
#PART 3#
Halaman belakang atau tepatnya hutan, karena rumah Harry begitu luas dan memiliki beberapa hektar tanah yang lapang dan di tumbuhi oleh pohon-pohon besar.
Apalagi di rumput yang hijau terlihat beberapa mayat dari serigala dan manusia yang sedang tergeletak tak berdaya dan tak bernyawa.
Subuh telah pergi dan sebentar lagi sang surya akan datang menerangi langit dan bumi.
Alex dan Gabbie sedang mendaki bukit kecil untuk menuju ke atas perumahan Harry.
Setelah mereka sampai di taman area kompleks rumah, hidung Alex mencium sesuatu.
Ternyata angin telah membawa aroma Leona sampai ke hidung Alex.
Tubuh Leona sedang bersandar di pohon apel yang jarak kerumahnya berkisar antara seratus kilo meter dari bagasi mobil.
Dengan lankah cepat, Alex menuju ke arah Leona yang sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Badan Leona belumuran darah segar yang tercampur dengan darah kering.
Kaki Leona yang sebelah kanan memperlihatkan daging dan tulang yang menjulang keluar.
Oleh karena itu, Leona sedang menahan rasa sakit yang mendera dirinya. Melihat Alex yang telah berlutut di depan Leona, Gabbie pun berjalan dengan cepat atau berlari kecil. Bagaimanapun juga Leona adalah teman masa kecilnya, itulah yang ia pikirkan pada saat ini.
Sebelum Alex dan Gabbie mendekati Leona, wanita itu sedang memicingkan matanya sambil mendesis ke arah Gabbie dan Alex.
Karena Leona tidak ingin memperlihatkan kepurukannya kepada Gabbie. Karena Gabbie adalah saudari tirinya, maka dari itu api yang menyala di dasar hati Leona yang sedang membara di kedua bola mata Leona.
"Luka yang cukup parah sekali."
Ucap Alex sambil memeriksa luka Leona dan tanpa menyentuh luka wanita itu atau tepatnya menyentuh dengan kedua mata Alex sendiri.
"Bunuhlah aku," kata Leona sambil melirik ke arah Alex.
"Segitunyakah, kau ingin mati, Leona?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah Leona. Wanita itu tidak sanggup menatap tajamnya mata Alex.
"Walaupun, kau telah membantai keluargaku, tapi aku tidak bisa menyerang maupun membunuh musuhku yang sedang lemah." Cerita Alex sambil memarahi Leona. Sedangkan Gabbie berada di belakang Alex sedang memandangi punggung Alex dan Leona yang sedang mendesis ke arah Alex sambil membuang muka. Sekali-kali, Leona mendesis dan mengerang sakit pada sekujur tubuhnya.
Masih saja ia menahan rasa sakit itu dan sekali-kali juga, ia memohon dengan suntik mati saja dirinya.
Leona tidak ingin ketidakberdayaannya di lihatin oleh para musuhnya, apalagi saudari tirinya, Gabbie. "Buang angkuhmu itu, Leon," Gabbie sedang menasehati Leona dari punggung Alex.
Dua pasang mata itu tertuju kepada Gabbie, sedangkan Gabbie hanya fokus kepada Leona.
Tatapan Leona terkunci ke arah Gabbie, tatapan Leona penuh dengan rasa benci bak sebuah gunung berapi yang siap memuntahkan larvanya.
"Apakah, kau tidak tahu atau memang tidak pernah tahu, kalau aku itu sangat membencimu?" Ungkapan itu akhirnya keluar juga dari benak Leona. Sudah bertahun lamanya, Leona telah menyimpan rasa bencinya di dalam dasar hatinya.
Sedangkan Gabbie hanya terdiam dan menunduk, Alex hanya mendengarkan ungkapan Leona.
Alex tahu kalau, ia berada di tempat yang tidak tepat, tapi mau apa dikata, toh nasi telah menjadi bubur. Mau tak mau, ia pun mendengar caci-maki Leona terhadap Gabbie.
"Aku membencimu karena Mama menikah dengan ayahmu yang seorang berdarah Indiana." Bukan hanya Gabbie yang terperanjak kaget, tapi Alex juga terperanjak. Leona sengaja mengulang perkataannya di hadapan Alex. Entah apa yang ada di benak Leona. Gabbie sudah mendengarnya di kala ia di sekap dan matanya di tutup. Tapi kini ia bisa melihat wajah yang penuh kebencian yang ditunjukkan oleh Leona kepada dirinya.
Ia tidak tahu apa tujuan Leona, mengapa Leona mengulang hinaan itu di depan Alex. Apakah ia tidak takut bila di benci oleh Alex? Itulah yang di pikirkan oleh Gabbie dalam kebisuannya.
Ia menoleh ke arah Gabbie dengan tatapan nanar yang di campur sedih. Itulah yang di tunjukkan oleh Alex kepada Gabbie.
Tapi Gabbie hanya bisa menatap tajam ke arah Leona, karena ia tidak habis pikir dengan pemikiran Leona.
"Akhirnya, Papa menyimpan rasa benci kepada Mama dan Papa Indian-mu itu. Rasa benci itu dia simpan dengan mabuk-mabukan dan akhirnya Papa membantai semua manusia Serigala."
Alex mengrespon pengakuan Leona itu dan memperhatikan tirus wajah gadis itu dengan tatapan yang tajam.
