
Setelah sarapan aku langsung membawa tas. Dan bersiap untuk pergi ke sekolah, aku sudah meminta izin datang sedikit terlambat karena ada kepeluan keluarga. Syukurlah sekolah mengizinkan, bahkan mereka menawarkan untuk absen satu hari. Namun aku menolak, karena hanya pertemuan, begitu yang ku katakan pada piket.
Sebenarnya, kenapa bisa terlambat itu karena mamanya Pras mengajak ngalor ngindul. Bahkan wajah Ara kelihatan sudah ditekuk, karena takut terlambat. Ya meski begitu, Ara juga ingin kuliahnya cepat selesai.
Akhirnya kami kembali ke dalam mobil dan memilih mengantar Ara terlebih dahulu. Belum lagi macetnya kota Jakarta pada hari kerja membuat aku dan Ara terlihat sepemikiran; kesal pada Pras. Sedangkan Pras merasa berdosa namun memilih tidak membahas.
"Lo sih, mau aja disuruh nginep, padahal lagi sibuk!" Tunjuk Ara ketika sudah di mobil.
"Loh kok, gue. Salahin dia nih," tunjukku pada Pras. "Udah tahu orang sibuk, maksa aja!"
"Udah aku minta maaf! Sebagai gantinya, kalian aku teraktir, deh," kata Pras membujuk.
"Emang semua beres karena uang," sindirku.
Sementara Pras hanya diam. "Kamu mau apa Ra, biarin aja mbakmu kalau dia nggak mau apa-apa!" Kata Pras.
"Oke mas, aku mau belanja, boleh?" Seolah itu kesempatan emas bagi kaum jelata seperti kami.
"Boleh, tapi ada syaratnya lagi," kata Pras.
"Apa mas?"
"Bikin mbakmu mau nginep lagi nanti malem."
"Siapp!"
Aku hanya diam. Aku mengerti Ara bukannya matre, dia hanya senang ketika kebutuhannya terpenuhi. Aku juga seperti perempuan biasanya, akan senang. Yang jadi masalah, ini sudah masuk sogok menyogok.
"Terserah kalian!"
Pras tersenyum. "Oke Ra! Nanti pulangnya mas jemput dikampus, seletah jemput dia. Kamu pilih aja dulu mall-nya."
"Bisa diatur!" Katanya. "Bell, harus mau ya lo! Jarang-jarang tahu lo nyenengin gue."
Walau bahasanya seperti itu, hatiku menghangat. Karena aku dan Ara memang tidak akrab, lebih tepatnya, kami tidak mengakrabkan diri. Karena Ara terlihat tidak suka padaku, dan aku tidak ingin merepotkan diri hanya untuk akrab dengan orang yang tidak mau aku didekatnya.
Aku hanya berdeham. Dan senyum Ara merekah. Aku merasa seperti kakak sungguhan baginya.
Dan sekarang hatiku mulai bertanya, apa ini memang terbaik? Bersama Pras, semua orang disisiku bahagia? Dan sedikitnya aku terciprat rasa bahagia itu. Apa ini sudah pilihan paling baik?
Jawabannya mungkin.
Setelah mengantarkan Ara ke kampus. Pras malah membawaku ke tukang bubur. Karena dia tahu aku sering sekali makan bubur.
"Bell," ucapnya saat aku sedang sibuk menyuapi mulutku sendiri. "Kamu ngadep sini dulu."
"Apa sih?" Kataku, menghadap sedetik kemudian menatap kembali mangkuk.
"Pernikahan kita tinggal 3 minggu lagi, kamu beneran nggak mau kita ngadain pesta?" Omong-omong soal pernikahan, dia sudah menentukan tanggalnya.
"Aku ngerasa udah bahas ini," jawabku singkat dan tidak mau diulang-ulang.
"Tapi mama aku--" aku tahu arah pembicaraan ini.
Kupotong saja, "Gengsi? anak seorang Petiya pemilik hilma company, pernikahannya ditutup-tutupi? Apa jangan-jangan istrinya hamil diluar nikah?" Kataku meledek.
Dia nampak kecewa. "Bukan begitu sih Bell, aku mau nyenengin mama."
Aku hanya diam. "Maaf aku nggak ngerti cara nyenengin mama kamu, karena aku nggak diajarin. Sejak kecil aku udah dibuang."
Wajahnya mendadak kaku. "Udah ya, aku mau ngajar. Udah telat banget. Kalau masih mau di sini, silakan."
Aku bangkit. "Oke, Bell, kita berangkat."
Aku menangguk. Dia membayar bubur. Sepanjang perjalanan kami tidak mengeluarkan sepatah katapun, aku kesal padanya. Dan entah karena apa.
