
Huft, sampai juga pada hari ini. Dimana aku akan resmi menjadi istri orang. Aku masih nggak nyangka. Secepat ini aku melangkah ke pelaminan, dengan orang yang bahkan aku kenal sekilas.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Bella Rahma Chandra binti Restu Chandra dengan mas kawin seperankat alat salat dan uang sepuluh juta, dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulilah, selamat sekarang Nak Bella sah menjadi istri Pras," kata wali hakim yang menikahkanku.
Demi Tuhan hatiku berdenyut sakit ketika yang menjabat tangan suamiku bukan ayahku. Entah dimana sekarang dia, entah dengan siapa, bahkan Om Rafi, adikya sendiri tak tahu dimana keberadaan Tuan Restu itu.
Nenek dan kakek? Mereka bahkan tidak mau datang ke acara ini. Aku bukan cucu mereka. Dan mereka bersemangat menyembunyikan ayahku, yang katanya sudah bahagia dengan istrinya.
Mereka bahkan tidak mengizinkanku tahu bagaimana rupa langsung ayahku. Dan itu semua disalahkan padaku, Si Anak yang lahir tanpa tahu diri. Yang lahir, tanpa restu.
Betapa malangnya Bella ini.
Aku tidak menangis sama sekali ketika sungkem. Sementara kulihat air mata haru dari Prad mengalir di pipinya. Aku hanya melirik kemudian memilih diam. Bibiku tersenyum ketika melihatku mencuri pandang, aku segera merubah raut wajahku menjadi kesal.
Sebagai ganti karena tidak ada resepsi, Pras tetap mengadakan makan-makan, dan aku sangat menyesali untuk kali ini.
"Kenapa sih nikahnya musti sembunyi-sembunyi? Apa jangan-jangan udah isi?" Salah satu celetukan dari tante Pras yang berambut pirang palsu.
Pras dan aku hanya diam. "Ya namanya juga perempuan miskin, sengaja pasti tuh, biar dinikahi Pras!" Itu kata tante Pras yang berambut ungu.
"Kebetulan saya memang sudah isi," kataku dengan lantang semua menatapku tak percaya. "Iya isi nasi tadi subuh, makanya saya kenyang dan memilih undur diri!" Kataku langsung keluar dari meja makan.
Semua orang bungkam. Termasuk tante Petiya, termasuk Pras yang mengejarku tanpa membelaku. Bahkan bibi dan paman hanya bisa diam.
"Hei, hei," kata Pras menarik tanganku.
"Lepas!" Kataku. Aku langsung memasuki kamar dan bersiap menutup pintu, namun kaki Pras menjepit pitu sehingga kepalaku masih bisa terlihat. "Apa?!"
"Kan kamu yang mau acara seperti ini, Bella." Kata Pras.
"Oh jadi salah aku?! Trus ngapain kamu undang keluarga besar kamu yang katanya berpendidikan tinggi tapi sayang nggak punya etika!"
"Bella," suara Pras melemah.
"Aku mau istirahat! Nanti malem kamu tidur di kamar lain! Aku mau tidur sama Ara!" Kataku menutup pintu sebagai final dari pertengkaran pertama setelah akad.
Aku mengunci kamar kemudian membantingkan diriku sendiri ke atas kasur yang sudah dihias sedemikian rupa.
Aku memejamkan mata, ini baru permulaan. Kenapa aku nggak menyadari ini sejak awal? Bahwasaanya, dia orang berada, dan aku hanya orang biasa.
Aku mulai terisak. Ternyata, ini cukup menyebalkan, dan aku terlelap setelah isakan yang cukup dramatis.
Aku memang berlebihan.
***
Aku sudah mengganti pakaianku, hanya menggunakan kolor dan baju longgar. Aku keluar dari kamar, dan mencari keberadaan Ara. "Raaa?" Teriakku.
Tante Petiya datang menghampiriku. "Bella mama mau bicara, boleh?"
Haduh tante ini. Memang sih mama mertuaku seperti fine-fine aja ketika aku menikah sama anaknya, tapi aku ngerasa dia juga menjaga jarak dariku. Sepertinya memang dia juga kurang sreg denganku.
