Hy Stupid, I Love You

Hy Stupid, I Love You
Bab 09



"Itu apa kak?"


Rezi bertanya sambil menunjuk sebuah kotak seperti timbangan yang tertutup kaca di segala sisinya.


"Oh.... itu namanya Neraca analitik."


Jawab Sasa sambil mengusap pundak Rezi.


"Neraca.... analitik itu.... apa?"


Tanya Rezi yang tidak tau dan tidak mengerti.


"Itu seperti alat timbangan. Tapi hanya di khusus kan untuk menimbang bahan atau alat yang berkaitan dengan laboratorium dengan ketelitian 0,0001 gram sampai dengan maksimum 210 gram."


Rezi yang mendengar penjelasan dari Sasa hanya mangut-mangut dan ber'oh'ria saja. Antara mengerti atau tidak sama sekali:v


"Kalau itu?"


Kini, telunjuk Rezi mulai bergerak lagi dan menunjuk ke arah sebuah gelas kaca berbentuk corong yang terbalik.


"Kalau yang itu namanya corong gelas."


Jelas Sasa lagi. Dan sekali lagi, Rezi mangut-mangut antara mengerti atau tidak sama sekali.


"Hei, kalian! Jangan hanya berdiam diri disana! Ayo cepat!"


Teriak Steifh yang langsung membuat Sasa dan Rezi berpaling menatap punggungnya yang sudah berjalan cukup jauh bersama Reza di depan sana.


Sasa pun lantas berjalan mengikuti Steifh sambil memegangi tangan kecil Rezi.


"Profesor Prasetyawan....."


Seorang pria berbaju serba putih berbalik dan menatap Steifh yang menyapanya tadi. Ia pun lantas tersenyum ramah pada Steifh dan semua yang hadir bersama Steifh.


"Eh? Tuan muda Steifh George? Sudah lama ya sejak kau datang kemari? Ada apa?"


Tanya seorang pria berbaju serba putih yang di sapa Steifh dengan sebutan 'Profesor Prasetyawan'.


"Hanya tugas kampus saja."


Jawab Steifh.


"Ohh....."


Profesor Prasetyawan hanya mangut-mangut saja.


"Aku akan meminjam ruangan itu lagi!"


Ucap Steifh yang direspon anggukan kepala oleh Profesor Prasetyawan.


"Silakan, tuan muda..."


Jawab Profesor Prasetyawan mempersilahkan.


"Steifh.... ini.....?"


Mata Sasa tak berkedip sama sekali ketika mereka memasuki ruangan yang di maksud oleh Steifh dan Profesor Prasetyawan tadi.


"Aku biasanya memakai ruangan ini jika ada keperluan atau jika aku hanya ingin mencoba-coba saja."


Jelas Steifh pada Sasa yang kini melihatnya dengan tatapan takjub.


"Bagaimana bisa? Profesor tadi itu...?"


Tanya Sasa penasaran.


"Ayah ku dan ketua laboratorium ini, yaitu Profesor Prasetyawan itu sahabatan dari kecil. Jadi, aku udah di anggap anaknya sendiri sama Profesor Prasetyawan."


Jelas Steifh yang membuat Sasa mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa Profesor Prasetyawan itu tidak mempunyai anak kandung?"


Tanya Sasa yang memang sedikit penasaran.


"Punya. Namanya William Wijaya. Dan sekarang ia sedang bekerja di perusahaan ayah ku!"


Jelas Steifh lagi.


"Kenapa dia tidak bekerja di laboratorium ayahnya saja?"


Tanya Sasa yang rasa penasarannya makin meledak-ledak.


"William tidak suka apapun yang berbau penelitian. Sedangkan aku tidak suka apapun yang berbau matematika."


Jelas Steifh.


"Jadi, bisa di simpulkan bahwa kalian itu terbalik ya?"


Steifh menaikkan satu alisnya.


"Iya, maksud aku itu, kau anak seorang pengusaha, tapi kau lebih suka ke laboratorium. Sedangkan si a.. siapa namanya....?"


"William."


"Ah, iya! Dia...William anak dari seorang ketua laboratorium terbesar di Indonesia, tapi ia malah lebih menyukai pekerjaan kantoran. Terbalik kan?"


Steifh menengadahkan kepalanya untuk melihat langit-langit ruangan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Iya juga, ya."


