Hunter Family

Hunter Family
The Looking (a)



₪ Part Seventh ₪ . . .


Bahaya apa yang akan diakibatkan oleh Darah Vampire dan WereWolf itu???? Akankah seluruh manusia akan menghilang atau meleleh akibat cairan itu???


Setelah aku membagi beberapa grup, dan menyuruh mereka berpencar dan mencari daerah perlindungan yang baru dan membersihkan diri dan membuang sisa-sisa bau badan mereka. Kini Lynx, bersama Lana dan Tetua menuju kerumah Gabie dan sekarang aku telah berada dikediaman Harry dan sekarang aku berada diatap rumah ******** itu tepatnya dikamar kerja pria ******** itu. Aku mencari berkas-berkas atau agenda yang dikejakan oleh ********, yang mendapat sertifikat kedokteran dan juga doktor itulah yang aku temukan dibalik lacinya. Dan pantes lah kalau ******** itu mencari atau memburu Vampire dan para WereWolf hanya untuk beresperiment dan untuk apa semuanya dan apakah untuk penyakit langka yang sulit disembuhkan oleh masa kini abad ke 50 ini.


Dan semua data yang aku temukan dan ku print ditempat yang terdekat didaerah ruangan ini dan setelah aku mendapatkan hasil foto kopi langsung ku masukan kedalam kantungan kecil yang berbahan dari kertas. Dan setelah itu kuselipkan didalam tubuhku. Merasa belum puas aku masih mencari sesuatu yang ganjal. Semua lemari kecil maupun rak telah ku gledah dan tetap saja tidak ada yang ganjil ataupun bukti sebuah dokumen rahasia. Dan aku kembali kearah laci semula dan aku menemukan sebuah map dengan sampul plastik kaca dan aku menemukan kata-kata yang ganjil yang tertulis disana dan aku mengeluarkan dokumen tersebut dan halaman demi halam aku baca. Aku terkejut sekali dengan apa yang aku temukan pada saat ini dan ini terlalu berbahaya. Karena dalam penelitian mereka-mereka menulis kalau darah vampir dan werewolf telah tercampur dan darah mereka sangatlah bahaya, bila menegenai orang awam darah bahaya itu akan melelehkan tubuh mereka tanpa rasa sakit. Dan mereka akan menggunakan darah itu menjadi mesiu sebuah bom waktu yang akan dibentuk didalam sebuah tabuang dan akan meledakan kebumi. Coba bayangakan bila darah itu jatuh atau meledak seluruh dunia akan lenyap, bukan seluruh dunia tapi bumi akan hilang. Dan ternyata mereka telah merencakanya dengan masak-masak. Tiba-tiba saja sebuah keping cakram jatuh dan bersuara, dan dengan otomatis akupun berlutut dan mengambil cakram tersebut dan ternyata itu adalah sebuah disk kecil.


※♥※♥※♥※♥※♥※


Sekarang kita lihat Lynx yang sedang melarikan diri bersama tahanan lainya. Sekarang pada saat ini mereka sedang berada disebuah hutan dan didalam goa.


"Kalian! Harus tetap bergerak dan terus berpindah-pindah." Seru Lynx kepada kawanan serigala lainya dan mereka hanya mengangguk saja. Dan akhirnya Lynx pamit dan menuju keutara tempat Gabie bersama tetua dan Lana. Sekarang Gabie harus menerima dua orang lagi dan itupun tanpa bertanya kepada Alex maupun kepada Lynx. Dengan gerakan cepat akhirnya Lynx telah sampai dirumah Gabie.


Malam selarut ini Lynx mendengar suara jeritan dari kamar Gabie, tapi dia hanya bersikap cuek dan hanya membawa Lana kedalam kamar dimana tempat Lynx dan setelah itu ia membawa selimut besar beserta air putih untuk tetua.


Beberapa jam kemudian ia diterkejutan oleh kedatangan Gabie yang tiba-tiba saja berdiri didinding yang sedang memperhatikan Lynx dan tamu Lynx.


"Kau ini bikin kaget saja tahu"


"Maaf"


Tetua memperhatikan Gabie dengan saksama sedangkan Lynx melirik kearah Gabie secara bergantian.


" Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sekarang kau memiliki dua tamu." Aku Lynx sambil menatap kearah Gabie secara mendongakan kepalanya, karena Lynx sedang duduk dilantai.


Dengan tatapan bertanya atau tepatnya mencari seorang lagi, Gabie bertanya ketika ia tidak menemukan seorang lagi.


"Mana seorang lagi?"


"Ada didalam kamarku"


kata Lynx sambil menunjuk kearah dalam.


"Mana Ace?"


Tanya Gabie lagi ketika ia baru sadar kalau Ace atau Alex tidak ada.


"Dia... Aku mana tahu"


bohong Lynx sambil menatap kearah Teteua.


"Aku tidak bertemu denganya dan apalagi aku keluar hanya menyelamatkan orang ini dan mantan kekasihku." Jelas Lynx setengah benar dan bohong. Dan akhirnya Gabie pun berpaling dan meninggalkan mereka berdua.


"Dasar orang cuek. Tanya kek sedikit saja."


Cemooh Lynx kepada Gabie.


"Kau ini orang yang pemberani." Kata Tetua sambil tertawa karena


melihat tingkah laku Lynx yang salah tingkah.


"Aku belum selesai, nak. Pemberani dalam mengatakan bibalik belakang orang lain." Kini terdengarlah gelak tawa yang indah bagaikan lagu nina bobo bagi telinga Gabie.


※♥※♥※♥※♥※♥※♥※


Setelah keluar dari ruang Harry, aku menuju kearah utara untuk keluar dan mengendap-endap. Sebenarnya aku telah ketahuan oleh penjaga dan sekarang mereka sedang bersiaga dan berbunyikan Alaram atau siren. Aku menuju tempat yang gelap yang sesuai dengan kostumku, tapi tiba-tiba saja lenganku tertembak dan disebrang sana berdiri seorang wanita yang berpakaian serbah hitam dan membiarkan rambut yang bergelombang itu terbang terbawa angin. Dan wajah itu penuh senyuman. Dan sekarang wanita itu mulai memidik kearahku.


Dan aku menggerakan semua tenagaku agar aku bisa kearah wanita itu dan menyerang dia lagi. Karena aku tahu dialah yang telah melukaiku yang hampir lumpuh satu tahun yang lalu. Dan kini dendamku akan kulepaskan kepadanya. Dan sekarang aku bergerak kearah tembok dan ia terlihat percaya diri dengan berdiri didinding pagar. Aku kini telah berubah wujud menjadi srigala hitam ke abu-abuan dan menyerang kearah wanita itu. Kini kedua kaki depanku telah menerkam wanita itu. 


Sekarang kami berada di karpet rumput yang telah berembun. 


Dan tak disangka olehku, ternyata disekelilingku telah berdiri orang-orang yang telah bersenjata dan mengarahkan kepadaku, dan sedangkan aku masih fokus kepada wanita yang telah menembak diriku. Aku masih mencengkram bahu wanita itu dan aku memamerkan gigi bertaringku yang berumuran air liur yang terus menerus menetes.  


Kelihatanya wanita itu terlihat jijik dengan air liurku yang menetes kearah bajunya dan ia berusaha bebas dari cengkraman dari kuku-ku yang panjang dan runcing.Aku ingin melukainya maupun membunuhnya, tapi sebagian tubuhku tidak bergerak atau tidak menuruti printah otak-ku.


Akhirnya wanita itu telah bebas dari cengkramanku. Aku lepas, melepaskan mangsaku. 


Para berpakaian hitam itu melangkah untuk menyerangku, tapi aku menggertak mereka dengan angunganku dan mereka mundur dan ketika mereka mundur aku pun bergerak menyerang mereka kembali dengan membabi-buta aku mengincar leher mereka. 


Karena leher itulah saluran darah atau tepatnya titik pital para manusia dan bukan manusia saja, tapi para mahkluk hidup tentunya.


