
Pikiranku berkelana sementara Leonel bernyanyi dan rasa ingin tahuku muncul. Lagu ini sepertinya tidak asing. Mengapa? Aku merasa merindukan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa. Dadaku terasa sesak dan merasa sedikit pusing. Aku mendengar suara lain selain suara Leonel bernyanyi. Apa yang kulakukan? Aku mencurigai diriku sendiri, apakah sedang berhalusinasi.
Dengan cepat aku berusaha untuk sadar dan mengabaikan suara yang entah nyata atau hanya sekedar hasil halusinasi. Kemungkinan pertama adalah aku sudah mulai sinting. Iya. Istilah sinting sangat cocok bagi mereka yang mendengar suara-suara dari dalam pikiran mereka sendiri, lalu menganggap itu nyata. Opsi kedua yaitu aku terlalu berpikir keras untuk mengingat sesuatu hingga menciptakan keinginan dan harapan akan sesuatu yang mungkin saja indah. Kemungkinan ini hanyalah pikiran bawah sadarku yang masih bisa kukendalikan. Jadi, ini bukanlah suatu tanda apakah aku sudah cocok menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Bisa-bisanya aku mendengar diriku sendiri bernyanyi sementara mulutku tertutup rapat. Aku tertawa geli.
"Marine!"
Suara Leonel menyadarkanku. Dia telihat bingung, namun sedikit tersenyum.
"Apakah ada kandungan alkohol dalam coklat hangat ini?" Tanyaku sambil lanjut meneguk. Sepertinya ini tegukkan terakhirku. Aku tak bisa mengontrol diriku lagi. Aku tertawa keras, menertawakan diriku yang sudah sinting.
"Apakah hanya kita berdua di rumah ini?" Lanjutku bertanya dan kali ini aku berhenti tertawa.
"Iya. Hanya ada kau dan aku. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bercanda." Jawabku sambil tersenyum meyakinkan Leonel.
"Ayo, bernyanyi bersama Marine."
Aku ikut bernyanyi dan rupanya aku tidak butuh waktu lama untuk menghafal tiap lirik lagunya. Leonel mengamati ekspresiku dan sesekali tersenyum.
Aku berhenti sebentar untuk memastikan dibalik pintu apakah ada orang atau tidak, dan mengecek tiap sudut ruangan dengan bola mataku. Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya aku mengecek hal-hal yang sudah jelas tak terlihat. 40% asumsiku, bisa saja suara-suara itu nyata. Leonel menggeleng, keningnya berkerut cemas.
"Marine, kau sedang apa? Apa kau mencari sesuatu?" Leonel bertanya sambil menghampiriku yang berdiri didekat pintu.
"Entahlah. Apa kau mendengar orang lain bernyanyi selain kita?" Aku harap dia tidak menganggapku gila.
"Sekali lagi, hanya ada kau dan aku disini dan sudah jelas yang kudengar hanya kita berdua yang bernyanyi."
"Marine!"
"Yah"
"Apa kau ingat lagu yang barusan kita nyanyikan?"
"Tidak. Aku hanya merasa tidak asing dengan lagu itu. Mungkin karena aku menyukainya."
"Tentu saja kau merasa tak asing dengan lagunya. Itu lagu yang ibumu ciptakan saat kau masih kecil."
Aku membuka mata dan seketika melototi Leonel yang tepat duduk disebelahku. Aku terkejut mendengar jawabannya, tapi seharusnya itu tidak membuatku kaget, karena aku memang lupa ingatan.
"Apa kau ingat?"
"Tidak." Aku tersenyum. Sungguh konyol aku bisa begitu gembira membaca adanya harapan dari ekspresi raut wajah Leonel saat bertanya.
"Lalu kenapa kau tersenyum?" Mata Leonel beralih melototiku, alisnya yang tebal kecoklatan berkerut marah di atas matanya yang menjorok masuk.
Aku terus tersenyum, berusaha mengubur rapat-rapat tiap pertanyaan yang muncul ke permukaan.
"Aku hanya mendambakan datangnya suatu saat dimana aku bisa mengingat semuanya."
Kami saling menatap dan dia ikut tersenyum. Aku bisa merasakan lengan Leonel memelukku dan aku bersandar didadanya, masih terisak-isak "Sungguh malang ingatanku."
............ bersambung