Sesampainya di sekolah aku langsung turun. Dia menurunkan kacanya, "Jemput jam berapa?"
"Jam tiga," kataku singkat, bahkan tanpa menoleh.
Sesampai di Guru. Bram menghampiriku, "Hei Bu, katanya ada acara keluarga?"
"Iya nih, Pak, lagi ngurusin pernikahan."
Raut wajah Bram langsung pucat. "Loh, ibu mau menikah? Bukannya ibu bilang waktu itu--"
Dia tertarik mendengar ceritaku, dia menghampiriku. "Kenapa Ibu mau, emang masih jaman jodoh-jodohan?"
"Saya sudah nolak. Tapi, melihat betapa bahagianya orang-orang disekitar saya melihat kedekatan saua dengan pria ini, saya juga tidak bisa menolak."
Bram tersenyum. "Kadang-kadang, yang lebih penting dari diri sendiri adalah, kebahagian orang terdekat, melihat mereka bahagia dan tersenyum, sedikitnua kita ikut tertular, begitukan?"
Aku mengangguk. "Kamu baik, Bell." Pertamakalinya Bram memanggilku Bell, tanpa embel-embel Bu.
Apakah aku akan bahagia sungguhan bersama Pras? Sedangkan sedikit hatiku tercantol kepada pria ini.
Ya Ampun, aku mulai bingung dengan pikiranku sendiri. Kenapa kisah cintaku serumit ini sih? Aku kesal kan jadinya.
"Ekhem, Bu Bella, Pak Bram bukannya kalian ada kelas!" Tegur Bu Endang guru Matematika yang kukenal dia sedikit tegas tentang peraturan sekolah.
***
Pras : aku udah di depan.
Aku hanya membacanya. Kemudian berjalan ke depan. Kulihat mobilnya sudah ganti lagi. Aku benar-benar awam sih soal permobilan. Menurutku semuanya sama saja. Yang membedakan ada berapa jok didalam mobil itu.
Aku mengetuk pintu kaca. Dia segera membuka pintu. Aku masuk, dia tersemyum, "Halo bu guru?"
Aku hanya berdeham. "Hih kok gitu sih jawabannya," kata Pras.
"Ya harusnya gimana emang?" Tanyaku.
"Iya nih sayang gitu."
"Udahlah nggak usah halu."
Pras terkikik, kami ke kampus Ara dulu karena sudah janji akan mengajaknya belanja. Aku memilih tidur, walau tidur ayam, menghindari pembicaraan pernikahan.
"Hei Ra," kata Pras ketika Ara memasuki mobil.
"Hei Mas, itu si Bella tidur tuh?" Tanya Ara.
"Iya mbakmu cape ngurus anak orang," jawab Pras.
Ara hanya beroh, dan aku merasakan Pras melanjukan mobil ke Mall yang Ara sebutkan. Dan aku tidak ingat lagi. Karena aku tidur sungguhan.
"Bell," kurasa Pras menepuk pipiku pelan.
Aku bangun. "Ayo Bell turun lama ah lo, molor mulu!" Itu suara Ara.
Kami mengajak Ara belanja sepuasnya, aku tidak membeli apapun kecuali makan. Ya masa sih aku nggak ikut makan. Kan aku juga laper. Mana si Ara itu maunya macem-macem. Yang mahal pula.
"Makasih, ya Mas!" Kata Ara.
"Sama-sama Ra," Pras tersenyum. "Ra, kamu bisa bikin mbakmu, bilang mas juga nggak ke Mas?"
"Pras kok makin sini kamu makin banyak mau, sih," protesku.
Tiba-tiba dia mencium pipiku. Oh astaga! Tidak pernah ada yang melalukan itu padaku seumur-umur! Aku kesal bukan main.
"Kalau sudah nikah aku lebih banyak maunya!" Kata Pras.
Ara ikut tertawa sedangkan aku menghapus bekas ciuman di pipiku. "Hiiih!"
"Eh Bell, bilang Mas kek, umur mas Pras ini kan 29. Jauh loh sama lo! Sopan sedikit!"
Baru kutahu umurnya 29. Aneh memang aku calon istri teraneh yang dilamar dengan cara teraneh.
Aku melirik Pras dan dia sedang memandangiku sambil tersenyum. "Apa sih?"
"Apa?" Tanyanya tanap merasa ada yang aneh.
"Itu kamu senyum-senyum!"
"Ya masa gaboleh?"
"Ya nggak boleh, kayak orang gila tahu nggak?"
Pras dan Ara menertawkanku. Dan aku kesal bukan main pada mereka.