Hunter Family

Hunter Family
Chapter 4



                                                                        BAB 4 #


TAK Terasa sudah dua minggu, Ace telah menjadi sebagian penghuni rumah besar ini dan selalu mencari kabar para pemburu yang telah membantai 'keluarganya'. Walau pun kepergiannya tidak diketahui oleh orang rumah dan tidak menyadarinya, seakan penghuni rumah itu cuek terhadap satu sama lain, atau 'kau itu kau, aku ya aku'. Jadi sehingga memudahkan gerak-gerik Alex untuk mencari tahu keberadaan para 'Hunter' itu.


       Tapi sekarang, pada saat ini ia sedang duduk santai dihalaman teras. Ia sedang tidur-tiduran dikasur ayunan.


    Tiba-tiba saja ia membuka matanya dengan perlahan-lahan dan angin semilir bertiup membawa aroma manis jeruk sampai kearahnya dan ia hanya tersenyum manis sampai suara dua orang yang sedang bercakap-cakap sedang menuju kearahnya." Benarkah!?" Seru Gabie kepada teman baiknya.


      " Yah, iyalah. Kamu mau ikutkan?" Tanya teman Gabie. Suara baru itu terdengar begitu indah ditelinga Alex. Akan tetapi aroma yang dikeluarkan orang baru itu sama-sama tercium aroma jeruk sama seperti yang dipakai oleh Gabie. wanita itu menyukai attribute jeruk. Kita bisa tahu dari isi kamarnya. Contohnya saja: bantal, guling, selimut dan penutup kasur dan apalagi warna dinding kamarnya, oranye dan belum lagi aroma kamarnya. Ya bisa dibilang ia itu maniak jeruk.


Dengan tertegun kearah tubuh yang sedang berbaring diayunan, Gabie langsung terhenti dan temannya ikutan diam dan memperhatikan arah pandangan Gabie. Seorang pria sedang tertidur terlelap diayunan. Pria itu berbaring miring dan punggungnya menghadap kearah kedua wanita itu.


Pakaian yang dikenanya adalah pakaian santai dan celana ponggol yang sampai bawah lutut berwarna cream dan kemeja putih bersih, dan apabila terkena air badannya akan tercermin. Itulah yang ada didalam benak Gabie. " Bagaimana kalau kita pindah saja" tawar Gabie kepada teman karibnya.  


" Yah, ok." Jawab temannya. Dan mereka pun berbalik dan telah berjalan beberapa langkah. Suara pria itu menghentikan mereka berdua." Mau kemana kalian? Disini masih banyak tempat lagi." Ucap pria itu sambil duduk menghadap kearah dua wanita itu dan sembari menunjuk kearah deretan kursi dari batu dan meja batu. 


        " Maaf telah membuat mu terbangun." Dengan cepat-cepat, Gabie berkata.


Mata pria itu terus saja menoleh kearah teman Gabie dan teman Gabie pun menjadi terlihat aneh dan sambil menautkan kedua alisnya. Dan pria itu tidak menjawab Gabie. Ia terus saja menatap kearah teman Gabie. Dan Gabie pun menyadarinya ia melirik kedua orang itu secara bergantian dan ia pun paham. "Tertarik pada saat pertama jumpa". Begitulah kata orang yang sedang jatuh cinta. Sambil berpikir tuk mencari ide untuk membangunkan kedua orang itu dari dunia cinta, Gabie memukul kursi besi ayunan itu dengan tongkat besi yang berbentuk pipih. Tongkat itu berpungsi untuk mengayunkan ayunan itu.


Dan ketika mereka telah bangun dari dunia mereka, mereka menatap heran kearah Gabie. Tetapi Gabie hanya tertawa dan meninggalkan mereka berdua agar mereka mendapat privacy dan biarkan mereka saling mengenalkan diri mereka sendiri, dan mereka tidak perlu aku. Pikir Gabie sambil berjalan menuju kearah dapur mencari makanan ringan. Karena hari ini tepat hari minggu dan ia selalu mengemil dihari minggu sambil duduk diayunan. Tapi sekarang ayunan itu telah diboking oleh orang yang sedang kasmaran.


HUJAN TURUN DENGAN lebatnya bersamaan dengan angin yang betiup kencang. Dengan terhembus oleh angin dahan-dahan pohon itu menerjang jendela kamar Gabie, bagaikan seorang yang sedang mendobrak masuk.


       Wajah-wajah itu dan orang-orang itu sedang membopong sesuatu dan menaruhnya dibelakang pickup. Pickup itu bukan hanya ada satu tapi melainkan tiga pickup. Tapi sekarang mereka tidak mengangkut sesuatu itu lagi tapi wajah-wajah itu menatap kearahnya dengan pandangan: mengejek dan pandangan ingin membunuh. Ia lari dan dikejar oleh orang-orang itu dan ia terus saja berlari menusuri hutan yang begitu lebat sampai-sampai ia terjerembab oleh sesuatu dan ketika ia menyadari sesuatu ia merasakan seseorang sedang mencengram lengannya dengan sangat kuat. Dan ia ingin lari dari kejaran ini dan mengakhirinya. Tetapi cengkraman itu begitu kuat dan ia berteriak tapi tak ada suara yang keluar dan sehingga ia pun terjaga dari mimpinya.


