I Am LOst

I Am LOst
....sambungan Jatuh01



Hembusan angin seperti lullaby yang membuatku tertidur pulas. Mataku seperti tertindih 10 kg besi beratnya. Sentuhan jemari dipipi hingga berlalu dibibir membangunkanku. Aku tertidur dipundak Leonel. Seketika menyadari itu aku kecewa dengan diriku yang terlalu gampang terbuai rasa kantuk oleh hembusan angin. Sebenarnya karena aku ingin Leonel tetap tertidur nyaman dipundakku, setidaknya aku bisa diandalkan untuk itu, namun kenyataan malah sebaliknya.


“Apa kamu masih butuh waktu lagi untuk kembali tidur?” tanyanya mengamatiku yang tertunduk dengan rasa kecewa.


“Kenapa? Apa pundakmu sakit karena terpaksa menahan kepalaku yang berat ini?”


“Hei kepalamu sungguh ringan, iya mungkin saja ringan. Kita sudah sampai 3 jam lebih yang lalu dan hanya diam menunggu kamu bangun. Kamu tertidur pulas seperti putri tidur. Eh, apakah kamu sosok putri tidur yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu? Mungkin saja iya.” Ujar Leonel sambil nyengir.


“Iya, mungkin aku adalah putri tidur yang diceritakan diseluruh penjuru dunia dan sekarang putri tidur telah berubah menjadi putri dengan ingatan kosong yang sungguh menyedihkan.” Jawabku membalas.


“Jika seperti itu bagaimana ending dongeng?” lanjutku.


Leonel memegang dahinya lalu menghela nafas. Dia keluar dari mobil dan berdiri tepat di depan pintu mobil.


“Silahkan turun tuan putri,” pintanya sambil tersenyum manis


Aku pun turun dan kebingungan. Mobil yang kami naiki berlalu begitu saja dan begitupun yang lainnya, tersisa hanya aku dan Leonel. Segera aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempat kami berhenti dan kelihatan beberapa rumah dengan suasana damai menurutku.


“Kita ada di mana sekarang? Dan kenapa para pria tadi pergi meninggalkan kita?” tanyaku penuh penasaran.


“Welcome to home,” jawabnya singkat. Dia menatapku yang masih kebingungan dan melanjutkan.


“Para pria tadi adalah pengawalku dan tugas mereka sudah selesai.”


“Apa kamu benar pangeran yang mencium putri tidur dan mengembalikan kehidupannya seperti sekarang ini?”


“Aku rasa ingatanmu sudah kembali”………………………………………


Kami terus menceritakan candaan dan tertawa bersama sambil berjalan di jalan setapak yang lumayan sempit, melewati beberapa rumah dan aku tak tahu kemana tujuan kami. Kutepis pikiran itu dari benakku, berusaha melupakan kekacauan yang terjadi dan berkonsentrasi dalam candaan yang belum berujung. Sedikit aku berharap kepada Dia yang kuimani agar aku tak salah menaruh kepercayaan dan menempatkan rasa nyaman pada pria yang kupikir tak asing lagi. Aku menyimpulkan sesuatu bahwa jika kita memfokuskan diri pada apa yang terjadi sekarang ternyata tidak sesulit yang kita duga.


Perjalanan ini tak berarah, namun kehadiran Leonel membuat suasana hatiku agak berbeda. Sepertinya ia benar-benar paham apa yang dilakukannya. Aku sangat ingin memujinya, tapi kuurungi. Ia pandai melucu dan menghadirkan tawa hingga aku melupakan semua kekacauan yang belum jelas kenapa.


“Marine, ada apa?”


Suara Leonel seketika melepaskan tali ketakutan yang sempat ingin kugenggam erat, aku legah. Aku balas menggenggam tangannya erat dan tersenyum menatapnya.


“Aku……………..”


“Hi Leonel,” sapa seorang perempuan bersepeda yang menghampiri kami.


“Hi Anna, apa kabar?” balas Leonel akrab.


“Tentu saja baik dan amat baik. Senang melihat kalian akhirnya kembali. Bagaimana liburannya Marine? Pasti menyenangkan.”


Mataku melotot pada sosok yang memberiku pertanyaan hingga tak mampu berkedip.


“Marine?” Leonel berbisik dan menyadarkanku.


“Iya, semuanya baik,” jawabku terbatah-batah.


“Apa kamu mengenaliku?” lanjutku ingin tahu.


Perempuan ini tertawa girang namun garing terdengar.


“Tentu saja aku mengenalmu Marine.”


Jawabannya membawa ratusan kebingungan yang membelalak ngeri.


bersambung……..