
~Runtuhnya Keluarga Hunters~.
Sudah beberapa bulan ini aku tidak ikut para tim pendaki puncak atau gunung lagi. Karena aku sedang dilanda malas yang melanda diriku dan aku tidak tahu itu. Barang kali saja aku takut jatuh atau mungkin menemukan mayat serigala maupun yang lainnya. Aku masih ingin bergerak melanjuti mendaki gunung dan melihat ke indahan alam ini, tapi aku malas dan tingkah-laku Ace bersama rekan-rekanya membuatku bertanya-tanya tentang mereka. Apakah aku berhak untuk bertanya? Tapi aku tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka karena mereka lah yang membawa masalah itu sendiri dan entah terlibat dengan apa dan pada siapa. Sebenarnya aku ingin mencari sesuatu yang berhubungan dengan Ace dan "katanya" serigala itu sudah hampir punah dan mengapa masih ada yang berkeliaran dirumah Leona? Aku tidak mempercayai cerita novel yang yang berbau bak dongeng vampir, serigala dan iblis. Apakah Cesare itu adalah vampir atau hanya nama yang mirip, tapi bukan hanya nama saja yang sama, tapi wajah mereka memang mirip. Pastinya mereka adalah satu orang. Apakah mungkin Vampir itu ada? Kalau memang ada siapakah Ace, Lynx, Lana, orang tua itu yang selalu dipanggil dengan sebutan 'Tetua'?
Semua ini membuatku bingung dan aku pun berdiri sambil menutup laptopku yang sedari tadi aku sedang mencari info tentang vampir dan serigala di internet. Tapi di sebagian daerah eropa memang ditemukan beberapa makam masal milik para vampir dengan kayu yang menancap dijantung mereka dan peluru perak juga bersarang didada mereka. Dan serigala itu hanyalah sebuah cerita mulut ke mulut karena ada sebuah cerita yang mirip dengan Tarzan. Tapi yang tidak membuat mirip adalah bayi itu dibesarkan oleh keluarga serigala. Tapi bagaimana bisa seorang manusia bisa berubah wujud menjadi serigala? Apakah itu semua disebabkan oleh suatu volume senyawa yang jatuh karena ketidak sengajaan menimpa parah manusia sehingga mengubah manusia berubah menjadi serigala? Apakah Vampir juga sama seperti serigala yang tertimpah virus dan menggunakan huruf pertama dan mengubahnya menjadi kata vampir? Ini semuanya sangatlah rumit bila aku pikirkan dan aku juga bukan seorang ilmuan, aku hanyalah seorang pencinta alam saja. Darah ini telah di wariskan oleh ayahku yang berdarah indian. Oh tidak aku baru ingat sekarang, pastinya ayahku percaya dengan adanya serigala.
Tapi ayah dan ibuku belum menghubungiku ketika mereka pergi, apakah mereka telah sampai atau belum aku juga tidak tahu dan sudah satu tahun mereka tidak menghubungiku lagi.
Aku hanya berpikir mungkin saja mereka sedang sibuk dan tidak ada waktu untukku dan apa lagi aku tidak pernah berpikir untuk mencari tahu atau mengontak ayah dan ibuku.
Tapi ini sudah aneh dan sudah satu tahun tanpa kabar apapun dari mereka.
Aku langsung menuju ke dinding yang terdapat telpon yang bergantung, tangan ku sudah menyentuh telpon itu. Tapi aku urungkan niatku.
Ini sudah larut malam dan tempat kerja ayah pasti sudah tutup pada jam sekitar dua-belas, gumamku sambil meyandar ke dinding dan mendekap telpon itu didadaku.
Kenapa aku baru menyadari kalau ada hal yang ganjil tentang keadaan kedua orangtuaku.
"Apa yang kau lakukan disini tanpa cahaya?" Ace menatapku sambil berjalan menghampiriku dan dengan otomatis atau terkejut aku langsung berdiri tegak sambil meletakan telpon itu kembali.
"Aku sedang memikirkan sesuatu," jawabku sambil berjalan menuju kursi ruang makan.
