
Leona Hunter dididik untuk menjadi seorang pemburu atau Hunter.
Dan pada kejadian pembantaian
Di hutan dia bersama ayahnya dan rekan-rekan ayahnya telah membantai kumpulan para srigala
Dan pada saat itu dia telah menembaki seekor srigala putih yang di bagian bulu lehernya berwarna abu-abu yang melingkari lehernya seakan srigala itu memakai kalung di lehernya.
Tiga peluru telah menyarang di tubuh srigala besar itu satu di dada nya, satunya berada di pinggang, dan satunya di kaki srigala itu.
Alex atau Ace.
Adalah keturunan murni dasri klan srigala
Dan dia di percaya untuk menjadi ketua atau
Pimpinan klannya
Dan ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama
Dengan teman Gabie.
Dia belum menyadari kalau Leona lah yang telah
Membantai habis-habisan klannya apa lagi dirinya.
Gabie
Adalah seorang pencinta alam dan darah setengah indian mengalir di tubuhnya. Gabi lah yang pertama kali berada di lokasi itu dan menyelamatkan Alex dan mengizinkan Alex menjadi tamunya dan menginap di rumahnya.
Di sanalah dia baru tahu arti kata cinta.
Ya dia telah jatuh cinta kepada Alex.
Apakah Leona dan Gabie akan mengetahui
Jati diri Alex sebenarnya??
Dan siapakah yang akan di pilih oleh Alex
Leona atau Gabie kah??
Atau kah cintanya telah tertambat kepada Leona??
BAB 1#
Kami telah menjadi manusia serigala atau di kenal dengan nama kerennya WereWolf, karena telah berjuta-juta tahun kami telah berada di bumi ini ada yang telah berbaur dengan manusia dan ada yang lebih memilih menyendiri dan tinggal di dalam perdalaman hutan, ya seperti suku-ku ini. Walaupun ke beradaan atau jati diri kami telah jarang di ketahui oleh manusia. Kami sering di khianati oleh anggota suku kami dan kami di buru dan di teliti. Beginilah kehidupan kami yang tidak begitu amannya dari mata-mata para manusia yang saling menyelidiki dan merendahkan.
Di dekat danau kami menanam sayuran untuk keperluan perut kami, walau komunitas kami sangat sedikit bisa di hitung dengan jari. Disini lah kami hidup dan tinggal bercocok tanam dan tertinggal jauh dari sanak keluarga masing-masing, keluarga dan jauh dari kebisingan kota.
Kami merasa hutanlah tempat diri kami yang sesungguhnya, akan tetapi bukan bagi kami saja tetapi bagi hewan lainnya. Apabila hutan ini tiada kami semua akan merasa kehilangan tempat tinggal seperti orang-orang yang di gusur dengan secara paksa.
Sebenarnya aku tidak ingin menjadi ketua dari kelompok-ku karena kemampuan-ku yang tahu akan pengobatan herbal dan simbol dari kekuatan. Aku di lantik sebagai ketua.
Merasakan was-was itu selalu ada dan selalu menghantui kami dan sehingga kami membuat posko penjagaan di lereng atas gunung dan di jaga oleh setiap penggantian sift malam selama 24 per jam.
Malam ini kabut begitu tebal dan api unggun terasa membeku di sebab kan kabut malam yang makin tebal. Malam ini giliran aku yang berjaga dengan se tremos kopi panas yang menjadi teman dan di temani oleh cahaya rembulan yang makin memudar di langit malam.
Sambil konsentrasi penuh dan kedua tangan masih berada di atas api untuk menghangatkan. Tiba-tiba saja aku mendengar suara tembakan dari arah sampingku yang jarak nya 100 km per- segi dari posko penjagaan barat. Dengan naluri atau insting hewan yang ada didalam jiwaku aku langsung menuju ke barat. Dan setengah dari perjalanan ku aku di hadang oleh tiga sosok pria tegap bak pejuang panco dengan pakaian serbah hitam dari kulit dan mereka langsung bergerak menyerang ke arahku dan tentu saja aku telah siap untuk bertarung. Aku tahu rambut panjangku jadi penghalang di setiap gerak-gerik langkah ku tapi aku mencuekinya.