Tapi Leona tidak merasa takut akan Alex, karena Leona merasa bangga akan pekerjaan ayahnya. Diam-diam, hati Alex telah membara seperti sedang memuntahkan larva ke dasar kaki tanah. Sedangkan Gabbie merasa tak percaya dengan semua omong-kosong semua ini. Tapi didalam dasar hati Gabbie telah menyadarinya. Tapi Gabbie menolak untuk mempercayainya. Ini tentang rencana pembunuhan kedua orangtuanya. Tapi Gabbie tidak beraksi seperti Alex yang sedang marah. Malahan Gabbie hanya terpaku sambil berdiri dan memeluk dirinya.
"Dimana ayah tercintamu itu, Leon?" Tanya Alex dengan matanya menyala-nyala dan Alex tidak menyadari kalau dirinya telah berubah.
Wajahnya memiliki bulu yang lebat dengan warna abu-abu keputihan. Dan matanya memiliki dwi warna: brandi dan emas di tengah-tengah mata brandinya.
Tapi Leona tidak merasa takut dengan ancaman Alex dan Leona hanya menggeleng saja.
"Aku tahu dimana ayahmu berada!" Suara bentakkan itu membuat Leona bergidik, tapi Alex sedang menyeringai kepada Leona dan Alex hanya memancing Leona saja.
Suara kicauan burung-burung telah terdengar dan hari pun telah terang.
Gabbie tercengang dengan penglihatannya karena dimana-mana ada darah dan mayat yang penuh luka menganga tergeletak di atas rumput. Pemandangan itu membuat Gabbie memeluk dirinya sendiri. Mayat-mayat itu seperti tidak berharga, apalagi nyawa mereka.
Tapi untungnya itu adalah mayat dari para musuh: manusia dan para siluman(werewolf, coyote, hyenabird) dan lainnya.
Dengan cepat-cepat, Gabbie meninggalkan tempatnya dan meninggalkan Leona dan Alex.
Leona sedang menengadahkan kepalanya untuk melihat kepergian Gabbie yang jauh dari mereka. Tapi Alex hanya terpaku dan menunggu jawaban dari gadis itu.
Alex tidak tahu apa yang di lakukan oleh Gabbie, tapi Leona tahu dan ia bisa menebak apa yang sedang dilakukan Gabbie. Leona hanya tersenyum sendiri di kala Gabbie meninggalkan mereka berdua.
"Aku tahu kau hanya menggertak-ku saja, Lex." Ucap Leona sambil memperhatikan wajah Alex yang garang.
"Dan aku tahu kau juga, Leon." Seringai Alex sambil memamerkan kedua taringnya yang tajam itu. "Aku tidak takut, Lex. Apakah kau lupa, kalau aku juga hidup dengan para werewolf itu?" Kata Leona sambil menunjukkan para mayat yang tergeletak di atas rumput.
Alex tidak melihat ke arah belakangnya yang di tunjuk oleh Leona, ia hanya memfokuskan tatapannya ke arah Leona.
"Aku tidak meragukannya," kata Alex sambil menyeringai dan Alex menyadari ketika ia setiap memperhatikan wajah Leona, gadis itu selalu menunjukkan mimik wajah kesakitan dan menahan rasa sakitnya.
Alex tahu ia telah membuang-buang waktunya dan ia harus bisa menemukan gembong atau dalang dari semua ini.
Ini harus di balaskan: gigi di balas dengan gigi, nyawa di balas dengan nyawa, wajah di balas dengan wajah.
Itulah yang terkandung di dalam kepala Alex pada saat ini.
"Aku tahu kalau kau tahu di mana ayahmu berada pada saat ini, Leon." Kata Alex sambil menatap Leona dengan pandangan yang menyakinkan.
"Jadi aku akan pergi dari sini dan membiarkan kau mati membusuk yang kehabisan darah." Lanjut Alex sambil menyentuh kaki kanan Leona yang sedang terluka parah itu.
"Aku tidak takut mati, Lex." Seringai Leona dengan keras kepalaannya.
Tanpa kata-kata lagi, Alex pun berdiri dan merenggangkan ototnya, karena kakinya sedang kebas.
"Kalau begitu sampaikan salamku kepada Dewa Neraka, Leon." Alex pun tak mau kalah dan ia pun menyeringai sambil memberi hormat ala Persia kepada Leona. Suara desisan itu terdengar oleh Alex, karena ia masih ada di sana.
Alex sedang mempunggungi Leona dan Alex sedang memperhatikan tubuh seorang gadis yang membungkuk di dekat pohon. Jarak antara mereka hanya beberapa meter saja.
Alex pun menuju arah belakang Leona dan menghampiri gadis yang sedang membungkuk atau jongkok itu.
Kini Alex sedang berada di belakang gadis itu dan dengan tangan kanannya, Alex meletakan tangannya di bahu gadis itu. Alex tahu kalau gadis itu sedang menangis dan muntah hebat. Ketika tangan kanan Alex menyentuh bahu gadis itu, Alex menyadari kalau gadis itu terperanjak.
Gadis itu memutar kepalanya ke arah kirinya dan tanpa pikir panjang, gadis itu berdiri dan memeluk Alex dengan kuatnya. Air mata gadis itu tumpah ruah bersama isakan kecilnya.
Alex tercengang dan tak bisa apa-apa, lalu ia pun merangkul tubuh kecil milik gadis itu.