"Apa itu?" tanyanya penuh selidik dan sepertinya nada suaranya seolah menunjukan sesuatu yang tertarik tentang sebuah rahasia yang baru saja terungkap.
"Tenanglah tak usah se fokus begitu," ucapku ketika aku sudah duduk di meja makan, sedangkan Ace hanya berdiri sambil melipat tanganya.
Hey! Sepertinya aku ini tersangka yang sedang terimindasi oleh seorang officer atau sherift.
"Katakanlah Gab, mungkin aku bisa memecahkan masalahmu itu," Ace menawarkan jasanya untukku sambil menyeret kursi keluar dan kini ia sudah duduk di hadapanku..
Aku menarik nafas dan menghembusnya." Apakah aneh selama satu tahun tidak ada kabar dari orang tua? Kau pasti tahu bagaimana cemasnya seorang ibu atau orangtua bila pergi meninggalkan anak mereka dirumah," aku sengaja menghentikan ceritaku, agar Ace bisa mencernanya.
"Ya, aku tahu. Jadi?" Tanya Ace sambil menyuruhku untuk melanjutkan ceritaku.
" Tapi kedua orang tuaku tidak menelponku dan mencemaskan diriku dan menurutku ini sangat aneh sekali.! Sudah satu tahun, Ace, dan aku juga tidak berusaha untuk mencari tahu." Aku mulai menitikan air mata dan rasa panik kini datang menyerangku. Yang sedari tadinya enggan datang, tapi kini airmataku merebak keluar, airmata itu bagaikan banjir bah membuat jebol bendungan. Ace berdiri dan berjalan ke arahku, aku tahu dari suara geseran kursinya dan suara langkahnya, walau hanya satu langkah saja.
Ace duduk didekatku hanya ada kursi yang memisahkan kami, dan sedangkan aku malu untuk memperlihatkan air mataku yang merebak aku menyembunyikan wajahku di meja makan sambil ku tutup dengan kedua tanganku.
KIni Ace telah membawaku dan mendekapku didadanya, aku mersakah hawa yang nyaman sekali dan aman.
Ace hanya mengelus rambutku seolah aku ini adalah anak kecil, aku rasa itu adalah sikapnya untuk menenangkan seseorang.
aku tidak tahu tentang perasaanku ini karena pada saat ini aku merasakan hal yang aneh pada dadaku ini, aku merasakan dadaku mendidih dan entah mengapa bayangan wajah Ace muncul di benakku. Rasanya hatiku kini penuh dengan Ace dan nama Ace, kemudian tanpa aku sadari kedua tanganku naik ke punggung Ace dan kini aku mendekapnya erat-erat dan membenamkan wajahku kedada bidangnya.
Kami berdua larut dalam sensasi yang panjang dan rasanya waktu tak ingin kembali berdetak lagi. Tapi waktu itu kembali dan berdetak untuk selamanya karena aku mendengar suara dehaman seseorang dan ternyata bukan aku saja yang mendengar, tapi Ace juga mendengar.
Kami berdua berbalik dan ternyata dia adalah Cesare sedang sedang berdiri tersenyum dan menyembunyikan kedua tanganya di balik punggungnya.
"Wah! Maaf, ya bukan maksudku untuk--," Ace langsung memotong pembicaraan Cesare sambil mendorongku dengan sehalus mungkin ke sampingnya.
"Tidak apa-apa, kok, Cesare dan kami ini tidak seperti yang ada di pikiranmu itu," jawab Ace sambil tersenyum kepada Cesare.
"Ya, benar dan lagi pula Alex sudah memiliki pacar yang cantik, kok." Ucapku mempertegaskan keadaan dan lagi pula didalam hatiku merasa bersalah terhadap Leona. Sebenarnya kedua pipiku sedang berwarna pink cerah dan aku ingin menyembunyikannya, tapi tidak tahu harus kemana. Cesare masih menyandar didinding dengan bahunya dan sebelah kakinya disilangkan seperti sedang berpose untuk sesi pemotretan dan apalagi bibirnya sedang tersenyum.