Aku terus saja menyerang selagi aku memiliki sebuah kesempatan dan ku gigit leher mereka secara mendalam dan mencabik-cabk leher mereka, sedangkan wanita itu hanya berdiri dengan tatapan mata yang seolah mengatakan "kalau aku itu sadis" Aku terus saja mencari mangsa selanjutnya dan aku tidak perduli dengan pandangan wanita itu. Aku terus saja menyerang dan aku ingin dia melihat kekejamanku.


DoooooO. . . . rrrrRr. . . . !!!! 


Suara senapan angin yang arahnya kira-kira 30M dari-


arah lokasi tempat pembantaian Alex.


DooorrrR. . . . !!!!


Aku melihat orang yang ingin ku santap jatuh terkapar ke karpet rumput sambil menyentuh dada kanan mereka. Dan kini aku tidak main-main lagi dan aku serang si sang nona mereka. 


Taringku sudah begitu dekat dengan leher putih wanita itu, tapi entah mengapa taringku tidak juga menusuk leher putih wanita itu. 


Aku memfokuskan diriku pada wanita yang kini berada dibawahku dan aku hanya mengindahkan suara senapan angin itu. Dan itu berarti orang itu berada dipihaku dan dia tidak bermaksud untuk membunuh. 


Selagi aku dikuasai bukan diriku, aku tidak bisa mengontrol diriku yang buas. 


Aku merasa bahu kiriku terasa pedas dan rasa sakit itu menjalar menjadi satu dengan rasa pedas itu dan ternyata darah segar dari bahuku menetes keluar dan seorang wanita berdiri tepat disampingku sambil membidikan senapan anginya diarakan ke keningku dan otomatis saja si wanita atau nona tepatnya pemilik rumah, kini bebas dan ia sedang berdiri kearah samping wanita yang sedang mimbidik ku dengan senapan angin. 


Wanita itu berbau apel yang amet pekat dan rasa-rasanya aku tahu rasa itu, sedangkan sinona pemilik rumah bebau jeruk yang sama pekatnya.  


Apakah mereka adalah Leona dan Gabie?


Alam bawah sadarku mengenali farpum mereka.


Suasana menjadi hening, mereka saling melempar tatapan tajam kearah Alex(manusia srigala). Werewolf itu memasang antena waspada, dan mulai memasang kuda-kuda untuk menyerang salah satu diantara kedua wanita apabila diantara mereka ada yang bergerak.  


Gabbie tidak ingin temanya menjadi mangsa werewolf itu dan sebenarnya ia hanya mencari keberadaan Alex, tapi suara senapan dan ceceran darah di jalan raya membawa dirinya kemari dan ia juga tidak bermaksud untuk mengakhiri Werewofl itu. Ia hanya menembak menembak asal-asalan saja. Karena ia sudah melihat mayat seribgala yang terhampar begitu saja.  


Kedua wanita itu sama sekali tidak bergerak hanya saling memidik ke arah Werewolf yang sedang memasang kuda-kuda dan melirik mereka secara bergantian. Dan tiba-tiba saja sesosok hitam melompat turun dari tembok pagar menuju kearah lingkaran sipemilik rumah, Gabbie dan Alex. Kedua wanita langsung menatap kearah sosok hitam itu yang kini berdiri tegak tepat dihadapan Alex(werewolf). Jiwa buas Alex langsung mengenali sosok tinggi hitam itu. Dia adalah Resare. Aroma tubuh Resare tercium begitu kental dihidung Alex dan semua itu membawanya kejadian beberapa bulan lalu di desa Duai. Kini ia tahu siapa yang membantai dan menjadi pengkhianatnya. Dengan kemarahan yang tak bisa dibendung lagi oleh Alex yang sekarang telah menjadi buas akibat kemarahan dan ia harus membalas dendam. Kini didalam otaknya hanya ada tiga suku kata: mem-bu-nuh. Dengan gerakan cepat, Alex langsung menyerang Resare dan kedua wanita itu mundur dan saling menempel, berdiri berjejeran. Tanpa malu-malu, Resare berubah wujudnya didepan mereka berdua. Dengan takjub, Leona hanya memasang senyum manis, sedangkan Gabbie hanya merasa tak poercaya dengan apa yang ia lihat. Kini kedua Werewolf itu saling menerkam dan saling mencabibik. Kelakuan mereka seperti anak kecil yang sedang melakukan gulat yang secara bergantian memukul. Didalam benak Gabbie sedang melakukan pertanyaan kepada dirinya sendiri dan memulai memutar memoir nya ke beberapa bulan yang lalu ketika ia menemukan Alex dan para bayi srigala. Apakah semua ini hanyalah bentuk dari kata'pembalasan?' Dan Lynx pulang dengan seorang pria tua yang begitu kumal dan kurus; tubuhnya penuh dengan bekas luka dan darah yang telah mengering. Kini Gabbie sedang memperhatikan teman sedari kecilnya itu. Mengapa Leona hanya terlihat tenang saja ketika pria asing itu berubah wujud dan seolah Leona mengenali pria asing tadi. Itulah bentuk pikiran Gabbie.  