Dengan tersengal-sengal dan serta peluh yang bergulir jatuh dan tak menyadari kalau ia tak sendiri diruang kamarnyanya.


      " Kau sudah bagun?" Dengan nada cemas Alex bertanya. Wanita itu menoleh kesamping dan ia menemukan Alex sedang duduk disebelahnya sambil memegangi lengannya.


      " Aku mengingat wajah mereka" racaunya sambil menyentuh kedua tangan Alex. 


  " Tenanglah dan katakan dengan perlahan-lahan."Ucap Alex. " Kau ingat kejadian pembantaian dihutan itu" Alex menganggukan kepalanya, bertanda ia mengerti.


" Aku tak sengaja mengikuti suara yang mencurigakan dan suara itu menuntunku kearah mereka yang sedang menggotong mayat atau serigala yang pingsan karena dibius. Walaupun aku hanya melihat punggung dan setengah wajah mereka tapi aku masih bisa mengenali punggung dan setengah wajah mereka. Tapi sayang aku tak pintar menggambar." Ia masih mencengkram tangan Alex agar pria itu fokus kearahnya.


    Dalam pikiran Alex ia tersenyum dan sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan ia akan menemukan orang-orang itu melalui wanita yang ada dihadapannya itu. Senyuman kemenangan akan tiba kepada-ku, pikirnya begitu.


      " Tenanglah dan lupakan semuanya dan sekarang kembalilah tidur lagi." Ucap Alex sambil membaringkan wanita itu. Ia menyadari kalau akhir-akhir ini wanita ini telah mengalami mimpi buruk berkali-kali. Tetapi ia hanya diam dan melihat saja dan mendengar suara erangan wanita itu. Ternyata suara erangan itu terjadi karena ia tertangkap dan dikejar atau berusaha melarikan diri dari kejaran orang biadab itu.


      " Kalau kau mengenal mereka? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Alex ketika ia melepaskan cengkraman wanita ini dari tangannya. Tangannya kini telah lebam dan jemari kuku telah berada dipermukaan kulitnya yang putih.


       " Mungkin aku akan menelpon polisi dan menceritakannya dan pastinya mereka mempunyai seorang artistic dalam bidang sketsa wajah." Wanita itu memejamkan matanya dan ia telah tertidur." Selamat malam dan semoga bermimpi indah" ucapnya sembari beranjak keluar kamar. Hujan masih turun dan angin tinggal tertiup sepoi-sepoi dan berirama syaduh.


                                                                <3********<3


MENGAPA IA TIDAK bertanya ciri-ciri orang itu dan pickup mereka. Ada apa dengan dirinya. Itulah yang ia pertanyakan sekarang ini didalam kamarnya yang gelap gulita. Masih ada waktu dan ia akan menanyakannya kepada wanita itu dan mencari tahu apa yang dilihat oleh wanita itu.


Ia tidak butuh polisi, bila wanita itu menceritakan ciri-ciri mereka dan pickup mereka ia pasti akan tahu siapa mereka dan mendengus mereka sampai ketemu.


      Masih ada waktu. Masih ada waktu. Ulangnya pada diri sendiri. Ia tak'kan kehilangan jejak mereka lagi. Janjinya pada diri sendiri. Apakah wanita itu mengingat secara samar-samar atau keseluruhan mereka. Ia langsung membenamkan dirinya dengan selimut tebalnya. Seolah ia ingin menghilangkan semua beban dalam pikiranya didasar hatinya yang paling dalam, ia tak mau membuat wanita itu trauma lagi dan di kejar oleh mimpi yang tak nyata itu.


                                                                     **********


" KITA HARUS", suara tegas itu milik Harry Hunters. Pria paruh baya itu berkata kepada pimpinan kelompoknya yang bernama Resare. Harry Hunters memiliki rambut yang tipis akibat dimakan usia dan beruban di kedua sisi pelipisnya, dan ia juga memiliki perut yang buncit. Walaupun tinggi badanya sekitar seratus delapan puluh lima dan kerutan dimana-mana. Tetapi ia masih tampan seperti ketika ia berusia remaja. Ia terlihat sedang menghisap Jerutunya yang dari Cuba dan sembari menatap kearah orang-orangnya, Harry Hunters melanjutkan pidatonya.


  " Harus mencari Alex! Dan malam ini juga kita harus bergegas menyerang Suku Duai dan sekaligus mencari keberadaan Alex sampai dapat.