"Ya, aku tahu, kok," ucap Cesare sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian dia lanjut lagi. "Kalau pikiranku salah. Tapi bukan itu yang mau aku bahas," Cesare bediri tegak sambil berbicara. "Apakah aku harus pergi?" tanyaku sambil melirik mereka berdua.
"Itu tergantung dengan si serigala malam ini," aku langsung melirik ke arah Ace dan ternyata Ace juga melirik kepadaku.
"Terserahlah," jawab Ace seketika sambil berjalan ke arah meja makan dan duduk.
Kami benar-benar telah lupa tentang apa yang ingin kami bahas tentang menghilangnya kontak dari kedua orangtuaku.
Aku kembali duduk dan Cesare juga ikut duduk, pokoknya aku tidak tahu apa yang akan mereka bahas dan aku hanya diam saja memperhatikan jari-jariku yang sedang aku mainkan.
"Katakan apa yang ingin kau bahas itu, Cesare?" Sepertinya Ace tidak sabaran untuk mengetahui apa yang ingin di utarakan oleh Cesare.
"Yang ingin aku bahas adalah tentang 'kita'," Cesare berhenti membiarkan ucapanya mengambang. Cesare melirik ke arah kami secara bergantian" Apakah tidak apa-apa, kalau dia mengetahui kebenarannya tentang kita?" Sepertinya aku sedang diamati oleh Ace ketika Cesare mengatakan 'apakah tidak apa-apa dia mengetahui kebenaranya tentang kita'.
Aku merasa serba-salah ; apakah aku duduk berdiam diri atau mendengarkan atau pura-pura untuk mendengar.
Aku langsung berdiri dan menyangga diriku dengan kedua tangnku karena aku sedang menatap ke arah Cesare.
"Kalau Alex keberatan dengan keberadaanku, aku bersedia angkat kaki dari sini," sepertinya ucapanku ini seolah sedang mengamcam Ace. Akupun tertegun dengan sikap dan ucapanku sehingga aku melirik ke arah Ace yang sedang menatap Cesare.
Ketika aku bergerak, Cesare langsung mencengkram pergelangan tanganku yang sedari tadi ada di meja.
"Mau kemana?" Tanya Cesare sambil melepaskan tanganku dari cengkramannya." Dengar, kau berhak untuk mengetahui ini semua," lanjutnya sambil mengisyaratkan untuk ku duduk kembali dan aku pun duduk kembali.
Sepertinya secara tidak langsung Cesare sudah mengsusgestiku sehingga membuatku menuruti keinginanya dengan begitu saja.
Cesare memperhatikan gerak-gerik wajah Ace dan sekarang ini Cesare menatap diriku.
"Apakah kau percaya hantu itu ada atau tidak?" Suara tanya Cesare begitu menuntut dan tegas membuatku semakin menatapnya tajam.
Aku memang percaya kalau hantu itu ada dan aku hanya bisa menganggukan kepalaku untuk mengiyakan pertanyaannya.
"Apakah kau percaya, kalau manusia serigala itu ada? Dan lainnya seperti di cerita novel?"
Suara tegas Cesare langsung berubah menjadi lembut, tapi posisinya tetap sama yaitu duduk dengan tegak dan arah matanya selalu tertuju kepadaku.
Sepertinya Ace hanya bisa terdiam dan duduk terdiam sambil menyandarkan punggungnya di senderan kursi sambil menjulurkan kakinya lebar-lebar di bawah kolong kaki meja.
"Apakah maksudmu di dunia kita ini ada Serigala yang selalu di ceritakan dengan apik oleh seorang pengarang. Seperti Bram Stoker?" Tanyaku kepada Cesare. Apakah benar dunia modren ini masih ada cerita vampir dan lainya?
"Sudah lah, jangan kau pikirkan lagi karena aku adalah seorang vampire master dan ratuku adalah Elizabeth Bathory dari kerajaan Hungarian." Cesare menghentikan ceritanya agar aku mencerna setiap perkataanya itu.
Tentang Elizabeth, itu hanyalah sebuah isu dikalangan istana dan lagipula pada jaman Elizabeth Cesare belum ada. Apakah Ratu Elizabeth Bathory masih hidup pada jaman itu atau masih ada sampai pada masa kini? Pikirku sambil melirik ke arah Ace yang hanya menyandarkan kepalanya dengan ke dua tanganya dibawah kepalanya.
