Hy Stupid, I Love You

Hy Stupid, I Love You
Bab 10



.


.


.


.


"Ke rumah kak Sasa!"


Jawab Rezi dengan cengengesan.


"Kalian ngapain ke sana? Pengen gangguin Sasa?"


Rezi dan Reza serempak menggeleng.


"Terus....kalian mau ngapain?"


Rezi dan Reza saling berpandangan selama beberapa detik.


"Kakak jangan banyak tanya! Turuti saja apa yang kami mau!"


Steifh merasa sedikit menyesal sudah menjanjikan mereka berdua. Tapi, mau bagaimana lagi? Seorang pria itu di nilai dari perkataannya. Jadi, jika ia sudah mengatakan janji, maka ia harus memenuhi janjinya sebagai seorang pria sejati.


"Hm, oke! Baiklah!"


Jawab Steifh dengan rasa bangga pada dirinya sendiri. Gini-gini, Steifh itu memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi. Bahkan sudah bisa di sebut dengan kata PD tingkat akut.


.


.


.


.


TINGNING


TINGNING


TINGNING


(Anggap aja bunyi bel>_<)


"Permisi...."


Steifh menekan tombol bel yang ada di samping pintu rumah Sasa.


Saat Steifh ingin menekan tombol bel itu lagi, pintu rumah Sasa terbuka.


"Eh, nak Steifh...!"


Ibunya Sasa menyapa Steifh dengan lembut.


Ah, jadi kangen ibu, ucap Steifh dalam hati.


".....nak, Steifh?"


Panggilan dari ibunya Sasa berhasil membuyarkan Steifh dari lamunannya.


"Ah, iya nte?"


Steifh menjawab.


"Nak, Steifh....nyari Sasa, ya?"


Pertanyaan dari ibunya Sasa membuat Steifh menyadari maksud kedatangannya ke rumah Sasa.


"Iya, nte! Kak Sasanya ada?"


Bukan Steifh, melainkan Rezi yang menjawab.


"Oh...masuklah dulu. Tante panggil dia dulu, ya!"


Steifh, Rezi, dan Reza pun masuk ke dalam setelah di persilahkan oleh sang pemilik rumah tersebut.


.


.


.


.


Di dalam kamar, Sasa sedang menari tak jelas dengan mengikuti alunan lagu dari girlband korea 'BLACKPINK' yang berjudul 'Bombayah'. Maklum guys, soalnya authornya BLINK hehe.


TOK


TOK


TOK


"Sa.....!"


Sangking asiknya menari, Sasa sampai tidak bisa mendengar suara ketukan pintu dan panggilan ibunya dari luar.


"Sa....!"


Sekali lagi, ibunya memanggil Sasa.


Merasa tidak mendapatkan respon dari yang ada di dalam, ibunya Sasa menarik gagang pintu, lalu membuka pintu kamar Sasa.


"Astaga! Nyetel musik segini kerasnya!"


Ibunya Sasa mematikan musik yang di setel oleh Sasa yang sontak membuat Sasa berhenti menari dan menoleh ke arah di mana handphonenya berada.


"Mam!"


Ucap Sasa sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Di luar ada Steifh tuh!"


Sasa sontak terkejut ketika mendengar ucapan dari ibunya.


"Ngapain dia ke sini?"


Tanya Sasa.


"Lah? Mana mama tau! Mama kan bukan dukun!"


Jawab ibunya Sasa sembari mengendikkan bahunya acuh.


"Ih, mam!"


Ibunya Sasa langsung melenggak pergi dari hadapan putri satu-satunya itu.


.


.


.


.


"Steifh...? Ngapain ke sini?"


Tanya Sasa sembari duduk di hadapan Steifh.


"Hai, kak Sasa!"


Sapa Rezi dan Reza berbarengan.


"Ah, hai juga..."


Sasa menjawab sapaan Rezi dan Reza dengan sedikit canggung.


"Mereka bilang kalau mereka itu ingin bermain dengan mu!"


Jawab Steifh.


"Dengan ku?"


Beo Sasa sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.


Rezi dan Reza mengangguk antusias.


"Kak Sasa! Kita jalan-jalan, yuk!"


Ajak Reza sambil menarik tangan Sasa keluar.


Tanya Sasa yang mengikuti Rezi dan Reza yang menarik tangannya keluar. Sedangkan Steifh hanya mengikuti mereka dari belakang tanpa bersuara sedikit pun.


"Kak! Jalan-jalan ke mall, yuk! Aku mau beli mainan robot yang besar!"


Ajak Rezi masih dengan menarik tangan Sasa.


"Eh, tapi...?"


Sasa menatap Steifh yang di tanggapi endikkan bahu acuh oleh Steifh.


"Ayo, Kak!"