Gumam Steifh yang masih bisa di dengar oleh telinga Sasa.


"Apa dulu kalian tertukar?"


Steifh reflek menatap Sasa dengan tatapan yang tak dapat di artikan.


"Tidak mungkin!"


Sergah Steifh dengan cepat.


"Tapi....itu mungkin saja, kan?"


"Akhhh kau ini membuat ku bingung saja! Lebih baik cepat selesaikan tugas kita lalu jangan sampai aku bertemu dengan mu lagi!"


Ucap Steifh sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Ke--"


"Aku tidak mau bertemu dengan wanita bodoh dan aneh seperti mu lagi!"


"Hei, ka--"


"Jangan banyak bicara! Ayo cepat kerjakan!"


"Gila!"


Umpat Sasa.


"Cepat kerjakan saja!"


Pria gila! Aku juga tidak sudi untuk menemui mu lagi setelah hari ini!, celoteh Sasa dalam hati.


Pekerjaan mereka berdua selesai dengan cepat. Untung saja Profesor Prasetyawan menyuruh salah satu dari asistennya untuk mengajak Rezi dan Reza jalan-jalan. Jadi, tidak ada pengganggu di pekerjaan mereka kali ini.


Mobil sport Steifh berhenti di depan rumah Sasa. Sasa turun dari mobilnya Steifh.


"Terimaka--"


WUUSHHH


Mobil sport milik Steifh sudah menghilang dari pandangan Sasa.


"Dasar tidak sopan, cih!"


Ucap Sasa dengan sedikit berteriak.


TILILIT


TILILIT


TILILIT


Handphone Steifh yang berada di dalam saku celananya berdering.


-Paman Sergan yang menyebalkan-


Itulah kalimat yang tertera di layar handphone Steifh.


Jari telunjuk Steifh mulai memencet tombol hijau yang ada di handphonenya.


"Halo"


Sapa Steifh.


'Halo, bocah!'


Steifh sedikit menjauhkan handphonenya dari telinganya karena suara paman Sergan yang bisa merusak gendang telinganya itu.


"Ya, paman?"


'Aku tidak bisa menjemput anak-anak ku malam ini! Aku sedang berada di luar kota dn akan kembali seminggu lagi! Tolong jaga anak-anak ku, ya!'


TIITTT


Paman Sergan mematikan panggilannya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Steifh.


"Apa? Seminggu? TIDAAKKKKKK!!!"


Steifh berteriak sangat kencang hingga suaranya terdengar sampai ke lantai dasar. Lebay ah:v


"Steifh! Ada apa? Kenapa kau berteriak sangat kencang?"


Rei tiba-tiba datang mengejutkan Steifh yang menatapnya datar.


"Dan... kenapa kau tidak menutup pintu kamar mu?"


Kali ini, Steifh menatap kakaknya itu dengan tatapan seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup. Steifh kanibal ihh:v


"KAU YANG MERUSAK PINTU KU, BODOH!!!!"


Steifh berteriak lebih kencang dari yang pertama kalinya.


"Ah, aku lupa! Aku akan memanggil tukang yang akan memperbaiki pintu mu itu nanti!"


Ucap Rei sambil berlari dari hadapan Steifh. Takut di mangsa adiknya yang ganas itu xixixi.


Dahlah malas ngejar!, pikir Steifh yang kini mulai merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk.


Steifh bangun dari tidurnya yang nyenyak. Saat beranjak berdiri, ia melihat pintu kamarnya sudah terpasang dengan rapi.


Baguslah!, pikirnya.


Ia pun beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Steifh keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutnya yang basah menggunakan tangannya dan dengan keadaan handuk yang masih di lilitkan di pinggangnya.


"Kak! Udah siap mandinya?"


Mata Steifh terbelalak ketika melihat dua anak kecil yang kini sedang duduk di kasurnya.


"Kalian sedang apa di kamar ku?"


Tanya Steifh pada dua anak kecil yang kini hanya senyam-senyum tak jelas ketika melihatnya.


"kaakkk....Kakak masih ingatkan janji kakak pada kami kemarin?"


Steifh tampak berfikir.


"Iya, aku ingat, kenapa?"


Ucap Steifh yang memang selalu memegang janjinya.


"Nanti habis sarapan, antarin kami ya...?"


"Kemana?"


Gini aja ya biar penasaran hehe:)


IG||•fikafadillah***_