Hunter Family

Hunter Family
The Looking (b)



Chapter Eight #


Setelah semua luka ku tertutup dan tidak ada lagi terbekas, aku langsung mengubah wujudku menjadi manusia. Tentu saja tidak ada yang tahu, yang tahu hanyalah hewan-hewan yang sedang dikarantina.


Aku harus sigap dan harus sampai dirumah dan memberkan disket ini dan mencari tahu apa isi disket ini tentunya dan aku harus menghentikan niat keluarga Hunters.  


Sekarang aku telah samapai dirumah dan aku mendapati rasa terkejut yang menjalar di setiap nadiku.


Dan aku menukan Tetua bersamaan dengan gadis linglung dengan tatapan kosong, yang sedang mengarahkan keluar halaman yang dipenunuhi oleh hijaunya dedaunan dan rerumputan. 


Aku masuk dari pintu teras halaman ini dan dengan ketidak sengajaan, aku bertemu muka dengan Tetua yang sedang menemani gadis linglung itu.  


"Kau, telah membuat si-nona pemilik rumah ini sudah cemas tahu."Dengan suaranya yang lemah, Tetua berkata sambil menatap kearahku.


Aku tahu aku telah membuat Gabbie cemas dan aku masuk saja tanpa membalas perkataan sang Tetua, karena aku sedang tergesa-gesa. 


Setelah aku berada didalam ruangan tamu, aku bertemu dengan Gabbie yang sedang asyik  menonton drama Korea di channel kesayangannya.


"Apakah kau melihat Lynx?" Tanyaku kepada Gabbie, kemudian Gabbie menoleh dan melihat ke arahku seperti mencari sesuatu karena bola matanya seperti melihat ke arah kepalaku dan turun disekujur tabuhku. 


Kini Gabbie bangkit dari tempat duduknya yang nyaman itu dan berjalan menghampiri diriku.


"Kau kemana saja, sih." tanya Gabbie ketika ia sudah berdiri didepanku.


"Ceritanya panjang. Mana Lynx?" Tanyaku ketika ia masih menatapku. 


"Dia ada dibelakang sedang membuat sup untuk Lana." ucap Gabbie


kemudian mundur menuju ke kursinya kemabali.


"Ini dalurat, Gab. Jadi aku harus mencari Lynx," kataku sambil menatapnya tajam. Entah mengapa aku ingin sekali menjelaskan situasi yang aku alami pada saat ini kepada Gabbie.  


Gabbie langsung mengangkat bahu dan kembali duduk, aku langsung


mencari keberadaan Lynx di se-punjuruh rumah ini.


Setelah aku mencari di sepenjuruh rumah dan tidak ada, aku pun mencari


di dapur dan ternyata Lynx sedang mengaduk sup ayam.


"Tinggalkan apa yang kau kerjakan. Sekarang juga.!" Printahku kepada Lynx dan


kini Lynx berbalik sambil mematikan api kompor itu.


"Ada apa, sih,?" tanyanya sambil memasukan kedua tanganya disaku celananya.


Aku yang tanpa pikir panjang langsung menyeret Lynx menuju kekamarku. 


Aku memperlihatkan disket yang aku keluarkan dari sakuku dan aku menuju tempat


DVD player, kami sama-sama melihat disket itu.


Beberapa rumus yang tidak ku mengerti dan setelah itu darah, ya sepertinya darah dengan darah dan dicampur dengan sedikit senyawa.  


"Ternyata mereka juga memburuh para Vampir," kata Lynx setelah aku mengeluarkan disket itu dari DVD Player. 


"Ya, dan aku kira mereka hanya memburuh kita, Werewolf," tukasku sambil menyandar didinding kamarku.


"Jadi, apa tindakan kita selanjutnya,?" Tanya Lynx sambil melipat kakinya diatas lututnya.


"Tenanglah," kataku sambil menenangkan Lynx,"kita belum tahu rencananya dengan jelas."


"Kita harus menghentikanya, kalau masih mencintai dunia kita ini."


"Tenanglah, bung."