Wangi atau aroma khas gadis ini sama seperti Gabbie dan aroma gadis ini adalah Aroma apel hijau yang manis dan kecut. Gadis ini adalah Gabbienya, kini ia baru menyadari kalau dirinya menyukai Gabbie.
Dari kali pertama mereka jumpa ia sudah tertarik dengan Gabbie. Dan tiba-tiba aroma jeruk menyerang pikiran Alex dan membuat Alex lupa dengan aroma Gabbie yang sesungguhnya. Ketika Gabbie mengganti aromanya, malahan Alex terus mencari aroma jeruk itu.
Dan aroma itu jatuh di tubuh Leona dan pada akhirnya Gabbie menggunakan apel.
Dan kini Alex benar-benar menyadari kalau Gabbie tidak menyukai apel dan menyukai jeruk. Tapi demi Leona, Gabbie mengganti semuanya dengan apel dan kamarnya berubah dengan nuansa apel. Tapi sampai kini Gabbie tetap memakai aroma apel.
Aku mencintaimu Gabbie, ucap Alex dan untung bagi Alex karena ungkapan itu hanya sampai di tenggorokannya saja. Kalau tidak hidup Gabbie tidak akan pernah bahagia.
Kepala Alex terbesit: bagaimana kalau ia mati dalam pertarungan setelah ia mengungkapkan perasaannya dan tentunya gadis yang ia cintai akan merasa sedih dan terpuruk di dalam kesedihannya. Oleh karena itulah Alex menyimpan perasaannya itu.
Di dalam bayangan Alex terbesit Cesare yang sedang memeluk Gabbie dan Gabbie pun membalas pelukan Cesare. Rasa cemburu itu bangkit dengan tiba-tibanya sampai-sampai ia melepaskan tangannya dari tubuh kecil Gabbie. Gabbie pun mundur dua langkah dan masih menatap Alex. "Maaf, seharusnya aku tidak menangis di dekapanmu, Ace." Ucap Gabbie sambil tersenyum dan menyeka air matanya.
"Karena kita adalah teman, jadi tanpa sadar aku memelukmu." Bohong Gabbie karena tindakannya itu adalah spontan saja.
Mendengar kata 'teman' dari gadis yang ia cintai membuat Alex menatap tajam ke arah Gabbie.
Hati Alex terluka lagi bersamaan dengan rasa pedih yang di torehkan oleh Gabbie bersamaan dengan khayalan Alex. Tatapan Gabbie tidak ke arah Alex lagi, tapi ke arah belakang Alex.
Mata Gabbie mengunci moncong senapan angin yang di arahkan ke arah kepala Alex.
Lalu, tanpa kata-kata dan pikir lagi, Gabbie mendorong sekuat tenaganya untuk mendorong tubuh Alex jatuh. Suara senapan angin itu melegar bak suara halilintar. Alex menatap tubuh Gabbie yang terjatuh ke rumput dengan dada yang mengeluarkan darah.
Tatapan Alex tidak pernah berkedip sampai tubuh Gabbei menyentuh karpet hijau di atas tanah.
Lalu kemudian Alex berpaling ke arah seorang pria yang sedang mengokang senjatanya ke arah dirinya. Dan dengan kecepatan yang masih ada, akhirnya Alex menyerang orang itu.
Tanpa kita duga dan sadari ternyata Alex telah berubah menjadi serigala dan sedang mengoyak leher orang itu. Tanpa rasa ampun lagi, Alex yang berwujud serigala itu terus menyerang orang itu sampai mengeluarkan darah yang begitu banyak. Tubuh orang itu talah lunglai dan lemas tidak bernyawa lagi, tapi Alex tetap mengoyak dan mencabit-cabit tubuh orang itu dengan taring dan cakar.
Sessosok bayangan besar menyergap tubuh Alex dan membawanya pergi dari tubuh orang yang sudah tak bernyawa itu. "Tenanglah, Lex!" Bisik Lynch di telinga Alex dan kedua tangan Lynch sedang menyekap tubuh serigala Alex. Dan dalam sekejap Alex telah berubah dengan wujud manusianya. Dan dengan kedua tangannya yang bebas, ia melepaskan kedua tangan Lynch yang sedang merangkul tubuhnya dari arah belakang.
Setelah terlepas dari dekapan Lynch, Alex pun berlari menuju ke arah Gabbie yang sedang tergeletak pingsan itu.
Tanpa merasa sakit di lutut atau dungkulnya, Alex bersimpuh dengan mendaratkan kedua lututnya di rerumputan.
Setelah menatap tubuh Gabbie yang terlunglai itu, Alex pun mulai mendekap tubuh Gabbie yang sedang pingsan itu. Ia harus segera membawa tubuh Gabbie ke rumah sakit.
Apakah ini tanda dari sebuah akhir, siapakah yang bermaksud menembak. Alex, apakah Harry atau Leona?
'°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°''°''°•.¸¸.•°
Rumah sakit.
Ternyata Alex dan kawan-kawan tidak sampai hati membiarkan Leona mati sengsara, oleh karena itu, mereka membawa Leona dan Gabbie ke rumah sakit terdekat.
Sekali-kali, Alex menjenguk Leona di samping kamar Gabie dan mengobrol dengan Leona.
Setibanya tubuh Gabbie di rumah sakit dan tubuhnya telah di bius oleh obat agar tubuh Gabbie mati rasa.
