Hy Stupid, I Love You

Hy Stupid, I Love You
Bab 07



.


.


.


.


Disisi lain......


Apaan sih ni cowok? nggak jelas banget! Kalau nggak karena keperluan kampus, nggak bakalan aku ngehubungi dia!, batin Sasa kesal.


.


.


.


.


.


.


.


Tok


Tok


Tok


"Steifh....."


Kakaknya Steifh yang bernama 'Rei George' mengetuk-ngetuk pintu kamar adik tersayangnya.


Sudah sekitar 10 menitan ia mengetuk-ngetuk pintu kamar adiknya, tapi tak ada respon sama sekali dari pemilik kamar.


Apa dia masih tidur?, pikir Rei.


Tok


Tok


Tok


Sekali lagi, Rei mengetuk pintu kamar Steifh.


"OI, STEIFH! KAU MASIH TIDUR ATAU BAGAIMANA?"


Rei memanggil Steifh dengan berteriak sangat kencang karena kesal tidak direspon sedari tadi.


KRIIIIK


KRIIIIK


KRIIIIK


Oh, astaga! Anak satu ini!, ngedumel Rei dalam hati.


Rei mencoba membuka pintu kamar Steifh. TERKUNCI!


Rei mulai melangkah mundur, lalu dengan tiba-tiba ia langsung melangkahkan kakinya maju dan menendang pintu kamar Steifh dengan sangat kuat.


BRAKK!!


Pintu itu terlepas dari engselnya.


"WOIII, ASTAGAAAA!"


Rei berteriak ketika melihat Steifh masih terlelap dengan posisi tengkurap.


"Woi, bangun!!"


Rei mendekati tempat tidur Steifh.


"Lah? pantesan aja nggak bangun-bangun. Rupanya pakai headseat!"


Gumam Rei ketika melihat telinga Steifh yang disumpal menggunakan headseat berwarna hitam.


Rei menarik headseat yang dikenakan oleh Steifh, lalu ia berteriak tepat di telinga Steifh yang masih terlelap.


"WOII BANGUNN!! UDAH PAGII MASIH AJAA NGEBOOO!!!"


Sontak Steifh terbangun dan langsung mencak-mencak tak jelas seperti orang yang sedang dilanda kebakaran.


"WOII, B*GO!! BANGUN DAH PAGI NI!!"


Steifh yang sudah tenang dari keterkejutannya menatap ke arah Rei yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Akhh kenapa sih kak!??"


Ucap Steifh sambil mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.


"Kau masih ingat kan dengan paman Sergan yang ada di New York?"


Steifh tampak berpikir. Ia berusaha mengingat wajah seseorang yang disebutkan oleh Rei tadi.


"Oh, paman yang menyebalkan itu ya? Yang dulunya sering memanggilku dengan sebutan bocah ya?"


Tanya Steifh yang di jawab anggukan oleh Rei.


"Kenapa dengannya?"


Tanya Steifh lagi.


"Em....sebenarnya begini, Steifh. Hari ini dia akan kembali ke Indonesia untuk mengurusi perusahaannya yang ada di sini."


Jelas Rei pada Steifh yang tampak tak tertarik sama sekali.


"Lalu.....?"


Steifh bertanya sambil menaikkan satu alisnya.


"Dia ingin menitipkan anak-anaknya disini."


Rei menjelaskan lagi.


"Lalu.....hubungannya dengan ku apa sampai-sampai kau membangunkan ku sepagi ini di hari libur ku yang seharusnya indah yang menjadi tidak indah karena dirimu?!"


Steifh bertanya, lebih tepatnya menuntut jawaban dari sang kakak, Rei.


"Sebentar lagi anak-anaknya akan datang. Dan kau yang akan menjaga mereka!"


Ucap atau yang lebih tepatnya perintah dari sang kakak.


"Oh, oke!"


Steifh menjawab sambil kembali merebahkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk.


"Aku kira kau tidak akan mau, ternyata aku salah hehe."


Rei ingin melangkahkan kakinya keluar dari kamar Steifh sebelum Steifh membuka mulutnya dan memanggilnya.


"Kak! Kau bilang apa tadi?"


Rei berbalik menatap adiknya yang kini sudah berpindah posisi dari yang semula tertidur menjadi duduk di atas kasur.


"Aku kira kau tidak akan mau, ternyata aku salah, hehe."


Rei mengulangi perkataannya sambil menatap wajah Steifh dengan bingung.


"Bukan! Yang sebelumnya!"


Ucap Steifh menyalahkan jawaban dari kakaknya.


"Em......."


Rei tampak berpikir.


"Sebentar lagi anak-anaknya akan datang. Dan kau yang akan menjaga mereka.......?"


Rei kembali mengulangi perkataannya dengan nada seperti orang yang sedang bertanya.


"Ah, iya! Yang itu!"


Jawab Steifh membenarkan.


"Eits! Sebentar! Apa aku tidak salah mendengar kata 'menjaga' di kalimat itu?"


Rei menggeleng pertanda bahwa Steifh tidak salah mendengar.


"Kau menyuruh ku menjaga anak-anaknya paman Sergan yang menyebalkan itu?"


Kini, Rei mengangguk.


Bentak Steifh pada kakaknya.


"Kau harus melakukannya!"


Ucap Rei dengan menampilkan senyum smirknya.


"Atas dasar apa?"


Steifh berucap sambil menaikkan alisnya sebelah. Ciri khasnya hehe:)


"Karena kau tidak punya pilihan!"


Rei tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan hal itu. Ia meraih handphonenya yang berada di saku celananya lalu mengetikkan sesuatu.


