HE BUYS ME

HE BUYS ME
BAB 20 - ANOTHER STORY



Selasa! Yups!


Hari ini aku bakalan ketemu Bram. Yang patut disyukuri adalah, infus ditanganku sudah boleh dilepas, kondisi badanku yang langsung fit, dan... tiba-tiba saja Pras harus ke Bandung dua hari.


Dia memberikan handphoneku karena jelas sekali dia tidak rela tak melihat wajahku selama dua hari.


Seolah rencanaku memang disetujui Tuhan. Aku bilang ke Nina, hari ini libur saja, tapi tak perlu laporan kepada Pras. Dan Nina mengangguk-angguk. Saja, tantanganku hanyalah mama mertuaku yang sedang mengadakan arisan di bawah.


Aku harus memutar otak agar bisa kabur, tanpa beliau tahu. Aku memang jarang mengobrol, bahkan hampir tidak pernah. Entahlah, rasanya seperti beliau menjaga jarak dariku.


Jadi ketika aku membawa tas kecilku dan turun ke bawah. Semua orang melihatku sudah pasti.


"Hey Peti... itu mantu kamu?" Tanya si ibu A.


Mama mertuaku langsung menoleh, dan mengangguk, "Iya... sini Bella!"


Mampus!


"Bella..." aku memperkenalkan diri. Pandangan mereka rupa-rupa. Ada yang sinis, ada yang biasa saja, dan ada yang... menatapku memuja.


"Peti... menantu kamu ingetin aku ke seseorang tapi siapa?" ibu itu menatapku lekat-lekat.


"Kenalkan Bella, ini tante Raina, teman mama dari SMA." aku menyalami tante Raina. "Lho siapa?" Kata mama mertuaku dengan tenang.


"Nggak tahu... muka kamu familiar banget," katanya. Namun aku melihat keterkejutan dalam wajahnya, kemudian buru-buru mengaturnya. "Kamu udah isi?"


Aku mengangguk. "Alhamdulilah sudah."


Dia tersenyum ramah. Aku tidak tahu siapa tante Raina ini. Aku tidak tahu kenapa dia bisa melihatku seperti itu. Ataukah dia tahu sesuatu tentang wajahku, tentang rupaku? Apa dia tahu tentang ayahku?


"Ma Bella mau kirim berkas dulu ke sekolah lama, ada yang belum ke kasih," kataku... tentu saja berbohong.


"Sudah bilang Pras?" Tanya Mama mertuaku.


Aku berbohong lagi. "Sudah," aku menyalami tangan mama mertuaku. Kemudian pamit.


Mengenai tante Raina, aku tahu, ini pasti ada sesuatu. Aku akan segera mencari tahunya setelah ini.


Setelah bertemu dengan Bram.


Aku segera memesan taksi online. Setelah datang aku segera memasukinya. Dan ketika sampai aku langsung melihat Bram. Aku tersenyum kepadanya.


"Gimana morning sick-nya?" Tanya Bram. Aku hanya tertawa dan mengatakan apa yang terjadi selama ini.


"Jadi, sebenarnya Bella, saya tidak tahu harus mulai dari mana," kata Bram.


"Yang kamu ketahui saja," jawabku.


Dia menghela napas. "Begini... untuk masalalu Papa dan Ibu kamu, jelas saya tidak setahu itu. Namun, yang perlu kamu ketahui disini, tidak ada sedikitpun niatan papa untuk membuang kamu. Papa hanya...bingung?"


Aku terdiam mengamati.


"Saat itu, kata papa, kakek dari ibu kamu tidak mau menerima kamu yang lahir. Sementara papa dijodohkan dengan Ibuku."


Aku mulai paham. Mungkin ini juga cerita mengapa nenek dari papa tidak mau menerimaku. Karena mereka jelas tidak tahu siapa ibuku.


"Saat aku bertemu dengan papa, kenapa dia tahu bahwa itu aku?" Sejujurnya ini adalah pertanyaam dalam pikiranku yang sudab berdebu, namun akhirnya aku ungkapkan.


Bram tersenyum. "Karena dia selalu memantau kamu Bella. Sekolah... ini, adalah milik papamu."


Ada nada asing ketika aku mendengar kata "papamu". Aku memandang sekolah tempatku mengajar, yang terletak tepat didepanku. Didepan tukang bubur favotiteku.