"Apa Ma?" Tanyaku.
"Tentu, kan aku memang bukan yang terbaik. Aku sama sekali tidak masalah kok, kalopun, kami besok harus berpi--" belum ucapanku tersampaikan. Tante Petiya sudah menyela.
"Jangan katakan itu Bella, mama mohon. Pras sangat menyanyangi kamu."
Dia tidak tahu saja aku dilamar secara ramdom oleh anaknya. "Izinkan Pras tidur bersamamu ya, malam ini. Kasihan dia."
"Gimana nanti aja Ma," kataku.
Aku ingin memutar kedua bola mataku, andaikan dia bukan orang tua. Aku hanya tersenyum, kemudian meneriakan, "Ara, Ra kamu dimana?" Aku berdiri dan berjalan menuju tangga.
"Ara udah pulang," seseorang dari tangga datang. Ya siapalagi kalau bukan suami-ku.
"Pasti ulah kamu!" Kataku. Dia tiba-tiba saja menarik tanganku dan membawa ke kamar. Aku panik bukan main, aku segera melepaskan tangaku. "Nggak usah pegang-pegang."
"Denger ya Bell, kamu istriku sekarang. Tahu nggak kamu itu harus sopan sama suami kamu, biar suami kamu juga dihargai orang lain."
Aku cemberut dan berlari menuju kasur hanya untuk membawa selimbut kemudian duduk di sofa. "Aku ngantuk lagi. Aku tidur di sini."
"Nggak!" Kata Pras.
"Kamu tidur di sini, di kasur yang sama. Atau enggak aku seret kamu ke sini terus aku iket." Katanya.
"Itu namanya KDRT!"
"Dan kamu harusnya tahu kamu lagi bikin dosa!" Kata Pras.
Dia benar-benar keras kepadaku. Dan aku benar-benar kesal kepadanya. Akhirnya aku mengalah dan membaringkan diri di kasur. Dia ikut membaringkan diri, kemudian menarik selimut kami.
Aku membelakanginya, aku memberinya punggung. Aku gugup bukan main. Sungguh kali ini aku nggak berbohong aku takut dia macam-macam. Walau boleh sih sebenernya tapi aku nggak mau.
Dia menarik tubuhku, kemudian dia memelukku. "Hei, aku nggak akan melakukan apapun, selama kamu belum mau. Jangan takut," katanya.
Aku hanya berdeham. Kudengar dia mengecup punggungku beberapa kali. Bukan aku tidak mau berontak, aku hanya takut, gugup dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Kamu denger nggak?" Tanyanya.
Aku kembali berdeham. "Bell, inget kamu sekarang istri aku, harus nurut. Selagi aku nggak ngerugiin diri kamu, kamu harus ikutin mauku."
Aku kembali berdeham. "Jangan hmhm doang jawabannya. Kamu bukan Nisa Sabyan," katanya sambil terkekeh.
"Iya ih, udah aku mau tidur," kataku.
"Yaudah tidur," katanya. "Selamat malam istriku." Dia kembali mengecup punggungku.
"Lepasin aku nggak biasa tidur sambil dipeluk. Nggak enak. Nggak bebas!" Kataku beralasan.
"Aku juga nggak biasa tidur sambil meluk. Tapi mau dibiasain mulai dari sekarang."
Aku mendengus kesal akhirnya aku memilih tidur. Benar-benar tidur. Yang kutahu ternyata, tidur sambil dipeluk itu nyaman.
Atau pelukan Pras yang membuatku nyaman?
Aku tidak tahu percisnya. Tapi barang kali aku sedang bahagia? Lalu kenapa aku bahagia hanya karena Pras memelukku.
Samar-samar kurasakan lagi kecupannya, "Hei, selamat tidur istriku."
Dan aku benar-benar sudah gila, karena merasa nyaman pada Pras. Yang awalnya aku tolak memtah-mentah.
Apakah aku harus percaya? Bahwa cinta datang karena terbiasa? Tidak, itu tidak boleh terjadi.