I Am LOst

I Am LOst
Siapa Aku



Ayah mengantarku ke bandara dengan jeep tua kesayangannya, yah mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan. Sejak kecil aku menamainya Bloody. Bisa saja dia protes dan tak terima jika bisa berbicara karena tak ada unsur merah sama sekali pada dirinya. Warnanya yang hitam dan dilumuri tanah coklat adalah asal pemberian nama Bloody. Bisa dibayangkan dia sangat jarang dibersihkan sama seperti kekasihnya, ayah, yang tiap hari hanya sibuk dibengkel demi sepeser uang. Iya seperti itulah hidup kami dan Bloody yang hampir 20 tahun menemani kami.


Seperti biasa music country selalu menemani perjalanan kami, jendela Bloody yang terbuka lebar mendatangkan angin dan mempertemukanku dengan rasa kantuk. "Esrin," akhirnya ayah memanggilku untuk terakhir kali dari ribuan kali dia berusaha membangunkanku dari tidur. Aku terbangun dan langsung mengambil ranselku mengikutinya keluar mobil, melihatnya membawa koperku yang cukup besar menuju pintu keberangkatan bandara Soekarno-Hatta dan menatap wajahnya yang sudah mulai menua dengan banyak hal yang terlintas dalam pikiranku, apakah aku berhenti atau harus lanjut. Ayah hanya memiliki aku dan Bloody sejak ibu memutuskan pindah ke Jepang bersama kekasih barunya saat usiaku 11 tahun.


Tanpa sadar aku menangis, membayangkan ayah harus hidup sendirian tanpa aku untuk beberapa tahun, entah sampai kapan. Dia tetap terlihat keren dengan senyuman dibibirnya berusaha menutupi kesedihannya dariku, aku sangat mengagumi dan mencintainya lebih dari diriku sendiri. Dirangkulnya aku saat tiba di pintu keberangkatan, "Mulai saat ini kamu akan menjadi anak yang mandiri tanpa ayah disebelah kamu dan tentu saja tanpa Bloody juga," dia kembali tersenyum dan melanjutkan "Ini adalah awal yang baru buat kamu, Esrin kesayangan ayah. Ayah ingin kamu meraih cita-cita kamu dan buat ayah bangga," dia semakin memelukku erat, "Aku mencintaimu ayah," kataku sambil menangis yang tak tau kapan akan berhenti. "Amerika tidaklah jauh bukan?," katanya berusaha membuatku tersenyum dan itu sedikit berhasil. Dia melepaskan pelukkannya dan menggenggam tanganku, "Ayah mencintaimu sayang," terusnya sambil mencium keningku. Kali ini dia tak kuasa menahan air matanya dan kembali memelukku erat. Aku memasuki pintu keberangkatan dan disinilah kami berpisah


....


Aku melanjutkan langkahku hingga tiba diruang tunggu. Kakiku mengisyratkan untuk duduk segera karena sudah terlalu lama menahan beban terutama dalam pikiranku. Aku pun duduk dan membuka ranselku mengambil jurnal yang sudah menemaniku sejak usiaku 5 tahun. Baru saja aku membuka halaman pertama tetapi pikiranku sudah jauh pergi ke kenangan masa kecilku saat dimana aku sangat ingin menghentikan waktu, agar tak ada yang pergi dan tak ada yang berubah. Sesosok wanita yang sangat kukagumi, sangat dicintai oleh ayah dan aku menetap satu atap bersama, menghabiskan waktu bersama tiba-tiba pergi memilih meninggalkan kami. Entah apa yang salah saat itu, aku pun tak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Ibu, panggilan untuk wanita yang kukagumi ini. Aku mengikuti apa yang paling dia sukai, musik, yah aku belajar banyak hal darinya. Hidup tanpa musik bukanlah hidup katanya, aku dan ayah juga setuju tentang ini. Ibu mengajariku bermain gitar dan piano sejak usiaku 3 tahun hingga aku mahir memainkan keduanya. Dia juga pandai bernyanyi dan menciptakan lagu lalu menurun juga padaku, yah sudah kuakui kalau aku begitu mengaguminya dan mengikuti semua yang disukainya. Namun semuanya berakhir saat dia pergi meninggalkan ayah dan aku. Saat itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 11 tahun, dia pergi tanpa berkata apa-apa atau meninggalkan sepucuk surat agar aku tau alasannya apa. Ayah selalu diam saat kutanyai alasan ibu pergi, bahkan sampai sekarang diusiaku 18 tahun ayah tetap memilih diam. Sejak saat itu kurang lebih setelah 7 tahun aku tak pernah menyentuh gitar atau pun piano lagi, karena menurutku itu akan mengingatkan lagi pada sosok ibu serta rasa sakit hati yang diciptakannya. Terlepas dari itu sebenarnya alasan terbesarku adalah karena aku berusaha untuk tidak membencinya dan lebih memutuskan untuk melupakan..


Pikiranku terlalu jauh membawaku, hingga tak kusadari seorang pria bule brewok berambut panjang menatapku aneh dan bertanya apa aku baik-baik saja dalam bahasa inggris. Aku langsung menutup jurnal, dan menyeka air mataku yang seperti guyuran hujan deras banyaknya. "Iya aku baik-baik saja," aku berusaha memberi jawaban pria yang duduk didepanku dengan sedikit senyuman agar meyakinkan jawabanku. Dia mengangkat alisnya "Kamu yakin?," tanyanya lagi tak yakin. Aku hanya tersenyum dan bergerak cepat mengambil ranselku lalu berjalan menghindari pria ini. Toilet tujuanku, tentu saja untuk membersihkan wajahku yang sudah seperti orang berduka. Sebelum meninggalkan toilet aku membuka ranselku dan tak aku temukan jurnal yang tadi sempatku buka. Aku panik lalu segera berlari ke tempat dudukku sebelumnya. Disana aku mondar mandir mencari jurnalku dan bertanya ke semua orang yang ada disitu, namun tak satupun dari mereka yang melihatnya. Aku makin panik, ditambah lagi suara panggilan untuk para penumpang pesawat tujuanku sudah berkali-kali terdengar. Aku harus apa? Jurnal itu sangat berarti bagiku....


bersambung....