Hy Stupid, I Love You

Hy Stupid, I Love You
Bab 08



"Siapa ya?"


Seorang wanita dewasa itu bertanya pada Steifh.


"Saya temannya Sasa, nte."


Wanita itu tampak memperhatikan Steifh dari atas sampai bawah.


"Oh, silahkan masuk dulu!"


Steifh pun masuk setelah dipersilahkan.


"Sasanya ada, nte?"


Tanya Steifh setelah ia duduk.


"Oh, iya. Sasa ada di kamarnya. Tante panggil dulu ya!"


Wanita itu lantas pergi setelah Steifh mengangguk tanda mempersilahkan.


.


.


.


.


Tok


Tok


Tok


"Sasa......"


Sasa yang sedang memainkan ponselnya terkejut ketika mendengar sang ibu memanggilnya dari luar kamar.


"Iya, bu!"


Sasa bergegas membuka pintu kamarnya.


"Kenapa, mam?"


Tanya Sasa setelah membuka pintu kamarnya.


"Itu di depan ada teman kamu yang nyariin tuh!"


Ucap wanita yang kini kita ketahui adalah 'ibunya Sasa'.


"Teman? Teman yang mana? Hani?"


Sasa menghujani ibunya dengan berbagai pertanyaan yang intinya sama.


"Bukan! Mama baru sekali ini ngelihat dia! Tapi dia ganteng banget!"


Jawab ibunya Sasa.


"Cowok?"


Tanya Sasa yang ditanggapi tatapan bosan oleh ibunya.


"Yaiyalah neng! Nggak mungkin kan ada cewek yang ganteng?!"


Jawab ibu Sasa dengan sedikit ngegas.


"Mana tau ada kan mam, hehe."


Sasa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalau gitu Sasa pergi nemuin dia dulu ya."


Sasa ingin melangkahkan kakinya sebelum ibunya kembali memanggilnya.


"Sa!"


Sasa berbalik. Ia hanya menatap ibunya dengan pandangan bertanya.


"Mama punya firasat kalau......"


Ibu Sasa menggantung perkataannya. Sasa semakin menajamkan indra pendengarannya.


"........dia bakalan jadi menantu mama!"


Mata Sasa terbelalak ketika mendengar ucapan dari sang ibu.


"MAM!!"


Ibu Sasa hanya terkekeh geli sambil berlalu pergi dari hadapan anak semata wayangnya yang kini sedang ngomel-ngomel tak jelas.


.


.


.


.


"Hei, bocah! Ini rumah siapa?"


Pandangan Steifh beralih dari menatap sekeliling menjadi menatap dua orang anak kecil yang kini sedang duduk di sampingnya.


"Jangan panggil aku bocah jika berada di hadapan orang lain!"


"Kami nggak bisa janji!"


Steifh menatap tajam Rezi dan Reza yang juga balik menatapnya tajam.


"Aku akan turuti semua keinginan kalian!"


"Janji??"


Ucap Rezi dan Reza kompak dengan mata yang berbinar.


"Janji!"


Jawab Steifh.


"Oke-oke! Baiklah! Kami tidak akan menyebut kakak dengan sebutan bocah lagi!"


Ucap Rezi yang juga mewakili adiknya, Reza.


Steifh hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Steifh.....?"


Steifh yang merasa namanya dipanggil langsung menolehkan kepalanya ke arah dimana suara berasal.


Disitu berdiri Sasa yang memandangnya dengan kikuk.


Steifh menaikkan satu alisnya sebagai kata lain dari pertanyaan 'kenapa?'.


"Uhm, kenapa kau datang kemari?"


Tanya Sasa saat sudah duduk di hadapan Steifh.


"Kau memang bodoh atau bagaimana?"


Sasa mengerjapkan matanya bingung ketika mendengar penuturan dari Steifh.


"Hah? Maksudnya....?"


Sasa menampilkan raut wajah kebingungan.


"Aku kan sudah bilang kemarin saat di telepon!"


Sasa menepuk jidatnya ketika mendengar jawaban dari Steifh.


"Oh, iya! Aku lupa!"


"Dasar bodoh!"


Sarkas Steifh pada Sasa.


"HAHAHAHA......."


Ruangan di penuhi dengan gelak tawa dari dua anak kecil yang berada di samping Steifh.


Steifh menatap tajam ke arah dua anak kecil itu.


"Steifh, mereka--"


Seakan tau apa yang akan ditanyakan oleh Sasa, Steifh menyela ucapan Sasa.


"Sepupu dari paman."


Sasa menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia paham.


"BODOH! BODOH! BODOH!"


Steifh kembali menatap Rezi dan Reza yang berteriak-teriak tak karuan.


"Siapa yang kalian bilang bodoh?"


Steifh bertanya dengan masih menatap tajam kedua anak kecil itu.


"Kakak itu!"


Rezi dan Reza serempak menunjuk ke arah Sasa yang langsung tersentak.


"Aku?"


