HE BUYS ME

HE BUYS ME
BAB 16 - PERUBAHAN



Berubah? Bukan lagi. Aku udah nggak kayak diriku. Sukanya deket-deket Pras. Suka ngamuk kalo dia udah mulai mainin ponselnya. Aku nggak muntah-muntah. Tapi manja. Selalu pengin deket-deket Pras.


Pernah ya, waktu dia ngantor, aku terror telfonin satu jam sekali. Kalo nggak ngangkat aku bakalan nangis kejer sampe dia pulang.


Itu terjadi dua minggu kebelakang sampai sekarang. Bahkan dia nggak bisa meeting ke Bandung, gara-gara aku nangis terus.


Dia ngalah. Dan nggak kemana-mana. Yailah kan dia yang hamilin, tanggung jawab dong!


Dan sekarang aku dan Pras sedang menikmati waktu berdua di kamar. Sambil tiduran. Aku sih yang tiduran, dia mah bergerak gelisah terus dari tadi. Ya apa lagi, pastinya karena nggak ikut meeting.


"Yang, aku ke toilet bentar," katanya.


"Iiih kenapa sih dari tadi ke toilet mulu," jawabku kesal, yang sudah seperti anak koala--neplok mulu. "Atau jangan-jangan kamu bohong, ngapain di toilet? Masa sejam sekali."


Dia meringis. Aku jadi hobi marah-marah. Ya dulu juga gitu, tapi ini marahnya lain.


"Aku tanya dulu ya, meeting-nya gimana?" Tanya Pras, menyengir. "Bentar lima menit."


"Ya udah sini aja," kataku.


Tanpa basa basi, dia membawa ponselnya dan mulai mengobrol dengan wakilnya. Sementara aku yang neplok di dada dia, yang aku sadari ternyata peluk-able banget sih, suamiku.


"Ooh gitu, yang penting klien nggak minta batalin kan kerja samanya?" Tanya Pras. "Bagus-bagus, bilangin permintaan maaf saya ke rekan-rekan semua." Dia tertawa-tawa sambil melirikku. "Iya, terima kasih, Vinna."


Aku langsung menoleh, dia menaruh ponselnya. Dan membalas pandanganku. Dan mengusap rambutku. Vinna?


"Siapa Vinna?" Tanyaku ketus.


"Dia kan sekertaris aku, bukannya aku udah pernah bilang?" Katanya. Tapi aku nggak ingat.


"Kamu dari tadi di toilet telfonan sama cewek?!" Aku melotot, dan mencubit pinggangnya, dia meringis. Kenapa kesal sekali sih. Harusnya biasa aja. "Pantesan kamu ngumpet-ngumpet di toilet!"


Aku melepaskan pelukan dan mulai menangis. Pras panik dan mulai menyentuh bahuku dan membalikanku, "Hei nggak gitu, dia kan sekertaris aku. Kan kamu tadi nggak bolehin aku pengang hape."


"Oooh, jadi ini salah aku?" Tanyaku kesal kenapa sih dia malah makin menyebalkan. "Aku nyebelin gitu maksud kamu? Kalo nggak mau tanggung jawab, nggak usah ngehamilin."


Dia ternganga. "Astaga Bella, kamu nih kalo ngomong, sini ya aku cium sampe engap," katanya.


"Sana ah jauh-jauh," kataku mendorong Pras.


"Jalan-jalan yuk, yang deket-deket aja!" Katanya. "Biar nggak marah-marah mulu, pusing aku dengernya. "


"Yuk! Beli taichan yu!" Kataku dengan bersemangat.


Dia langsung menyipitkan matanya. Aku memang nggak lama kalo marah, apalagi dia selalu nyogok. Entahlah, saat ini aku tahu, ini dipengaruhi hormon. Tapi, hatiku juga nggak bohong kalo aku memang pengin deket-deket dia.


Dan juga, aku bersyukur Pras tidak meledek atau apapun, ketika aku ingin mesra-mesraan. Padahal dulu, dipeluk aja aku nggak mau.


"Ntar aja malem tapi. Sekarang pingin peluk..." aku akan menyesali ketika sudah melahirkan bersikap kayak gini ke dia. "Masih sore. Panas kalo keluar jam segini."


Dia menurutiku. "Pras, aku mau babymoon," katanya.


"Ayo, tapi ntar aja ya deket-deket melahirkan, biar aku atur ulang dulu jadwal kantornya," kata Pras.


"Hihh! Tuh kan, jadi prioritas kamu itu kantor trus aku?!"


"Astaga Bella, kamu kenapa sih? Udah jangan marah-marah mulu ya. Kasihan dedek, di dalam kandungan pasti sedih papinya dimarahin mulu!"


