
Setelah melalui waktu yang cukup lama, pesawat terbang yang kami naiki akhirnya mendarat dan entah di mana takdir telah membawaku. Sekarang aku merasa menjadi seperti air mengalir yang mengikuti arus kemana pun membawanya. Aku ingin tahu keberadaanku di mana. "Welcome to Beaufort," bisik Leonel membuyarkan lamunanku. Aku berpikir tak ada salahnya mempercayai pria ini, hanya dia yang kumiliki saat ini.
Kami berjalan sambil membisu melewati pintu keluar pesawat. Leonel memperpendek langkah untuk mengimbangiku. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan tapi sebagian besar harus kuurungi. Saat hendak berjalan menuju pintu keluar bandara kami melewati sebuah cermin. Langkahku terhenti. Sebenarnya sedari tadi aku penasaran bagaimana bentuk wajahku, bibirku, mataku, keliatan seperti apakah aku. Cermin di depanku menjawab semua rasa penasaranku. Akhirnya aku mengetahui bagaimana aku terlihat. Aku memiliki kulit coklat, rambut lurus, bola mata hitam, dan bibir yang mungil. Ah, that's me. Aku tersenyum tipis lalu diikuti dengan rasa kecewa terhadap diriku sendiri yang bahkan tak mengingat seperti apa rupaku.
Leonel berada tepat di belakangku. Aku meliriknya dari cermin, dia menatapku dengan sorot hangat lalu melangkah maju mendekatiku. Jemarinya menyentuh kedua pipiku lembut. "Apa lagi yang kau pikirkan?" tanyanya penasaran. Aku balas menatapnya, menyentuh jemarinya yang masih melekat dipipiku. Sungguh luar biasa bagaimana seseorang tampak begitu tak terlukiskan.
"Bagaimana kali pertama kita bertemu?" balasku bertanya.
"Jika kau lupa, tak perlu terburu-buru untuk mengingat."
"Aku ingin tahu" jawabku otomatis, lalu bertanya-tanya dalam hati mungkinkah dia akan menggunakan teknik psikologi terbaik.
"Skip. Apa ada pertanyaan lain?" lanjutnya dengan mata melotot sambil melepaskan jemarinya. Aku sedikit kecewa lalu melangkah meninggalkannya.
Aku terhenti dan berbalik ke arahnya. Dia melayangkan pandangannya padaku, mengangkat kedua alisnya lalu tertawa sambil menyurukkan jari-jarinya kerambut pirangnya yang panjang sebahu dan dibiarkannya terurai. Kemudian Leonel menyunggingkan senyumnya yang begitu menawan hingga membuat hatiku seperti ingin meledak memecah dada. Aku menarik napas dalam-dalam, sepertinya senyuman itu membuyarkan rasa kecewaku terhadapnya. Selang berapa detik dia sudah berada 1 cm didepanku. Langkahnya yang panjang mengalahkan caraku menghitung detik.
Ia memasang wajah mengisyaratkan kalau aku boleh bertanya satu hal lagi. Aku berjinjit agar bisa meraih kupingnya dan berbisik, "Apa itu Beaufort?"
Leonel menahan senyumnya mungkin karena pertanyaanku. "Kenapa harus berbisik?" tanyanya girang. Aku kesal dengan pertanyaannya, "Kau tau semua orang yang ada disini pasti tau apa itu Beaufort, dan aku akan sangat malu jika ada yang mendengar aku bertanya seperti itu. Mereka pasti akan menganggapku aneh. Tidakkah kau mengerti?"
Leonel membalas dengan membelai rambutku kemudian diikuti menggenggam tangan kananku lalu melangkah ke pintu keluar. Kembali dia memperlambat langkahnya agar bisa mengimbangiku. Sepanjang langkah dia menjawab pertanyaanku, "Beaufort adalah salah satu kota kecil yang terletak di Carolina Selatan, Amerika Serikat. Disini alamnya sangat indah dan hampir di sepanjang jalan terdapat rumah-rumah bersejarah. Makanan disini juga lezat....."
"Siapa mereka? Oh, apa lagi yang akan terjadi!" sentakku dalam hati sambil memandang kesal disekelilingku. Sebelum kuputuskan untuk meneriaki kerumunan yang sudah seperti para singa sedang mendapati target dan segera siap untuk dilahap, aku melirik Leonel meminta persetujuan.
Dia menarik napas dalam sambil beradu pandang dengan salah satu singa yang tepat berada di depannya. Iya, mereka tampak seperti singa menurutku karena memiliki badan yang kekar serta otot yang besar. Sejujurnya karena hanya binatang ini yang terlintas dalam pikiranku dan tak tahu mengapa yang lain tak muncul, padahal ini kesempatan mereka berlomba menjadi perkasa seperti para pria asing ini. Aku mengacau dan tentu saja tak ada manfaat.
Sorot mata Leonel tampak hati-hati disini, tidak ramah, wajahnya terlihat lebih dingin namun masih tetap sangat tampan. Dia tampak seperti raja singa sekarang dan tentu saja aku ratunya. Aku tersenyum kecil sebagai reaksi dari lelucon yang kupikirkan dan aku tahu tidak pantas untuk situasi menegangkan ini. Senyum kecilku terhenti melihat para pria didepan kami menundukkan kepala.
Aku menganga dan mungkin saja leluconku benar. Mereka lalu mempersilahkan Leonel untuk naik disalah satu mobil yang kupikir seperti kereta raja dalam leluconku yang tersembunyi dibalik pikiran dan hanya aku yang tahu tentunya. Kembali senyum kecil menghiasi bibirku, sungguh aku tak kuasa menahan. Aku tutup rapat bibirku agar tak timbul tawa. Leonel melirikku aneh dan mungkin bibirnya ingin bertanya ada apa, namun hanya tangannya yang bekerja menarik tanganku dan ikut dengannya masuk ke dalam mobil. Tentu sja aku harus ikut, aku hilang tanpanya.
Perjalanan dimulai, mobil melaju sedang dan tampak seorang pria botak berkulit hitam mengendarai mobil yang kami naiki. Aku meliriknya dari kaca mobil, berusaha menganalisis wajahnya dan ternyata sama sekali asing. Aku kecewa dengan hasil analisisku.
Kami sudah lumayan jauh meninggalkan bandara, tetapi belum ada pertanyaan yang diajukan untukku padahal aku ingin sekali berbagi lelucon dengannya. Aku meliriknya yang tepat berada disampingku. Leonel menyadari dan memalingkan wajah.
"Hei, ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanyaku mengakhiri keheningan yang sedari tadi ingin kulakukan. Dia berbalik menatapku, "Aku mengantuk" jawabnya sambil membaringkan kepalanya dipundak kiriku. Seperti ketergantungan mataku tak bisa lepas darinya, seolah menjadi patung yang tak bernyawa dengan mata yang tak bisa digerakkan ke lain arah. Dia menutup matanya, mungkin tertidur atau sedang berpikir.
Hembusan angin dari luar jendela mobil mengalihkan perhatianku untuk segera melihat keluar. Bola mataku beralih memandang sepanjang jalan Beaufort yang sunguh indah sama seperti yang digambarkan dari ekspresi Leonel selama bercerita tentang kota ini. Aku benar-benar berharap bisa menunda perjalanan yang tak tahu akan kemana ini. Mataku dipenuhi air mata hingga tak bisa melihat keindahan Beaufort dengan jelas. Aku ingin kembali.
bersambung...