HE BUYS ME

HE BUYS ME
BAB 1 - PEMAKSAAN



Bella!" teriak seseorang di balik pintu kamarku. Ya, dia bibiku, yang mengurusku hingga detik ini, istri dari adiknya papa.


Jangan berpikir dia baik, jauhkan segala pemikiran itu. Kuberi tahu, bahwa hidupku tidak jauh dari drama Cinderella. Bedanya aku bukan si pengalah seperti Cinderella itu, aku benci mengalah.


Menangis? Tidak ada dalam kamusku. Mungkin dulunya aku keturunan Cinderella yang menikah dengan Batman. Tapi, tunggu! Apa orang tuaku pernah menikah? Bahkan aku sangat tidak yakin. Jika mereka pernah menikah, kenapa aku di sini? Di neraka dunia ini?


Dengar-dengar dari cerita sih, papa aku menitipkanku pada Paman Rafi dan Bibi Dahlia, lalu dia pergi menghilang tanpa jejak. Aku bahkan tidak tahu rupanya seperti apa, dan Mama, ah, sosok yang tidak pernah bisa kubayangkan, yang jelas, dia sosok yang jahat, menurutku.


Dan di manapun mereka berada, aku sangat membenci mereka. Tidak ada yang pernah mencariku, sekaligus menyakinkanku bahwa aku ini adalah anak hubungan gelap. Tapi yang perlu kalian tahu, aku bukan anak haram, guru agamaku bilang semua bayi terlahir suci. Dan aku punya cita-cita; aku tidak mau anakku terlahir sepertiku.


Cukup hanya aku.


"Bella, kamu nih kalau dipanggil nyaut kek! Tuh ada tamu!" kata bibiku.


Aku mendengus. "Memangnya siapa yang dateng? Seumur-umur baru deh ada yang nyariin," kataku dengan kesal.


"Lihat aja, nggak usah banyak tanya, berisik!" kata Bibi.


Aku bangkit dari ranjang dan dan berjalan menuju ruang tamu. Bukan, bukan baru bangun pagi, melainkan bangun dari tidur sore, dan sekarang sudah lewat magrib.


Aku menyipitkan mataku menatap pria itu, aku tidak mengenalinya sama sekali, "Kenapa cari saya yah? saya rasa nggak punya hutang." Aku duduk  di sofa sedangkan si tamu memerhatikanku begitu intens. "Kalau cuma mau ngibul jangan ke sini mendingan, kami tuh keluarga miskin," kataku dengan nada yang tidak ada sedih-sedihnya.


"Saya ke sini memang cari kamu, tapi bukan mau nagih hutang tapi mau melamar kamu!" katanya dengan nada sungguhan.


Mataku yang masih ngantuk langsung terbuka, dan aku nyaris jatuh dari sofa. Tapi, tidak lama, aku tertawa. "Hahaha, ada orang gila ke sini, Bi," kataku pada bibiku.


Bibi yang memberikan air putih untuk si tamu. Ara—anak tunggal di keluarga ini masih sibuk dengan tugas kuliahnya, dan juga paman yang baru akan pulang jika sudah jam 9. Dan hanya aku juga Bibi yang tinggal di rumah, karena kuliahku yang sudah selesai beberapa bulan yang lalu.


"Kok orang gila sih? Saya serius nih..." katanya.


"Duh Mas, saya lagi bingung nih cari kerja di mana. Jangan bikin saya tambah pusing deh," kataku sambil mengaruk rambut. "Kalau ini acara TV, sebaiknya jangan ke rumah ini, Mas, saya lagi nggak mood becanda nih..." kataku.


Bibi yang tengah sibuk memerhatikan kami tiba-tiba bersuara. "Kamu kerja apa?"


Pria itu tersenyum. "Saya penganguran, tapi saya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pewaris tunggal Hilma Company," katanya dengan wajah sombong.


Cih, orang kaya. "Denger Ya Mas—"


"Mending sama Ara aja, anak tante, cantik lho," kata Bibi menyela. "Nikahnya besok juga boleh!"


Pria itu tersenyum. "Saya hanya ingin menikahi orang yang saya ingin nikahi, tante." Senyumnya lembut banget tapi sayang sombong nih orang.


"Mau sama Bella juga boleh kok!" Kata bibinya dengan semangat.


Aku tersentak dengan apa yang Bibi katakan. What the **** aku dan... pria aneh di depanku? Big No, come on guys, gimana kalo dia itu orang gila dan lagi nyari orang buat jadi tukang ngurus hidupnya sampai dia mati? Atau dia menjualku ke kehidupan malam? Atau malah membawa organ dalamku seperti, jantung, ginjal dan hati? Oh, itu tidak boleh sampai terjadi.


"NGGAK! Saya memang miskin Mas, tapi—"


"Jangan dengerin dia, saya walinya di sini," kata Bibi.


Aku mengumpat dalam hati. Bibi menyebalkan, dan aku tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Omong-omong soal Hilma Company, itu adalah perusahan Fashion di bidang pakaian yang berkelas, mulai dari pakaian Olahraga yang berbahan bagus sampai Piyama yang berhaga ratusan juta. Tapi, bisa saja dia berbohongkan?