Dengan jari telunjuk dan jempolnya, Gabbie memijit keningnya dan membiarkan kedua jarinya berdiam lama disitu. Dengan tiba-tiba arah pandangan Gabbie langsung menoleh kearah samping kanannya dan Leona sedang mempunggungi dirinya, karena Leona sedang melihat pertarungan kedua werewolf itu.  


Tubuh Alex kini berrumuran darah dan tubuhnya terlihat segaris luka dan bekas taring dilengannya. Sekarang enerji mereka seolah telah terkuras, walaupun telah terkuras, semangat mereka masih tersisa berapi-api. Serigala hitam itu terus saja menyerang serigala yang berwarna abu-abu keputihan itu tanpa menyisakan jedah atau waktu. Melihat hal itu hati Gabbie merasa menciut dan dengan reflex, Gabbie mengangkat senjatanya dan mulai memidik kearah Srigala hitam hitam itu.


☀Ddd. . . DooooOrrrrR!!!!☀


Leona melirik ke arah Gabbie dan menampar pipi kanan Gabbie.


Tembakan itu mengenai pas dibahu srigala hitam itu dan srigala hitam itu menoleh dan memandangi Gabbie dari atas tubuh Alex. Dengan gerakan cepat secepat angin, Alex sampai kearah Gabbie dan menerkam Gabbie. Kaki depan yang berkuku tajam sedang mencengkram kedua bahu Gabbie, mempenjarakan Gabbie dengan kaki depan dan diantara rumput yang lembab. Mata dengan mata. Takut dan degup jantung yang sedang berdentang bak irama tambuh drum, itulah suara jantung Gabbie. Ia takut dengan gigi yang bertaring yang sedang dipamerkan oleh Alex. "Aku hanya ingin membantu." Ucap Gabbie tanpa nada gagap padahal dirinya begitu takut dan pastinya kata yang keluar akan terdengar lemah dan gagap, tapi ia mengeluarkan kalimat yang lengkap. Seolah Gabbie bisa membaca pikiran Alex, yang diinginkan oleh Alex untuk tidak mengganggu dirinya yang sedang bertarung. Tiba-tiba saja terjadi gumpalan asap disekitar. Asap yang begitu tebal telah menutupi area Leona dan para anak buah ayahnya dan kini mereka semua tidak bisa melihat dengan jelas dan mereka berjalan kearah yang berpencar. Mereka tidak tahu dari mana mereka diserang. Tangan mereka hanya mengibas-ngibas keudara agar asap itu hilang. Ketika asap tebal itu telah lenyap, dan ternyata mereka telah berjalan dengan cukup jauh dari tempat pertarungan Resare dan Alex. Kini Leona hanya bisa menatap kearah Resare yang kini telah menjadi manusia dan kecewa dengan hilangnya Alex.


Beberapa jam kemudian, dikediaman Hunters.


"Maaf Boss," ucap Resare langsung menghadap kepada pimpinanya yang sedang duduk dibalik mejanya. "Para tawanan berhasil diselamatkan oleh pihak musuh dan saya telah bertemu dengan Alex." Resare mengakhiri perkataanya sambil menatap kearah Harry. Sedangkan Harry telah tahu dari putrinya kalau ada seekor srigala telah menyelamatkan para tawanan lainya. Tapi berkat Resare, srigala itu terluka parah, amat parah dan dinyatakan kehabisan darah. Memang luka Alex begitu berat dan parah, luka-lukanya terlihat sampai kedagingnya.  