Setelah luka ditubuh Gabbie di jahit dan di ronsen, Lynch, Cesare dan Alex bergantian menjaga Gabbie. Tapi Alex tetap berada di samping Gabbie sepanjang hari.
Tapi malam ini, Alex terlihat lelah sekali, Lynch menawarkan dirinya untuk menjaga Gabbie, tapi Alex berisi keras untuk menjaga Gabbie.
Luka Gabbie telah tertutup hanya koma dan. . . Alex bingung dengan kondisi Gabbie. Apakah Gabbie memutuskan untuk menutup matanya? Ataukah Gabbie telah memutuskan untuk tidur selamanya, tapi memang Gabbie masih dalam pengaruh obat.
Dan obat itu masih bekerja di dalam tubuh Gabbie sampai-sampai Gabbie terbawa di alam mimpi yang begitu buruk.
Gabbie melihat seorang pria sedang berdiri di belakang Ace sambil memidikkan senapan anginnya ke arah Ace.
Jarak Pria itu sangat jauh dari jarak Ace, posisi pria itu dekat di sebuah bagasi rumah.
Gabbie terus memperhatikan penggerakan jari orang itu dan ketika sebuah peluruh telah di muntahkan, Gabbie langsung mendorong tubuh Ace ke karpet rumput yang basah akibat embun pagi. Gabbie mengenal orang itu dan sebelum orang itu menembak, Gabbie menggumamkan nama pria itu dengan dengan pelan.
Lalu semuanya kosong yang hanya terdengar suara angin dan dunia yang begitu gelapnya. Lalu kemudian muncul Leona dan Alex sedang bergandeng tangan. Gabbie heran dengan tingkah laku mereka, lalu ia mengikuti mereka dari belakang. Ternyata mereka menuju ke sebuah taman yang penuh bunga mawar putih dan para tamu yang hadir dengan pakaian serbah putih.
Lalu mata Gabbie kembali tertuju ke arah Leona dan Alex, ternyata Alex dan Leona telah berganti pakaian.
Leona mengenakan pakaian serbah putih yang indah yang memperlihatkan kulitnya yang cantik. Sedangkan Alex memakai tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu putih.
Kedua pasangan itu menuju ke arah pondium dan di sambut oleh sepasang paru baya yang juga memakai pakaian atau gaun yang serbah putih.
Gabbie langsung tercengang, karena ia tahu siapa kedua orang itu yang sedang memeluk Leona dan Alex. "Papa! Mama!" Gabbie menyebut papa dan mama ke arah di depannya.
Posisi Gabbie berada di gerbang mawar putih jalar, karena ia tidak ingin masuk.
Ia terus memperhatikan sebuah drama yang indah itu sampai ia menitikkan airmatanya.
Di dalam hatinya Gabbie ingin berkumpul dengan kedua orang tuanya, tapi kedua kakinya tidak bisa melangkah ke depan. Seperti ada sesuatu yang menghalagi Gabbie masuk ke area pesta.
Dan seketika itu juga, Gabbie tercengang dan terpaku pada saat ia mendengar ada suara yang ia kenal memanggil namanya.
"Gabbie, pulanglah," Gabbie terus memutar kepalanya ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Tapi tidak ada siapa-siapa.
"Gabbie, aku mohon," suara yang di kenal dengan jelas oleh Gabbie itu, terus memanggil dan memohon kepadanya. Tapi anehnya Gabbie tidak tahu siapa orang itu dan suara itu ia tahu betul. Ia seperti orang lingling yang tidak tahu orangnya dan hanya tahu suara orang itu.
"Pulang, aku harus pulang kemana?" Bisik Gabbie di belakang gerbang mawar putih jaral.
"Pulanglah, Gabbie. Apakah kau tidak mau melihat kami para sahabat-sahabatmu ini lagi," suara ini kali adalah suara Lynch dan Gabbie bisa menebaknya dengan benar.
"Lynch, aku tidak tahu ada dimana!" Teriak Gabbie agar Lynch bisa mendenganya.
Lalu kemudian pesta pernikahan itu menghilang dan di gantikan dengan kabut tebal dengan latar cahaya temaram. Gabbie masih mencari suara Lynch dan suara pria yang pertama berbicara kepadanya. Apakah Gabbie sedang memasuki perangkap mimpi, ataukah ia sedang terjebak dengan mimpi yang ia buat sendiri?
'°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°''°''°•.¸¸.•°
Malam hari ini adalah malam kedua, tapi Gabbie masih terperangkap di dunia mimpinya sendiri. Sehingga sang Tetua mengatakan untuk memulangkan Gabbie dari rumah sakit.Karena kondisi Gabbie sudah membaik dan hanya jiwanya saja yang masih terjebak di dunia mimpi.
Oleh Karena itulah Sang Tetua sedang membuat mantra supaya jiwa atau roh Gabbie bisa pulang kembali ke tubuhnya.
"Apa yang harus kita lakukan, Tetua?" Lynch memajukan dirinya sambil bertanya kepada Tetua. Sedangkan Cesare hanya memperhatikan Alex yang sedang duduk terbengong di ruang makan.
"Kita harus membangunkan jiwa atau menyuruh jiwa gadis itu pulang, Nak." Kata tetua sambil menatap ke arah Lynch.Pria yang lebih tua dari mereka itu memasang wajah serius ketika ia menjawab Lynch.
