
Dua hari telah berlalu dengan cepatnya, tubuh pria itu semakin membaik dan rona wajahnya terlihat segar. Ketika Gabie membuka balutan dari bahu pria itu untuk mengganti perban atau hanya mengganti obat saja, pria itu mengerang dalam tidurnya. 'Apakah ia sedang mengalami mimpi buruk lagi.' Sambil menatap kearah pria itu Gabie berbisik kepada dirinya. Sudah berlarut-larut pria itu mengerang dalam mimpinya. Tapi sepertinya pada saat ini pria itu mengalami mimpi buruk yang amat sangat buruk. Bukan hanya keringat yang membanjiri tubuhnya tapi jeritanya bagaikan lolongan para srigala yang begitu memilukan.
' Apakah aku telah menyelamatkan orang yang salah?' Pikir Gabie sambil mengelap badan pria itu dengan handuk kering. ' Apakah pria ini telah membantai anak-anak srigala itu dan orangtua anak srigala itu?' Sambil berpikir ia tetap menyeka dengan pelannya karena kepalanya telah memutar kejadian malam hari itu bagaikan rekaman kaset.
Kemudian ia mengenyahkan pikirannya dan kembali menyeka seluruh badan pria itu. Menyeka dan menyeka.
Dalam kegelapan yang seakan membawanya kealam neraka yang paling dalam Alex bisa merasakan dirinya melayang dengan sendirinya entah karena apa. Ruangan itu semakin gelap tanpa setitik cahaya pun. Tapi pada saat ia menuju ruangan yang paling ujung dan ruang yang semakin gelap-gulita, ia bisa merasakan ada sebuah tangan yang hangat sedang menyentuh tubuhnya, ia ingin segera membuka kedua matanya untuk melihat siapakah gerangan yang berani menyentuh dirinya. Walau berkali-kali ia mencoba membuka matanya tetapi tidak bisa. Lalu kemudian di ujung lorong sana terdengar teriakan para sukunya dan apalagi anak-anak, dan sehingga ia bergegas menuju kesana tanpa menghiraukan tangan itu walaupun tangan itu terasa berada di badannya. Akan tetapi kegelapan itu berubah seakan seperti film yang sedang di putar dan Alex melihat adegan pembantaian yang belum ia lihat sebelumnya. Jeritan anak-anak, orang dewasa dan para wanita, seakan mengoyak hati Alex. Tetapi ia mendengar suara seorang wanita yang tak di kenalnya memanggil atau berkata dengan berbisik-bisik kearah telinganya, suara itu begitu lembut selembut permen kapas. Suara itu terus saja terngiang-ngiang di telinganya ' hey apa yang kau cari di sana. ? Kembalilah?' Kata kembali itu terus terngiang-ngiang di telinganya bagaikan mantra dan seperti magnet yang menarik dirinya untuk membuka matanya untuk melihat siapakah orang itu. Dan ketika ia membuka matanya kembali. Pertama-tama cahaya matahari membuatnya silau dan ia melindungi matanya dengan tangannya yang tidak terluka. Tapi disana di tempatnya hanya ada dirinya dan seorang wanita yang tidak ia kanal, yang sedang membenah sesuatu. Apa yang terjadi? Kenapa ? Dan ia merasa sakit pada punggungnya ia pun mulai bangkit.
" Jangan! " Seru wanita yang tak di kenalnya yang sedang berlari-lari kearahnya. Dan langsung membaringkan dirinya dengan mendorong kedua bahunya. Siapa kau? Itulah salah satu yang ada di benak Alex. Tapi ia sudah berbaring kembali sambil memperhatikan wajah wanita itu dan wanita itu kembali berucap.
" Jangan bangun dulu, anda belum sehat benar." Ucap Gabie sambil membentangkan kedua tangannya kearah pria asing itu akhirnya pria itu berbaring kembali.
" Mulai besok luka anda akan tertutup" ucapnya kembali sambil menurunkan kedua tangannya dan kembali duduk tegak.
" Kenapa kau ada di sini dan siapa anda?" Pria itu mulai berkata-kata dengan melempar pertanyaan yang bertubi-tubi bagi Gabie kemudian ia berbalik untuk berhadapan dengan pria itu. Jarak mereka sangatlah berdekatan antara 0 sampai 30 pada penggaris itulah jarak mereka yang seperti penggaris.
" Saya kebetulan ada disini" ucapnya dengan nada biasa. " Dan aku hanyalah pencinta alam dan kebetulan aku menemukan anda disini juga." Mendengar perkataan wanita itu membuat Alex tidak mempercayainya, karena wanita itu adalah manusia. Bisa saja wanita itu yang telah membantai keluarganya. Kemudian ia membuang muka kesamping menatap keatas gubuk yang jauh dari atas tebing tanah.