"Kalau anda adalah vampir, lalu siapa Ace, Lynx, Lana dan si Tetua itu?" Tanyaku sambil melirik mereka secara bergantian.
"Tanyakan saja pada orang yang bersangkutan itu," jawab Cesare sambil menunjuk ke arah Ace.Sepertinya Ace tersentak kaget dan dirinya hampir saja jatuh, tapi untunglah hanya kursinya yang jatuh.
"Aku Serigala atau Werewolf tepatnya, sedangkan Lynx dan Lana adalah Black panter. Tetua, beliau dari golongan yang sama denganku tapi dirinya memiliki darah vampir dan serigala." Ace menghentikan ceritanya sambil memungut kembali kursinya yang jatuh tadi.
"Oh! Tidak," seru Ace seolah dia baru saja ingat sesuatu, " aku baru ingat, mengapa mereka memburu vampir, black panter, dan setengah vampir dan werewolf."
"Apa itu," potong Cesare, aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melihat mereka dan mendengar mereka seperti mendengarkan cerita sebelum tidur. Masa dongeng sebelum tidur menceritakan yang penuh aksi laga dan berdarah-darah, aku tergelak sambil berpikir.
"Ternyata mereka juga mencampurkan darah setengah vampir dan serigala ketabung dan membuat bom suplement yang sangat dahsyat," jelas Ace sambil menatap ke arah Cesare dengan lekatnya.
Apalagi ini?, cerita apa lagi ini? Apakah tidak ada orang yang waras lagi disini, gumamku pada diriku sendiri.
Ace dan Cesare hanya melirik ke arahku dan aku bisa menebaknya dari sikap mereka, kalau mereka sedang meragukan diriku tentang percaya tidaknya cerita vampir dan tentang meledakan dunia yang dilakukan orang gila.
Tapi aku hanya bisa mendengar dan tidak berkomen apapun.
Kisah tetang vampir dan Werewolf seolah sebuah virus yang menyerang manusia yang melalui gigitan atau cakar, sama seperti kisah zombie yang diakibatkan oleh sebuah virus.
Apakah ini juga demam virus vampir dan werewolf kah? Atau memang ada? Aku tidak tahu lagi apa yang mereka bahas pada saat ini karena kepalaku mulai berpikir; apakah aku bisa menerima kenyataan kalau vampir maupun yang lainnya itu ada atau tidaknya.
Kasus kali ini seperti kasus PTP\=Percaya Tidak Percaya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Cesare yang lembut membuatku sadar dari pikiranku yang semakin jauh dan sekarang ini aku sedang melihat kearah bola mata Cesare.
"Ini semua begitu jauh dari naral," ucapku sambil melirik ke arah Ace.
"Terserah kamu saja," suara Ace begitu dinginnya. Seingat ku Ace memang tidak pernah bersikap manis maupun bersikap lembut kepadaku.
Tanpa sepatah kata, aku beranjak dari tempat dudukku karena rasa kantukku telah menyerang diri ini dan tidak terasa waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari.
Aku telah masuk kedalam kamarku dan aku belum membahas tentang kedua orangtuaku dan juga tentang; apakah alien juga ada didunia ini seperti vampir.
Tapi ada beberapa fakta yang aku temui diinternet, para arkeolog telah menemukan beberapa
makam dengan paku kayu yang menancap didada mereka.
Apakah orang pada pertengahan abad itu hanya ingin membuat sensasi saja dan percaya makam mereka akan ditemukan dan meneliti tubuh mereka?
Benarkah itu?
<><><><><><>____________<><><><><><>
Pagi hari ini begitu cerahnya dan membuatku mencerita ulang yang aku bahas bersama Cesare di ruang makan dan Lynx hanya menggelengkan kepalanya karena ia tahu kalau Gabbie itu sulit memahami adanya kami.
Tapi sikapnya seperti biasa kepada kami tidak berubah dan tidak kurang, tetap sama.
