HE BUYS ME

HE BUYS ME
BAB 10 - MORNING ATTACK



Sejak kejadian kemarin. Aku langsung tidur. Dan pagi ini aku bangun dengan keadaan yang masih sama. Malu bukan main. Jujur saja aku nggak pernah nangis dihapadan pria manapun.


Aku melihat wajahnya, yang tenang ketika hembusan napasnya mulai teratur. Ya kali dilihat-lihat gini, dia ganteng juga sih. Kenapa mau ya jadi suamiku.


Aku terkikik geli. Kuusap pipinya. Kasar, karena bulu-bulu diwajahnya mulai tumbuh. Kalo nggak gengsi, aku bakalan minta dia brewokan. Tapi gengsi ah. Nanti dia baper. Aku colek lagi.


"Diem Bell ngantuk," eh, dia bangun.


"Bangun! Salat subuh dulu, ntar tidur lagi."


Dia berdeham. Sementara aku langsung mengambil wudhu. Pras tak lama menyusul, dan menjadi imam salat. Setelahnya aku melipat mukena.


"Aku pagi ini mau ke pantai. Mau liat sunrise." Kataku padanya yang kembali menuju kasur dengan masih menggunakan sarung. "Kalo mau tidur. Ya udah tidur aja lagi." Kataku dia berdeham.


Aku mengganti baju. Ya masa ke pantai pakai piyama. Aku membuka belanjaanku dan membawa kain pantai sebagai rok. Kemudian menggunakan tanktop hitam, sebagai baju.


Ya sekalian jemur dikitlah. Kan matahari sebelum jam sembilan itu sehat. Aku membawa ponsel. "Aku pam-"


"Eeeh, ke mana itu?" Tanya Pras.


"Kan udah dibilang. Mau ke pantai!"


"Pake gituan? Ganti!" Katanya.


"Pras!" Protesku.


Dia memandangiku. Aku kenal pandangan yang tidak bisa ditolak. Dengan kesal aku membuka tanktop dengan kasar. Tanpa sadar Pras merubah pandangannya.


Dia langsung berdiri. Mengukungku. Aku diam seribu bahasa. Dia membuka kain pantainya. Dan mencium bibirku. Aku terkejut bukan main.


Namun aku menerimanya.


Dia mengendongku ke arah ranjang. "Bell," suaranya serak.


Aku tidak menjawab. "Jangan menolakku," katanya.


Aku tidak tahu harus apa. Ya Tuhan gugup banget. Aku memilih diam dan menerimanya. Aku lupa, tentang sunrise, dengan berjemur. Hanya nama Pras dalam otakku sekarang.


Aku merasa aku sudah gila.



Setelahnya aku kesal bukan main. Karena ternyata sorenya harus pulang. Aku tidak bisa menikmati Bali. Karena ada telefon mendadak, mengatakan Pras harus berada di kantor pukul lima sore. 


"Kan nanti masih bisa ke sini lagi," bujuknya.


"Iya dong, bisa, nanti ke sininya sendiri nggak usah ajak-ajak!" Kataku.


"Iih kok gitu," katanya.


Aku mengambil hedseat di dalam tasku, dan memakaikannya. Dia hanya mengusap kepalaku. Kesal aku bukan main.


Aku memilih tidak memperdulikannya. Aku berselancar di dunia maya. Dan melihat suatu postingan yang membuatku berhenti.


Sebuah foto candid Bram, sedang meminum kopi. Dengan caption, "Cinta pada pandangan pertama nyata adanya. Namun, cinta pertama tak pernah berhasil, juga nyata adanya."


Iyakah? Aku cinta pertamanya? Apa postingan itu untukku? Aku segera menutup sosial media.


Bukan ge-er. Tapi aku merasa dia dan aku memang ada perasaan yang sama. Perasaan yang mulai kuruntuhkan. Untuk pria disampingku.


Aku juga percaya cinta pada pandangan pertama. Ketika bertemu dengannya. Namun yang namanya bukan jodoh. Masa aku harus memaksa?


Tanpa kusadari, Pras mencolek pipiku dan membuka headsetku. "Kenapa sih ngelamun, mikirin yang tadi?"


Mataku langsung membulat sempurna. "Iya yang tadi." Dia langsung tersenyum, langsung kutambahi, "Sunrise dan sunset yang gagal," sindirku.


"Iih nanti ya janji. Liburan sekolah, nanti aku bawa ke sini lagi."


"Nggak apa-apa. Nanti aku ke sini sendiri. Nggak bakalan bilang-bilang," kataku.


"Itu bilang!" Katanya.


