
Pras benar-benar mengajakku ke bali. Aku antusias sih, kan aku belum pernah. Lumayan juga sih nikah sama Pras, uangku emang ngalir terus. Dia ngasih uang bulanan nggak tanggung-tanggung.
Pras memang tidak berencana membangun rumah. Atau lebih tepatnya, dia akan membawa ibu mertua dimanapun kita tinggal.
Aku bisa melihatnya, dia teramat sayang ibunya. Itu poin plus. Laki-laki yang sangat mencintai ibunya memang terlihat sepuluh kali lebih tampan. Benar?
Kalau kataku sih benar.
Sesampainya di hotel, kami memilih istirahat. Pras memilih Villa yang kuakui memang cantik. Ada kolam renang di tengah-tengah dapur dan kamar.
Tapi dia sangat tidak romantis. HEH AKU JUGA NGGAK NGAREP DIROMANTISIN YA! ENAK AJA.
"Bell," katanya.
Aku sedang asik membongkar isi koper untuk bersiap mandi. "Apaan?"
"Pijitin dulu, capek aku!"
"Hih nggak bisa aku!"
"Masa tinggal mijit doang nggak bisa!" Kata Pras.
"Kok kamu maksa sih!" Kataku kesal.
Dia akhirnya diam. Dan aku membawa handuk untuk segera mandi. Tak lupa aku membawa ponselku, sekalian main instagram.
Ketika aku sedang bersandar di bathtub, Pras tiba-tiba saja masuk ke kamar mandi. Aku panik bukan main.
"Mau apa sih?!" Ketusku.
"Mau mandilah! Mau ikut?" Dia menuju shower. "Sini boleh kok mau kalo gabung. Gratis!"
Aku mendengus kesal. "Najis!"
Shower-nya memang tertutup. Aku bersyukur untuk itu. Dan badanku juga tertutup oleh busa. Jadi ya aman-aman saja.
Ah, indahnya jadi orang kaya. Sebelumnya bahkan aku memikirkan menikah dengan seorang yang sama sepertiku, kita hidup dengan sederhana di sebuah rumah tanpa lantai dua. Aku memakai daster batik has ibu-ibu. Itu yang terlintas dibenakku, ketika memikirkan pernikahan.
Sama indahnya sih menurutku. Setidaknya, aku bersyukur sekarang.
Aku bersyukur aku mempunyai Pras sebagai suami.

Sorenya kita memutuskan ke pantai untuk melihat sunset. Kalau ke pantai nggak lihat sunset kan memang terasa kurang. Dan Pras setuju untuk melihat sunset.
Dengan segala drama sebelum berangkat. Kita memutuskan untuk jalan kaki. Padahal, Pras ingin menyewa motor. Namun aku menolak, lebih enak sambil jalan kaki, apalagi sambil shopping.
Sebelum kepantainya aku membeli beberapa sovenir khas bali. Seperti baju, tas rotan, dan sovenir lainnya, karena ini pertama kalinya aku ke bali.
Pras dan aku sepakat, oleh-oleh makanan akan dibeli saat akan pulang agar masih fresh.
Pras melarangku untuk nawar. Padahal aku gatal sekali ingin nawar. Katanya, "kasihan, mereka itu pedagang kecil. Kalo ada uang mening jangan nawar."
Karena suamiku kaya. Yaudah. Nggak jadi.
Ya hatiku sedikit tersentuh sih jujur saja.
Jadi... apa salah, kalau aku sedikit bangga padanya? Pada suamiku sendiri?
Dering ponselku berbunyi, Pras langsung melihat beda tajam yang tak lepas kugenggam.
Disana tertera, Pak Bram.
Dia menyipitkan mata. "Siapa Bram?"
Aku tidak menjawab, dan langsung menjawab panggilan pak Bram. "Hallo, pak?"
"Iya bu Bella. Saya mau bilang, bu Dede kan baru masuk hari ini. Dia mau minta data nilai sementara anak-anak waktu Bu Dede naik haji kan kamu yang handle."
"Oh iya pak haduh saya lupa. Saya bawa sih flashdisk-nya. Nanti malam saya kirim lewat e-mail aja, ya!"
