I Am LOst

I Am LOst
ASING



Aku sangat menikmati senja di pinggir lautan, di tempat yang kupikir asing namun aku tetap ingin disini. Aku tidak mengerti sama sekali. Angin dingin mengayunkan rambutku seolah ada yang menggerakannya. Semesta mulai gelap tanda malam tiba. Kemana lagi takdir yang akan kutuju. Tersandung-sandung kawatir, aku langsung menoleh dan melayangkan pandanganku pada sosok orang yang kupikir tak asing lagi, Leonel. Dia membakar rasa kawatirku seketika dengan senyumannya. Leonel telah mengisi ingatan kosongku, dan kentara sekali dari ekspresinya bahwa ia mengerti.


"Sudah malam. Ayo pulang ke rumah. Ada yang menunggu kita disana", ucapnya sambil menarik tanganku. Kata itu terasa asing dalam kehidupanku sekarang, tapi aku tak bisa apa-apa selain mengikutinya pergi. Tidak jauh dari tempat kami menikmati senja, Leonel berhenti tepat di depan sebuah rumah yang berukuran cukup kecil, berdindingkan kayu, namun tampak cozy dengan lampu christmas yang bergantungan di depan teras rumah dengan beberapa kursi yang pastinya sangat nyaman diduduki menurutku.


"Apa ini rumahmu?", tanyaku tak menyangka.


"Iya. Welcome home Marine. Ayo masuk",


"Tunggu",


"Apa lagi?",


"Kamu bilang para pria tadi yang mengantar kita dari bandara dengan mobil mewah mereka adalah pengawal kamu.",


"Iya. Benar",


"Lalu kenapa rumahmu seperti ini?".


Aku mulai curiga soal pengawal yang diakuinya. Bisa jadi dia membohongiku. Aku putuskan tak mau masuk.


"Apa yang salah dengan rumah ini?". Leonel bertanya sambil memalingkan wajah seperti sedikit marah.


"Tidak ada yang salah",


"Lalu? Apa kamu pikir aku kaya karena punya pengawal? Atau karena naik bisnis class pesawat terbang?!".


Aku mengangguk iya, karena itu pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya.


"Apa kamu percaya padaku karena itu? Apa kepercayaan terhadap seseorang tergantung dari kaya dan miskin?!".


"Leonel. Lihat aku". Dia kesulitan memandang ke arahku, dan berhasil saat kupanggil namanya untuk ketiga kali.


"Bukan karena itu aku percaya. Tapi karena kamu tahu siapa aku. Walaupun aku masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku akan tetap percaya kamu, Leonel".


Akhirnya dia berani menatapku dan tersenyum.


"Tapi ada satu hal yang ganjil", lanjutku.


"Apa?",


"Semua kisah dongeng yang diceritakan tidak benar. Ternyata tidak semua pangeran memiliki istana yang megah".


Tawa Leonel pecah berderai mendengar perkataanku. Aku hanya tersenyum bahagia melihatnya tertawa. Dia berhenti kemudian memelankan suaranya.


"Aku seorang pangeran yang tidak punya istana yang megah tapi aku punya pemandangan alam yang megah dan juga memiliki seorang putri".


Kami saling menatap dan tersenyum. Entah apa yang dia rasakan, tapi aku sendiri sungguh bahagia.


Ia menarikku menaiki beberapa anak tangga dan masih terus tersenyum saat membukakan pintu untukku. Begitu aku melangkah masuk terdengar suara teriakan nyaring "Welcome home Marine!", sementara aku shock mendengar banyaknya pertanyaan 'siapa mereka' yang berdentum dari dalam pikiranku.


Aku memandang sekeliling. Leonel berdiri beberapa langkah di depanku. Dia berpapasan akrab dan saling berpelukan dengan mereka yang menyambut kami. Ada laki-laki dan wanita tua, muda sampai anak-anak. Aku tidak melihat alasan untuk takut, semua tampak bahagia, terlebih Leonel dan terkecuali aku. Kembali aku hanya berdiri kebingungan sambil memaksakan otakku mengingat. Orang-orang asing ini terus memanggil namaku girang, beberapa diantara mereka memelukku hangat.


Aku mulai curiga jangan-jangan sedang bermimpi.


bersambung.....