
🌺🌿
"Hai, Sa. Pulang bareng yok!"
Terlihat seorang pria yang berusaha mengajak Sasa pulang bersamanya.
"Ah, maaf. Aku harus pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang!"
Sasa berusaha menolak pria itu dengan sangat halus. Tapi Sasa tidak berbohong. Ia memang harus pergi ke suatu tempat dulu sebelum dia pulang.
"Ya, tidak apa-apa! Aku akan menemani mu!"
Tidak pria namanya kalau tidak 'memaksa'kan kehendaknya. Eh, tapi tidak semua pria yang begitu. Hanya beberapa. Ingat! Hanya beberapa.
"Eh, itu... aku bisa pergi sendiri kok!"
Sasa masih berusaha menolaknya. Tapi pria itu menarik tangan Sasa dan memaksanya masuk ke mobilnya.
"Apa-apaan ini! Lepaskan atau aku akan berteriak!"
Sasa berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari pria tadi.
"Diamlah! Dasar wanita lemah!"
Sasa kesal mendengar hal yang dikatakan pria itu. Ia melepas ransel yang ada di bahunya dan melemparnya ke arah kepala pria yang sedang memegangi tangannya. Alhasil, pria tersebut melepaskan tangan Sasa dan sibuk memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ya bagaimana tidak sakit? Isi ransel Sasa itu banyak sekali! Mulai dari buku-buku kampus yang tebal hingga pernak-pernik wanita yang wajib di bawa.
"Kau bilang wanita itu lemah, Hah?"
Sasa menendangi perut pria itu. Mungkin sakit di perutnya melebihi sakit yang ada di kepalanya karena pada saat itu Sasa sedang memakai high heels nya.
Sasa mengambil kembali tasnya yang terjatuh dan dengan santai pergi begitu saja meninggalkan pria yang kesakitan akibat ulahnya. Hei, itu bukan salah Sasa. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di kondisi seperti itu, eh!
"Sepertinya dia sama sekali tidak membutuhkan pertolongan"
Dan ternyata, dari awal sampai akhir kejadian tersebut Steifh melihatnya. Ia bahkan sempat berlari ingin membantu Sasa. Tapi setelah melihat 'kehebatan wanita' itu, Stiefh memutuskan hanya akan menonton dari jarak jauh saja.
"Hei, Steifh! Kami sudah menunggumu dari tadi! Kenapa kau ada disini?"
Ucap Kai pada Steifh sambil memukul pelan pundak Steifh. Dan kini, seluruh ehm... bisa dibilang 'The Prince' sudah berkumpul di sekitar Steifh.
"Pria itu bukan dari kelas kita, kan?
Steifh bertanya tanpa memperdulikan pertanyaan dari Kai.
"Yang mana?"
Tanya Syahzan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.
"Itu!"
Kini Steifh dengan jelas menunjuk seorang pria yang sedang memegangi perutnya.
"Oh, dia! Tidak. Dia dari jurusan biologi!"
Ucap Syahzan yang ditanggapi anggukan kepala oleh Steifh.
"Bisa jelaskan biodatanya?"
Ucap Steifh yang berhasil mendapatkan perhatian dari seluruh teman-temannya.
"Untuk apa?"
Kini giliran Nilandri yang bertanya.
"Hanya ingin tau"
Jawab Steifh. "Hei, apa tidak ada yang bisa memberitahu ku tentang dia?" tanya Steifh saat ia melihat teman-temannya hanya diam dan saling menoleh satu sama lain.
"Kalau kau ingin bertanya tentang seseorang, tanyalah pada kawan jenius kita ini!"
Ucap Kai sambil mendorong Seven yang sedang sibuk mengutak-atik ponselnya ke hadapan Steifh.
"Hei, tukang tidur itu lebih jenius daripada aku! Tanya saja padanya!"
Ucap Seven tanpa berpaling dari ponselnya.
"Aku hanya suka belajar! Tidak seperti kau yang suka mengurusi urusan orang lain! Dan berhenti memanggilku tukang tidur!"
Ucap Syahzan.
"Oh, ayolah teman-teman! Apa tidak ada yang bisa memberitahu ku?"
Ucap Steifh yang mulai kesal.
"Ya, ya, ya, baiklah. Aku akan meretas komputer sekolah dan mencari biodata tentangnya!"
Ucap Seven masih dengan menatap ponselnya.
"Cepatlah!"
Ucap Steifh yang tidak sabaran.
"Karen Devisco. Jurusan biologi. Umur 20 tahun. Dan sepertinya, keluarganya adalah salah satu keluarga terpandang di kampus ini"
Jelas Seven.
"Keluarga Devisco ya"
Gumam Steifh sambil tersenyum misterius. Entah apa yang dipikirkannya, aku pun tidak tau.
"Hei, jangan membuat masalah dengan keluarga Devisco!"
Ucap Kai memperingatkam Steifh.
"Aku dengar keluarga Devisco tidak terima penolakan dan penghinaan"
"Dan mereka akan memberikan pelajaran kepada siapapun yang berani menolak ataupun menghina mereka"
Steifh terkejut ketika mendengar perkataan dari teman-temannya. Ini gawat, pikirnya. Apalagi ia tau bagaimana keluarga Devisco itu. Dengan menggunakan kekuasaan mereka, pasti Sasa akan hancur.