*********


Kini Alex benar-benar menyelidiki kediaman Hunters pada malam harinya, sendirian.


Apakah ia akan bertemu dengan wanita misterius yang telah menembak dirinya?


Dan apakah ia akan bertemu Leona dikediaman Hunters?


Akan kah Alex menyadari Leona adalah anak dari Hunters?.  


****************** 


Selama ini Alex tidak menyadari kalau gerak-geriknya telah diikuti oleh sesorang dan ke lihaian orang itu dengan menyamarkan dirinya, agar tidak sampai tercium oleh Alex.


Kini Alex tidak dirumah dan rumah hanya tinggal Lynx yang ditugaskan oleh Alex untuk menjaga, Tetua, Gabbie dan Lana.


Dan disinilah orang aneh itu, sedang mengetuk pintu dan yang buka adalah Gabbie sendiri.


Malam ini, Alex pamit dengan alasan kencan dengan Leona, sedangkan aku yang memang tidak ada kegiatan apapun dan berhenti dari hekking untuk memulihkan diriku.


Ya melihat drama korealah pekerjaan sehari-hariku.  


Aku mendengar di ketukan pintu depan, aku malas untuk berdiri apa lagi umtuk membukanya, karena drama yang kini aku liat lagi serunya dan apalagi malam begini tidak ada yang ku undang. Apalagi Ace berpesan ; kalau dirinya tidak tahu kapan pulang. Dan jangan menungguku. 


Dengan malas, akhirnya aku bangkit dan membuka pintu itu.


Aku melihat seorang pria pucat dengan rambut yang disir lurus  


nan rapi sampai ke bahu pria tersebut.  


Pakaianya bergaris tipis, kemeja. Celana panjang demim.


Tiba-tiba saja pikiranku menjadi kosong dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi, karena


kini menjadi gelap, padahal aku masih melihat dengan begitu jelasnya.  


Tapi entah mengapa pikiranku melayang dan kosong. 


Aku tidak tahu apa yang aku jawab, ketika pria pucat itu bertanya dan pertanyaanya begitu samar-samar begitu juga dengan jawabanku.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku begini, rasa-rasanya begitu tidak nyaman sekali.


Dan pria asing ini begitu dekat dengan ku dan apalagi dia sedang melihat drama korea


yang ku liat tadi. 


Tiba-tiba dia menyeret tubuhku berdiri dan membawaku kehalaman belakang rumah.


Sepertinya dia sedang menuggu kehadiran seseorang disini.


Padahal malam ini begitu gelap, karena bohlam tiang telah putus


dan aku lupa untuk menggantinya.


"Teman serigalamu telah pulang,"katanya sambil mengeratkan tanganya yang


sedari tadi telah berada dileherku.


Cengkramanya begitu kuatnya, tapi aku tidak merasakan apapun.  


Aku tidak tahu mengapa Lynx tidak menyadari, kalau ada orang yang datang.


~*ALEX~*


Malam hari ini adalah bulan purnama dan untunglah aku bisa melihat dengan sangat jelas, walaupun tiada hasil yang aku dapat dari kediaman Harry. 


Tapi aku telah menyadari sesuatu. 


Aku sedang mengendarai mobil Gabbie dan sedang mengarahkan ke jalan pulang.


Bulan perak terus saja mengikutiku, untungnya aku bisa mengendarikan kekuatanku agar tidak berubah menjadi srigala atau werewolf. 


Oh, ya tentang aroma. . . . aku lupa akan hal itu. 


Aku mulai menyadari; ketika kali pertama aku bertemu dengan Leona, dia memancarkan aroma permen dan aroma itupun sama percis dengan wanita misterius yang telah menembak diriku diawal cerita dan pertemuan berikutnya ia telah mengganti aroma tubuhnya dengan aroma jeruk. Yang sama percis dengan aroma Gabby. Dan yang paling anehnya Malahan Gabby mengganti aroma jeruk menjadi apel. Adaapa sebenarnya diantara mereka berdua? 


