Hy Stupid, I Love You

Hy Stupid, I Love You
Bab 06



.


.


.


.


"Tangan mu b-bagaimana?"


Kini, Sasa dan Steifh sedang berada di dalam ruang UKS.


"Ini hanya luka kecil! Tidak apa-apa!"


Steifh menjawab dengan masih mencari-cari sesuatu dari atas lemari UKS.


Steifh mengambil sebuah kotak berwarna putih yang em....ah, kotak P3K. Iya, Steifh mengambil sebuah kotak P3K dari atas lemari. Lalu, ia mengambil posisi menunduk dan......


"EEEHH!?"


Sasa berteriak ketika merasakan sebuah tangan menyentuh kakinya yang terasa perih. Ternyata, tangan itu adalah milik seorang pria yang sedang menunduk di hadapannya. Ya, itu adalah tangan milik Steifh.


"K-kau m-mau ng-ngapain?"


Tanya Sasa gugup ketika merasakan jari-jari tangan Steifh mulai menyentuh kulit kakinya yang melepuh akibat cairan zat kimia tadi.


Steifh tidak menjawab. Ia malah mengambil kaki Sasa yang terlihat melepuh, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas pahanya.


"S-steifh....?"


Sekali lagi, Sasa memanggil nama Steifh. Steifh menengadahkan kepalanya ke atas menatap wajah Sasa yang mulai memerah. Jarak antara wajah mereka hanya sekitar 10 cm.


1 detik


2 detik


3 detik


Tiba-tiba Steifh berdiri hingga membuat kaki Sasa yang berada di atas pahanya menjadi terhempas ke lantai begitu saja.


"ARGHHH!!"


Sasa berteriak saat merasakan kakinya yang terasa perih mulai menyentuh lantai UKS yang dingin.


"K-kau gila! Ini sakit!"


Maki Sasa pada Steifh yang membelakanginya.


"S-salah mu! Ke-kenapa k-kau ha-harus m-memasang e-ekspresi s-seperti i-itu t-t-tadi!?"


Ucap Steifh dengan terbata-bata. Tanpa bisa ia cegah, jantungnya mulai berdetak tak karuan dan pipinya mulai memanas. Ia merasa jika sekarang pasti wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.


"E-ekspresi a-apa?"


Tanya Sasa yang memang tidak mengerti maksud dari perkataan Steifh.


Steifh dengan tiba-tiba mendekati Sasa yang masih terduduk diam di ranjang UKS tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.


"K-kau?"


Sasa terkejut ketika Steifh menaikkan kedua kaki Sasa ke atas ranjang tempat Sasa duduk saat ini.


"H-hei!"


Steifh mengambil kotak P3K yang ia letakkan di lantai tanpa memperdulikan panggilan dari Sasa.


Steifh menggulung celana jeans panjang Sasa yang sebelah kiri sampai batas lutut.


Kemudian ia membalurkan sesuatu seperti krim di kaki Sasa yang kulitnya melepuh. Lalu, membalutnya menggunakan perban yang ia temukan di kotak P3K.


"Apa susahnya mengatakan kalau kau ingin mengobati kaki ku!?"


Ucap Sasa yang memang sempat salah paham kepada Steifh.


"Kau me-membuat ku berpikiran hal lain tadi!"


Lanjutnya.


"Hal apa?"


Steifh bertanya sambil menatap mata Sasa yang membuat Sasa memalingkan wajahnya.


"K-kau j-j-jangan p-pura-pura t-ti-dak t-t-tau!"


Jawab Sasa dengan masih memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Steifh.


"Ternyata kau itu wanita yang berpikiran mesum, ya."


Ucap Steifh yang berhasil membuat Sasa berbalik dan menatapnya wajahnya lagi.


"Hei! Bukan seperti itu!"


Sergah Sasa atas tuduhan Steifh padanya tadi.


"Lalu....?"


Tanya Steifh lagi.


"Aku hanya.....gampang terbawa suasana saja."


Ucap Sasa yang sekarang menundukkan kepalanya.


"Itu berbahaya! Jika kau tidak sedang bersama ku sekarang, pasti kau sudah....."


Steifh tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat Sasa mengepalkan jari-jarinya dan menggenggam kuat celana jeans yang sedang dikenakannya.


"Aku tau itu."


Jawab Sasa dengan masih menundukkan kepalanya. Steifh yang sedang memperhatikan Sasa dengan jelas melihat ada sebuah air yang jatuh dari mata Sasa.


Dia kenapa? apa dia mempunyai sebuah masalah atau masa lalu yang kelam?, batin Steifh.


"Oh, iya! Tangan mu....?"


Sasa mulai bertanya perihal tangan Steifh yang tadi terluka karena dirinya. Padahal Steifh sudah melupakannya tadi.


"Padahal aku sudah melupakannya tadi!"


Gumam Steifh yang masih bisa di dengar oleh Sasa sambil melihat tangannya yang sedikit melepuh sampai batas pergelangannya.


Kini gantian Sasa yang mengobati tangan Steifh yang terluka karena dirinya.


.