🌺🌿
"Halo adikku tersayang"
"Baru pulang?"
Tanya pria tersebut tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah yang sedang ia baca.
"Ngga! Ini baru mau pergi!"
Jawab Steifh sambil berbalik dan melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan dari yang ia tuju.
"Heh?"
Pria tersebut menurunkan kakinya dan mengalihkan pandangannya ke arah Steifh.
"Udah tau nanya lagi!"
Ucap Steifh sambil berbalik dan berjalan naik ke anak tangga. Ya, karena kamar Steifh berada di lantai tiga.
"Haaah, dasar!" pria yang memanggil Steifh dengan sebutan 'adik' itu menghela napasnya pelan. "Setelah selesai, cepatlah turun! Kita akan makan siang bersama!" lanjut pria itu.
Steifh hanya mengacungkan jarinya berbentuk 'ok' sebagai tanggapan.
10 menit kemudian Steifh turun setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang santai dan langsung menuju ke ruang makan.
Di ruang makan sudah ada pria tadi dan para pelayan yang sedang menyiapkan makanan di meja. Steifh duduk berhadapan dengan pria itu. Pria itu mengusir para pelayan yang ada si sana sehingga sekarang hanya tinggal Steifh dan pria itu.
"Silahkan makan, a.dik.ku. ter.sa.yang.!"
Ucap pria itu dengan menekankan kata 'adikku tersayang' yang membuat Steifh mengangkat alis kanannya.
Steifh mulai memakan makanan yang tersaji di depannya. Begitu pula dengan pria yang ada di hadapannya.
"Uhuk, uhuk!"
Steifh terbatuk-batuk setelah memakan makanannya yang terasa begitu asin.
"Kau uhuk gila, kak uhuk uhuk!"
Ucap Steifh dengan masih terbatuk-batuk. Sedangkan pria yang dipanggil 'kakak' oleh Stiefh hanya tertawa terbahak-bahak.
"Siapa suruh kau mengganggu liburan ku?"
Ucap pria yang bisa kita simpulkan bahwa ia adalah 'kakaknya Steifh'.
"Siapa suruh kau pergi liburan seenaknya dan meninggalkan semua pekerjaan pada ku?!"
Balas Steifh setelah meminum jus yang sudah di siapkan untuknya.
"Aku hanya ingin berlibur bersama teman-teman ku! Apa itu salah?"
Ucap kakaknya Steifh yang tidak terima disalahkan oleh adiknya.
"Kak! sebenarnya itu tidak salah! Hanya saja, kau salah besar jika menyuruh ku untuk mengurusi perusahaan! Aku tidak ingin membuat ayah bangkrut!"
"Ya, ya, ya. Aku tau itu! Baru seminggu bekerja saja kau sudah membuat tiga perusahaan membatalkan kerja samanya dengan kita!"
Steifh hanya diam setelah mendengar ledekan dari sang kakak.
"Aku sarankan kau fokus ke kuliah mu di bidang perkantoran!"
"Aku memang sedang fokus ke kuliah ku. Tapi tidak di bidang itu!"
"Lalu?"
"Kimia"
Kakaknya Steifh terkejut mendengar jawaban dari adik tersayangnya itu.
"Dasar, gila! Hidup mu nemang tidak ada yang normal! Pantas saja kau tidak mempunyai pacar!"
"Apa maksud mu dengan tidak normal, kak? Dan masalah pacar, aku belum memikirkannya!"
"Besok kau yang akan melanjutkan perusahaan ayah! Bukannya mengambil jurusan yang berhubungan dengan kantor, kau malah mengambil jurusan kimia! Aneh!"
"Sudahlah, kak! Aku hanya nelanjutkan hobi ku saja!"
"Hobi mu yang mana? menghancurkan lab kimia?"
Steifh berdiri dari duduknya dan melangkah menjauh dari meja makan tanpa memperdulikan pertanyaan dari kakaknya.
"Hei, mau kemana kau?"
"Aku tidak mau makan dengan orang gila!"
"Hei, dasar tidak sopan!"
Steifh terus melangkah keluar tanpa memperdulikan ocehan sang kakak yang tidak ada habisnya.
🌺🌿
Steifh iseng memasuki toko buku sebelum ia pergi ke kafe tongkrongannya. Ia memilih beberapa novel horor yang di anggapnya menarik.
Dan di saat itulah ia melihat seorang wanita yang ia kenal. Bukannya itu Sasa?, pikirnya.
Sasa terlihat sedang kesusahan saat ingin mengambil sebuah buku yang berada di rak paling atas.
Steifh berinisiatif menolong Sasa yang sedang kesusahan. Ia menggapai buku itu dan memberikannya pada Sasa.
"Terimakasih"
Ucap Sasa sambil tersenyum manis. Steifh hanya mengangguk sebagai tanggapannya.
"Eh, kamu suka novel horor juga?"
Tanya Sasa ketika melihat Steifh yang sedang memegangi beberapa buku.
"Ngga juga sih. Cuma kelihatannya menarik"
Sasa hanya mengangguk sambil ber'oh'ria sebagai tanggapannya.
..."TERIMAKASIH KARENA SUDAH MEMBACA NOVEL KARYA SAYA INI. JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN CERITANYA YANG TERBELIT-BELIT, SAYA MOHON AGAR KALIAN MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR DI BAWAH. TERIMAKASIH:)"...
IG||•fikafadillah_