Dan yang paling menabjubkanya adalah, ternyata Leona adalah putri dari Harry.  


Aku terus saja melangkah dari semak-semak belukar atau tepatnya aku melalui jalan tikus agar aku bisa sampai kedalam rumah karena apa yang aku ketahui telah aku dapatkan.


Kita tinggalkan dulu Alex yang sedang berjalan pulang, sekarang kita lihat dulu di sebuah labotarium milik keluarga Hunters. 


Para ilmuan terlihat sedang bekerja dibalik meja mereka, sebuah rumus yang sangat sulit dipahami terlihat begitu jelasnya di kertas putih yang kini tertoreh oleh tinta hitam dan pinsil.


Wajah Hunter terlihat sangat merah karena ia sedang mendengarkan info dari Resare tentang penyusupan yang terulang kembali. 


Sambil berjalan menyusuri sekat meja para ilmuan lainya, Resare menjelaskan rencananya.


" Itu cuma praduga saya," kata Resare sambil menyusul Hunter.


"Tidak mungkin Gabby tahu keberadaan Alex!" Sebelum Hunter berkata ia sudah berhenti dan berbalik ke arah Resare.


"Tapi saya mencium aroma wanita itu di sekitar Alex." Kata Resare dengan menggunakan nada titik. 


"Kalau kau begitu yakin, OK! Akan ku serahkan kepadamu. Bunuh kalau kau mau." Hunter mengakhiri kalimatnya dan langsung meninggalkan Resare yang sedang tersenyum penuh kemenangan. 


Resare belum mendapatkan sebuah ide atau rencana lainya untuk menangkap atau menyandra Gabbie, kini ia telah dibebas tugaskan dan ia akan melakukan apa saja agar Alex tertangkap dan mati ditanganya.


Resare ingin menyelesaikan urusan yang telah tertunda selama bertahun-tahun dengan Alex. Dan kini kesempatan itu muncul juga akhirnya dan itupun dikarenakan oleh sosok wanita didalam kehidupan Alex.  


Resare harus menculik atau menyandra wanita itu, agar Alex muncul dengan sendirinya dan menyerahkan dirinya dan itu tidak perlu membuat Resare bingung untuk mencari Alex.


#####****######******######****#####


Hunter mendatangi sebuah lab yang ada di bawah tanah yang menjadi tempat rahasia bagi dirinya dan seorang profesor tua, yang dibangkitkan oleh sesepuh vampir atau tepatnya raja vampire. 


Rambut ikal putih kini menghiasi kepala seorang Albert dan sebuah maha karya yang kini telah menjadi sejarah dan telah didirikan sebuah monumen peringatan di suatu negara. 


Pada saat ini kaki tanganya akan merencanakan menyandra atau bisa saja Resare membunuh teman putrinya dan itupun bukan urusan dirinya karena mungkin saja kedua orang tua gadis itu akan bertemu dengan putri mereka di Neraka. 


Hunter lah yang telah membunuh mantan istrinya beserta suami indian mantan istrinya. Walaupun Hunter telah resmi bercerai dan mantan istrinya jatuh cinta pada dua tahun sesudah perceraian mereka dan Leona belum menyadari kalau ibu kandungnya telah meninggal. Leona hanya tahu kalau ibunya berada di suatu negara yang memiliki sebuah ikon romantis. 


Semua yang terjadi dan rencana hunter menjadi sebuah rahasia dan disimpan disebuah kotak yang begitu jauh dari dasar hatinya.


Bukan hanya itu saja, kekejamanya telah melewati batas; membantai dan membunuh dengan motif kecelakaan itulah yang ia lakukan kepada mantan istrinya bersamaan dengan suami istrinya. Rencananya memang berjalan dengan lancar, tapi suatu saat bangkai yang ia sembunyikan akan tercium jua pada akhirnya.


ALEX


Kini Alex sedang melewati pohon mangga yang besar dan kemudian ia menghentikan


langkahnya dan kemudian ia mendongakan kepalanya ke langit.


