
"Iya ih, masa ya dia jawabannya, 'lks halaman 49 udak aku buletin.' Kan nyebelin." Aku sedang bercerita pertama kalinya aku mengadakan ulangan. Ya, sebagai Guru honorer, memang adanya seperti itu, suka diolok-olok oleh siswa. Padahal aku mengajar benar-benar dari hati.
"Terus-terus?" Kata Pras.
"Ya aku sebellah aku sobek kertas ulangan dia."
"Kasihan tahu, kamu kan bisa tegur," dia membelai kepalaku. "Kan--"
"Kamu kok bela dia sih? Mana bisa yang begitu ditoleransi!" Kataku kesal bukan main. "Atau kamu pas SMA gitu ya sama orang?"
"Bukan gitu Bell, tapi kamu bakalan dianggep Guru killer nantinya. Dan anak-anak nggak akan suka kamu. Mereka bakalan doain kamu nggak masuk, entah sakit atau--"
"Hih kok kamu gitu sih!! Udah ah aku mau tidur nggak!" Kataku langsung menarik selimut. Dia mengelus tanganku, langsung kutepi, "nggak usah pegang-pegang."
Setiap kali aku dan dia bercerita entah kenapa, ujung-ujungnya pasti bertengkar. Tapi dia nggak kapok untuk ajak aku pillow talk. Walau ujung-ujungnya aku bakalan marah-marah.
Atau dia sengaja bikin aku marah?
"Kamu udah makan belum?" Dia bertanya dengan nada lembut. "Makan dulu yu," ajaknya. Hih dia nggak nyadar apa, barusan bikin aku marah.
Tapi aku laper sih. Tapi gengsi.
"Aku nggak laper," jawabku singkat.
"Ayo makan dulu, nanti lagi ngambeknya!" Katanya.
Yaudahlah aku ngalah sama perutku. "Yaudah!" Aku mendahuluinya. Turun dari kasur dan turun dari tangga. Dia mengikuti dari belakang.
Omong-omong ibu mertuaku, dia itu ibu-ibu gaul. Sosialita kelas atas. Yang dipamerin tas yang nggak masuk akal harganya. Yang nggak mungkin aku beli beberapa tahun lalu. Tapi tahun-tahun ini sih, kayaknya kebeli. Ntar aku porotin dulu uangnya Pras.
Aku makan dengan menu yang cukup baik setiap harinya. Ganti-ganti menu juga tentunya. Tapi aku belum pernah menyentuh dapur di rumah ini.
Nanti kupikir-pikir masakin Pras. Kalo dia baik.
"Omong-omong, yang kamu udah minta maaf belum sama Bi Inah?"
Aku yang sedang menyuapkan nasi langsung berhenti. Kutaruh lagi di mangkuk. "Kamu bisa enggak sih nggak bikin aku kesel? Sehari aja."
"Ih kok kamu disuruh minta maaf malah begitu. Nih, Bi Inah itu kerja di--"
Aku langsung memotong, "Kamu Belain aja terus. Ini kan cuma perkara manggil kamu doang! Apa jangan-jangan--"
Gilirian dia yang memotong. "Kamu nih, bukan perkara itu, tapi perkara kamu ngelawab orang tua! Ngerasa nggak kamu?!" Katanya.
"Lho kamu kok nyolot sih! Udahlah aku nggak laper. Kamu itu bikin aku naik darah terus!"
Kesel aku, kalau dia sudah mulai ngatur-ngatur. Memerintahkan aku ini dan itu. Aku memilih masuk kamar tamu daripada kamar kami. Aku menguncinya. Bodo amat dah. Paling pagi-pagi dia marah-marah karena aku tidur di sini.
Salah sendiri juga dia ngajak ribut terus. Kan aku juga sudah dewasa. Apa jangan-jangan dia menganggapku anak kecil karena umur kita terlampau jauh.
Aku melemparkan tubuhku ke kasur. Dan mulai mengistirahatkan tubuhku yang lelah.

Bangun-bangun aku merasakan pelukan seseorang di pinggangku. Aku lupa dia pemilik rumah ini dan punya seribu kunci serep. Aku mengeluh kesal padanya, dalam hati.
"Bangun mau subuhan!"
Dia ikut bangun dan akhirnya kita subuhan bersama seperti biasanya. Dia langsung mandi. Meskipun hari Sabtu, Pras memang selalu mandi pagi. Dia sudah terbiasa. Dan dia juga termasuk orang yang berseka. Kadang aku malu sendiri.
Dan aku kembali ke kamar kami, aku juga mandi. Setelah mandi aku langsung memakai seragam pramuka.