.


.


.


"Em, apa kita tidak kembali ke lab?"


Tanya Sasa pada Steifh yang diam saja setelah mengucapkan terimakasih padanya tadi.


"Oh, ayo!"


Steifh melangkahkan kakinya keluar dari ruangan UKS yang diikuti oleh Sasa di belakangnya.


.


.


.


.


"Permisi!"


Ucap Steifh dan Sasa bersamaan.


"Oh, kalian sudah selesai? Silahkan masuk!"


Pak dosen mempersilahkan Steifh dan Sasa masuk.


"Kelompok 1, batas waktu pengumpulan tugas ini adalah minggu depan. Jadi, kalian masih bisa mengerjakannya."


Jelas pak dosen pada Steifh dan Sasa yang baru kembali dari UKS. Steifh dan Sasa mengangguk sebagai jawabannya.


"Baiklah, waktu pembelajaran kita hari ini sudah habis. Bapak permisi! Sampai jumpa minggu depan!"


.


.


.


.


"Hei, bro! Langsung pulang?"


Tanya Kai pada Steifh yang sudah bersiap-siap memasuki mobil sportnya yang canggih.


"Iya."


Jawab Steifh singkat sambil memasuki mobil sportnya.


"Jalan dulu dong, bro!"


Ucap Kai pada Steifh.


"Nggak, aku lelah!"


Jawab Steifh sambil bersiap-siap melajukan mobilnya.


"Ha? padahal aku pengen ngajak kalian semua ke Cafe Rio yang baru buka itu."


Ucap Kai lesu karena seluruh temannya tidak ada yang mau ikut dengannya.


"Lain kali saja, Kai! Kami semua lelah setelah mendengar pak dosen berceramah tadi!"


Jawab Syahzan pada Kai.


"Aku mengajak kalian kesana untuk menyegarkan otak kalian!"


Kai masih tetap bersikukuh.


"Aku lebih suka tidur di kamar ku!"


Kini, Seven yang menjawab.


"Daahh Kai!"


Seluruh 'The Prince' terkecuali Kai sudah pergi membawa mobil mereka masing-masing. Dan menyisakan Kai yang tertunduk lesu karena tidak berhasil mengajak teman-temannya.


Saat Kai hendak masuk ke mobilnya, tiba-tiba ia melihat Nilandri kembali ke kampus.


Dengan segera, Kai menghampiri Nilandri.


"Woi, Nil! Kau mau ikut aku?"


Tanya Kai pada Nilandri.


"Nggak usah, makasih! aku kembali lagi hanya karena aku melupakan sesuatu!"


Jawab Nilandri sambil celingukan melihat ke segala arah.


"Lupa apa?"


Tanya Kai penasaran.


"Aku lupa kalau tadi aku disuruh pulang bareng Hani."


Jawab Nilandri dengan masih celingukan.


"Lah? kenapa? bukannya kalian beda rumah, ya?"


Tanya Kai lagi.


"Di rumah Hani ada acara. Jadi aku disuruh langsung kesana aja."


Kai mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti.


"HANII!!"


Nilandri berteriak memanggil Hani.


Hani langsung berlari mendekati Nilandri dan Kai.


"Ayo pulang, kak!"


Memang Hani selalu memanggil Nilandri dengan sebutan kakak walaupun mereka hanya berjarak sekitar 6 bulan.


"Duluan ya, Kai."


Pamit Nilandri pada Kai, sedangkan Hani hanya tersenyum saja ke arah Kai.


"Iya, hati-hati!"


Jawab Kai. Setelah mobil Nilandri pergi, Kai kembali ke mobilnya dan melaju dengan kecepatan 80/dtk. Kenceng banget kan, hadeuh!.


.


.


.


.


TILILIT TILILIT TILILIT


Handpone Steifh berdering pertanda ada yang menghubunginya.


Steifh mengambil handphonenya yang ia letakkan di meja.


-08xxxxxxxxxx-


Itulah nomor yang tertera di layar handphonenya Steifh. Ia mengangkat panggilannya.


'H-halo, ini nomornya Stiefh George, kan?'


Terdengar suara seorang wanita dari sebrang sana.


"Iya, ini siapa?"


Tanya Steifh balik.


'Ini aku, Sasa.'


"Oh, ada apa?"


'Hm, itu...aku hanya ingin bertanya tentang kerja kelompok saja.'


"Aku akan ke rumah mu besok!"


'Mau n-ngapain?'


Wanita ini pura-pura bodoh atau memang beneran bodoh sih?, tanya Stiefh dalam hatinya.


"Mau ngelamar!"


TIITT!!


Steifh mematikan panggilan secara sepihak.


Malas ngomong sama orang bodoh!, pikirnya.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai disini dulu, ya hehe:)


..."TERIMAKASIH KARENA SUDAH MEMBACA NOVEL KARYA SAYA INI. JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN CERITANYA YANG TERBELIT -BELIT, SAYA MOHON AGAR KALIAN MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR DI BAWAH. TERIMAKASIH:)"...


^^^ig||•fikafadillah_^^^