I Am LOst

I Am LOst
....sambungan Jatuh02



"Apa kamu tidak mengenaliku sekarang Marine? Bercandamu tidak lucu".


Aku merasa ini kali pertama bertemu dengannya. Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan dari tiap sudut wajahnya, tapi kok tetap saja aku tak tahu siapa dia. Senyumku kupaksakan muncul diikuti tawa dengan tujuan memecahkan rasa kecewa yang terbaca dari raut wajah perempuan yang masih kucari tahu siapa.


"Tidak lucu yah? Apa aku harus membuatnya lebih lucu lagi? Tidak mungkin aku tak mengenalmu Anna. Maaf sudah bertanya seperti itu".


Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku dan sok tahu tentunya.


"Maaf Anna, kami harus bergegas ke rumah sekarang. Marine sangat kelelahan dalam perjalanan pulang", sahut Leonel seperti merasakan kebingunganku lalu merangkul pinggangku sambil tersenyum meyakinkan semuanya baik.


"Tentu saja. Pulanglah. Sampai ketemu lagi Marine". Perempuan bernama Anna itu berlalu dengan sepedanya.


Aku menoleh dan melayangkan pandangan dengan penuh kebingungan pada Leonel. Kening Leonel berkerut.


"Apa lagi yang kau pikirkan tuan putri? Pangeranmu ini kebingungan",


"Aku yang seharusnya kebingungan, bukan kamu",


"Oh, tidak. Kepalaku pusing. Maaf, tuan putri aku kehilangan ingatanku",


"Tidak lucu Leonel!",


"Apa kamu mencuri ingatanku? Iya kan? Mengakulah".


Aku menatapnya geram, memukul diarea perutnya keras. Dia mengerang sakit sambil memegang perut lalu merunduk terjatuh.


"Belum berhenti juga bercandanya pangeranku?".


Tawaku sinis dan berlalu meninggalkannya. Langkahku terus maju, namun terhenti menyadari suasana sangat hening disini, seperti tak berpenghuni. Kutatap jalan di depanku, menemukan sesuatu yang luar biasa.


Pemandangan senja dengan semburat jingga langit terbentang di atas lautan luas. Matahari terlihat amat sangat merindukan lautan. Ia menghampiri lautan perlahan, membawa serta rasa rindu lalu tenggelam di dalamnya. Wah, ada pantai disini. Aku terkagum-kagum bahagia.


"Indah sekali bukan?", aku menunggu jawaban tapi tak terdengar. Dimana Leonel? Sontak badanku berbalik arah dan terlihat Leonel berbaring disudut jalan. Aku berlari panik menghampirinya.


"Leonel, Leonel. Bangun!".


Aku terus menggoyangkan badannya keras agar dia terbangun. Ada apa ini dia tetap tak bangun. Air mataku entah sejak kapan berderai seperti laju kereta api. Aku bingung harus apa, lalu kupastikan detak jantungnya.


"Oh God, thanks dia masih hidup", kataku penuh syukur dalam hati. Aku merasa sangat bersalah memikirkan situasi saat ini.


"Tolong! Tolong!"


"Tolong! Tolong!". Suaraku terdengar seperti benturan batu-batu besar di tengah reruntuhan. Aku terus berkeliling meminta tolong, tapi tak ada satupun orang disini. Dimana semua orang? Sungguh terlihat seperti kota mati yang tak berpenghuni.


Aku mengetuk pintu setiap rumah, namun percuma. Aku melangkah linglung tak tahu harus kemana lagi. Isi kepalaku berputar seolah bergabung dengan gelombang air laut dan berguling memualkan. Tak kuasa menahan, aku duduk tepat di depan sebuah rumah, menangis putus asa. Aku merasakan jemari membelai halus rambutku. Spontan aku mendongak, wajahnya menghalangi langit.


"Hei, Marine! Kau baik-baik saja? Apa kau bisa mendengarku?".


Aku berdiri melototi sosok di depanku. Butuh waktu cukup lama untuk memastikan apakah aku sedang bermimpi atau tidak. Tanganku digenggamnya erat. Iya, ini nyata.


"Leonel", panggilku halus kemudian berjinjit memeluknya.


"Maaf", gumamku. "Aku salah"


"Yeah, kamu salah". Leonel sependapat dan membalas pelukanku. "Mau kugendong?", dia menawarkan punggunggnya, yang pasti kujawab, iya. Aku lelah berjalan.


"Apa aku berat?"


"Tidak tuan putri".


Kami kembali tertawa bersama, seperti menertawakan ketololan yang barusan terjadi.


Aku senang Leonel berhenti tepat di depan pantai lalu menurunkanku.


"Indah sekali bukan?", tanyaku yang kali ini pasti ada jawabnnya.


"Iya, sungguh indah", jawab Leonel sambil tersenyum manis padaku.


"Apa kamu baik-baik saja?", aku bertanya kawatir.


"Iya aku baik-baik saja. Tadi itu terjadi diluar rencanaku",


"Memangnya apa yang kau rencanakan?",


"Aku merencanakan mengubah cerita menjadi pangeran tidur".


Aku tertawa keras mendengar jawaban Leonel, hingga tak mendengar kelanjutannya. Kutatap wajahnya yang ikut tertawa. Sungguh cerita yang menggelikan. Hitungan menit berlalu, suasana tiba-tiba hening, hanya bunyi ombak yang merdu terdengar. Kami saling menatap dan saling bertanya dalam hati kenapa berhenti tertawa, tetapi hanya senyuman yang menjelaskan jawaban pertanyaan kami. Sama seperti matahari yang ingin jatuh tenggelam di tengah lautan, begitu pun aku yang mulai ingin jatuh, jatuh cinta pada sosok Leonel.


bersambung...