Tiba-tiba handphone Steifh yang berada di meja disamping kasurnya berdering. Steifh lantas mengambil dan mengecek handphonenya.


Steifh menampilkan wajah terkejutnya yang sangat tidak elegan. Dia menatap ke arah Rei yang kini sedang tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes di sudut matanya.


"REIII GILAAAAAAA!!!!!!!"


Steifh berteriak dengan sangat kencang hingga suaranya terdengar sampai ke lantai satu.


"Dadaaah aku mau sarapan duluuu!"


Rei tertawa seperti karakter penjahat yang ada di film-film sambil berlalu pergi dari kamar Steifh.


"KENAPA KAUU SANGAT JAHAT KEPADAKUU, REIIIII!!!!!"


Steifh berteriak histeris seperti seorang pria yang sedang kehilangan kekasihnya. Apasih, Steifh lebay deh, wkwk.


.


.


.


.


Steifh keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dengan hanya memakai handuk yang dililitkan sebatas pinggangnya.


Eh, tunggu dulu!,


Kenapa pintunya tidak tertutup?,


Dimana pintu kamar ku?,


pikir Steifh dengan masih berdiri di depan pintu kamar mandinya.


Ia lantas melangkah mendekati pintunya yang kini telah tergeletak dilantai.


Ia tau ini perbuatan siapa!


"REEIIIIIIII!!!!! KAUUUU MERUSAK PINTU KAMAR KUUUUU!!!!!!!!"


Rei yang sedang memakan sarapan dengan santai mendengar teriakan Steifh. Ia pun bergegas berlari ke mobilnya tanpa menghabiskan sarapannya.


.


.


.


.


"Oi, bocah!"


Steifh yang sedang memakan rotinya langsung menoleh ke arah suara yang ia rasa sedang memanggilnya.


"Hn, Paman Sergan......?"


Ucap Steifh yang dijawab anggukan kepala oleh pria dewasa berjas hitam yang memanggilnya dengan sebutan 'bocah'.


"Oh, ternyata kau masih mengingatku, bocah!"


Steifh tampak kesal dengan pria yang dipanggil 'Paman Sergan' olehnya tadi.


"Paman, jangan panggil aku bocah lagi! Aku sudah besar sekarang!"


Ucap Steifh yang muak dengan sebutan 'bocah'.


"Dihadapanku kau tetaplah seorang bocah!"


Setelah Paman Sergan mengatakan hal itu, terdengar suara anak kecil tertawa. Dari arah suaranya berasal, sepertinya anak-anak kecil itu berada di balik Paman Sergan.


"Hei, anak-anak! Ayo, perkenalkan diri kalian pada kakak ini!"


Dari balik tubuh Paman Sergan, keluarlah dua orang anak kecil yang bergender laki-laki.


"Hai, kak! Nama ku Rezi Rhefaile dan dia ini adik ku, Reza Rhefaile."


Steifh mangut-mangut saja ketika mendengar anak-anak kecil itu memperkenalkan dirinya.


"Aku titipkan anak-anak ku padamu! Tolong dijaga, ya! Memang mereka itu sedikit nakal, jadi harap bersabar ya, bocah."


Paman Sergan melambaikan tangannya pada anak-anaknya sebelum ia pergi ke luar untuk mengerjakan urusannya.


"Jadi, Rezi dan Reza. Kalian bermainlah bersama bibi-bibi ini. Aku harus pergi sekarang!"


Ucap Steifh sambil melangkahkan kakinya keluar.


"Hei, bocah! Papa kami menitipkan kami padamu! Jadi, kami harus selalu bersamamu!"


Steifh langsung menoleh dan menatap tajam pada anak kecil bernama Rezi yang saat ini sedang menarik tangannya.


"Kau menyebut aku apa tadi?"


Tanya Steifh pada Rezi yang balik menatapnya tajam.


"Bocah!"


Kurang ajar banget ni, bocil!, umpat Steifh dalam hatinya.


Steifh lebih memilih pergi daripada harus meladeni kedua bocil yang kurang ajar ini.


Tapi, lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena dua bocil yang sedang menghalangi jalannya.


"Kalian mau apa?!"


Steifh mulai kesal akibat dua bocil ini.


"Kami ingin ikut!"


Cih, ini yang aku takut kan!, kesal Steifh dalam hati.


"Tapi....."


Kembali, Steifh merasa kesal pada dua bocil yang dengan tidak sopannya memotong ucapannya.


"........atau kami akan bilang pada papa kami kalau kakak tidak mau menjaga kami!"


Etdah! ini bocil sungguhan atau bocil jadi-jadian sih?, batin Steifh bertanya.


"Oke-oke! Kalian boleh ikut!"


Ucap Steifh pasrah.


Daripada diomelin paman Sergan, lebih baik aku ajak aja dua bocil ini!, pikir Steifh.


.


.


.


.


Steifh sampai di depan sebuah rumah yang terlihat lebih kecil jika dibandingkan dengan rumahnya yang mewah.


Walaupun kecil dan sederhana, tapi rumah itu terlihat sangat indah dengan cat berwarna biru cerah yang membuat rumah itu terlihat lebih hidup dan tentram.


Steifh bersama kedua anak kecil itu mengetuk pintu rumah tersebut.


"Iya, sebentar!"


Sahut pemilik rumah tersebut.


Seorang wanita dewasa membukakan pintu rumah itu.


Sampai sini dulu ya, hehe:)


..."TERIMAKASIH KARENA SUDAH MEMBACA NOVEL KARYA SAYA INI. JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN CERITANYA YANG TERBELIT -BELIT, SAYA MOHON AGAR KALIAN MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR DI BAWAH. TERIMAKASIH:)"...


^^^ig||•fikafadillah_^^^