"Bagaimana caranya Tetua?" Sekarang Cesare beralih kepada mereka berdua.
"Dengan cara memanggil Gabbie, Nak." Jawab Tetua sambil menyeringai kepada Lynch dan Cesare. Lalu kemudian Tetua mendekati Alex yang sedang terbengong itu.
"Apakah pekerjaanmu hanya bengong saja, Nak." Suara teguran itu sangat bermanfaat, karena dengan segera, Alex pun berpaling ke arah Tetua.
"Dekatkan keningmu dan genggam tangan kanan gadis yang kau puja itu, Nak." Pinta Tetua kepada Alex. Alex mengerjapkan kedua matanya sambil melirik ke arah kedua temannya. Karena Alex tidak ikut dalam perbincangan mereka sejak tadi, jadi Alex hanya melirik ke arah temannya.
"Itu adalah cara untuk membangunkan Gabbie, Lex." Kata Lynch dengan bernada sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding dapur. Alex pun menoleh ke arah suara Lynch.
Hanya Tetua yang berhadapan dengan Alex, sedangkan Lynch dan Cesare berada di ujung dapur atau pintu sekat dapur.
"Kalau begitu, tunggu apalagi. Kita harus ke kamar Gabbie." Ini baru suara Cesare sambil secara bergantian menoleh ke arah ketiga orang yang berada di ruang dapur.
Musuh telah musnah dan tempat kejadian perkara telah di bersihkan oleh pemerintah.
Dan apalagi kasus pembantaian dan masalah yang timbul oleh dalang Harry Hunters telah di tutup.
Apakah masalah baru akan muncul lagi? Apakah ini adalah masalah baru buatku, karena pada saat ini Gabbie masih terperangkap di dunia mimpinya. Alex menatap jauh sambil merenungkan sesuatu, ketika Cesare berkata.
Mungkinkah Gabbie tidak ingin pulang, di karenakan di mimpinya ia bertemu dengan kedua orangtuanya?
Keluarganya hanya ada mereka dan kini Gabbie telah menjadi sebatang kara. Tapi akhirnya benang merah telah mempertemukan mereka.
Pertamanya Alex, Lynch, Cesare, dan Tetua. Tapi masih ada Lana yang masih Linglung dengan tatapan kosongnya.
Mungkin ahli syaraf yang bisa menyembuhkan trauma Lana. Ya semoga saja.
Kini yang terpenting adalah, bisa membangunkan Gabbie dari jeratan mimpinya sendiri.
"Hey, Lex! Apa yang membuatmu menunggu lagi?" Cesare memanggil Alex, di kala Tetua dan Lynch telah memasuki kamar Gabbie.
Lalu tanpa pikir panjang lagi, Alex pun bangun dari kursinya dan menuju ke arah kamar Gabbie.
Akhirnya tengah malam ini di lakukanlah mantra pemanggil jiwa terhadap jiwa yang tersesat.
Alex sedang menaruh keningnya di kening Gabbie dan tangan kanannya menggegam tangan kanan Gabbie. Lalu mulutnya sedang berkomat-kamit menyuruh Gabbie pulang.
Tetua Liam sedang memasang lilin panjang sambil membaca mantra.
Setelah membaca mantra, Liam pun menoleh Ke arah Lynch dan Cesare yang sedang berdiri di sudut pintu kamar Gabbie.
"Kalian berdua harus menjaga lilin ini jangan sampai padam." Perintah Tetua Liam kepada Lynch dan Cesare. Mereka berdua hanya mengangguk saja yang bertanda mengerti dan siap menjalankan perintah Liam. Sepertinya Liam sedang membuka pintu mimpi Alex, yang kini telah berbaring di samping Gabbie sambil menggandeng tangan Gabbie.
zZzzZZ X̶̲̥̅̊ X̶̲̥̅̊ zZzzZZ X̶̲̥̅̊ X̶̲̥̅̊ zZzzZZ
Kini Alex telah memasuki alam mimpi Gabbie, Alam mimpi Gabbie penuh dengan taman bunga yang indah. Taman itu penuh dengan warna hijau daun dan warna peach pada bunga Ranunculus. Kelopak bunganya yang hampir mirip dengan bunga mawar dan berkelopak banyak.
Kanan-kiri terdapat bangku taman dan lampu hias taman, tapi Alex tidak melihat batang hidung Gabbie.
Semuanya hanya ada taman dan ayunan yang bangkunya terdapat bantal duduk yang empuk. Apakah Gabbie lebih menyukai dunia mimpi yang ia buat? Apakah ia benar-benar telah melupakan para sahabatnya?
Alex mengenyahkan pikirannya itu, lalu ia jalan lagi menyusuri taman yang indah ciptaan Gabbie. "Sebenarnya, kau ada dimana, Gab?" gumam Alex sambil berjalan dan celingak-celinguk mencari bayangan Gabbie. Di setiap langkah Alex, terus mencari dan celingak-celinguk.
Ketika Alex telah memasuki taman yang paling dalam, Alex menemukan sebuah kolam buatan yang amat lebar bersamaan dengan air terjun buatan dan jembatan kecil yang menuju ke sebuah pavilion.