      Alex bukanlah nama sebenarnya tapi Acelah nama asli dari manusia srigala yang ingin mereka incar itu. Semua orang tak menyadari nama asli Alex. Dan ternyata Resare adalah saudara angkat dari Alex. Ayah Resare adalah kepala suku tertua dari kelompok srigala manapun. Tidak menjadi umum lagi bagi telinga kita. Hanya karena cemburu atau iri hati, Resare memutuskan untuk mengkhianati sukunya. Jalan inilah yang telah ia hendaki. 


     Alex baru berusia sepuluh tahun ketika ia memasuki gerbang desa suku srigala Lampao tempat Resare dilahirkan. Pada usianya yang ke-delapan belas, Alex dinobatkan menjadi Kepala Suku Lampao. itu disebabkan oleh ketangkasannya dan kelebihan yang ia miliki pada usia belia. 


     Ia tangkas dalam meracik ramuan obat herbal dan serta strategi perang. Semua itu ia peroleh dari belajar dari berpindah-pindah tempat atau disebut dengan istilah Nomaden.


Dan pada saat kedatangan Alex, ia dielu-elukan oleh seluruh desa dan apalagi kedua orang tua Resare yang selalu membanggakan Alex didepan anak merekasendiri. Namun ia cukup bersabar diri dan belajar melibihi kemampuan Alex. Tapi akhirnya ia mulai berontak dan selalu mengajak berduel atau bertarung denganAlex. Tapi Alex selalu menang, walaupun Alex selalu mengalah banyak dan Alex selaku membuka peluang bagi Resare. Tapi Resare tak bisa menanggapinya dan menyerang titik yang telah dibuka oleh Alex. Dan ketika pertarungan itu telah berakhir, ia hanyamenerima amukan dari Ayah-nya. 


" Untuk apa bertarung kalau kau sudah tahu akan kalah!" Dengan sorotan tajam kedua Ayah dan anak itu saling menatap. " Apakah kau tidak menyadarinya juga? Kau itu bisa saja menang dan menyadari sesuatu apa yang dilakukan oleh Kakak-mu itu, Sare. Dan pada saat itu kau pasti menang . Menang dari orang yang mengalah besar untuk-mu, karena kau adalah calon kepala suku. Tapi sekarang semuaorang telah kecewa besar kepada diri-mu. Kau hanya diikuti oleh ambisi kemenangan sampai-sampai tidak menyadari lawan petarung-mu." Jelas Ayahnya sambil mendekati Resare dan tatapan mereka menjadi lunak walau tatapan Resare terlihat bingung. 


" Bagaimanapun juga kau adalah anak-ku, darah daging-ku sendiri. tapi aku tak bisa menyerahkan tanggung jawab yang begitu besar kepada-mu ,Nak." Sambil berkata pria paruh baya itu menepuk pundak anaknya dengan lembut agar anaknya paham akan maksudnya,. Sang Kepala Suku telah menghilang seakan ditelan oleh gelapnya ruangan lain.  


Sekarang emosi dalam jiwanya telah meledak seperti gunung berapi yang siap untuk meledakan magmanya dari permukaan mulut gunung. Tetapi ia bisa menahannya samapai disuatu hutan, baru ia mengeluarkan semua emosinya. Pohon-pohon pun kini menjadi lampiasan kemarahanya.Dimana-mana pohon telah terlihat rusak terbelah menjadi dua bagian, dan tumbang.  


Setelah ia melampiaskan kekesalannya ia mulai jatuh terkulai diatas karpet hijau alias rumput. Iamulai berteriak dengan histerisnya seakan lolongan pilu para srigala. 


Karena masih ada dirinya Resare menghasut keturunan keluarga HUNTER untuk memberantas semua kumpulan srigala, maupun para WEREWOLF. Ia yang telah membunuh Ayah kandungnya dengan tangannya sendiri serta membakar semua perkemahan keluarganya. 


Ia-lah dalang dibalik semua ini dan ia-lah adalah mimpi buruk disetiap tidur terlelap mereka. 


Tidak terkecuali, karena ia sang dalang. 


   " Apakah kalian paham!!!" Suara keras itu membangunkan Resare dari lamunannya yang panjang. " Tapi biarkan aku yang membunuh Alex." Dengan sikap santai Resare mendekati Harry Hunters.


     " Aku mengarti itu, Bung!" ucap pria buncit itu sambil menepuk tangan Resare yang berada di atas mejanya. Bagi Harry, Resare adalah point yang amat dibutuhkan oleh dirinya, bila ia tidak memperlukan POINT itu ia akan menyingkirkan POINT tersebut. Sama seperti Alex, Resare menutup baunya atau auranya agar semua manusia atau para WEREWOLF tidak menyadari keberadaan dirinya.


     Bila Alex telah berada ditangan Harry, Resare pun tidak dibutuhkan lagi. Walaupun Harry harus melenyapkan Resare, toh ia masih punya cadangan-cadangan yang menyerupai keahlihan yang semacam Resare. Karena masih ada gunung yang lebih tinggi lagi dan lebih curam dari pada Resare itu sendiri.