Setiap gerakan ku tangkis dan ku lawan dengan dengkul atau kaki ku ke arah salah satu pria panco itu. Ternyata mereka sangat kuat dan pertempuran pun semakin seru aku kalah dalam tiga jurus dan tiba-tiba awan hitam menghilang di sapu oleh angin dan bulan terlihat sangat bulat dan terang dan ternyata ketiga orang itu berubah dengan perlahan-lahan seperti slowmotion mereka berubah menjadi werewolf, bila pemula berubah ia akan merasa sakit akibat perubahan tersebut.
Mau tak mau aku pun melihat ke arah bulan perak yang indah dan akhirnya aku pun berubah menjadi WereWolf serupa dengan mereka dan dengan insting hewan buas aku menyerang membabi-buta ke arah pria panco tersebut cakar- mencakar, robek -merobek itulah kegunaan taring, dan kuku panjang milik kami. Senjata pelindung milik kami
Darah mulai bercucuran meninggalkan lelah yang tersenggal-senggal dalam dada. Walau lelah, aku terus menyerang mereka bertiga; menggigit, dan menusuk jantung mereka dengan cakaran ku. Aku tahu maksud kedatangan mereka; mereka ingin membantai kami dan meneliti kami. Semua itu tercium dari dasar tubuh teman-teman/musuh yang tidak ku kenal ini.
Mereka berasar dari rumah sakit yang terkenal di kota, karena di sekujur tubuh mereka tercium bau obat. Akhirnya aku bisa mengalah kan mereka bertiga. Setelah mengalahkan mereka bertiga, terdengar suara tebakan lagi di sebelah kanan ku yang jaraknya seratus meter lagi dan aku pun bergegas menuju kesana selagi aku masih bukan diriku lagi, aku pasti bisa menghabisi mereka. Sesampai di sana aku di serang oleh para sniper. Ada tiga peluruh kini bersarang di dada bawah ku, pinggang, dan kaki ku. Tapi aku memaksakan diri ku untuk pokus di setiap arah sniper itu. Peluruh itu datang dan menghantam diriku dari arah depan, so pasti sniper itu ada di depan dengan jarak searah jarum jam satu tepat. Yaitu diatas pohon. Dan akhirnya aku pun bergerak dengan cepatnya sehiga peluruh itu gagal mengenaiku. Aku tak perduli dengan darah ku yang mengalir dengan sia-sianya aku harus menghentikan mereka sekarang juga kalau tidak kami akan punah.
Sesampai disana, diatas pohon yang lebat dan aku sangat beruntung karena aku telah di sembunyikan oleh daun yang lebat, sehingga sniper itu tak bisa melihat kearah aku. Kami di pisah kan beberapa senti saja dari pohonnya dan pohon ku. Aku mengambil ancang-ancang dan aku pun melompat kearah pohonnya dan mengulurkan tanganku untuk menjatuhkan dirinya dan diri-ku ke tanah kami pun jatuh bersamaan tetapi aku berada di atasnya dan dia berada di bawah. Ya dia telah meninggal dengan patahan yang bertubi-tubi. Celaka aku baru ingat kalau ini hanya jebakan agar aku keluar dan hanya menyerang para cecunguk. Aku kembali keatas lagi menuju sarang pekemahan kami. Lari dan loncat keatas tebing dan memanjat itulah salah satunya agar aku bisa sampai. Sesampainya semuanya telah menjadi mayat, anak-anak, bayi-bayi semuanya telah mati begitu saja. Semuanya tergeletak bagaikan dedaunan kering yang tak ternilai.
Lolongan ku makin lama makin panjang; jeritan yang penuh kepedihan dan tanpa sadar aku telah di serang dari arah belakang. Di pundak ku dan aku pun terjatuh berguliling-guling ke bawah curam yang tak begitu dalam. Dan alam bawah sadar ku telah membawa ku ke alam yang tak pernah ku ketahui.
****------------------------------------------------------------------------****
Malam semakin larut walau sang rembulan hanya terlihat separuh, dan hawa semakin mencekam, udara yang dingin dan sepi datang bersamaan dengan nyalak para srigala yang kesepian dan terdengar kesedihan yang amat pilu. Walau nyalak para serigala itu membuat bulu kuduk berdiri tapi tidak membuat Gabie takut maupun ciut.