"Usst! Nggak sopan!"


Ucap Steifh sambil sedikit menepuk punggung Reza yang berada paling dekat dengannya.


"Maaf ya, mereka memang sedikit kurang sopan. Maklum keturunan bapaknya!"


Pinta maaf Steifh yang merasa tidak enak pada Sasa.


"Kalian, ayo minta maaf pada kakak ini!"


Lanjut Steifh.


"Maaf ya, kak!"


Kini giliran Rezi dan Reza yang memohon maaf pada Sasa.


"Ah, iya-iya! Tidak apa-apa kok!"


Jawab Sasa pada permohonan maaf mereka bertiga.


"Oh, iya! Kau tau alamat rumah ku darimana?"


Tanya Sasa yang heran kenapa Steifh yang baru ia kenal selama dua hari ini bisa tau tempat tinggalnya.


"Dari Nil."


Jawab Steifh singkat. Sesingkat hubungan kita, eh!


"Eh? Nil tau alamat rumah ku darimana?"


Kembali, Sasa bertanya hal yang sama lagi. Hanya berbeda nama orangnya saja.


"Bodoh banget sih! Jelas-jelas Nil itu sepupuan sama Hani! Ya dia nanya ke Hani dong!"


Sasa mangut-mangut tanda mengerti.


"Itu, semua bahan keperluannya gimana?"


Tanya Sasa.


"Ya dicari!"


Jawab Steifh simpel.


"Kita cari sekarang?"


Tanya Sasa yang membuat Steifh berteriak dalam hatinya.


Oh, ya tuhan! Apa kau tidak memberikannya otak saat kau menciptakannya!?, ucap Steifh dalam hati.


"Tahun depan!"


Jawab Steifh dengan sedikit emosi.


Melihat Sasa yang ingin mengatakan sesuatu, dengan cepat Steifh menyela.


"Ya sekarang lah! Ayo!"


Ujar Steifh sambil beranjak berdiri.


"Ah, iya aku akan minta izin pada ibu ku dulu."


Ucap Sasa sambil bersiap berlalu pergi.


"Eh, udah mau pulang?"


Ternyata ibunya Sasa sudah berada di belakang Sasa.


"Bukan, nte! Kami mau cari bahan untuk tugas kampus!"


Ibunya Sasa hanya mengut-mangut ketika mendengar jawaban dari Steifh.


"Kalau gitu hati-hati di jalan ya!"


.


.


.


.


"Hei, kita kemana dulu nih?"


Sasa bertanya pada Steifh yang masih mengemudikan mobil sportnya.


"Laboratorium."


Jawab Steifh dengan masih fokus dengan kegiatan menyetirnya.


"Hah? Ngapain?"


Tanya Sasa dengan nada terkejut.


"Lihat aja nanti!"


Jawab Steifh yang langsung membuat Sasa diam tak bertanya lagi.


Jadi, posisi duduk mereka itu, Steifh di kursi supir, Sasa di samping Steifh, lalu Rezi dan Reza duduk di belakang.


Tak lama kemudian, Steifh menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang bertuliskan 'LABORATORIUM UTAMA'.


"Wah......."


Sasa tak henti-hentinya berdecak kagum ketika ia turun dari mobil dan melihat tempat yang sudah lama ingin ia kunjungi.


"Hei, Ayo masuk!"


Sasa menatap punggung Steifh yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Emang boleh kita masuk ke dalam?"


Tanya Sasa yang membuat Steifh berbalik menatapnya.


"Yaelah! Kalau aku bilang masuk ya masuk!"


Steifh melanjutkan langkahnya setelah berkata sedemikian rupa.


Sasa hanya bisa mengikuti Steifh dari belakang sambil tak henti-hentinya berdecak kagum.


.


.


.


.


"Kak...!"


Reza bertanya sambil menarik ujung baju Steifh yang membuat Steifh menunduk menatapnya.


"Hn..?"


Steifh menanggapinya dengan gumaman.


"Ini apa?"


Reza bertanya pada Steifh sambil menunjuk sebuah tabung yang berukuran cukup besar.


"Tabung gas."


Jawab Steifh dengan langsung melangkahkan kakinya.


"Kalau yang ini?"


Kali ini giliran Rezi yang bertanya.


"Nggak tau! Tanya aja sama kakak yang di belakang tu!"


Steifh berujar dengan masih tetap melangkahkan kakinya.


"Kak....kak....!"


Rezi berteriak-teriak memanggil Sasa yang masih terus saja berdecak kagum.


"Iya?"


Tanya Sasa sambil berlutut menyetarakan tinggi badannya dengan Rezi.


.


.


.


.


.


.


.


..."***TERIMAKASIH KARENA SUDAH MEMBACA NOVEL KARYA SAYA INI. JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN CERITANYA YANG TERBELIT -BELIT, SAYA MOHON AGAR KALIAN MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR DI BAWAH. TERIMAKASIH:)"...


^^^IG||•fikafadillah***_^^^