                                                                          *******


MALAM HARI INI ALEX Terlihat sendiri dikamarnya dan sedang khusuk menekan phonselnya sembari tersenyum sendiri. Ia dan Leona telah menjadi dekat akhir-akhir ini dan selalu bertemu. Alex langsung menyerang Leona seolah wanita itu adalah mangsa yang empuk. Memang Leona memiliki ciri khas yang berbeda dan kecantikan yang berbeda dengan wanita lainya. Apakah Alex hanya seorang pengagum atau benci alias benar-benar cinta kepada Leona?  


Malam tadi Gabie telah berangkat kegunung bersama para awaknya. Gabie hanya membawa tali pengaman dan obat-obatan yang akan diperlukan nanti. Mana tahu. Sekarang ia sedang memanjat tebing gunung yang tinggal beberapa jengkal lagi Gabie akan sampai dipuncak gunung tersebut. Gabie adalah pencinta alam dan sekaligus dengan hobi yang begitu ekstrim. Ia telah mengajak Alex untuk ikut serta bersama dirinya tetapi Alex menolak ajakan Gabie dan Gabie tahu mengapa Alex menolaknya. Tapi Gabie pun mengerti. Sekolompok grup Gabie telah sampai dipuncak gunung dan kemudian disusul oleh Gabie. " Waw!" Serunya dengan suara yang tersengal-sengal yang keluar dari mulutnya. "Kalau waktu fajar pasti akan lebih seru nih" terdengar suara gelak dari kelompok Gabie, dan Gabie menoleh kearah kelompoknya. " Kan benar" cemberut Gabie. " Iya benar " jawab Ryandi dengan santainya. Ryandi adalah teman pencinta alam dari Medan,Indonesia. Ia adalah pencinta alam yang benar-benar menghargai alam karunia ciptaan Tuhan. Dan disini jugalah Ryandi mengajarkan hiking kepada Gabie sesudah matan tunangan Gabie. Dan pria itu bukan saja mengajarkan hiking saja tapi memanjat tebing curam dan batu karang dilaut lepas. Ryandi Wijayanto adalah seorang anak blasteran. Ayahnya seorang etnis tiong hua dari Manado dan ibunya asli orang Medan dan hijrah ke Los Angels. Tetapi sekarang ia tinggal di Medan bersama Nenek dan saudara ibunya. Dan yah ia memeluk dua agama sekaligus, karena kedua agama juga sama baik bagi dirinya. Islam dan Buddhist.


Fajar pun telah menyingsing, semberut ungu atau jingga telah terbentang menyelimuti kaki langit. Dengan terpesonanya akan kemunculan sang surya, Gabie tidak menyadari langkahnya dan ia pun terpleset jatuh tapi untung saja ada tali pengaman dipinggangnya dan kemudian teman-temannya telah menarik atau memegang tali pengaman Gabie. Tetapi kaki kirinya telah terantuk didinding tebing dan pergelangan kakinya patah ringan. Dan seketika itu juga mereka beristirahat dan bersiap-siap untuk pulang dan sebagiannya mengakut Gabie ke Rumah Sakit terdekat. Ryandi lah yang menggotong Gabie bersama rekannya Packer dan menuju kemobil Packer. Turun gunung yang berkerikil membuat perjalanan mereka begitu sulit ketika mengotong Gabie dengan tandu yang berwarna oranye. Sepanjang perjalanan mereka, Gabie terus saja mengatakan maaf dan maaf telah membuat repot. Tetapi kedua temannya hanya tersenyum. Dalam sekejap mereka telah sampai dirumah sakit dan Gabie telah ditangani diruang UGD. Terjadi patah tulang pada pergelangan kaki Gabie yang terbentur dengan dinding gunung yang berbatu menonjol keluar dari permukaan dinding gunung. Setelah operasi telah usai dan berjalan sempurna, Gabie telah dipindah kekamar lain dan disana telah ada Ryandi yang sedang menunggu dirinya. Tetapi Gabie belum tersadar, ia sedang tertidur pulas disebabkan oleh obat bius. Sang dokter itu menyerahkan foto ronsen kepada Ryandi dan foto ronsen tersebut telah berpindah tangan. Dan dokter itu mengatakan kalau Gabie telah siuman atau tiga hari lagi, Gabie boleh pulang. Selama Gabie dirawat di-Rumah Sakit Ryandilah yang selalu menemani Gabie sedangkan Alex tak tahu menahu tentang Gabie. Alex hanya tahu kalau wanita itu masih berada digunung. Malam harini begitu dingin dan mencekam menambah suasana malam semakin mencekam dan mistis. Dihutan rimbah disuku Duai telah terjadi tragedi yang mengerikan: darah kering ada dimana-mana tubuh para srigala juga terletak begitu saja disemakan belukar dan diatas daun yang kering. Sebuah pemandangan yang memilukan dan menyayat hati. Tapi tidak dengan para pelaku. Semuanya dimakamkan secara masal seakan menghapus jejak. Bau anyelir tercium disepanjang daerah TKP. Suku Duai adalah klan yang tertua dari klan-klan lainnya. Dengan senyuman puas dan perasaan lega mereka meninggalkan hutan Duai dan mereka tidak lupa untuk menutup jejak mereka seperti sebelum kemari dan sekarang semuanya terlihat rapih dan bersih walau tanpa manusia ataupun segerombolan srigala. Tidak terdengar lagi hiruk-pikuk keramain desa ataupun pasar semuanya terdengar sepi dan sunyi bagaikan dikuburan.