Sebenarnya aku ingin mencegah Cesare untuk memberitahukan kebenaran siapa kami sesungguhnya, tapi aku tahu kalau Gabbie berhak untuk tahu siapa kami sesungguhnya.
Aku bingung akan rencana keluarga Hunter entah apa yang ingin ia hancurkan dan mengapa harus melibatkan beberapa keluarga dan beberapa suku lainya, kalau ingin menghancurkan sesuatu.
BIla ingin meneliti denga darah kami tak seharusnya begitu, bila demi manusia, darah vampir dan darah werewolf digunakan sebagai penelitian obat atau anti virus sih ok.
Tapi asalkan jangan membantai dan bagaimanapun werewolf dan vampir berhak untuk hidup. Dan ini bukan jaman enam-belasan lagi dimana terjadi pembantaian terhadap penduduk yang tidak berdosa karena dituding sebagai penyihir, disalip dan kemudian dibakar hidup-hidup.
"Hari minggu cerah ini mengapa kalian masih betah didalam rumah, sih."Kata Gabbie sambil menyeret kursi dan kemudian duduk dengan tenang sambil mengambil roti berlapis dari sebrang meja makan.
"Aku dan Lynx sedang berdikusi tentang kamu yang sedang berpura-pura tidak tahu tentang adanya 'kami'."Aku berhenti karena aku ingin Gabbie tahu dan aku tidak mungkin mengubah wujudku didapur ini karena alam bawah sadarku tidak mengenal Gabbie dan itulah yang aku takutkan. Menyerang tanpa sepengetahuan diriku.
"Untuk apa aku harus berpura-pura. Toh aku hanya tidak ingin larut dalam kisah kalian karena bagi diriku kalian adalah temanku." Ucapan Gabbie membuatku tersentak, Lynx pun menatapku jadinya kami saling menatap padahal Gabbie sedang memotong roti isinya dan tidak melihat ke arah kami berdua. Memang pandanganya selalu cuek tak pernah serius pada kami semua.
Entah mengapa Gabbie selalu membuatku memikirkan dirinya dan selama mengenal dirinya membuatku selalu membedakan setiap wanita yang pernah berkunjung di hatiku.
Tiba-tiba saja Lynx bergerak cepat menuju ke arah Gabbie dan memeluk pundak Gabbie dengan otomatis Gabbie terdiam dan menghentikan suapan roti isinya, melihat hal itu dadaku bergemuruh darahku seolah naik ke atas kepalaku.
Cesare dan Tetua masuk dan berdeham ke arah kami, seolah aku atau Lynx telah terselamatkan oleh kehadiran tamu yang tak diundang itu.
Kini Cesare telah duduk disamping Gabbie sedangkan Lynx tetap memeluk Gabbie.
"Oh tuan rumah kami yang ramah, kau juga adalah teman kami,"gombal atau tepatnya Lynx sedang menjilat Gabbie atau bisa juga Lynx sedang memanasi diriku.
"Sudahlah Lynx, kalian hanyalah teman saja dan bukan tamuku dan Tetua, aku hanya menghormatinya saja karena beliau lebih tua dari ayahku." Kata Gabbie sambil melirik ke arah Tetua dan Tetua hanya memberikan senyum manisnya.
Akhirnya Lynx kembali ketempatnya semula, sedangkan Tetua seolah ingin memulai berbicara dan sepertinya enggan dan ingin, tapi sepertinya beliau takut.
"Ada apa Tetua?" Tanyaku sambil memasang mimik bingung.
"Ah.. tidak aku hanya ingin bertanya kepada Gabbie saja,? ucapan Tetua membuat seluruh mata memandang kearah Gabbie dan kemudian ke arah Tetua.
"Katakan saja," ucapan kami berbarengan dan dicampur dengan suara wanita milik Gabbie. "Apakah?" Mulai Tetua sambil memandang wajah Gabbie lekat-lekat." Ayah-mu itu asli keturunan dari suku Comanchee ?"
"Ya, memang benar dan ibuku seorang mantan artis kalau tidak salah."
Gabbie berhenti dan aku pun mengingat apayang dikatakan oleh Gabbie pada semalam katanya setelah ayahnya pergi tidak ada kabar sama sekali dan kalau ayah dan ibunya selalu pergi mereka akan mengabari sampainya mereka atau apa pun itu kepada Gabbie.