"Iya nanti!"


"Itu udah bilang!"


"Yaudah nggak jadi. Nanti aku cari tempat lagi!"


Dia tertawa dan mengecupi tanganku. Aku langsung menariknya. "Iiih malu tahu, diliat orang."


"Biar orang iri."


"Nora."


"I love you too."


Aku langsung diam. Dia kembali mengecup tanganku. Aku membiarkannya. Beberapa orang mencuri pandang padaku. Biarlah, dia tuh nggak bisa aku larang. Semaunya aja.


"Bell, kamu mulai beli kerudung, ya!" Katanya.


"Iiih-"


"Eeeh, nggak ada bantahan. Nanti aku minta tolong Ara anterin. Kalian belanja sepuasnya! Asal baju kamu yang tertutup dan pake kerudung," katanya. "Aku nggak akan ngelarang kamu pake celana, selagi celana bahan."


Kenapa aku diam saja? Bukannya aku tidak suka diatur. Dia mengelus rambutku. "Aku suka kamu," katanya. "Suka kamu yang nurut." Dia menyender di bahuku.


Aku merasa seorang istri sekarang.


"Beliin aku minum," kataku. Alasan padahal udah nggak nyaman jadi tontonan.


"Iya bentar. Tunggu di sini!"


"Iya."


Dia membelikanku minum. Aku menatap punggungnya, hatiku agak menghangat, mengetahui itu punggung suamiku.


Suamiku.


Suamiku.


Suamiku.


Aku terkekeh. Apa aku mulai punya rasa? Ya, wajar sebenarnya, karena hati perempuan memang lembut, dan mudah terbuai. Tapi gengsiku masih menang di atas rasa yang aku miliki.


Aku membuka kamera dan memotretnya dari belakang. Entah ke apa aku suka melihat punggungnya.


Dia kembali membawa air mineral dingin. Aku menerimanya. Entah kenapa suasana jadi canggung.


Dia menggengam tanganku kemudian disembunyikan ke kantong jaketnya. Pesawat masih delay. "Tiduran sini," katanya menepuk pahanya.


Aku menatapnya. Dia membimbingku, aku kemudian menidurkan diri. Dia mengusap kepalaku. "Jangan malu. Kan aku suami kamu. Masa malu punya suami ganteng."


Aku langsung cemberut. Dia terkekeh. "Kamu tuh cantik banget."


Aku teringat dengan kata-kata ibu mertuaku. "Pras?"


"Iya," sahutnya.


"Kata mama Peti. Kamu nasir aku pas umur aku 15. Kok bisa?" Tanyaku. Entah, keberanian itu muncul dalam diriku.


Dia mengerutkan dahi. "Mama bilang gitu?" Kenapa ya, apa mama Petiya hanya mengarang cerita, supaya aku terus dengan Pras? Mengingat ekspresi Pras yang tidak sesuai dengan ekspektasiku.


"Iya. Atau mama kamu ngarang?" Kataku.


Dia langsung mengeleng. "Masa mama ngarang. Iya kok. Aku suka kamu dari kamu umur 15."


Tuh ini bukan ekpresi yang aku bayangkan. "Kok bisa?"


"Bisa dong! Kan aku mencium bau-bau jodoh aku." Dia menyengir.


"Hih aku serius!"


"Hih aku juga serius!"


Aku memukul lututnya. "Kamu nih. Aku tanya kok bisa?"


"Cieee kepooo!"


"Au ah!"


Dia malah mencium pipiku. "Hiiih. Nggak boleh di tempat umum ah, malu." Aku mengusap bekas ciumannya di pipiku.


"Dikamar boleh, berarti?"


"Hiiih!"


"Sabar ya, pesawatnya lama!"


"Apaan sih kamu nih suka melantur kalo ngomong!"


Dia hanya tertawa. Aku masih bingung dengan semuanya. Apa mamanya benar-benar berbohong? Untuk membuatku terus bersama Pras?


Segila-gilanya, aku pasti menginginkan pernikahan satu kali dalam seumur hidup. Dan dia kaya. Bibi dan pamanku juga ikut kaya mendadak.


Kemudian, apa yang membuatku harus meninggalkannya. Kenapa begitu khawatir.


"Jangam melamun, nanti dipesawat kucium!"


"Hihh kamu nih omongannya udah nggak bisa dikontrol!"


Aku bangkit dan memilih mendengarkan musik. Sementara Pras memilih melihatku.


"Kamu pemandangan paling bagus."


Samar-samar kudengar dia bilang begitu.


Dan


Samar-samar


Aku


...tersenyum.