                                                                             ****************


Ketika pulang dari Rumah Sakit Alex memperhatikan Gabie sedang dipapah oleh seorang pria, pria yang amat tampan dan terlihat amat cerdas. Pria itu tersenyum kepada Alex dan mengangguk kearah Alex ketika menghampiri Alex untuk mendudukan Gabie dikursi sofa.  


" Ada apa dengan dirinya?" Alex bertanya kepada pria itu. Tapi tatapannya terus saja memperhatikan tingkahlaku pria itu yang seolah Gabie adalah tanggung jawabnya. Dan ia merasa risih dengan tingkahlaku yang ditunjuk oleh pria itu. Ketika pria itu memilih duduk disamping Gabie, ia memperkenalkan dirinya kepada Alex.  


Bukankah yang kausadari itu adalah kalau kau menyukainya. Suara kepalanya seolah ingin meyuarakan pikiran yang sejujurnya kepada Gabie sendiri.


Tapi ia mengpungkirinya dengan menyentakan pikiranya jauh- sejauh mungkin. 


      " Alex" hanya sesingkat itu pengenalannya dan menyudahi salaman pria itu. 


" Ada apa dengan dirimu?" Ia kembali bertanya kepada Gabie. 


" Hanya kecerobohan ketika terpesona pada sesuatu" ujarnya sambil tersenyum geli pada saat ia teringat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya. 


      "Kau masih bisa tertawa!" Seru Ryandi dan menatap tajam kearah Gabie. 


       " Yah tentu saja. Aku geli kalau mengingatnya saja" kini tatapannya kearah kedua sahabatnya, Ryandi dan Alex.


MALAM SEMAKIN LARUT membuat semakin mencekam walaupun ia merasa aman dan kini ia berada dirumah, tetapi ia merasa masih berada dihutan berantara dan menyaksikan yang tidak boleh dilihat. Orang-orang itu terus saja melihat kearah dirinya ketika mereka merasa ada yang mengawasi mereka. Sekarang ia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Jerit. Menjeritpun tidak bisa ia lakukan apalagi lari. Seolah tubuhnya telah menjadi sebongkah kayu yang tak berguna hanya menyaksikan dirinya ditangkap dan dijerat dan kemuanya yang keras ingin menjerit dengan sekuat tenaga, kini akhirnya ia bisa mengeluarkan suaranya dan meronta-ronta.  


Tiba-tiba ada suara yang menenangkan dirinya. Suara yang amat merdu milik seorang pria. Tetapi ia terus meronta agar dirinya terlepas dari jeratan mereka. Suara lembut itu seakan memuluk dirinya dan menyelimuti dirinya. Tapi pria itu sedang memeluk dirinya. Dan ia bisa merasakan tubuh pria itu dan nafas lembut pria itu dan detak jantung pria itu dan kini ia telah tenang didalam dekapan pria itu. 


    " Semua baik-baik saja" dan Gabiepun telah terlelap seolah didekap oleh kabut malam yang pekat dan kembali membawa jiwanya melayang semakin jauh keawang-awang.


                                                                   Kediaman Harry Hunters


"Kita harus membersihkan semuanya dari media massa apapun itu" ucap pria paruh baya itu yang sedang mondar-mandir. "Aku tak ingin ada kesalahan pada TKP kita." Ucapnya lagi sambil berdiri menatap orang-orangnya.


    " Tenang boss semuanya telah sesuai dengan rencana anda" ujar seorang pria brontos dan bertubuh besar. 


     " Apakah kau pernah mendengar sebuah pepatah' sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga' dan ' sepandainya menyimpan suatu kebusukan dan bangkai itu akan tercium juga'. Pernah kah?" Semua pasang mata memandang kearah Harry dan terbungkam akan pepatah tersebut.