Tapi ini sangatlah aneh sekali dan bisa saja kedua orang tua Gabbie telah meninggal.
Tapi sewaktu aku pergi ke rumah Hunters aku tidak menemukan foto istri Hunters dan aku hanya menemukan sobekan foto yang tidak jelas doto itu, dimana hanya ada Hunters dan Leona saja dan ada sobekan diwajah atau kepalanya hilang dan foto itu masih kusimpan karena pakaian wanita itu mengingatkan aku dengan pakaian ibu dari Gabbie diruang dalam bagian ruang tamu. Aku ingin menunjukan foto itu kepada Gabbie, tapi aku takut akan berdampak besar bagi Gabbie, bila aku tunjukan.
Tapi sekaranglah saatnya rahasia itu terkuak dan inilah kesempatan yang baik karena sang Author ini kali hilang inspirasinya untuk melanjuti kisah keluarga pemburu ini.
Dengan tiba-tiba, aku bangkit berdiri sehingga beberapa mata melihatku.
"Maaf ada sesuatu yang ingin aku tunjukan, jadi saya mohon pamit," ucapku sambil menyingkirkan kursi agar mudah aku bisa bergerak.
aku tahu kalau mereka hanya melihat kepergianku yang mendadak ini dan setelah aku kembali ternyata sarapan atau sedari tadinya penuh peralalatan makanan sekarang menjadi rapi dan hanya ada kue pai dari Bi Nanya dan beberapa cangkir teh dan kopi.
Aku langsung To The Point dengan Gabbie, aku meletakan foto yang aku temukan di kediaman Keluarga Hunters dan aku juga membawa foto ruang tamu itu.
Tentu saja aku menerima tatapan yang membingungkan dari wajah Gabbie dan bukan hanya Gabbie saja, tapi seluruh orang yang ada dimeja makan ini.
Gabbie hanya melirik sekilas dengan foto yang aku bawa dan setelah itu ia melihat kearahku dengan tatapan bingungnya.
"Lihat," kataku sambil menunjuk ke arah kedua foto itu yang terletak didepan Gabbie," dan bandingkan kedua foto itu." Gabbie langsung melirik ke arah foto itu sekali lagi, ia menoleh ke arahku.
Inikan, foto keluarga Leona! Kenapa kau bisa memilikinya?" Aku langsung terdiam dan tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku menghintai rumah Hunters busuk itu dan sekaligus mengacak-acak seluruh isi rumah si-sialan itu.
"Leona yang memberikan foto itu kepadaku," kataku dengan nada manis buat-buat, padahal aku sedang berbohong, dengan gelinya, Lynx menatap ke arahku, Cesare hanya menyuapi dirinya dengan potongan kecil pai
dan Tetua sedang menyeruput kopi panasnya dengan tenangnya. Sedangkan aku hanya bisa gigit jari melihat tingkah laku mereka semua seolah tidak mendengar percakapan kami.
"Sudahlah! Lihat saja dan temukan kemiripan yang ada di dalam potret itu," tuntutku sambil mencomoti pai yang ada di depanku karena telah terssedia di piring kecil yang terletak di depanku, ya tinggal ku santap saja.
Sepertinya Gabbie benar-benar fokus terhadap kedua foto itu dan sehingga ia berpaling memandang ke arah-ku.
"Ini adalah pakaian kesukaan ibu-ku," kata Gabbie dengan antusiasnya, akupun menatap dirinya sambil tersenyum 'apa juga yang aku bilang'.
"Maaf aku lancang," ucapan Tetua membuat kami langsung menoleh ke arahnya yang sambil memandang ke arah Gabbie.
"Ayah dan ibu anda tidak akan pernah kembali lagi karena mereka mengalami suatu insiden di jalan raya." Ucapan itu memang terdengar sangat ringan di telinga kami, tapi cara penyampaianya begitu berat karena ini menyangkut perasaan orang.
Gabbie hanya terdiam sambil menatap ke arah Tetua dengan pandangan nanarnya.