Oke, jadi di SMA yang aku ajar hari sabtu dikhususkan prakuka untuk kelas sepuluh. Dan rata-rata yang mengajar guru honorer. Sementara untuk yang sudah berumur, rata-rata mereka adalah pembina pramukanya.
Jadi pramuka adalah eksul wajib. Dan memiliki nilai sendiri di dalam rapot.
Kembali ke sini, aku tidak menyiapkan pakaian untuk Pras. Sengaja, karena aku malas.
Dia masuk kamar hanya mengenakan handuk. Dan melihatku yang sedang memakai krim, dia langsung protes. "Baju aku mana?" Katanya.
"Cariin aja sama bi Inah," kataku.
Mukanya langsung kesal dan membawa baju dalam lemari. Aku biarin aja. Nggak papa hari ini nggak dianter. Duitku kan banyak. Naik gojek bisa. Hitung-hitung membantu penghasilan orang lain. Ya gak?
Aku langsung membawa tas, dan memakai kerudung instan. "Assalamualaikum," kataku, sambil mengulurkan tangan untuk salim.
"Nggak barengan aja brangkatnya?" Tanyanya
"Emang kamu mau kemana?" Aku bertanya balik. "Kan sabtu nggak ngantor."
"Iih udah tua juga, masih ngumpul-ngumpul gitu," protesku. "Nggak pantes tahu!"
Dia hanya diam dan memakai baju santainya. "Kamu suka deket ya sama si Bram-Bram itu?" Tanyanya pengalihkan pembicaraan.
"Kan rekan kerja!" jawabku nyolot.
"Nanya doang kok! Biasa aja, kayak yang ketahuan selingkuh."
Aku mendengus kesal. "Jadi dianter nggak sih?"
"Jadi, tenang." Dia membawa kunci motor. "Sekalian kenalan sama Bram."
"Iiih ngapain kenalan-kenalan!" Sewotku.
"Kali aja cocok--"
Aku langsung melotot.
"Jadi temen," katanya sambil menyengir.
Dia mengecup bibirku. "Udah ah jangan melotot-melotot takuttt!" Katanya.
Hih kesal bukan main akutu. "Yaudah ah ayo lama kamu mah."
"Sabar cantik."
Aku mengembungkan pipi sambil mendorong Pras agar secepatnya keluar. Aku setuju dan lebih suka menggunakan motor. Lebih cepat. Dan nggak ribet.
Kalo nggak ujan.
"Yang pegangan," katanya.
Aku memeluknya. Bukan malu-malu. Karena kami bukan anak baru gede yang malu-malu dipeluk dan memeluk pacarnya.
"Yang mampir beli bubur dulu enggak?" Kata Pras.
"Enggak usah, nanti suka dibagi nasi kotak kok."
"Oke," katanya.
Aku mengeratkan pelukanku. Sejujurnya, aku bukan orang yang romantis. Jauh dari kata romantis seperti itu. Maklum jam terbangku dalam percowokan itu nggak luas.
Karena pada akhirnya siapapun yang pernah memacariku, dipaksa untuk berpisah. Atau malah cowok itu yang ingin berpisah, karena dia malu memacari seorang anak haram.
Sepertiku.
Sesampainya disekolah, Pras mengantarku sampai ke ruang guru. Semua orang melihat ke arahku. Murid-murid bahkan menggodaku.
Bu Anin dengan jelas menyipitkan mata ketika aku sampai di pintu masuk ruang guru.
"Mas aku ngajar dulu," kataku dengan menambah embel-embel Mas.
Dia tersenyum senang. "Iya mbak!"
"Hihh!"
Dia tertawa. Saat Pras berbalik, dia menemukan Bram. "Pak Bram?" Tanya Pras.
"Iya betul," jawabnya. "Dengan?"
"Pras suami Bella. Senang bertemu dengan anda, kalau ada waktu boleh ngopi bareng."
Benar-benar si Pras ini. Siap-siap nanti aku marahin dirumah.
"Tentu," jawabnya.
"Bell, mas pulang dulu," kemudian mengalihkan pandangan pada pak Bram. "Pak saya duluan."
Setelah dia keluar dari sekolah. Pak Bram menyapaku, "Suami kamu--"
"Maaf pak, waktu liburan di Bali, waktu Pak Bram nelfon. Kami sempat cek-cok. Dikiranya ada apa-apa sama bapak. Maaf banget."
"Oooh, ntar saya jelasin," katanya.
Aku hanya mengangguk kemudian menyimpan barang-barang dimejaku. Untungnya hanya ada Bu Anin, dan guru-guru muda lainnya.
Semoga ini tidak akan menjadi bahan obrolan. Bahwa sebenarnya aku sudah sangat lelah, karena seumur hidupku, aku terus-terusan menjadi bahan pembicaraan.