Pagi hari begitu cerahnya dan sangat bersahabat, terlihat seorang wanita sedang menyiram tanamanya dan tiba-tiba ia mendengar suara erangan yang menahan rasa sakit yang dikeluarkan oleh seorang pria. Ia pun menuju kesuara itu. Ternyata suara itu ada disemak-semak mawar merah. Seorang pria sedang berbaring seperti udang bungkuk. Pria itu tidak memakai baju dan hanya memakai celana panjang dan sepertinya celana panjangnya seolah telah dipotong-potong atau tercabik-cabik. Dengan perasaan iba, wanita itu mendekati pria itu dengan cara memutar arah agar ia bisa memperhatikan pria itu dan sekaligus mencari dimana sang luka bersarang. Dengan ragu-ragu wanita itu menyentuh bahu pria itu dan pria itu pun menatapnya dengan cara menyipitkan matanya karena ia menahan rasa sakit yang menyerang dirinya. Dengan terperanjak, wanita itu melihat suatu cairan merah begitu kentalnya keluar dari perut pria itu, seolah perut pria itu adalah bibir air mancur yang keluar dari suatu patung hiasan taman. Dan dengan gelisah wanita itu menjadi panik. 


"Tunggu sebentar" hanya itu yang dikatakan oleh wanita itu dan sekaligus beranjak dari duduknya diatas rumput dan berlari kedalam rumah. Suara panggilan dari mulutnya terdengar diseluruh ruangan disetiap larinya. Ia langsung menuju keruang dapur dan mencari kain atau handuk untuk ditekan,kan ditubuh pria itu.  


" Ada apa kau membuat keributan diseluruh ruangan. Apakah kau ingin tetanggamu terbangun dipagi hari yang indah ini." Suara itu membuat Gabie tersadar akan paniknya dan ia pun berbalik kearah pria itu yang sedang berdiri di kusen pintu. 


  " Aku perlu bantuanmu, Ace" Gabie berjalan menghampiri pria itu. 


"Untuk apa?" Tanya pria itu sambil menaikan satu alisnya.


 " Ada seorang pria sedang membutuhkan pertolongan kita dikebunku" jelas Gabie sambil berjalan dan membelakangi Alex yang sedang mengilkuti dirinya. 


    " Untuk apa menolong pria itu? Kenalan juga bukan" sinisnya sebenarnya hati Alex penasaran juga dan ia ingin tahu siapa pria itu. Dan ia pun mengingat perkataan Leona kepada dirinya. 


      " Gabie itu selalu mengikuti diriku. Apapun yang aku sukai dan apapun yang aku lakukan." Benarkah apa yang diucapkan wanita manusia itu? Sulit untuk mempercayai manusia ataupun sukunya sendiri. Dan semuanya membuat dirinya was-was apalagi Leona adalah orang yang disukainya. Wanita yang begitu cantik dan sepertinya begitu banyak yang belum diketahui oleh Alex dari wanita cantik itu. Ternyata mereka telah sampai ditaman Gabie. Wanita itu sedang menekan, kan handuk itu kedalam luka itu. Sedangkan Alex hanya memperhatikan Gabie.


    " Jangan hanya berdiri bengong, angkat pria ini kedalam rumah" dan Alex pun mematuhi printah wanita itu.  


" Aku tak'kan membopongnya." Ia terhenti karena ia melihat wajah Gabie yang sedang melihatnya." Karena ia bukan seorang wanita, jadi akuhanya menuntunya" dan Alex pun menuntun atau melampirkan tanganya ketubuh pria itu seperti yang diucapkan oleh Alex. Gabie hanya tersenyum sambil bangkit dari duduknya. Sesampai dirumah, Gabie langsung membersihkan luka pria itu dan tentu saja Alex ikut membantu juga dengan meramu obat-obat herbal. Karena ia telah menyadari kalau pria itu adalah sebagian dari sukunya atau suku lainya.  


" Jangan kuatir, karena pria ini sangat kuat" ucap Alex dengan menenangkan Gabie. Pria itu berdiri sambil melipat kedua tanganya didadanya dan sambil menyender didinding. Rambutnya yang panjang diikatnya kebelakang. Sedangkan pria yang sedang berbaring dan menatap kearah Gabie dan Alex memiliki rambut perak dan kulit yang putih seputih gading yang selalu dibersihkan. Dan mata pria itu berwarna madu jernih. Entah mengapa pria itu merasa aman bila berada disekitar Gabie dan Alex. 


         "Kenapa anda bisa terluka?" Tiba-tiba saja Gabie bertanya.  


" Seluruh penduduk diserang oleh seorang pengkhianat. Dan cuma aku yang melarikan diri untuk membalas dendam penduduk-ku." Jelas pria itu sambil menerawang jauh dan air matanya jatuh tanpa sadar. Dihati Gabie menjadi terenyut mendengar penjelasan pria yang baru saja dikenalnya itu. Kisah itu sama percis pada saat ia mendaki gunung dan melihat yang seharusnya tidak ia lihat. Tapi ini tidak sama seperti pembantaian para serigala, pikir Gabie.  


"Maaf dan aku turut berduka" ucap Gabie dengan tulus. Perkataan pria tadi begitu jelasn ya ditelinga Alex. Apakah ada penyerangan lagi? Suku mana?. Itulah yang menjadi pertanyaan. 