Sebenarnya Tetua adalah seorang cenayang, beliau tahu tanpa bola kristal maupun kartu tarot,
Ia tahu melalui :foto, benda apapun itu dan juga dengan sentuhan. Aku baru menyadari kalau aku pernah berjumpa dengan Tetua pada saat aku masih berumur lima tahun pada saat itu kami berada di karavan kaum gipsy.
"Anda harus berhati-hati nona kecil," kata sang Tetua kepada Gabbie.
"Ada apa Tetua?" aku langsung bertanya karena Gabbie masih terlihat syok dan apalagi di kepalaku terbesit sebuah kata dan kalimat pertanyaan.
"Kau harus selalu berada di sisi nona ini, kalau tidak nyawanya akan melayang."
Bukan hanya aku saja yang tercengang dan menatap sang Tetua, Lynx, Cesare, dan Gabbie juga sedang menatap Tetua.
Ternyata Gabbie pandai sekali menyimpan perasaanya, aku tahu didalam hatinya sedang menangis dan aku ingin sekali mendekap dirinya.
Aku tidak tahu mengapa aku memiliki perasaan ini dan perasaan ini begitu kuat dan sentimentil dan aku hanya tahu kalau perasaan ini adalah untuk orang yang kita cintai.
Apakah aku mencintai Gabbie? Atau sedang jatuh cinta? Tidak aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Aku harus mengesampingkan pikiran itu, karena pada saat ini aku harus mendahulukan keluarga Hunters.
Aku tahu diluar ia nampak tegar dan didalam ia terlihat lembut, seolah tegar itu adalah durinya untuk melindungi dirinya.
Dia lah landak kecil ku. Oh tidak Ace kau harus kesampingkan dulu privacy mu itu.
"Apakah musuh-musuh kami akan mengejar sampai kemari?" itu adalah suara milik Cesare yang sedang melirik ke arah Tetua dan Gabbie.
"Yeah musuh-musuh dari masalalu kalianlah yang ingin membalas dendam dengan kalian melalui nyawa gadis ini." Ucapan Tetua menunjuk ke arah Gabbie dan mengapa bukan orang lain saja? Itulah resikonya karena aku hidup dengan manusia dan bila aku tinggal dengan orang lain apakah akan begini juga? Dan jawabanya tentu saja iyah.
Aku sudah menghadapi Resare untuk, yah sekian kalinya mungkin dan wanita yang telah menembak diri ku itu ternyata adalah Leona. Dia lah orang yang membuatku berpaling kepadanya dan langsung berkencan denganya.
"Tapi kalian harus berhati-hati dengan anak wanita Hunters," suara Tetua penuh tekanan yang tidak biasanya.
Aku tahu Gabbie langsung tersadar dari nama Hunters yang disebut oleh Tetua, "Itu tidak mungkin paman dan Leona sangat baik dan lagi pula paman adalah orang kepercayaan pemerintah."
"Aduh nona kecil, walaupun dia berkuasa belum tentu dia jauh dari 'putih'," suara itu milik Cesare, entah mengapa ia selalu bisa membuat Gabbie marah, kesal dan ceria dan selalu membuatku cemburu.
"Dialah yang telah membantai bayi-bayi serigala dan beberapa serigala lainya." ucapku dengan kesalnya, bukan karena Gabbie membela Hunters, tapi melainkan kesal dengan Cesare itu.
"Tapi, tidak ada buktikan, " hardiknya ke arah aku dan Cesare.Aku tdak tahu apakah perkataanya itu adalah pertanyaan atau hanya kiasan saja. Rasa-rasanya aku ingin sekali menunjukan bukti kepadanya tanpa berdebat. //
*______________________<><>_________________________*
NOTES :
*Elizabeth Báthory seorang Countess Hungaria.
Báthory lahir di Hungaria pada thn 1560, kurang lebih 100 thn setelah Vlad Tepes atau Vlad"The Impaler' Dracula meninggal. Ia juga dikenal sebagai si wanita berdarah. menurut analisaku sendiri Beliau itu kecanduan akan darah dan mungkin juga Elizabeth adalah psycopath atau gila.
