
Pendarahan yang cukup berisiko. Bahkan dokter menyarankan untuk mengugurkan kandungan. Dia sudah memberiku pil mengeluarkannya.
Dan aku menangis, namun Pras memilih membawaku ke dokter lain. Yang untungnya memberiku obat penguat janin. Bukan malah membuangnya, hanya karena si janin sangat lemah.
Konsekuensinya aku harus bedrest total. Benar-benar tidak boleh turun dari kasur. Dengan infusan yang mengalir di tanganku. Pras menyewa perawat untuk benar-benar merawatku.
Dan, akupun tidak kuat hanya untuk duduk. Jadi aku benar-benar hanya tidur. Selama seminggu, makan dengan rasa yang pahit. Aku memaksakan makan walau akhirnya aku muntahkan lagi.
Pras juga menjauhkan segala informasi tentang Bram dan keluarganya, bahkan aku tidak boleh memainkan ponsel. Dia benar-benar membuatku fokus pada bayi kami.
Dia membelikanku buku-buku. Dia membacakannya setiap malam. Dan aku akan terlelap. Dia akan menciumi perutku saat aku sudah mulai menangis. Aku benar-benar merasa dimajakan.
"Pras aku mau stoberi," kataku. "Yang asem."
"Tapi kamu ada asam lambung..."
"Tapi pingin nanti dedek ileran," selalu begitu senjataku.
"Gapapa ileran. Yang penting sehat. Daripada, kenapa-napa. Udah nggak usah aneh-aneh dulu, Bell."
Aku memajukan bibirku memberitahunya aku kesal bukan main. Dan membalikan badan. "Yaudah ngambek aja. Aku nggak bakalan luluh ya, Bell."
Kesel banget. Kalo dia udah so tegas. Aku nggak suka. Aku nggak suka diatur-atur. Nggak suka diperintah.
"Hidup tuh harus tahu aturan!" Katanya seolah membaca pikiranku. "Jangan suka mikirin aturan dibuat untuk dilanggar. Itutuh nggak ada dalam kamus aku."
Semakin kesal. Entahlah, aku selalu kesal ketika dia menceramahiku. Jadi aku memilih untuk diam saja.
"Bell, nanti nama anak kita siapa? Aku yang namain ya?" Katanya. "Kan aku yang bikin."
"Iiiih nggak ya! Kamu pasti nggak bisa kasih nama anak, nanti nora!" Aku membalikan badan. "Aku yang kasih nama. Karena aku yang lahirin."
"Iiih kok gitu, aku mau kasih nama anak kita--"
"Nggak mau! Aku yang ngasih nama pokoknya kamu nggak boleh ikut campur! Nanti kalo anak kedua nggak papalah, tapi karena ini pertama. Aku yang kasih nama."
"Jadi kita rencana punya anak berapa nih?" Tanyanya.
Dasar Bella. Pake ngomong anak kedua. Kan dia langsung senyum-senyum tuh. Aku mendelik kesal melihat ekspresi wajahnya. "Dua anak lebih baik." Kataku.
"Aah, aku kira bakalan banyak!" Katanya.
Aku mengangkat bahu. "Satu aja gini. Kamu mau gitu liat aku sering-sering infusan gini?"
"Ngomongnya! Minta dicium!"
"Dih aku nanya Bukan minta dicium bambang!"
Dia menyengir. "Omong-omong aku mau kasih nama... Vito."
"Tuhkan, mainstrem banget sih kamu. Nggak kreatif."
"Trus siapa dong?"
"Aku mau kasih nama dia, Eeeh, dia cewek apa cowok?" Iya juga kami nggak tahu jenis kelaminnya. "Main Vito-vito aja, kali keluar cewek gimana."
Dia nyengir. "Aku suka tahu..." katanya random.
"Suka apa? Suka anak cewek namanya Vito? Sadar ai kamu." Kataku kesal.
"Iiih bukan itu," katanya dengan cengiran khasnya yang emang harus akui suamiku ganteng maksimal. " aku suka kamu cerewet dan banyak perubahan. Walau masih galak," katanya, menoel daguku.
"Gausah colek-colek gitu geliiii!" Aku mengusap bekas colekannya di daguku.
Dia hanya tertawa. Aku nggak tahu sih percisnya ini bawaan hamil. Apa aku memang sudah jatuh hati betulan ke dia. Tapi nggak apa-apa deh, toh, aku juga berencana nikah sekali doang. Nggak ada kawin-cere-kawin-cerean.
Omong-omong aamiinin dong.
"Pras, gimana tentang ayahnya Bram," sungguh aku nggak berani bilang itu papaku. Terlalu asing.
Dia menatapku sejenak. "Udah nggak usah dipikirin, toh dia juga nggak mikirin kamu. Mening mikirin aku yang mikirin kamu..."