    "Kalau boleh tahu kenapa kakimu digips?" Tanya pria tanpa nama itu kepada Gabie. Gabie hanya tersenyum kecil pada saat ia mengingat kejadian kecil itu.


     "Hanya kepleset dan terbentur oleh didinding gunung." Jelasnya dengan nada datar. "Baru lima hari dari kejadian itu." Lanjutnya lagi. 


    "Siapa namamu dan kau belasar darimana?" Kini giliran Alex bertanya kepada pria itu sambil membalutkan perban yang sudah diberi rempahan herbal kepria itu. Pria itu melirik kearah Alex tepatnya, kearah perutnya.  


" Namaku. Lynx dari Duai(Tuai)." Ia terhenti karena rasa nyeri kembali menyerang dirinya. Duai. Suku tertua dari suku srigala. Suasana menjadi hening dan Alex kelihatan sedang termenung empat pasang mata itu langsung mengarah kearah Alex. Apa yang ingin mereka cari dan apa mau mereka sebenarnya? Mengapa harus membumi hanguskan suku Srigala? 


    "Alex?" Tanya Gabie sambil mendekati Alex. Gabie pernah diperingatkan oleh Alex, kalau dirinya bersama orang lain dan Gabie harus membiasakan memanggil Alex dengan sebutan Alex bukan Ace. 


    "Tidak apa-apa hanya teringat sesuatu." Jawab Alex sambil tersenyum kecut kearah Gabie.


                                                                          ±****±


Hari kedua ini hari-hari Gabie penuh dengan hal-hal yang aneh setelah ia menolong seorang pria yang bernama Lynx dan ternyata pria itu langsung akrap dengan Alex. Lihat saja sekarang mereka berdua sedang terlihat asyik bermain catur. Sedangkan dirinya hanya memperhatikan kedua pria itu bermain. Kelihatanya Lynx telah agak baikan. Tapi anehnya, harini Alex tidak keluar biasanya ia akan menemui Leona dan mengajak wanita itu dating. Tiba-tiba saja suara seorang pria terdengar begitu panik dari suaranya itu ketika memasuki ruangan yang dihuni oleh Gabie,Alex dan Lynx. Permainan mereka bedua terhenti, ketika pria itu menatap langsung kearah Gabie dan ia terlihat lega ia baru menenangkan dirinya dan kemudian ia mendekati Gabie yang sedang duduk disebelah samping Alex. Alex terus saja memperhatikan pria itu yang terus berjalan dan yang sekarang duduk disebelah Gabie. Gabiepun mundur dan berdekatan dengan Alex. Tanpa ia sadari pahanya telah menempel pada kaki Alex.  


"Kata Leona, kau dapat kecelakaan"kata pria itu. Alex hanya menatap kearah pria itu dan sedangkan Lynx hanya menatap kearah Alex dengan perasaan bertanya. Alex merasa ia pernah berjumpa dengan pria ini tapi dimana? 


"Aku baik-baik saja" jawab Gabie begitu tenangnya. "Harini gipku akan dibuka, jadi tidak ada masalah." Lanjutnya sambil tersenyum kearah Pria yang berada didepanya. Mantan pacarnya, itulah apa yang dikatakan oleh kepala Alex. Nama? Merasa dirinya tidak sendirian, Gabiepun memperkenalkan mantan pacarnya kepada kedua sahabat barunya.  


" Ini Alex, dan Lynx" tunjuk Gabie kearah Alex dan setelah itu kepada Lynx. Andres langsung menyalamai kedua pria itu sambil memperkenalkan namanya. Pria itu hanya biasa-biasa saja sepertinya pria itu tidak pernah memperdulikan gayanya sendiri artinya ia terlihat cuek kepada dirinya sendiri. Pikir Alex, seolah ia sedang membedakan seorang pesaing. Pesaing untuk apa? Ia sendiri tidak menyukai Gabie, ia bukan tidak menyukai Gabie, tapi Gabie bukanlah tipe bagi dirinya. Memang Gabie tidak begitu cantik bila disandingkan dengan Leona. Gabie hanya terlihat manis saja tidak begitu cantik amat. 


"Aku datang kesini hanya ingin berbicara berdua denganmu" kata Andres sambil menoleh kearah Gabie. Gabie pun beranjak dan menuntun Andres. "Kalian lanjuti saja permainan kalian" ucap Gabie kepada mereka. Setelah mereka berdua telah sampai diserambi barulah Andres to the point. 


" Kenapa sih kau tidak menjaga pacarmu?" Gabie menautkan kedua alisnya, karena ia merasa bingung dengan Andres. 


  " Pacar darimana? Memangnya ada masalah apa?" Tanya Gabie sambil bersandar ditembok yang berbentu slinder. 