***


"Nggak mau ya, Bi. Aku nggak mau nikah sama orang itu, aku ini ingin tinggal dan hidup sama orang yang aku pilih. Dan dia... sama sekali bukan pilihan yang baik, aku yakin dia itu penjahat, dia penipu, dan bisa aja kan—"


"Nggak punya? Iya, karena dia punya duit kan Bi? Bi, kenapa sih? Cuma duit yang ada dalam pikiran Bibi?" aku kesal, sejak aku kecil, sudah di suruh untuk mencari uang oleh keluarga ini, oke, waktu itu aku sadar karena aku sudah diurus sejak kecil. Tapi, makin sini, aku mengerti bahwa mereka memang mata duitan. Shit.


"Kita butuh itu Bell," kata Bibi dengan memohon.


Ya, kalian butuh itu. Tapi, apa harus aku yang dikorbankan? Kenapa tidak anaknya saja? Ara? Dia sangat terobsesi menjadi kaya raya, tidak sepertiku yang hanya mempunyai cita-cita membahagiakan anakku kelak.


"Kenapa nggak Ara aja, bi?" tanyaku.


"Dia maunya sama kamu, Bell. Coba aja dulu, mbok ya dibantu bibi miskinmu ini." Rayuan yang seharusnya tidak mempan lagi bagiku. "Kalo nggak jodoh ngga apa-apa."


Ya iyalah, masa harus maksa jodoh.


Aku tidak lagi menjawab, aku hanya berjalan menuju kamar dan menguncinya. Dan... I don't fucking care, Bibi, I'm sorry.


***


Penganguran, ya tentu saja kalian menyebutku begitu. Lulusan ilmu keguruan Biologi yang kini bingung memilih kerja menjadi apa. Kenapa Biologi? Karena aku suka alam, aku suka hewan, dan aku suka diriku sendiri.


Aku sedang berusaha untuk memasukan lamaranku menjadi Guru honorer di SMA. SMA, omong-omong soal SMA, aku punya seorang mantan yang hingga kini aku kenang.  Aku tidak tahu di mana keberdaanya sekarang, but I still into him. Masa SMA itu sangat manis, tapi jelas sebelum rumor aku adalah anak hasil hubungan gelap terungkap.


Sehina itu kah aku? Hingga dia dipindahkan oleh ibunya dan sekarang, entah berada di mana. Reputasi, ya itu memang segalanya untuk zaman sekarang.


Huh, cuaca sangat panas, sampai pikiranku menuju dia lagi. Bulan Agustus, kemarau, dan... jus jeruk memang teman terbaik. Ah, dan jangan lupa dengan tempat nongkrong kesukaanku, Friday café, aku tidak tahu kenapa dinamakan café jumat, mungkin karena membangun pertama kalinya hari jumat. Yang jelas, aku suka tempat ini.


Di tempat ini aku bisa banyak bersyukur, karena sangat dekat dengan area anak jalanan juga bayi-bayi kecil yang menangis di pangkuan ibunya di lampu merah.


"Hai," kata seseorang yang tiba-tiba duduk di depanku, di depan mejaku. "Boleh nongkrong bareng?" tanyanya.


Ah, ini orang sudah beberapa hari ini mengintiliku. "Kalaupun saya bilang nggak boleh, kamu tetap duduk." Aku berdecih ketika dia tertawa, padahal aku rasa tidak ada yang lucu.


"Saya pikir waktu untuk kamu berpikir sudah habis, sekarang kamu harus jawab, kamu mau tidak menikah dengan saya?"


Waktu? Bolehkah aku tertawa sekarang? Bahkan aku tidak pernah memikirkannya, tidak pernah sekalipun. "Tidak, saya tidak mau."


"Kalau saya paksa, kamu jadi mau?" tanyanya.


"Saya nggak mau!"


Dia mengangguk-angguk, entah apa yang ada dipikirannya. Tapi siapa yang peduli, aku sama sekali tidak peduli walau dia mau jungkir balik. Apa aku secantik itu, sampai dia mohon-mohon jadi suamiku? Ya, aku memang secantik itu.


Hanya orang yang rada-rada yang mau menerima lamaran orang yang tidak kenal hanya membawa nama keluarga Hilma Company, ah, bahkan aku tidak tahu namanya sampai sekarang.


"Kata orang tua dahulu, pamali cewek nolak yang mau niatan baik..." katanya.


"Tapi saya punya alasan untuk nolak!" kataku emosi, "Pertama, saya nggak kenal kamu. Kedua, saya nggak suka kamu. Ketiga, kamu maksa saya!"


Dia menyeringai, dan aku berbidik geli melihatnya. "Jadi kalau saya bikin kamu suka saya, kamu mau?"


Dasar terlalu percaya diri. "Saya tetap nggak mau, karena kamu udah maksa saya!" aku bangkit dari duduk dan menuju kasir untuk membayar minumanku.


Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang stress seperti dia. Mendingan cari kerja, lebih berfaedah dari pada mengobrol dengan orang sinting yang tukang maksa. Catat, aku tidak takut dengan pria itu.[]