"Mmm.. nggak ganggu, Bu?"
Aku melirik Pras yang masih mengerutkan keningnya. Menunggu aku selesai dengan pembicataan ini.
"Lho, enggak kok pak. Kenapa ganggu?"
"Ooh, iya, kalo gitu sekalian di skype aja nggak apa-apa? Ini nilai olahraga kelas kamu kan belum saya kasih."
Pras mendengar itu semakin mengerutkan keningnya. Memang aku sengaja me-loudspeaker, supaya Pras bisa mendengarnya juga. Dan memang ini rekan kerja.
"Oooh iya, saya juga lupa. Boleh pak. Nanti saya hubungi lagi."
Sementara Pras diam. Aku langsung memasukan ponsel pada tas. Dia masih memandangiku. "Apa?" Tanyaku.
"Really?"
"Apa sih ini soal kerjaan!" Kataku memberi pengertian.
"Aku yang jelas-jelas sibuk nggak bawa kerjaan! Kamu?"
"Ooh jadi kerjaan aku nggak penting?!"
"Kamu jangan playing victim, Bella! Nggak ada ya! Nggak ada video Call. Aku bakalan recokin."
"Iiih terserah!"
Aku berjalan mendahului Pras. Biar saja. Aku kesal dia itu selalu memaksa. Dia itu selalu harus ditaati. Dan aku mulai bosan menaatinya.
"Denger nggak?" Katanya.
"Apansih?"
"Nggak ada telfon-telfonan sama siapapun! Mau soal kerjaan atau apapun!"
Aku medesah kesal. "Denger eggak?"
Aku diam mengabaikan. Dia malah menarik tanganku. "Kalo ditanya itu dijawab!"
"Iya ih."
"Mana sini hape kamu?"
"Hih kok gitu!!!"
Dia melotot. "Cepet, sini hape kamu! Atau kita nggak lihat sunset."
Dengan terpaksa aku mengoroh tasku. "Iya bentar aku bilang dulu ke pak Bram nggak bisa--"
Dia langsung merebut ponselku. "Dia bukan orang yang harus kamu beri pengertian Bella!"
Dia membentakku lagi. Rasanya aku ingin menangis. Aku benar-benar ingin menangis. Tanpa aku bendung lagi, aku benar-benar menangis.
"A-aku nggak maksud bentak kamu!" Katanya.
Dia pasti malu, aku menangis. Aku juga malu. Tapi nggak kuat. Air mata udah diujung. Aku juga sakit hati dibentak-bentak. Aku kan istrinya.
Beberapa orang yang melihat menunjuk-nujuk Pras. Dia hanya menyengir, dan bilang aku sedang hamil makanya sensitif.
Nih orang ngeselin. Asli.
"Udah sayang. Jangan nangis dong! Iya mas minta maaf!" Katanya Mas? Dia kenapa jadi gini. "Kasihan anak kita, kalo ibunya nangis!" Nih orang ngomong apa?
"Aku mau pulang."
"Nggak jadi lihat sunset-nya?" Tanya Pras.
Aku hanya menjawab dengan tangisan. Dan dia menarikku pulang ke villa. Sesampainua di Villa. Aku masih menangis dan diam di atas kasur sambil selimutan.
Pras dari tadi hanya melihat dengan merasa berdosa. Siapa suruh?
Aku pingin berhenti nangis. Tapi nanti kalo udah berhenti aku bilang apa? Kan malu.
Pras naik ke kasur. Dan mengelus kepalaku. "Nggak usah pegang-pegang!"
Dia melihatku lagi. "Maaf ya? Udah jangan nangis! Nih hape kamu!" Katanya.
Aku segera menarik ponselku. Dengan masih sesegukan, mengetik maaf tidak bisa menghubungi pak Bram nanti malam.
"Maaf ya?"
"Sana!"
"Iya. Ini udah jauh belum?" Katanya diujung tempat tidur.
"Mundur lagi," kataku.
Dia mundur dan terjungkal dari kasur. Sontak aku langsung tertawa, dia mengadu kesakitan.
"Nah gitu dong ketawa," katanya sambil tersenyum.
Seketika aku langsung diam. Aduuuh, maluuuu!