" Alex selalu saja lengket dengan Leona. Jadi kedatanganku kesini hanya ingin memperingatkan dirimu untuk menjaga pacarmu." Tegas Andres." Dan buang semua parfummu karena, karena wangimu sama seperti Leona." Lanjutnya seakan Andres ingin mengajak berantam. Merasa kesal akan ketidak kesopanan Andres, Gabie pun mengusir Andres. Setelah Andres telah pergi barulah ia menyadari kalau Leona juga memakai parfum yang sama dengan dirinya. Dan akhirnya ia langsung membenahkan kamarnya semua pernak-perniknya yang berbentuk jeruk ia letakan disebelah kamarnya bersama semua parfumnya. Dan sekaligus bantalnya. Sekarang ia harus mencari sesuatu yang bukan identik dengan dirinya. Tapi apa? Besok pagi ia akan mencari seuatu yang lebih fresh dari pada jeruk. Setelah kamarnya telah bersih dari jeruk, ia pun menata ruanganya menjadi kamar biasa pada umumnya.


                                                                             <3±******±<3


Pada Malam Harinya Alex Menuju Kearah Barat, Desa Suku Duai. Seperti yang ia lihat sendiri seluruh pondok terlihat seolah belum terjamah dan walaupun masyarakat pondok tak terlihat dan tiada bekas pertempuran dan pembantaian apa lagi darah yang berceceran. Semuanya terlihat sempurna tiada apapun. Ternyata pembantai itu terlalu cerdik untuk membereskan semuanya. Seluruh pondok tersebut telah Alex lihat dan semuanya bersih. Tapi bau dari salah satu pembantai tersebut tercium oleh Alex dan ia tidak akan melupakan bau itu. Matahari tepat diatas kepalanya, teriknya bukan main. Ia ingin bertemu dengan cenayang agar ia bisa tahu siapa dibalik semua ini, apa mau mereka dan tujuan mereka. Tapi sebaliknya ia tidak tahu atau tidak memiliki cenayang. Bila ia menyentuh sesuatu dari benda atau pondok itu saja ia akan mengetahui dan siapa orang dibalik dari ini semua. Ia hanya bisa menyimpan kemarahan dan dendam tanpa mengetahui siapa dalang semua ini. Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Suku Duai dan menuju ke-kota.


                                                                 <3±*****±<3


Malam Harinya, Gabie tidak Bisa Terlelap karena ia telah nyaman dengan pernak-perniknya yang bertemakan Orange mau tak mau ia pun pindah kekamar sebelah dibalik kamarnya sendiri. Padahal kamar sebelumnya telah ia hiasi dengan parfum rasa apel hijau dan apalagi ranjangnya telah ia ganti dengan motif apel, seprei apel, selimut yang bermotif apel. Ruangan telah tercium rasa apel hijau. Tapi ia masih tidak juga terlelap. Ketika ia telah terlelap dan kini mimpi buruk itu terus datang menghantui dirinya bagaikan meminta sesuatu kepada Gabie. Ia telah memandikan oleh darah segar. Tapi ia tidak tahu siapa pemiliknya. Ia ingin menjerit namun yang keluar hanyalah udara, teriakan kosong. Ia terus berjalan menyusuri kegelapan malam sambil membentangkan kedua tanganya yang penuh oleh darah segar itu apalagi sekujur tubuhnya telah memandikan darah. Semua tubuhnya lengket akan cairan merah itu. Jijik tentu saja ia merasakan jijik. Bukan itu saja ia juga merasakan takut, itu semua telah tercampur menjadi satu. Kini ia dihadapi sekelompok laki-laki yang mengerikan yang bertaring dan rambut mereka beraut-autan bagaikan gimbal. Tawa mereka seolah iangin menerkam dirinya. Ia berusaha berlari dan meminta tolong tapi suaranya tidak keluar juga. Ia hanya berontak.


Mendengar suara disudut kamarnya Alex pun segera menuju kekamar Gabie. Tapi kamar itu kosong. Ruangan itu telah menjadi kamar apel hijau. Kemudian ia berbalik untuk meninggalkan kamar Gabie, tetapi ia mendengar suara jeritan yang diakhiri dengan 'Long' mau tak mau ia pun memasuki kedalam kamar Gabie dan menemukan sebuah pintu dan ia kemundian membukanya. Kamar itu begitu sempitnya bagaikan kamar penjara. Kemudian ia mendekati Gabie dan menyadarkan wanita itu dengan bisikan penenang. Dikamar itu mereka tidak hanya berdua saja tapi diluar kamar Gabie lagi, telah berdiri Lynx dikunsen pintu. Seketika itu juga Gabie kembali tertidur tanpa menyadari kalau ia baru saja mengalami mimpi buruk dan apalagi ia tidak pernah menyadari kalau selama ini, Alex lah yang telah menenangkan dirinya dan dipeluk oleh Alex. Pelukan Alex bagi diri Gabie seperti Orangtua yang sedang menenangkan seorang anak. Ya boleh dikatakan ia rindu akan belaian dan dekapan dari orangtuanya.