Ajak Reza lagi sambil menarik tangan Sasa dengan lebih kuat lagi.


"Tapi, tanya kak Steifh dulu!"


Ucap Sasa sambil melirik ke arah Steifh yang hanya menatap mereka dengan tatapan datar.


"Kak Steifh! Boleh, ya?"


Pinta Rezi pada Steifh.


"Hm."


Satu gumaman dari Steifh berhasil membuat Rezi dan Reza lompat-lompat kegirangan.


"Ayo, kak! Kan udah di izinin tuh sama kak Steifh!"


Sasa mengangguk.


"Iya-iya! Kakak mau!"


Jawab Sasa pasrah. Sebenarnya, dia tidak masalah jika harus menemani Rezi dan Reza jalan-jalan ke mall. Tapi, ia tidak mau jika Steifh juga ikut. Tidak ada pilihan bagi dirinya!.


.


.


.


.


Kini, mereka berempat sudah sampai di Pacific Place. Mall populer yang ada di Jakarta.


"Kak! Kita kesitu yuk!"


Ajak Rezi sambil menunjuk tempat permainan yang ada di mall itu.


"Jangan lari-lari! Nanti kalian jatuh, loh!"


Ucap Sasa dengan sedikit berteriak ketika melihat Rezi dan Reza yang berlari menuju ke tempat permainan.


"Hei, Steifh....!"


Steifh yang tadinya ingin pergi dari tempat itu kembali berbalik ke arah Sasa yang memanggilnya.


"Kau mau kemana?"


Tanya Sasa pada Steifh yang hanya diam saja menatapnya.


"Aku akan menunggu di mobil!"


Jawab Steifh sambil kembali membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


"Oh, oke! Itu lebih baik!"


Jawab Sasa sambil berbalik ke arah yang berlawanan dari Steifh.


.


.


.


.


"Dimana anak-anak itu?"


Gumam Sasa.


Dari tadi ia sudah berkeliling di tempat bermain ini. Tapi ia belum juga bertemu dengan Rezi dan Reza.


"Kenapa tempat ini sangat besar!?"


Sasa kembali bergumam kesal. Tidak ada cara lain, ia harus menelepon Steifh.


Sasa bergegas meraih handphonenya yang berada di saku celana jeansnya.


.


.


.


.


Kini, Steifh sedang bersantai di mobil sportnya. Entah kenapa, baginya lebih nyaman di mobil sendirian dari pada di dalam tempat yang ramai itu.


Tak lama kemudian, handphonenya berdering. Ia pun lantas meraih handphonenya yang di letakkannya di dashboard mobil sport miliknya.


-Bodoh-


Itulah nama yang tertera di layar handphonenya. Ia pun lantas menekan tombol hijau yang ada di handphonenya.


'Steifh, gawat! Rezi dan Reza menghilang! Aku sudah mencari mereka di dalam tempat bermain ini, tapi mereka tidak dapat di temukan! Aku harus bagaimana, Steifh?!!'


Jantung Steifh berdetak kencang. Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena ucapan Sasa yang mengatakan kalau Rezi dan Reza menghilang. Jika Rezi dan Reza tidak dapat di temukan, maka habislah dia! Paman Sergan akan membunuhnya.


'S-steifh...? Kenapa kau diam saja!!!'


Steifh mematikan panggilannya sepihak. Dengan cepat ia berlari menaiki lantai tiga dimana tempat bermain itu berada.


Dengan cepat ia sampai di lantai yang di tujunya. Kenapa bisa cepat? Karena naik lift dong!


Matanya menyapu seluruh pengunjung yang ada di dalam tempat bermain itu. Hingga matanya berhenti dan tertuju pada sesosok gadis yang memakai kaos merah muda.


Sasa!, ucapnya dalam hati.


Ia pun lantas mendekati Sasa yang terlihat begitu panik.


"Steifh..!! Ini b-bagaimana??"


Ucap Sasa saat Steifh sudah berada di hadapannya.


"Usstt! Bukan kau saja yang panik! Aku juga panik!"


Jawab Steifh sembari memijit pelipisnya.


"Anak-anak itu membuat ku kesusahan!!"


Gumam Steifh sangat pelan hingga Sasa pun tidak dapat mendengar gumamannya.


Dari belakang, dua anak kecil berjalan sambil mengendap-ngendap. Mereka berdua berusaha mendorong Sasa yang sedang membelakangi mereka.


Dan...........


TBC hihi:)


.


.


.


.


.


.


.


..."***TERIMAKASIH KARENA SUDAH MEMBACA NOVEL KARYA SAYA INI. JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN CERITANYA YANG TERBELIT -BELIT, SAYA MOHON AGAR KALIAN MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR DI BAWAH. TERIMAKASIH:)"...


^^^IG||•fikafadillah***_^^^