"Apa sih bucin banget!" Kataku meninju dada bidangnya. Namun setelahnya aku peluk. Enaknya wangi Pras. Aku suka banget kalo udah ndusel-ndusel gini.
Aku tertawa. "Otak aku mah isinya semua, duit Pras..." giliran dia yang tertawa. "Aku sayang duit kamu..." kataku.
Dia tertawa. "Itu juga duit kamu kok..."
"Iya kan uang suami uang istri." Duh sayangnya sama suami kayaku ini.
Dia mengangguk. Dia benar-benar bisa mengalihkan pembicaraan. Aku baru tahu, bahwa rasanya punya suami sangat-sangat meyenangkan, ketika kita ingin bermanja-manja dengan pasangan. Nggak perlu takut orang liatin. Mojok semau kita.
Nggak enaknya ketika udah bertengkar. Mau nggak mau kita bakalan tetep liat muka satu sama lain. Tapi, dia itu tipe laki-laki yang pantang minta maaf.
Mungkin karena dia emang tidak punya salah. Karena yang selalu cari gara-gara adalah aku. Hehe.
"Kalo udah sembuh aku mau belanja."
"Beli aja sama mallnya," katanya enteng.
Mata ijoku langsung keluar. "Serius?"
"Serius. Manusia bisa hidup cuma dengan satu ginjal kok."
Aku tertawa. Dan menepuknya. Dia malah menepuk-nepuk pundakku. "Bobo ya udah malem kasian dedek. Nanti dalem mimpi minta mall ke aku. Aku kasih."
"Hm. Kamu Nih," kataku. Dia masih menepuk-nepuk pelan. Sampai aku mulai terlelap. Dan kurasa ranjang kami kosong. Aku sedikit terbangun Pras tidak ada disampingku. Tapi aku terlalu mengantuk untuk merengek. Samar-samar kulihat dia menelpon di balkon.
Tapi aku tidak bisa membedakan. Apa ini mimpi atau nyata. Tapi jika ini nyata, pertanyaanku mengapa dia harus menyuruhku tidur untuk menelpon seseorang.

Entahlah ini sudah masuk hubungan toxic atau tidak namun ketika dia mandi pagi-pagi sekali. Aku mengecek ponselnya. Memastikan semalam mimpi atau bukan. Ternyata bukan mimpi. Dan melihat log panggilannya. Jelas dia tidak menyimpan nomor itu.
Untunglah, Pras selalu menyimpan pulpen di sebelah kalender yang terletak di pinggir meja lampu. Dia memang hobi mencoret-coret kalender. Atau sebenarnya dia pelupa. Aku juga tidak yakin.
Aku segera menuliskan nomor ponsel itu di betisku. Dengan kepala kleyengan. Aku mengecek berulang kali. Nomor itu. Sampai Pras keluar aku menyembunyikan pulpen di balik selimbut. Sedangkan aku membuka aplikasi youtube, dan pura-pura mencari rekomendasi make up.
Dia santai memakai baju. Aku santai menonton Youtube Suhay Salim.
"Aku selalu kalah sama si Suhay itu, udah dicuekin aku kalo kamu nonton Suhay." Katanya.
"Apa sih?" Kataku. Aku juga terbawa suasana sih.
"Itu... aku mau berangkat kerja. Kamu hati-hati ya dirumah, sini hapenya, nanti lagi. Aku udah siang..."
Saatnya aku minta hapeku. "Siniin dulu hapeku..."
"Nggak ada ya, aku jauhin dulu kamu sama hape. Pokoknya!"
Aku kesal bukan main. Gimana aku bisa cek ini nomor siapa coba.
"Ninaaa... jagain ibu ya, saya mau kerja dulu..." katanya pada perawat yang sudah stand bye, di depan kamar kami. Sejak tadi pagi. Dia memang hanya dipekerjakan dari jam 6-sampai Pras pulang.
"Baik Pa," kata Nina sambil berjalan ke arahku.
Aku tahu siapa yant harus kumintai tolong. Aku tersenyum. "Nin kamu mau nggak aku beliin make up semau kamu?" Tanyaku.
Matanya langsung berbinar. Dia mengangguk. "Tentu mau bu..."
"Ambilin dompet aku di laci meja belajar." Dengan gesit dia membawa dompetku. Aku memberikannya kartu kredit. "Tapi aku pinjam hape kamu..."
Dia kembali mengangguk. "Iya bu ini..."
"Sip. Silahkan belanja semau kamu..." kataku.
"Tapi ibu?" Katanya dengan tidak, enak.
"Alah ditinggal tiga jam doang. Aku mau yotube-an. Gantiin infusnya doang aja. Udah gitu aku mau tidur."
"Siap bu!" Perempuan dan make up. Perempuan dan belanja. Terlalu mudah untuk dikendalikan.
***