai bereaksi berlebihan. Tangannya mulai menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung jarinya sambil bicara, "Marine. Percaya aku, hanya aku."
Aku berusaha mengendalikan diri, memberi penjelasan masuk akal pada diriku sendiri. Hal paling buruk dan hal paling baik apa yang akan terjadi? Aku tersentak dan tidak begitu menyukai pertanyaan ini. Tapi aku memikirkan berbagai kemungkinan.
bersambung....