Mereka berdua saling mencurigai, Gabie mencurigai pria itulah yang telah membantai serigala itu sampai-sampai anak yang serigala yang tak berdaya. Sedangkan dalam benak Alex : ia mencurigai wanita yang berada di sebrangnya adalah antek-antek dari para pembantai itu. Dan bisa saja wanita itulah yang telah menembaki dirinya dan anak-anak srigala itu. Bisa saja.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Ruangan yang amat megah yang di paduh kan dengan warna emas dan merah darah tua yang menjadi latar tempat kerja Harry Hunter. Sambil mengoyangkan kursi kerjanya dan sambil memandang putri satu-satunya itu yang sedang bersikap kesal terhadap ayahnya.
" Aku bukan sengaja melepasnya, Ayah!" Entah berapa kali Leona mengulangi ucapanyan.
" Kau melepaskannya" sama juga dengan ayahnya yang telah berulang-ulang.
" Aku telah mengucapkannya berkali-kali, Ayah. Dan aku telah menembaki srigala itu".Berkali-kali juga Leona telah menegaskannya, akan tetapi ayahnya tidak mempercayainya sama sekali.
" Mengapa kita harus memburu serigala, Yah?" Terlihat jelas kalau Leona sedang melempar pertanyaan lain, walau pun kesal ia tetap harus teguh sampai ia berhasil menyakinkan ayahnya.
" Apakah kau lupa keluarga kita adalah pemburu serigala." Dengan sikap tenang pria setengah baya itu berucap di balik meja kerjanya. Dan sambil megoyangkan cawan wine nya.
"Dan nama keluarga kita adalah Hunters," hardik Harry Hunters sambil menatap tajam ke arah putrinya.
" Aku tahu, Ayah. Tapi mana ada lagi manusia serigala di zaman modren ini, Yah." Harry hanya bisa menyesap winenya dengan gaya yang berlebihan, dan sambil menatap ke arah putrinya.
Putrinya memang cantik tapi tidak secantik mantan istrinya. Istrinya adalah seorang mantan Miss World. Dirinya dan mantan istrinya telah bercerai karena tidak setuju dengan kelakuan suaminya. Sekarang mantan istrinya telah menjadi artis senior kawakan, dan mereka telah memiliki keluarganya masing-masing.
BAB 2#
Wanita itu memiliki rambut hitam panjang begitu lurus. Hitam yang pekat sama percis dengan kedua bola matanya. Aku terus memperhatikan tingkah lakunya yang terus mondar-mandir dari tadi membereskan gubuk kecil ini. Gubuk ini milik wanita tua yang telah di tinggal mati oleh suaminya tapi sekarang nenek tua itu telah ikut di bantai. Semalam turun hujan aku kira hanya rintik-rintik saja tapi kemudian tambah deras, dan dengan susah payah wanita itu membopong ku naik ke atas tebing menuju gubuk ini. Yah disinilah kami dengan pakain ganti.
Sebelum hujan turun . . .
Hujan turun dengan rintik-rintiknya membuat Gabie terpaksa membangunkan pria itu dari tidurnya.
" Bisakah, anda mengganti pakaian anda? Saya akan keluar sebentaar" aku hanya menatapnya dengan heran. Dan ia pun keluar dari tenda dengan mantel tebal. Ketika ia telah menghilang aku langsung membuka selimut tebalku ternyata aku tidak memakai apapun, sebenang pun tidak ada hanya selimut tebal ini yang mendekapku.
Aku menoleh kesana kemari tuk mencari pakaian yang ia katakan tadi, dan ternyata pakain itu ada di sebelah kepalaku. Setelah aku selesai berpakaian ia pun masuk.
"Kita harus segera menuju gubuk di atas kalau tidak kita akan di serang oleh badai" ya disinilah kami di gubuk kecil dan nyaman ini.
Arah mata ku tak berubah sama sekali dan kedua bola mata ku mengikutinya. Dan wajah wanita itu membuat ku bertanya-tanya dan membuatku penasaran. Wajah wanita itu memiliki garis wajah yang tinggi sampai-sampai dagunya berbentuk bulat kecil serupa dengan suku indian.
Merasa dirinya terus di perhatikan, Gabie memutar tubuhnya dan menghadap kearah pria itu, dan sambil mengacak pinggulnya.
" Kau keturunan indian asli?" Tidak menduga kalau pria itu akan berterus terang, akhirnya Gabie menurunkan kedua tangannya dan kemudian sepertinya ia bersikap salah tingkah dan tertawa sendiri dan kepalanya selalu diarah kan ke luar pintu dan melihat pria itu secara bergantian. Setelah ia bisa menguasai perasaannya kemudian ia bersikap serius.
" Tidak. Ayahku. Aku mirip dengan ayahku." kata Gabie sambil memotong perkataanya.
" Setengah" cuma itu yang di ucapkan oleh pria itu dengan nada kering dan tak berperasaan.
Kemudian pria itu kembali ke dunianya, maksudnya melamun.