Sepertinya Alex sedang mencium bau udara yang tercium bau vampir dan


Alex juga merasakan kalau vampir itu tidak sendirian. 


Vampir itu ada disekitar perkarangan halaman belakang ini.


Kemudian Alex bersiaga dan terus melangkah dengan mantap sambil


mendirikan radar was-wasnya.


Ada begitu banyak pohon dirumah Gabbie dan semua pohon ini begitu lebat daunya, apalagi dahanya sampai menjulang ke atas dan susah untuk menatap ke atas langit. 


Dimanakah Lynx dan Tetua? Apakah mereka menyadari kalau Gabbie sedang terancam? Aku bukan orang yang suka bersembunyi, apabila menghadapi lawan. Kini aku sudah begitu dekat dengan vampir, aku bisa melihat kalau pria itu sedang menyandra Gabbie. Dan anehnya tatapan Gabbie begitu kosong dan hanya fokus ke arah depan. Apakah vampir itu telah menghipnotis Gabbie? Kalau memang benar pantaslah kalau Gabbie terlihat sedang linglung. 


Dengan berjalan perlahan-lahan, aku sudah begitu dekat dengan vampir itu dan


kemudian aku keluar dari bayangan pohon mangga yang berdahan besar.  


"Iihatlah, teman serigala-mu telah kembali," ucap pria vampir itu sambil membelai leher Gabbie dengan belati perak.


"Hey, Zombie," aku mulai mengulur waktu agar pria itu lengah dan kemudian aku bisa mendapatkan kesempatan. 


"Jangan panggil aku Zombie!" Hardik Vampir itu sambil menekankan ujung


mata belati ke arah kulit leher kuning langsat Gabbie.


Vampir itu selalu memiliki sifat arogan, dan mencintai diri sendiri, apalagi


membanggakan diri mereka sendiri. Dan ternyata kawan baru kita ini juga demikian sifatnya. 


"Biasanya kau selalu dengan sigap dan cepat menyikat habis mangsa-mangsa mu itu, Zombie. Dan kau hanya tahu sikat dengan cepat tanpa membuang waktu." Aku memang sengaja memancing dirinya, yang aku tahu ada sesuatu yang ganjil dan ada yang aneh dibalik penyandraan ini.  


"Aku memang tidak suka ini, tapi aku butuh teman untuk melenyapkan keluarga Hunters." Vampir itu menghentikan ucapanya, seolah ia baru saja mengeluarkan senjata terakhir dan telah menyadari kalau ia tidak memiliki senjata cadangan lagi. 


"Kita bisa bernego, asalkan kau lepaskan dulu temanku ini," aku langsung saja ke inti pokoknya dan aku tidak ingin mengulur waktu lagi karena aku sudah tahu apa yang ingin direncanakan oleh Zombie ini.  


Ternyata musuh kami memang sama yaitu: sipemburuh itu.


"Aku bisa saja bernego, tapi aku tidak suka dengan tindakan kotor dari arah belakang." Tentu saja aku merasa terhina akan perkataan itu. Tapi aku mendiamkan perkataanya itu karena musuh kami sama. 


Wah ternyata ia sangat waspada banget dan akupun merentangkan kedua tanganku ke udara, itu adalah isyarat damai dari ku.  


"Tenanglah, pastinya kau telah mendengar namaku yang tidak pernah bermain belakang.


" Aku melemparkan perkataan pedas kepada vampir itu.  


"Ok! Aku setuju." Akhirnya Zombie itu melepaskan Gabbie dan melumpuhkan hipnotisnya. 


"Tapi bisakah kita bernego ditempat lain karena aku tidak ingin wanita ini tahu dan bisakah kau menghapus memorinya pada saat kau datang." Ternyata permintaanku begitu banyaknya, tapi aku ingin Gabbie bersikap normal seperti pada manusia umumnya.  


Ternyata Zombie itu menuruti kemauan atau permintaanku dan kini


kami berdua ada di atas pohon saling berbagi informasi.


Dan ternyata dugaan ku memang benar, kalau semua vampir juga


ikut dibantai dan sepertinya bukan hanya vampir saja.  


