Hunter Family

Hunter Family
Chapter tiga



BAB TIGA


GABIE menawarkan tempat tinggal yang begitu nyaman kepada Alex. Ia hanya tinggal sendirian dirumah besar ini, maka dari itu ia selalu mengikuti jadwal apabila ada jadwal pergi ke hutan. Kedua orangtuanya jarang pulang atau berada dirumah. Kali pertama ia tahu hiking dari mantan pacarnya yang juga pencinta alam. Mantannyalah yang juga mengajarinya segala mengenai baik buruknya tebing maupun gunung. Dengan sabar tingkat tinggi mantan pacarnya mengajarnya.  


Masa yang penuh kebahagian tiba-tiba dirusak oleh badai dari pihak ke-tiga tapi Gabie merelakan mantannya. Kenangan itu membuatnya teringat kembali. Mereka telah bertunangan selama lima tahun dan tahun kemarin mantannya memutuskan dirinya.  


" Untuk apa aku harus membuang waktuku untuk mengenang dirinya." Batin Gabie sambil menghela nafas dan melangkahkan kedua kakinya menuju selasar ruang makan. Pagi ini begitu dingin, kabut dipagi dini hari begitu tebal sehingga membuat Gabie turun mencari makanan didapur. Padahal didalam kamarnya begitu hangat dan nyaman tapi entah mengapa ia ingin mencari sesuatu didapur. 


Ketika ia telah sampai di depan ruangan masuk dapur ia berhenti. Karena ia tak menyangka akan bertemu Ace didapur dan ia sedang duduk di contier membelakangi Gabie. Ia menyebut nama Ace karena ia telah memutuskan akan memanggil pria itu dengan sebutan Ace. Entah mengapa nama pria itu begitu pas dengan diri pria itu. Bukan cocok dengannya, tapi melainkan cocok dengan mulut-mu. Suara kepala Gabie melarat seluruh batinnya. Katakanlah kalau kau mulai peduli dengan pria itu. Ia hanya terdiam membiarkan suara itu menggema didalam kepalanya dan mengenyahkan suara itu.  


Pria itu tetap duduk ditempatnya. Ia duduk mempunggungi wanita itu dan ia kelihatan asyik dengan kesendiriannya. 


    Suasana begitu berbeda bagi Gabie karena ruang makan ini belum pernah dihadiri orang lain lagi semenjak mantannya memutuskan dirinya dan disinilah pria itu menikmati kesendirian diruang makan ini. 


    Dengan perlahan-lahan Gabie mendekati pria itu dan duduk disebelah pria itu. Ia sudah melupakan atau sudah lupa apa tujuannya datang kedapur.


 %%%%%%%%%%%%%%


Walaupun tanpa alas kaki dan tak terdengar suara langkah yang menuruni anak tangga. Tetapi aku bisa mencium aroma lembut jeruk dari tubuh wanita itu. Aroma itu begitu manis dan sejuk itulah yang dibawa oleh sang angin pada dini hari ini. Wangi itu tidak berhenti tetapi wanita itu berhenti di depan pintu masuk dan terkejut melihat diriku ini. Aku ingin menoleh, tapi bila aku menoleh ia akan lebih terkejut lagi. Jadi aku hanya bisa diam dalam kesendirianku yang sedang menikmati secangkir kopi hangat ini.  


Beberapa menit kemudian aroma itu tercium lagi dan ternyata ia telah duduk disebelah kiriku.  Kami hanya terdiam dan saling menatap.  Aku tahu kami pasti memiliki seribu pertanyaan. Tapi kami seperti dibungkam oleh seribu ton batu yang menyumpal ditenggorokan kami.


Entah mengapa aku tidak bertanya kepadanya. Mengapa ia berada dihutan itu dan terluka parah dan ditembak? Aku takut memulai membuka tabir rahasia yang mencengkram-ku. Aku takut kejadian itu membuatku shock lagi, atau aku tak ingin mengungkit kejadian itu didepannya. Karena bisa saja ia seoarang relawan yang ingin menolong serigala yang malang itu. Itulah isi kepala Gabie pada saat ia menoleh ke arah Ace.


 " Kau belum tidur, Ace?" Tanyaku sambil menatap mata gelapnya. 


  " Aku hanya ingin sendiri dan merenungkan sesuatu" cerita Alex dan wajahnya terlihat senyum kecil. " Itu saja" ucapnya lagi sambil meletakan cangkir kopi diatas meja counter. Suasana kembali menjadi hening kembali. Mengapa ia tidak menanyaiku? Pikir Gabie.  


" Siapa pria yang berada difoto itu?" Dengan tiba-tiba Gabie langsung memperhatikan foto itu karena Gabie tersentak. Jadi selama ini ia terus menatap foto itu, gumam Gabie. Foto itu adalah potret diri Gabie bersama mantannya setingnya di tebing terjal yang berwarna merah tua seperti warna batu bata. Meraka berpose dengan riangnya sambil memeluk bahu pasangan mereka.  


" Pria itu hanyalah masalalu" jawab Gabie dengan ringannya tetapi ia mempunyai satu foto lagi yang besertakan semua anggota rekannya yang dipajang di ruangan lain. Dan di sini hanyalah paksaan dari mantannya untuk memasang potret mereka berdua saja. 


" Apakah dia yang mengajari semuanya kepada-mu.. Maksudku segala dalam hiking?" Tanyanya sambil menautkan alisnya. Aku heran, pikir Gabie tentang Alex yang bisa menebak jalan pikir Gabie. 


   " Yah, semuanya. Kenapa kau bisa tahu. Atau itu hanya tebakan-mu sajakah?" Gabie kembali bertanya. 


    " Secara rinci aku pernah berjumpa dengan pria itu" tunjuknya kearah potret itu dan aku hanya memasang alis mata dengan gaya miring ke arah Ace. 


   " Di hutan dan bersama anggotanya, tetapi aku tidak pernah melihat diri-mu. Dan asal kau tahu, dia tidak tahu aku berada disana" wah sepertinya ia kembali sinis lagi, pikir Gabie. Dan ia langsung memasang wajah cuek. Tidak Penting.