Kolam itu terdapat ikan koi dan bunga Teratai dan bunga Lily air, di setiap pavilion itu berbaris-baris pohon bunga yang indah yang sejenis dengan bunga Kamboja, Andenium itulah nama bunga tersebut. Ada beberapa jenis bunga di dekat pavilion dan di taman itu; Andenium, Ranuculus, Mawar, Tulip, Peoni, Geranium, Azalea, Lily air, Teratai, dan jenis bunga lainnya.
Ketika mata Alex menoleh ke arah Pavilion itu, ia melihat sesosok wanita yang menyurupai Gabbie.
Tapi wanita itu tidak sendirian, ia di temani oleh seorang laki-laki dan seorang wanita. Yang di lihat oleh Alex, mereka sangat gembira dan ceria dan sepertinya gadis yang lebih muda dari mereka berdua itu sangat memanjakan si gadis itu. Lalu, tanpa berpikir panjang lagi Alex pun mendekati Pavilion tersebut.
Alex tahu, kalau ia akan membuyarkan mimpi indah Gabbie, tapi dirinya rindu akan kehadiran Gabbie dan beserta hangatnya tubuh Gabbie.
Kalau ia tidak melakukan hal itu, ia akan kehilangan gadis yang ia cintai untuk selamanya.
Oleh karena itu, ia harus bisa membawa Gabbie pulang kembali ke raganya. Kini Alex telah berada di tengah-tengah anak tangga yang menuju di atas Pavilion.
Jembatan dan tiang penyangga Pavilion berwarna merah dan anak tangganya dari batu persegi.
Posisi Alex kini telah membelakangi mereka bertiga.
Mata Alex terus terfokus ke arah wajah Gabbie yang gembira nan penuh ceria bersama kedua orangtuanya. Penglihatan itu akhirnya membuat Alex tidak berdaya untuk memanggil Gabbie.
Sementara itu di dunia nyata, Lynch dan Cesare bersama-sama menjaga lilin tetap menyala.
Lilin yang tadinya panjang, kini menjadi setengah. "Ayolah, Lex, kamu pasti bisa." Gumam Cesare kepada lilin yang ada di depannya itu.
Sedangkan Tetua Liam sedang berkonsentrasi membaca mantra di hadapan Gabbie yang masih berbaring tanpa bergerak.
Ia harus memfokuskan atau memusatkan arah pikirannya dengan Alex, agar Alex bisa menemukan Gabbie. Tubuh Alex Dan Gabbie masih berbaring dengan lurus tanpa bergerak.
"Gunakan waktumu dan akalmu, sobat." Kini giliran Lynch yang angkat bicara.
"Aku mohon, Lex," lanjut Lynch sambil memohon di depan lilin yang menyala itu.
Kita lihat dulu di alam mimpi Gabbie dan mencari tahu apa yang sedang di lakukan oleh mereka berempat di dunia mimpi.
Sepertinya Alex mendengar suara Lynch yang sedang memohon itu. Tapi, Alex tetap terpaku kepada di hadapannya itu.
Alex sedang larut di dalam sebuah drama yang penuh kebahagian yang di tunjukkan oleh di hadapannya itu.
Rasa-rasanya Alex ingin menjamah dunia ciptaan Gabbie dan merangkul kebahagian yang di ciptakan oleh Gabbie itu. Tapi Alex tahu kalau itu semua adalah semu belaka, seperti; kosong belum tentu berisi. Sebenarnya di dalam benak Alex sedang terlukis kata-kata dan sebuah bayangan. Satu, akankah Gabbie menerima pengakuan cinta Alex?. Dua, akankah Gabbie mau menerima Alex yang bukan manusia ini? Dan bayangan yang menyakitkan adalah; kehilangan Gabbie.
Jadi untuk apa kau terus terpaku di sini, kawan? Segeralah bangunkan pujaan hatimu itu dari dunia mimpinya. Suara itu adalah suara pikiran Alex yang sedang bergulat di dalam pikiran Alex.
Apakah, kau ingin menyesal untuk seumur hidupmu? Apakah kau tidak mencintai Gabbie, Sobat? Ayolah, tunggu apalagi! Aku tidak tahu harus bertindak bagaimana? Renung Alex sambil memperhatikan Gabbie yang sedang berputar-putar.
Gabbie mengenakan gaun putih yang indah dengan bunga Ranunculus sebagai hiasan di setiap sisi rok gaunnya.
Gaun putih yang di hiasi dengan bunga Ranunculus yang berwarna peach, sangat pas dengan gaun putih satin Gabbie. Sudahlah, Lex, apa yang sedang kau tunda lagi? Alex sedang bergulat dengan pikirannya. Panggil wanita yang kau cintai itu, Lex. Jangan biarkan dia menghilang lagi.
Ayolah, kawan. Waktumu, pikirkan waktumu.
"Gab-- bbie ie . . . !" Nah gitu dong, bung, suara pikirannya.
Akhirnya Alex bisa menjerit juga. Suara jeritan itu membuat Gabbie berpaling ke arah Alex yang sedang berada di anak tangga teratas.
Dan kedua sosok yang menyerupai ayah dan ibu Gabbie, kini menghilang bersamaan dengan dunia ciptaan Gabbie. Dunia Gabbie menjadi kosong, berkabut dan remang-remang.
Gabbie terus memandangi Alex tanpa bersuara dan sekali-kali berkedip. Mereka berdua sedang menjadi patung dan lupa untuk bernafas.
Suasana pun menjadi hening dan hanya angin yang bertiup ke arah mereka.