" Aku Gabie dan siapa nama anda?"
" Alex atau Ace. Terserah yang mana." Lagi-lagi ucapannya penuh dengan sinis, batin Gabie.
" Dengar ya, seharusnya saya menelpon polisi untuk menangkap anda." Pria itu langsung menoleh ke arah Gabie, sedangkan dirinya sedang duduk di ranjang batu dan menyandar di dinding anyaman dan sambil memperhatikan wanita itu dengan sinis.
"Untuk apa" ia langsung menjawabnya dengan sambil menatap tajam kearah Gabie. Bukankah di sini tidak ada signal sama sekali, batin Alex sambil menatap ke arah Gabbie.
" Jangan mengelak lagi." Gabie langsung membuang muka tapi hati kecilnya mengatakan 'seorang pelaku tak pernah mau mengakui kejahatanny.'
Merasa bingung pria itu semakin menajamkan matanya atau memicing kearah Gabie.
" Apa-apaan, sih ini " ucap pria itu yang penuh tanda tanya kepada Gabie.
" kalau mengakui penjara akan penuh" bisik Gabie dari sela-sela giginya.
" Jangan mengelak dari kesalahan anda. Kesalahan itu tak' kan kemana-mana"
" Apa maksud mu? Jangan bertele-tele" Dengan kesal Gabie menghembuskan nafas kesal. Lalu ia menceritakan yang di alaminya.
" Seharusnya kau tak ku tolong" ucapnya dengan nafas tersenggal-senggal.
" Lalu, kenapa kau menolongku. Aku tidak pernah memintamu!" Mendengar ucapan itu keluar dengan nada yang tajam dan ringan seakan ucapan itu adalah cuka yang telah menyiram luka Gabie dan ia semakin emosi.
" Kau. . ." Merasa kehilangan kata-kata akhirnya Gabie pun berjalan menghampiri pohon besar dan bersandar. Kenangan itu muncul kembali dan rasa shock yang ia temui kembali menguak dalam sudut matanya. Kemudian air matanya jatuh, tapi untunglah pria itu tak melihat ia menangis.
Aku merenung semua perkataan wanita itu kepadaku. Suku kata demi suku kata, ku cernah dan ternyata kami saling mencurigai satu sama lain. Persekian detik, aku telah menyadarinya. Dan aku pun bangkit dari duduk ku dan menuju keluar tuk mencari wanita itu. Baru empat langkah aku sudah bisa melihatnya, ia sedang duduk di tumpukkan daun kering membelakangiku. Aku terus melangkah dengan kaki terseret dan menghampiri wanita itu. Akhirnya aku sampai juga. Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tadi di dalam gubuk aku masih ingat dan harus aku katakan kepadanya. Dan aku pun duduk di sampingnya, tetapi aku duduk membelakangi wanita itu yang ia lihat adalah bawah curam atas tebing ini dan yang aku lihat adalah gubuk. Karena aku duduk berhadapan dengan pintu masuk gubuk.
Dengan menggarut kepala yang tidak gatal, aku melirik kearah wajah sampingnya, karena aku tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi aku harus mengatakannya.
" Maaf" aku tahu ucapan ku penuh klise tapi aku bersungguh-sungguh dengan itu. Tapi wanita itu tetap asyik dengan apa yang ia lihat.
" Aku minta maaf duluan karena aku telah mencurigai dirimu yang telah membantai serigala-serigala itu." Sambungku lagi dan aku tak mungkin kalau menyebut dengan 'suku kami' bisa-bisa situasi akan tambah runyam. Setelah aku mengatakan itu, ia langsung berbalik menghadap ku dan mata kami saling menatap.
" Saya juga mencurigai anda "
perkataannya membuat ku bangga akan tebakanku karena kami saling mencurigai.
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya. " Ya, kalau begitu kita berteman, kan?" Wanita itu hanya mengangguk saja. " Ya ok panggil saja aku Alex atau Ace terserah kamu yang mana. Ok!"
" BTW (By The Way) kenapa kau... Ya ok, aku tahu kau pencinta alam tapi kenapa kau bisa sampai ke tempat ini dan kenapa harus tempat ini menjadi tujuanmu?" Ucap pria itu dengan penuh penasaran yang amat tinggi.
" Aku sudah dua kali kemari dan baru kali ini aku mengalami hal yang paling buruk- seburuk ini. Menemukan mayat dan mayat-mayat serigala tapi yang membuatku shock dan sedih adalah aku menemukan mayat anak serigala yang lucu-lucu, mati secara tragis." Wanita itu pun terdiam seakan melihat atau mengenang apa yang baru saja ia alami. Aku tidak tahu apa penyebabnya ia terdiam.
"Maaf bisakah kita lupakan saja hal itu." Ucapnya dengan tiba-tiba. Sambil menautkan alis mata, Alex berkata pelan. " Ya baiklah"