Itu menurut ku dan aku juga bukan psykiater beliau dan itu hanyalah praduga saya ketika membaca biografi beliau.
Tapi dia keren juga ya, seperti Jack The ripper, bukan aku mengidolakan mereka loh. Tapi karena aku menyukai cerita berdarah dan horror.
Coba bayangkan saja pasti di istana atau castil berdarah yang di tempati oleh Elizabeth pasti ada hantunya apalagi jalan yang di jadikan tempat jagal ole Jack pasti seramkan +_+ :-)
*Bram Stoker
Brams Stoker adalah bapak vampire atau pencipta novel vampir yang pertama kali ada pada jaman abad 18 yaitu pada tahun; 1847-1912(20-april).
(Wow kenapa bisa hampir sama seperti kapal titanic nih 1912-21-april)
Beliaulah pelopor vampir dari masa ke masa dari anak-anak remaja sampai ke dewasa.
Dan anaknya(vampir) selalu di-eluh-eluhkan oleh kaum hawa. Ya seperti Edward Collent misalnya walaupun Edward bukan anak Bram, tapi Tiffany Myers menciptakan vampir nya sendiri.
*The Salem Witch Trials 1692
Pada tahun 1692, desa salem di New England, Massachusste, America Serikat, diguncangkan serentetan kejadian mengerikan yang menyebabkan seluruh penduduknya menduga bahwa ada tukang sihir di antara mereka semua.
Terjadilah pembakaran hidup-hidup dan pemburu penyihir di masa itu.
#__________________________<><>_________________________________#
Kicau kicau sang author . . .
akhirnya serial serigala ini akan berakhir pula dan aku belum juga mendapatkan ending yang cukup jitu untuk menamatkan cerita ini.
karena aku masih bingung dalam setting pertempuran dan yang lainya. Dan sepertinya Inspirai ku untuk melanjuti kisah ini mendapatkan jalan buntu.
Dan apalagi kisahku yang lainya juga buntu, seperti; The Lost of Wedding Gown, dll. Hikz.. hikz..
Sepertinya aku sampai sini saja, di akhir kisah Family's hunter ini deh. Di karenakan inspirasi ku kagak mau muncul.
Bahan-bahan yang aku dapatkan dari ingatan ku tentang novel dan manga yang pernah aku baca dan lainya yang berisi nama tokoh sejarah dan kemudian aku mencarinya di google.
Sedangkan "The Salem Witch Trials" itu benar-benar pernah terjadi dan aku juga pernah membaca manga itu dari pengarang yang bernama Chie watari dalam "holloween".
Jadi sampai sekarang masih membekas dalam memoriku dan kemudian pada beberapa tahun kemudian kisah "The salem witch trials" kembali lagi ku baca tentang penyihir karena pada saat itu sedang terjadi sindrom harry porter, jadi mau gak mau sang redaksi majalah itu kembali membahas the salem witch trials itu.
Oh, ya aku baru ingat kalau Jeaniene Frost juga membuat atau membangkitkan nama judul "the salem witch trials". tapi aku belum membacanya aku hanya membuka dan membuka halamanya saja. dan aku lupa judul buku itu.
Itu buku terakhir atau volume ke enam yang ada salem witchnya.
Begitulah bila aku ada bahan pasti aku search dulu ke google dan bila ada yang memakai bahan yang sudah aku miliki jadi aku batalkan saja.
Cerita pembantai vampir dan serigala mutlak dari imajinasiku sendiri karena aku suka dengan penelitian. Coba dan mencoba jadi akhirnya mengapa tidak sekalian saja aku membuat penelitian terhadap darah serigala dan vampir di jadikan senyawa untuk menghancurkan bumi.
Eit .... aku ini pencinta bumi atau alam loh, jadi tidak mungkin aku menghancurkan bumi tercinta kita ini.
Damai itu indah lebih indah dari surga. :-)
Ini hanyalah semata imajinasi saja dan ternyata aku sedang bingung untuk membuat endingnya :( huk huk hukhuk.....
sampai sini dulu kicau-kicau dari aku, ya :-)
Wasalam...
LOVE you ALL. . . , :-)