Dan sepertinya disket yang aku temukan itu memang berisi rumus-rumus yang tidak aku pahami dan juga berbagai senyawa yang seperti darah vampir, serigala dan makhluk lainya. Bila semua darah dicampur dengan bahan kimia yang berbahan peledak akan dicampurkan menjadi satu dan dimasukan disebuah tabung selinder yang berukuran 30cmX30cm dan 5cmX5cm.  


Apabila riset ini telah berhasil diciptakan, mereka akan memusnahkan atau meledakan zat itu ke udara melalui roket dan jatuh ke bumi. Bila seandainya tabung slinder itu meledak dari udara dan setiap cairan itu jatuh bagaikan cairan lengket ditubuh manusia maupun dibenda hidup maupun mati, kilit mereka akan meleleh tanpa rasa sakit. 


Pertama-tama bila manusia terkena cairan itu, manusia itu tidak akan merasa sakit, tapi melainkan rasa sejuk yang mereka dapatkan. Tapi lama-kelamaan kulit atau pori-pori pada tubuh akan meleleh bagaikan debu yang disapuh bersih oleh angin.


"Kalau begitu mereka hanya membutuhkan darah kita?"Tanya Manusia zombie itu sambil menatap ke arahku dan pandangan matanya begitu terkejut. Mungkin jijik dengan apa yang dilakuan oleh Hunters itu.


"Ya, begitulah, Bung." jawab ku yang sekenanya dan akupun lompat turun dan di ikuti oleh teman baru ku ini.


Sekarang ini kami telah berada di atas rumput hijau yang kami injak.


"Jadi, kau ingin aku bergabung dengan mu untuk menghancurkan zat itu?"


Pertanyaan lagi-pertanyaan lagi.


"Ya."  Kataku dengan malas menjawabnya dan arah pandanganku kini telah tertuju dirumah putih Gabbie. " Kau setuju dengan rencana ini?" Tanyaku ketika aku berpaling dan menatap ke arah teman baru ku ini.


Ketika diskusi mereka telah selesai Alex dan teman baru nya yang aneh itu terlihat menuju rumah


Gabbie dan sekarang ini Gabbie membuka kan pintu untuk kedua pria itu..


Aku hanya terus memperhatikan teman baru Alex, yang berdiri di samping kiri Alex.


Wajah pria itu begitu pucatnya seperti kurang darah.


Aku menjatuhkan arah pandanganku ke arah kepala dan sampai keujung kaki pria asing itu.


Pria asing itu begitu ganteng, keren dan modi. Kalau dipikir-pikir pria ini tidak pernah ketinggalan berita tentang model, karena lihat saja dari segi pakaianya yang terlihat sangat modis itu dan bukan itu saja, wajahnya begitu ganteng mungkin Edward dan Jacob di twilight saga pasti kalah ganteng dan coolnya dengan pria ini dan mungkin saja idolaku Cesare Borgia akan kalah ganteng juga.


"Hey! Mau berapa lama kau mau menatapnya?" Aku langsung menuju suara sinis itu dan kini mataku telah terkunci oleh mata Alex dan aku hanya tersenyum malu karena aku telah terpegok.


"Apakah kau tidak tahu kalau dia sudah lelah sedari tadi ketika kau lihatin terus tahu."


Aku hanya tersenyum dan minggir agar mereka masuk kedalam rumah.


"Dia ini adalah teman baruku. kenalakan dirimu kepada pemilik rumah ini "


Ucapan Alex ketika ia sudah berada didalam sofa atau duduk.


"Hai, aku Gabbie tidak ada nama panjang," ucapku sambil menjabat tangan pria bertangan dingin itu dan tentu saja aku juga memberikan senyuman selamat datang.


"Panggil saja Cesare." Aku langsung terbengong-bengong karena namanya adalah Caesar dan aku terus menatap kepadanya dengan pandangan lekat-lekat. Tapi untungnya aku ingat untuk bertanya kepadanya.