"Aku sudah tahu itu semua, Re dan aku kagum dengan usahamu itu." Kata Harry sambil tersenyum tipis. Ia tahu apa yang harus ia lakukan dikemudian hari dan ia telah mendapatkan apa yang ia cari dan tinggal sebentar lagi dunia ini tidak akan ada lagi. Ternyata darah Vampir dan Werewolf sangatlah berharga dan bisa membuat suatu zat peledakan hanya ditambah dengan unsur kimia lainya saja. Kini wajah harry kembali tersenyum, karena ia membayangkan bumi. Ini hancur tanpa tersisa apapun dan semuanya tidak ada lagi nama Vampire dan werewolf lainya. Manusia juga akan ikut menghilang. Tidak seorangpun yang tahu akan rencananya, hanya dirinya dan seorang lagi yang mengaku sebagai seorang professor.


☀~♤♤♤♤♤~☀


Setelah digerumuni oleh asap tebal dan para musuh telah diperdaya oleh asap itu, Lynx menggotong tubuh Alex yang masih berwujud srigala abu-abu dengan motif putih dikeningnya dan putih melingkar dilehernya.


Dan dengan satu tangan yang masih kosong, Lynx menyeret Gabbie keluar dari markas musuh.


Dan sekarang ini mereka telah berada didalam mobil yang dibawa oleh Gabbie ketika ia bermaksud untuk mencari Alex. Entah mengapa ia terbawa sampai dirumah Leona dan menghadapi yang tidak nyata ini.


Ia ingin segera pulang dan tidur untuk melupakan mimpi ini.


Lynx menempatkan tubuh Alex di jok belakang mobil bersama Gabbie.


Otak Gabbie berputar atau merangkaikan semua kejadian yang baru saja ia alami dan apa yang ia lihat.


Tentu saja ia mengaitkan kedua tamu Lynx dan sebelum pergi, Lynx dan Ace pergi bersama dan sekarang Ace tidak pulang dengan Lynx dan malahan Lynx pulang dengan seorang kakek tua yang terlihat begitu lemah dan disekujur tubuhnya terdapat bekas luka yang sudah kering dan apalagi tubuhnya terlihat begitu kurus, seperti kurang gizi. Bukan hanya kakek tua saja tapi ada seoorang lagi dan Gabbie belum menemui tamu satu lagi.


Apakah didunia ini ada Werewolf maupun para Vampir?


Tapi ia telah melihat seorang pria berubah menjadi srigala dan itu terjadi tepat dibatang hidungnya.


Gabbie memutar kepalanya untuk melihat punggung atau belakang kepala Lynx sebelum ia mengeluarkan pendapatnya.


"Apakah Werewolf di dunia nyata sama di film-film, Lynx?"  Gabbie bertanya karena ia merasa bingung, sebab dengan apa yang ia lihat begitu berbeda dengan yang ada di film-film.


Kalau misalnya srigala yang masih tergeletak disamping Gabbie itu adalah werewolf dan mengapa tubuh srigala ini berbeda; bentuk srigala yang Gabbie lihat seperti yang sekarang ini tidak dengan wujud berbadan manusia yang dipenuhi oleh bulu atau rambut yang lebat. Tapi kenyataanya bentuk Werewolf sama percis dengan srigala.     


"Jelas tidak sama, Non." Jwab Lynx sambil memperhatikan Gabbie melalui kaca spion atas bagian dalam mobil.


Gabbie menjadi terdiam karena ia sedang berpikir dan ia mengambil sekotak tisue untuk membersihkan luka srigala itu.


Apakah semua ini ada kaitanya dengan pembantaian para serigala itu? Kini Gabbie disibukan oleh pikira-pikiran lainya sambil membersihkan luka srigala itu.


Luka srigala itu begitu serius dan dagingnya terlihat begitu nyata, darah juga kering.