Walau ia di besarkan di kota yang besar itu pun tak menjadi soal karena ia mencintai hutan rimba, dan Ia juga tahu kalau hutan rimba hanyalah sebagai pelariannya saja.
Suasana kembali menjadi semakin mencekam dinginnya malam semakin menyilimuti diri Gabie- Gabie pun semakin mendekati api unggunnya dan sambil menggesekan tangannya yang telah bersarung tangan itu di dekat api ungun yang membara. Pokus pada api unggun dan suhu tubuhnya yang menurun, ia langsung tersentak terkejut ketika ia mendengar suara senapan angin yang di tembakkan dan ia langsung bangkit dengan senternya di sebelahnya. Kini ia tak menyadari hawa dingin lagi sekarang. Ia hanya merasa cewas dan kuatir. Suara tembakkan itu terdengar di depannya yang kira-kira berjarak 100 meter dari posisinya.
Rasa penasaran dan takut telah tercampur dalam dadanya, dan ia pun memberanikan diri mendekati suara itu. Ia pun mematikan api unggunnya dengan menendangnya dan kemudian ia pun menyusuri hutan rimba itu dengan hanya senter di tangannya.
Semakin memasuki perdalam hutan dan tanpa di sengaja ia terjatuh tersandung oleh sesuatu yang keras bukan benda asing itu yang membuat nya jatuh melainkan suara senapan angin lagi yang terdengar bukan cuma sekali tapi berkali-kali dan sehingga ia jatuh tersandung menimpa tubuh asing yang telah dingin. Ia ingin berteriak tapi suaranya hilang oleh dinginnya malam. Dan kemudian ia bangkit dan menepuk-nepuk bokongnya dan lengan jaketnya agar daun kering itu jatuh dari tubuhnya bukan hanya daun kering saja tetapi debu atau tanah yang menempel diseluruh tubuhnya.
Mayat itu kira-kira meninggalnya sekitar dua jam yang lalu, tubuh nya penuh cakaran dan di wajah nya juga ada beberapa cakaran yang amat tajam. Mayat itu seorang pria tua yang subur tanpa rambut di kepalanya. Dengan menyeka air matanya Gabie terus melangkah dan menyinari setiap langkah yang belum dilaluinya dengan senter. Kemudian ia berhenti dan tercengang oleh penglihatan kekejaman dan sepertinya ini adalah pembantian terhadap para segerombolan para srigala. Gabie juga berpikiran" pembantaian" itu di lakukan oleh pria tua itu bersama kelompoknya.
Tetapi anak ssrigala yang baru berumur dua bulan yang selagi lucu-lucunya pun meninggalkan tubuhnya yang hangat itu. Dengan terisak-isak ia mencari benda yang tajam untuk membuat lubang bagi mayat srigala itu. Bayi srigala itu ada lima ekor yang berwarna abu-abu kehitaman dan ada yang berwarna putih kehitaman di balik punggungnya. Sambil terisak Gabie mencungkil tanah dengan pecahan beling yang begitu pas untuk mencungkil tanah. Beberapa jam Gabie telah selesai membuat lubang yang besar dan cukup untuk kelima hewan lucu itu.
Dada mereka penuh dengan darah kering sepertinya mereka tertembak cuma sekali di dada mereka. Setelah memakamkan mereka dan berdo'a untuk mereka, Gabie kembali menuju suara tembakan yang kali pertama ia dengar. Di kejauhan ia melihat beberapa orang sedang menggotong srigala. Kira-kira mereka ada sekitar dua puluh orang pria dewasa dengan wajah lonjong, runcing pada dagu mereka dan berambut pendek, jabrik, panjang maupun berkepala plontos. Tubuh mereka ada yang sedang, slim, subur, maupun sedang. Telah terlanjur menyaksikan semua yang tidak boleh di lihat, Gabie terus saja mengawasi orang-orang dewasa itu pergi sampai mereka hilang dalam perdalaman hutan. Ia memperhatikan para pemburu itu dari pohon tua yang kira-kira berumur dua tiga ratus lebih. Setelah mereka lenyap, Gabie baru berani keluar dari persembunyianya dan memperhatikan sekelilingnya. Darah kering ada di mana-mana. Dan tak jauh dari posisinya yang kira-kira jarak itu enam puluh kilometer terlihat sebuah gubuk kecil yang berderet-deret dan ia pun mendekati atau menuju gubuk itu.