"Gabbie,"
bisik Alex sambil menatap wajah Gabbie, sedangkan Gabbie hanya terpaku melihat kehadiran orang yang tidak ia kenal. Selangkah demi selangkah, akhirnya Alex pun bergerak, walau hanya langkah pelan namun pasti sampai ketujuannya.
Kini Alex telah dekat dengan Gabbie, jarak mereka hanya satu langkah saja.
"Maukah, kau pulang bersamaku, Gab?"
Tanya Alex sambil menunjukkan mimik wajah yang penuh mohon.
Gabbie hanya memandangi wajah Alex, sebenarnya Gabbie ingin mengucapkan beberapa kata, namun mulutnya terasa kering dan terkunci.
"Harry telah mati dan semuanya telah musnah, tapi aku tidak ingin kisah kita sampai di sini, Gab." Alex merasa heran, karena ia malah menjelaskan kesudahan yang telah terjadi kepada Gabbie.
"Apakah kau tidak rindu dengan kami para sahabatmu?" Lagi-lagi, Gabbie terdiam dan memandangi wajah Alex. Sepertinya Gabbie sedang menunggu sesuatu dari Alex.
Gabbie melipat tangannya ke belakang dan sikap itu adalah, sikap menunggu.
Alex melirik ke sana ke mari, padahal di sekitarnya telah berkabut.
"Jangan hanya diam saja, Gab. Bicaralah!" Seru Alex di akhir kalimatnya.
"Aku tidak mau kehilangan dirimu untuk kedua kalinya, Gab." Pandangan Gabbie menjadi nanar dan sepertinya Gabbie ingin menangis. Karena ia paham dengan rasa sakit Alex.
Alex mendekati Gabbie dan setelah Alex dekat dengan Gabbie, Alex pun meraih pergelangan tangan Gabbie.
"Ikutlah denganku, aku mohon dan bukan hanya ikut denganku, tapi hiduplah denganku." Pinta Alex sambil meraih tangan Gabbie ke bibir Alex.
"Tapi saya tidak mengenal Anda," runtuhlah dunia Alex ketika ia mendengar perkataan Gabbie.
Dari semula mimik wajah Gabbie terlukiskan dengan kata 'bingung, tidak mengenal Alex,' itu sangat terjelas terlukis di wajah Gabbie. Tapi Alex tidak paham dengan apa yang ia lihat.
"Kau jangan bohong, Gabbie," kata Alex dengan ketidak keyakinannya.
"Aku tidak bohong, aku benar-benar tidak mengenal Anda sama sekali." Kata Gabbie sambil tersenyum.
Akhirnya Alex kehilangan kesabarannya, lalu ia menarik dengan paksa pergelangan tangan Gabbie menuju sebuah cahaya di depan mereka.
Cahaya itu baru saja datang, karena waktu Alex telah habis di dunia mimpi Gabbie.
Gabbie memberontak dan melepaskan jari-jari Alex dari pergelangan tangan Gabbie.
Ternyata jari-jari Alex sangat kuat sehingga Gabbie tidak mampu melepaskan tangan Gabbie.
"Lepaskan aku!" Teriak Gabbie, tapi Alex tidak memperdulikan teriakkan Gabbie.
Kemudian, Alex pun mengerat genggamannya, sedangkan Gabbie memberontak, agar dirinya bebas dari genggaman Alex.
Alex tidak memperdulikan pemberontakan Gabbie, ia justru setengah menarik Gabbie.
"Aku mohon, lepaskan lah aku," minta Gabbie sambil mengikuti langkah Alex, karena lengannya di tarik oleh Alex. Akhirnya Alex menyadari suatu hal, lalu ia pun melepaskan genggamannya itu.
"Apakah kau benar-benar lupa kepadaku?" Tanya Alex ketika ia sudah melepaskan tangan Gabbie.
"Benar," aku Gabbie sambil mendelik kepada Alex dan Gabbie sedang mengurut lengannya yang sakit.
Mata Alex berubah menjadi tatapan yang tajam, karena dirinya tidak percaya.
Alex berubah menjadi diam seribu bahasa, tapi kedua bola matanya tetap memandangi Gabbie.
"Apakah kau merasa bahagia dengan dunia ciptaanmu ini?" Tanya Alex sambil memandangi Gabbie.
"Sebagaimana yang Anda lihat, sebelum Anda menghapus semuanya." Gabbie menaikan suaranya.
"Aku tahu, tapi kau harus pulang ke dunia nyata, Gab." Bujuk Alex kepada Gabbie.
Tiba-tiba saja muncullah pusaran aurora yang sedang mendekati mereka berdua.
Alex pun tidak bisa berkutik, karena ia sedang menyaksikan pusaran Aurora itu sedang mendekati mereka berdua.
Tanpa pikir panjang lagi, Alex pun menarik tangan Gabbie. Mereka berlari bersama untuk menghindari pusaran Aurora.
Pusaran Aurora itu terus mengejar mereka, seolah-olah Aurora itu ingin menelan mereka hidup-hidup. Dan mereka berdua masih berlari menghindari pusaran Aurora itu.
Sekali-kali, Gabbie melirik ke arah pusaran itu, lalu kembali ke punggung Alex. Lalu, Gabbie pun melepaskan genggamannya dari tangan Alex.
Alex pun berbalik ke arah Gabbie, namun Gabbie hanya tersenyum sambil memandang Alex.