"Lalu kenapa dia tidak membantu aku, paman Rafi? Dia malah..." aku sudah tidak kuat menahan semuanya. Akhirnya aku menangis sejadi-jadinya.


Bram menyentuh pipiku yang basah, kemudian mengusapnya perlahan... "Maaf Bella... maafin papa." Katanya.


"Apa sebegitu tidak menginginkannya aku? Sampai-sampai dia mengasingkanku?! Kenapa tidak bunuh saja aku saat itu.."


Kini lengan Bram ke punggungku, dia mengusapnya pelan. Sampai aku tak bisa merasakan hangatnya.


"Tapi Bella, apabila hatimu udah siap menerima kenyataan. Menerima semua penjelasan, berlapang dada. Aku siap mengantarkanmu ke papa, dan mendengarkan semua kebenarannya. Tanpa ada karangan, meski papa jahat, tapi percayalah, dia akan jujur... walau mungkin menyakiti hatimu Bella."


Aku terdiam. Dia benar. Ini hanyalah masalah apakah aku siap mendengarkan kebenaran atau tidak.


"Pikirkan matang-matang Bella, kapan pun kamu siap. Kamu hanya perlu menghubungiku."


Aku mengangguk. Dia tersenyum. "Makan dulu buburnya ibu hamil... supaya keponakanku gendut."


Ah, aku merasa seperti punya kakak. Aku tersenyum kecil. Kemudian mengusap perutku. Dan meminta maaf kepada anakku, karena terlalu banyak mengeluarkan emosi.


Aku melahap bubur ayamnya. Rasanya tetap enak. Bersama orang yang aku taksir walau ternyata dia adalah kakakku. Ternyata semua perhatiannya adalah sebagai kakak.


Aku sedih untuk itu.


Ponselku berdering. Pras. Gawaaaat! Siaga satu! Aku memandang Bram sejenak. Ya Tuhan ini mirip perselingkuhan.


Aku langsung mengangkat telepon Pras. "Hallo," kataku.


"Waalaikumsalam," katanya menyindirku.


Aku mendengus. "Assalamualaikum."


"Kok serek? Abis nangis ya?"


Damn! Aku lupa.


"Aku kena flu," jawabku berbohong. Hitung saja dosaku hari ini.


"Eh beneran? Infus lagi aja kalo gitu... bentar aku telfon dok--"


Damn! Pras!


"Iya-iya aku nangis!" Dengan kesal. Aku melirik Bram yang bilang dengan pelan undur diri. Aku mengangguk.


"Kenapa nangis?" Tanya Pras. "Sini cerita."


Kepaksa deh, bohong lagi. "Anakmu nih, kangen papanya!" Ini ampuh banget buat bikin Pras percaya.


"Uuuh, kasian. Besok malem papa pulang ya baby, nanti papa kasih hadiah."


"Aku juga mau dong!" Kataku.


"Iya nanti aku beliin tahu sumedang." Aku langsung giraing.


"Bener ya, cabenya yang banyak!"


Dia hanya mengiyakan. Kemudian aku beralasan ingin ke kamar mandi. Aku bersyukur aku selalu menangis ketika jauh dari Pras kemarin-kemarin. Dan itu membuatku punya alasan saat ini.


Aku berterimakasih, anakku memang luar biasa. Aku mengelusnya pelan. Kemudian membayar bubur.


Namun, aku melihat sesuatu lagi. Tak jauh dari sini, terparkir mobil Civic yang sangat familar. Aku mendekatinya, ternyata itu tante Raina.


"Bella?" Katanya. "Boleh tante bicara sebentar?"


Apakah dia melihatku tadi? Melihatku dengan Bram? Karena dalam kepalaku. Yang aku khawatirkan hanyalah itu.


Aku menghela napas. Kemudian mengangguk, "tentu tante." Aku segera memasuki mobilnya.


Aku tahu ini akan mengarah kemana. Dan aku mempersiapkan mentalku. Ternyata tak perlu aku cari tahu, dia yang datang kepadaku... aku tahu dia akan memberikan informasi penting.


Dalam hati aku menghitung. Satu... dua... tiga. "Bella, apa kamu anak Restu?"


Sialan! Dia benar-benar tahu sesuatu!


Jangan sampai aku melewatkan ini. Aku *** rokku. Dan mengangguk, "Iya aku anaknya Restu."


Tanpa memberikannya kerhormatan. Dengan sebutan papa.