I Am LOst

I Am LOst
....sambungan01



Aku berjalan tanpa arah, pikiranku kosong, mondar mandir tanpa tujuan hingga tak sadar menabrak seseorang. Aku terjatuh layaknya tumbuhan putri malu yang ketika disentuh langsung tertunduk layu. "Maaf" kataku setelah sadar bahwa ada korban berdiri didepanku. Dia mengulurkan tangannya berusaha membantuku kembali berdiri. Kutatap tangan itu, tak yakin harus melakukan apa. Aku putuskan meraih tangannya, menatapnya dan dia tampak tak asing. Kali ini rambut panjangnya diikat tidak seperti saat dia duduk didepanku dimana aku masih memiliki jurnal yang belum kutemukan. Ia menyunggingkan senyum manisnya hingga aku tak kuasa mengenyahkan pandanganku. "Apa kamu mencari jurnalmu?" Tanya pria bule ini membuatku sontak terkejut. Tanpa hitungan detik aku mengangguk iya. "Ikut denganku jika kamu mau jurnal itu kembali" lanjutnya sambil berjalan meninggalkanku yang tetap berdiri di tempat dengan rasa ingin tahu dan dilema apa aku harus ikut dengannya atau tidak. Kuputuskan mengubur rasa ingin tahuku dan berlari mengikutinya sebelum dia menghilang. Kakinya yang panjang membuat langkah nya sangat cepat hingga aku terus berada 2 meter dibelakangnya. Dia berhenti tepat didepan ruang tunggu  VIP, menyuruhku masuk dan duduk di sebuah sofa tepat disebelah dia duduk. "Dimana jurnalku?" tanyaku penasaran. Ia bergegas masuk ke sebuah ruangan setelah menyuruhku untuk tunggu. Pikiranku sedikit tenang tapi masih kawatir bagamana jika aku ketinggalan pesawat. Aku memeras otak, mencari jalan keluar dan kuabaikan ketika kulihat pria yang kutunggu muncul dari balik ruangan. Pikiranku kacau ketika kulihat dia hanya membawa dua gelas minuman ditangannya. Kurang dari satu detik aku berjalan kearahnya dan wajahku kontan memerah karena amarahku, "Mana jurnalku?!" tanyaku berteriak. Dia menyuruhku untuk tenang dan mengajakku  kembali duduk. "Tolonglah, aku akan ketinggalan pesawat jika kamu tidak memberikan jurnal itu sekarang." Lanjutku memohon. Disodorkannya segelas minuman padaku, "Jurnal itu aman dan kamu tidak akan ketinggalan pesawat" katanya sambil tersenyum, sepertinya dia mengetahui fungsi senyumannya. Aku tak menjawab dan menatapnya garang. "Minumlah dulu, kamu keliatan kehausan,"pintanya manis. Tak bisa kutahan lagi aku memang kehauasan karena sedari tadi mondar mandir tanpa tujuan. Kuhabiskan minuman yang diberikan pria aneh yang tak tau apa maunya. "Apa jurnal itu penting?" Aku mendengarnya bertanya, namun wajahnya terlihat samar. Kepalaku terasa pusing dan mengantuk. Rasa kantukku berjalan dua kali lebih cepat dari rasa ingin tahuku mengapa dan ada apa denganku. Sekarang aku merasa berada dalam dunia mimpi, tapi ini lebih baik...


Aku berada di taman belakang rumah, di bawah  pohon kulihat ibu bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Disebelahnya ada ayah yang tak berhenti menatapnya sambil ikut bernyanyi. Mereka asik bernyanyi hingga tak menyadari keberadaanku. Keduanya beradu pandang saling mengisyaratkan perasaan satu sama lain. Perasaan yang kuat juga tanpa kata, jelas aku tahu apa itu, cinta, iya tentu. Aku terhanyut dalam gelombang melodi lagu yang mereka nyanyikan, stuck on you oleh Lionel Richie. 


Stuck on you


I've got this feeling down deep in my soul that I just can't lose


Guess I'm on my way


Needed a friend


And the way I feel now I guess I'll be with you 'till the end


Guess I'm on my way                                                        Mighty glad you stayed


Aku suka bagian ini dari lagu Lionel Richie, dan tanpa sadar ikut bernyanyi. Mereka berhenti, memandang ke arahku lalu keduanya berlari memelukku erat. Detik itu juga, begitu ada dalam dekapan mereka aku ingin sekali lagi menghentikan waktu, bisakah aku, mustahil. Ibu dan ayah meraih tanganku membawa aku ke tempat mereka duduk sebelumnya. Kali ini gantian ayah yang memainkan gitar, lalu kami bertiga bernyanyi bersama lagu yang ibu ciptakan saat usiaku 3 tahun..


Life is beautiful


Life is beautiful


If we are not worried


Life is beautiful


If we love each other


Oh, love is still the only answers in life


Situasi ini sungguh tak ingin kuakhiri. Kami tertawa, tersenyum dan bernyanyi bersama hingga dipertengahan lagu lenganku terasa ditusuk sebuah jarum tajam. Aku meringis hingga membuka mata. Semuanya begitu samar, tampak seorang pria berdiri  tepat didepanku dengan suntikan ditangannya. Aku berusaha mencocokannya dengan pikiranku. Segera aku mengenalnya setelah ia menyunggingkan senyum manisnya, sepertinya aku pernah sulit mengenyahkan pandanganku dari senyuman ini. Dia mendekatkan wajahnya padaku, menyentuh pipiku dengan tangannya yang terasa cukup dingin, membuat aku berhenti berpikir dan merasakan detak jantungku yang berdetak lebih cepat. Mulutnya komat kamit seperti mengatakan sesuatu namun tak jelas kudengar. Ingin sekali aku bertanya mengapa padanya, tapi aku tak kuasa menahan kantuk dan kembali tertidur.


Aku kembali berada di tempat dimana aku ingin sekali lagi menghentikan waktu. Tampak sebuah gitar yang tak asing bersandar di bawah pohon. Aku berjalan linglung mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa. Suara-suara berdengung dikepalaku, begitu ramai terdengar membuatku geram. Ada apa ini? Pertanyanku membanjiri pikiranku. Aku menangis keras merindukan sesuatu yang aku juga tak tahu apa. Bahkan alasanku ingin sekali lagi menghentikan waktu di tempat ini sama sekali tak kutemukan kenapa. Kupeluk erat gitar yang kupikir tak asing sambil menangis dan memeras otakku berusaha mengingat semuanya, namun percuma,  tak ada satupun yang terlintas dalam pikiranku..


bersambung....