Dengan sekejap mata Akhirnya Gabbie tertelan oleh pusaran Aurora tersebut.
"Gabbieeeeeee. . . . !!"Jeritan Alex menjadi hilang di ke sunyian dunia mimpi yang tak berpenghuni.
'°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°''°''°•.¸¸.•° ♡̨̐ '°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°' '°•.¸¸.•°''°''°•.¸¸.•°
Dunia Nyata.
Lilin pun padam, Lynch dan Cesare pun menghampiri ranjang yang sedang di baringi oleh Alex dan Gabbie. Tak lama kemudian, tangan dan jari-jari tangan Alex bergerak, kelopak mata Alex juga ikut bergerak. Ketika Alex terbangun, suara Lynch dan Cesare terdengar gaduh.
Tapi Alex malah menoleh ke arah sampingnya, Gabbie. "Gabbie,"
panggil Alex sambil membelai kening Gabbie dengan lembutnya.
Sangat jelas di ingatan Alex ketika tubuh Gabbie tertelan oleh pusaran Aurora.
Wajah Gabbie tersenyum dengan lembut sambil memandangi Alex, sedangkan Alex terlihat sangat tidak berdaya ketika gadis yang ia cintai tertelan oleh pusaran.
Air mata pun mendera dan menetesi wajah Gabbie.
Tangan Gabbie di dekap oleh Alex dan Alex juga menciumi buku-buku jari dan tangan Gabbie.
Melihat hal itu, Tetua Liam pun menuntun kedua pria itu keluar kamar. Akhirnya Alex telah di beri privacy oleh Liam.
Tak lama kemudian, jari-jari Gabbie yang berada di dalam genggaman Alex bergerak.
Alex pun menjadi uring-uringan dan ia menjadi panik dan bahagia.
Satu; apakah Gabbie akan membuka matanya? Dua; apakah Gabbie sedang berada di dunia mimpinya lagi?. Panik yang di campur dengan kebahagian.
Lalu hal nomer dua salah besar, karena kini Gabbie telah membuka matanya lebar-lebar.
Ketika ia membuka matanya, orang pertama yang ia lihat adalah Alex.
Lalu tanpa pikir panjang lagi, Gabbie pun mendekap atau memeluk Alex dengan kuatnya.
Semuanya terasa bagaikan mimpi, itu adalah rasa mereka berdua pada saat ini.
Alex pun membalas pelukkan kuat Gabbie dengan sama-sama kuatnya.
Karena Alex tidak ingin melepaskan Gabbie lagi. Dan tidak akan pernah lagi.
Suatu bisikan terjadi di telinga Gabbie, bisikan itu berupa tiga suku kata.
Bukan dari ' I Like You, tapi melainkan 'aku mencintai mu'.
Bisikkan itu akhirnya bisa menenangkan perasaan Gabbie dan membalas bisikkan Alex dengan beberapa suku kata.
"Aku menerima apa adanya dirimu, karena hanya kaulah yang aku lihat. Bukan bentuk luar atau dalammu, tapi rasa cintamu yang terdalam untukku."
Akhirnya Alex pun memeluk erat Gabbie lagi, karena ia merasa takut kalau Gabbie akan menolaknya.☀
♥♥♥♡♥♥♥♡♥♥♥♡♥♥♥♡
♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐
☀ THE ☀ END ☀
♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐ ♡̨̐
♥♥♥♡♥♥♥♡♥♥♥♡♥♥♥♡
Cerita Seputar kisah Hunters Family atau werewolf.
Pastinya teman-teman bisa menebak dengan apa yang dilakukan oleh Gabbie yang berada di pojok pohon. Yap yang pastinya ia muntah dan menangis, karena dia tidak tahan dengan mayat dan daging yang telah menjadi bengkak dan bernanah.
Harry, ini seputar Harry. Ia yang bersembunyi dari para tetua klan Vampir dan werewolf, tidak menemukan ruangan untuk bersembunyi.
Tapi ia malah bersembunyi di balik tirai besi bagasinya dan di sanalah dia melihat Alex dan gabbie.
Oleh karena itulah datanglah kesempatan untuk menembak Alex, tapi malah mengenai Gabbie. Melihat kejadian itu, Alex pun berubah menjadi liar dan membantai Harry.
Tapi setelah Harry tidak bernyawa lagi, Datanglah Cesare dan Lynch menyergap tubuh Alex, agar menghentikan serangannya.
Mereka berdua memeluk tubuh Alex Yang sudah berubah menjadi serigala.
Setelah itu di dalam mimpi Gabbie, aku mengambi setting di sebuah daerah pecinan atau taman istana cina. Dan aku mengambil beberapa jenis bunga, seperti; Geranium, Andenium dan Ranunculus, kalau Ranunculus, teman2 bisa melihatnya di foto samping/ MEDIA yang telah tercantum.
Sepertinya, lagi2 saya memaksa menyelesaikan isi cerita ini untuk cepat2 di selesaikan.
Karena saya benar2 habis inspirasi atau sedang di landa males.
Soalnya aku sedang tercandu dengan tidur dan tidur.
Bangun dan tidur lagi.
Oleh karena itu tidak satu pun kalimat atau mimpi yang datang menhampiri kepala saya.
Mungkin kongkow2 an ini sampai di sini saja :-) Love You all.
Wasalam.