Apakah srigala ini telah sekarat dan kehabisan darah?.


"Lynx, srigala ini butuh dokter." kata Gabbie sambil memandang belakang kepala Lynx.


"Lukanya parah, dan bisa saja srigala ini koma." Gabbie tak bisa membayangkan kalau perkataan mati akan menjadi nyata untuknya dan ia cepat-cepat mengubah kalimat itu.


"Apakah kau tahu tempatnya. dan apakah malam selarut ini masih ada yang praktek?" Lynx langsung mengiyakan sambil menghentikan mobilnya.


"Tentu saja, aku tahu. Ketika sampai di gang rumah kau harus pilih belokan kiri dan pilih jalan lurus dan terlihat jalan yang berhuruf cross kau harus pilih kanan. Setelah itu kau akan menemukan sebuah papan nama yang berbentuk kucing dan anjing."


Mendengar penjelasan Gabbie, Lynx pun melajukan mobilnya menuju kedokter hewan.


Akhirnya mereka pun telah sampai dan dokter itu melakukan dengan apa yang bisa ia lakukan


Semua luka parah itu kini telah tertutup dengan tali yang berwarna putih bening dan lembut, testurnya sama dengan kulit manusia.


Dan kini mereka telah ditinggalkan oleh sang dokter. 


Gabbie memutar tubuhnya untuk menghadap Lynx dan kini mereka saling menatap. "Lynx aku ingin tak seorang pun tahu tentang srigala ini masuk ke klinik hewan." ucap Gabbie sambil menunjuk srigala ini dengan anggukan kepalanya.


Merasa bingung, Lynx tidak melempar pertanyaan. Kadang kala ia bingung untuk bersikap karena Gabbie adalah manusia dan tentunya sulit untuk mencerna apa yang terjadi.


Tapi ia mendapati dirinya tersenyum sendiri di kala Gabbie bisa menyusun puzzle dengan benar.


Tanpa disadari oleh mereka berdua, jari-jari Alex bergerak dengan pelan dan ia menyadari semua kehadiran kedua orang itu.


Itu adalah Lynx dan Gabbie.


Gabbie. . . Siapa wanita itu?


Alambawah sadarnya tidak mengenali Gabbie dan aroma yang begitu pekat tercium olehnya dan dicampur dengan obat antiseptik dan aroma hewan lainya.


Apakah ini adalah tempat klinik hewan?


Hewan siapa yang terluka dan mengapa tubuhku tak bisa kukendalikan?


Pembalasan sudah ada didepan mata tapi dihadang oleh seorang wanita dengan aroma apel yang pekat dan sehingga pembalasanya tertunda.


Ternyata Dokter hewan itu telah memberikan obat bius yang amat kuat efeknya, sehingga Alex tak merasa apapun dan ia hanya dengan samar-samar menyimak pembicaraan wanita dengan Lynx.


Siapa wanita ini? Mengapa tubuh manusiaku mengenal nama itu dan terasa familiar ditelingaku.


Aku harus bangun dan bangkit, karena aku ada disini tergeletak dan aku tidak ingin Lynx menyentuh wanita ini.


Alex terlihat begitu tersiksa sampai-sampai ia meronta untuk bebas dari jeratan obat bius itu. 


Namun apa daya kekuatan itu kini kembali datang untuk menjeratnya kembali.


Kekuatan Alex kini melemah dan akhirnya ia telah berdamai dengan Kekuatan obat bius itu.


Suara Lynx dan Gabbie menjadi jauh dan jauh dari pendengaran Alex dan dibatinya ia hanya bisa memaki kepada obat sialan itu.


________________________________________________________________________


Akhirnya cerita ketujuh selesai juga , tapi masih berlanjut kok.


Aku tak tahu :apakah kisah kali ini bertemakan werewolf atau saints sih? 


Aku bingung. Ujian ini datang begitu saja dan akhirnya muncul deh kata saint nya :p.


Aku harap cerita ini sampai dihati kalian, teman-teman :-).


Akhir kata selamat membaca deh.


Salam hangat selalu dan jangan lupa komenya yah :-)


~Wasalam with love~.