Ia mendekati gubuk itu dan ia temukan hanyalah darah kering yang terciprat dari tubuh korban kearah dinding anyaman dari daun kelapa. Tubuhnya mulai bergejolak dan rasa itu berputar-putar di dalam perutnya dan ia pun mundur beberapa langkah dan kemudian memutar tubuh nya sambil membekap mulutnya sendiri dan ia lari kecil menuju di luar dan menuju kearah pohon besar dan langsung menundukkan kepalanya akhirnya isi perutnya keluarlah juga, kemudian ia merasa lega. Ternyata jaraknya begitu curam kebawah dan ia pun mendengar suara mendesah kesakitan, lalu ia menajamkan pendengaranya ke seluruh arah. Suara itu datang lagi dan suara itu berasal dari dasar bukit atas ini, dan sehingga membuat Gabie melihat kearah bawah dan memperhatikan sekeliling bawah curam itu.
Walau hanya cahaya rembulan yang begitu terang dan memyinari tubuh manusia itu. Dengan begitu jelas Gabie hanya bisa melihat kepala dan pundak orang itu, karena pundak orang itu begitu putihnya sehingga membuat ia bisa memperhatikan manusia itu. Orang itu tergeletak seperti udang bungkuk. Ia merasa orang itu perlu pertolongan segera, jadi Gabie segera meluncur turun dengan bokongnya duluan seperti menuruni prosotan. Sesampainya di dekat pria itu yang ternyata pria itu tanpa benang apapun di tubuhnya, tapi untunglah pria itu mempunggungi Gabie, untuk persekian detik Gabie memutar tubuhnya. Dengan udara yang amat dingin pantaslah pria itu tidur dengan posisi seperti udang bungkuk. Kemudian Gabie membuka jaketnya dan melangkah mundur dan menyamping dan arah matanya tetap pokus ke depan dan akhirnya ia sampai juga di samping pria itu, dan menyelimuti pria itu, dan untunglah panjang jaket itu sepanjang betis, dan ia kembali berani melihat tubuh pria itu yang kini telah terbalut oleh jaketnya. Ia terkejut melihat daun kering yang penuh dengan darah kering yang telah berwarna serupa dengan besi.
Dengan memandang keatas beberapa kali akhirnya Gabie kembali keatas menuju ke gubuk. Dengan dahan pohon yang menjaral, ia menginjak tanah yang penuh bebatuan di dinding bukit. Ternyata ia kembali lagi kedalam gubuk untuk mencari jaket untuk dirinya sendiri dan untuk cadangan, tapi bukan hanya jaket yang ia cari tapi melainkan air yang paling utama, dan selimut tebal agar tidak kedinginan atau sebagai alas tidur.
Setelah membersihkan luka-luka di sekujur tubuh pria itu, Gabie langsung membaringkan pria itu di atas selimut tebal itu, dan memyelimuti pria itu. Pria itu memiliki bekas luka cakaran yang begitu dalam dan ada lubang didada kirinya tapi untunglah tidak mengenai pital dalam jantung itu sendiri. Setelah semuanya selesai ia mencari dedaunan herbal untuk luka peria tersebut,
" Aku ini seperti suku asli perdalaman saja." Ucap wanita itu sambil melangkah jauh dari lokasi tendanya bersama pria asing itu. Ia terus saja melangkah kan kakinya tapi untunglah hari telah pagi sehingga mempermudakan dirinya untuk mencari dedaunan herbal.
Tak lama kemudian, ia kembali ke tendanya dan mengoleskan dedaunan yang telah di haluskan dan menjadi halusan lengket seperti lumut. Dengan hati-hati Gabie mengoleskannya keseluruh tubuh pria itu. Tiba-tiba terdengar erangan pelan dari mulut pria itu ketika Gabie mengoleskan obat herbal ketubuh pria itu. Tubuh pria itu penuh luka cakaran dan gigitan yang amat besar di sepanjang leher sampai ke bahu pria itu dan apa lagi peluru telah menjadi sarang di dalam tubuhnya ada tiga peluru yang menyarang di dalam tubuh pria itu.
Dengan peralatan serbah sedikit Gabie mencongkel daging itu dengan pisau buah dan untuk mengeluarkan peluruh itu ia menggunakan gunting.