"Apakah nama anda adalah Cesare Borgia yang itu?" Tanyaku sambil melepaskan tanganya dan terus saja melihat ke arahnya.


"Ya. tetap sekali. bagaimana kamu bisa tahu." Aku tidak tahu harus apa? Apakah aku harus pingsan atau apa aku juga bingung karena kini kepalaku sedang berputar-putar pada abad ke 14 tepatnya pada tahun 1492-1503.


Aku langsung menoleh ke arah Alex yang sedang duduk dengan santainya itu dan aku menghampirinya.


"Bagaimana orang yang telah mati bisa hidup kembali?'' Tanyaku kepada Alex dan ia hanya mengangkat bahunya saja sambil melirik ke arahku dan Cesare.


"Bisa sajakan nama mereka sama."


"Apakah kau tahu. . . ."aku langsung menghentikan ucapan konyol ku ini dan dengan segera aku ambil laptopku dan aku search nama Cesare Borgia di internet dan kedua pria itu hanya melirik ke arah layar laptopku.


Dan akhirnya muncullah nama Cesare Borgia beserta foto dirinya dan. . . .  


Aku memperhatikan mimik wajah mereka yang bingung dan terus menatap foto Cesare Borgia dan tentu saja Alex juga menatap wajah Cesare yang kini berdiri disampingku.


"Nah ini lah dia dan apa yang sebenarnya yang terjadi?" Tanyaku sambil berdiri dan bersandar di dinding.


"Dimana Lynx?" tanya Alex seperti sedang menghindar dari pertanyaanku ini.


"Aku tidak tahu dan aku bukan baby sisternya."


Kemarin malam aku hanya berpura-pura bertanya tentang Lynx karena aku tidak tahu bagaimana


seharusnya menjelaskan semua ini kepada Gabbie dan apa lagi apakah ia akan percaya dan bisa menerima semua yang aku ceritakan.


Dan bukan hanya itu saja aku telah menukan sebuah potret ibu dan ayah Gabbie dirumah Hunter 


dan ada hubungan apa diantara orang tua Gabbie dan Hunter?


Aku juga menemukan sebuah kaset pita atau vidio yang berisikan fakta meninggalnya kedua orangtua Gabbie.


Ternyata kecelakaan itu terekam oleh CCTV jalanan. Apakah Hunterlah pembunuhnya, kalau bukan mengapa ia harus menyita atau menyimpan barang bukti ini?


Sepertinya sebuah rahasia akan segera terungkap dan itu tidak bisa menjerumuskan Hunter


didalam bui hukum karena ia begitu licin dan apa lagi ia adalah seorang senat di konsultan departemen rakyat dan sekaligus orang kepercayaan President.   


Ada beberapamasyarakat sudah tahu atau mengenal istilah WereWolf, Vampir, Ghoul dan Iblis tentunya, tapi entah mengapa hanya Gabbie yang belum tahu akan kehidupan kami.


Sedangkan hantu ada didunia manusia, mengapa kami kaum WereWolf tidak sekaligus hidup berdampingan, toh kehidupan sama-sama  atau milik umumnya.


Cuma hanya perbedaan pada setiap tingkah laku kami yang tidak mirip dengan manusia lainya.


Walaupun ada manusia pemburuh vampir, hantu, dan WereWolf.  


___________________________________________________________________


Cesare Borgia duke of Valentinois seorang politik dan cardinal


ayahnya bernama Pope Alexanders ke 6.


Cesare Borgia ini memang nyata kisahnya dan aku adalah salah satu idola nya.


Dan aku juga suka dengan Caesar Jullius atau jullius Caesar tokoh dari Yunani. 


Aku harap maklumnya dari teman-teman karena sejarah ku begitu jeleknya.


Tapi ini hanyalah hidangan yang aku sajikan untuk teman2, jadi suka dan tidaknya tergantung dengan komen2 teman semuanya.


Karena aku hanyalah permulaan menjadi Chef.


Hehehe...


so thanks ya teman2.


Wasalam.


Love you all. :-)