Betul juga sih, kan katanya, dalam kandungan, anak sudah bisa mendengar suara ibunya.


"Pras?" Tanyaku.


"Apa?"


"Tau tengok dedek nggak?"


Dia langsung cerah. "Boleh?"


Hih dia itu selalu tanya. Kan males aku ulanginya. Malu sendiri. "Yaudahlah kalo nggak mau. Aku bobo aja lagi," kataku.


"Eeeh, iya," dia mengusap perutku. "Halo dedek, mau ditengokin ya?" Katanya. "Kangen ya sama papi?"


"Hihh lama ah," kataku kesal.


Pras seneng banget sih malem ini. Dar tadi senyum terus. Akhirnya aku makan enak juga setelah bedrest selama dua minggu dan lumayan kangen ngajar.


Gimana ya keadaan sekolah? Apa gosip itu masih beredar? Atau sudah mereda? Aku juga nggak bisa tanyain ke pak Bram, bisa-bisa Pras ngamuk!


Kasihan juga pak Bram kalo menanggung ini sendirian.


"Yang dari sini mau kemana?" Tanya Pras.


"Beli alat bayi yu!" Ajakku.


"Eh, katanya nggak boleh beli dulu sebelum usia kandungannya tua."


Aku mengerut. "Siapa yang bilang gitu?" Tanyaku.


"Mama," katanya.


"Aku kok nggak tahu? Pasti dulu ibuku nggak beli alat bayi. Malah mungkin sedang menangisi kenapa aku ada di dalam rahimnya."


Muka Pras tegang. "Eh jangan gitu, Bella. Kamu nih--"


"Udah ah aku males ngomongin ibu aku. Yang bahkan aku nggak tahu dia siapa!"


Pras mengangangguk setuju. "Ya lebih baik kita omongin kita aja!"


Aku tersenyum. "Sini aku cium," kataku mencium pipinya, hanya kecupan singkat.


"Tumben," komennya.


"Yaudah, nggak bakalan lagi," kataku dengan kesal.


"Nggak aku cuma becanda, jangan ngambek dong."


Aku memakan lagi satenya. Ketika sedang asik makan sate, tiba-tiba kunyahanku berhenti bukan karena tidak enak, tapi karena ada gerobolan orang dewasa yang masuk, dan salag satunya; Bram sambil tertawa-tawa.


"Pak Bram?" Kataku ketika mereka duduk tepat disebelahku.


"Eh, Bu Bella, apa kabar?" Tanyanya. "Dengan suami bu?"


"Iya," aku menyikut Pras agar ikut dalam pembicaraan, namun dia hanya menimpali dengan senyum tipis. "Lagi pingin makan sate. Sama?"


"Oh sama keluarga," menjawab keterbingunganku. "Ini ayah saya, Bu, ayah ini rekan kerja Bram di sekolah. Bu Bella..."


Ayahnya Pras berdiri dan menghampiriku, "Restu," katanya. "Senang bertemu dengan anda," tambahnya.


"Bella," kataku, "rekan kerja Bram." Dia duduk kembali.


"Ini ibu saya," kata Pak Bram. Sementara ibunya hanya duduk di sana dan memperhatikan. Dan beberapa remaha yang aku yakini adiknya pak Bram.


Aku menerhatikan mereka semua. Kenapa ya hatiku mendadak tidak enak begini, dia seperti...


"Udah Bell, itu pak Bram lagi quality time sama keluarganya," kata Pras.


Namun, bukan itu masalahnya. Sungguh, aku merasa pernah melihatnya dimana. Maksudku, wajah ayah Bram ini lumayan familiar.


Aku mengangguk dan segera menyelesaikan makananku. Dan segera menarik Pras keluar.


"Kemana lagi kita?" Tanya Pras.


"Rumah...rumah Ara!"


Pras mengerutkan dahi, kemudian mengangguk. Tidak ada yang memulai pembicaraan apapun sampai di rumah Bibi. Tanpa salam aku langsung bergerak ke ruang TV, ada laci lumayan besar. Tempat semua album foto di simpan, kemudian aku membukanya.


Pras mengikutiku, bibi, Ara dan om juga terlihat kaget, kenapa aku tiba-tiba datang.


Aku mengambil foto ketika om masih kuliah. Dan membukanya, lembar pertama, aku melihat om Rafi, dengan... benar, dia benar-benar ayahku.


Ayah pak Bram itu ayahku. Bagainaba mungkin? Aku terdiam sejenak. Sementara Pras langsung memegangi pundakku.


Air mataku tak bisa dibendung lagi. Dan om Rafi hanya bertanya, "kamu bertemu dengan Restu, Bell?"


Dia benar-benar ayahku.