HE BUYS ME

HE BUYS ME
BAB 5 - MAMA MERTUA



Sepulang dari sekolah. Aku melihat bibi sudah membereskan pakaianku. Omong-omong tanggal pernikahan, aku belum tahu, ya aku tahu mereka sudah merencanakannya. Tapi mereka belum membicarakan tanggal fix-nya. Jadi sebelum itu mari bersantai dulu sebelum menyandang istri orang.


"Ya ampun Bi, biar aku aja yang beresin nggak enak ah." Aku tahu barangkali bibi merasa hutang budi padaku. Tapi masih banyakan hutang budiku pada bibi padahal. "Sini biar aku aja."


"Eeeh, kamu kan baru pulang, Bell. Biar Bibi aja, ini nyicilkan mau dikerumah Pras-in satu koper - satu koper." Ya ampun ini sih namanya ngusir. "Nanti malem kata Pras ke sini, ambilin baju kamu sedikit-sedikit. Udah biar bibi aja. Kamu diem aja."


Aku memilih menurut dan membawa handuk, bergegas ke kamar mandi.


Kalau dipikir-pikir, setelah tadi ngomong dengan Pras, dia kelihatannya sih serius pas bilang nikah sekali seumur hidup. Tapikan, dia pasti punya tujuan dong buat nikahin aku, atau emang dia ngajak random aja gitu? Tapi masa iya, ah! Aku rada-rada gimana gitu.


Pras, dari luarnya aja dia udah keliatan semua cewek ngejar-ngejar dia. Tajir, mobilnya bagus, lagi disiapin jadi pemimpin perusahaan, ganteng sih lumayan. Aku masih setia mengira semua ini ada yang janggal. Atau hanya aku yang berpikir ini hal janggal? Padahal ini hal yang lumrah?


Tapi ah masa sih, ini hal biasa? Kepalaku terus bertanya-tanya. Aku nggak bisa jawab. Aku nggak menemukan jawaban apapun.


Coba kalau dia deketin aku dengan cara bener, pasti aku juga mau. Sebagai cewek normal aku juga mau sama Pras. Cuma, cara deketin bikin aku takut dan ketar-ketir sendiri. Nggak salahkan kalau misalnya aku jadi merasa harus menjauhi dia.


Barangkali dia aneh-aneh?


"Bell, kamu tuh, ya kalo di kamar mandi jangan kelamaan, kalo anak perawan mah pamali, katanya," kata bibi dengan suara agak lantang.


Aku mendengus. Perasaan baru aja masuk, "Iya Bi," jawabku. "Om gimana, sehat?" Ketika aku memakai handuk dan keluar dari kamar mandi, dengan langkah perlahan menuju ruang makan. Belum bibi menjawab aku melihat Pras melambaikan tangan padaku. "Aaaaaa!!!!" Aku langsung lari ke arah kamar.


Benar-benar, si Pras itu. Bibi juga hanya diam tidak memberi tahu. Ada laki-laki yang sedang duduk dimeja makan.


Dengan kesal dan asal aku menarik celana pendek longgar, dan baju pendek longgar. Langsung kupakai, tanpa memedulikan rambut singa basah yang belum kusisir.


"Nggak sopan banget sih!" Ketusku.


Pras hanya menyengir. "Wajarkan kamu calon istriku!"


"Wajar-wajar! Nggak boleh tahu aurat!"


"Itu rambut juga aurat!" Kata Pras menunjuk rambut basahku. Aku mendengus, karena yang dia katakan ada benarnya, dan aku kesal kalau dia benar. "Kalau sudah jadi istriku, kamu harus pakai kerudung."


"Aturrr aja terus!" Kesalku. "Bi gimana om?" Tanyaku mengalihkan perhatian.


"Mendingan. Bibi mau nginep lagi, Ara nanti pulang kok! Tenang aja. Dia besok kuliahkan, kamu juga harus ngajar."


Aku mengangguk, "Iya maaf ya bi, bilang ke om, besok pulang ngajar aku ke rumah sakit."


"Emm, Bi, aku izin ya bawa Bella ke rumah, biar dia nginep aja dirumahku kata--"


"Enak aja! Nginep-nginep! Nih ya, sah aja belum udah maen nginep-nginep nggak ya!" Mataku melototi dia yang menahan tawa. Apa yang lucu?


"Kalo ngomong jangan dipotong!" Katanya. "Kata mama, dia mau lihat Bella. Rumahku rame kok, banyak pembantu--"


"Sombong!"


Dia hanya menyengir. Sementara bibi berjalan mendekat, "Bukan nggak boleh, tapi Ara nanti-"


"Nah iya, Ara kasihan, udahlah nggak usah aneh-aneh bilang ke mama kamu!"


"Bella!" Tegur bibi. Aura galaknya keluar.


"Ara ikut aja nggak apa-apa," kata Pras.


"Aku besok ngajar, Ara besok kuliah. Udah nggak usah egois."


"Aku yang anterin. Tenang aja!"


Bibi tersemyum. "Boleh juga. Yaudah kalian jemput Ara di rumah sakit, kamu sekalian gih jenguk om kamu."


Aku mengembuskan napas kesal. Itu keputusam final. Yang tidak bisa diganggu gugat.


***


"Bell?" Dan disinilah aku, duduk disebelah Pras yang sedang menyetir. Ara dibelakang tertidur pulas.


"Hmm?" Tanyaku.


Aku hanya diam dan memainkan ponsel. "Bell?" Tegurnya.


"Hmm?"


"Masa sih, mau nikah tapi sama suami kayak sama musuh?"


"Kamu bisa nggak jangan bersikap seolah kamu tuh cowok yang lagi kasmaran?"


"Lah aku tuh ya, udah janji, bakalan jatuh cinta sama istriku." Katanya.


"Emang cinta bisa dipaksa gitu?" Tanyaku tak yakin.


"Ya, karena aku jatuh cinta ke kamu karena Tuhanku!"


Aku memilih untuk diam. Karena untuk apa menanggapinya, jika dia saja selalu punya jawaban atas tanggapanku.


"Bell, kamu juga, ya?"


"Apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Belajar cintai aku."


"Hmm."


Apa yang harus aku jawab. Di sini, aku hanya boleh menuruti semua yang tuan itu mau. Aku hanya budak. Miris pikirku. Aku masih memainkan ponselku. Instagram memang tempat terbaik mengalihkan pikiran.


Ya teralihkan seperti, iri karena orang punya ini sementara aku tidak. Mereka bahagia sementara aku tidak. Padahal, itu hanya luaran orang tersebut, kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang itu.


"Hei kenapa melamun?" Tanya Pras. Saat aku mematikan ponsel dan memandangi jendela. 


"Nggak apa-apa."


Sesampainya di rumah Pras, Ara bangun terlebih dahulu. "Sudah sampai Mas?" Tanya Ara.


"Sudah Ra, ayo kita turun. Mama pasti sudah nunggu!"


Dan benar saja, ketika pinti dibuka, seorang ibu paruh baya yang aku taksir umurnya sekitar limapuluh tahunan menghampiriku. "Oh ini toh calonnya, Pras, duh cantiknya." Kata mama Pras pandangannya Ara. "Ini--" ketika melihat ke arahku.


Aku hanya diam. "Ma, ini Bella," tunjuk Pras. "Yang ini Ara, sepupunya Bella. Dia ikut karena dirumahnya nggak ada siapa-siapa."


"Oh ini, duh maafin tante ya, Bella, Ara, habis kalian pada cantik-cantik."


Duh ibu ini ngeles amat sih, bilang aja Ara lebih cantik susah amat.


"Bell, kenalin ini mama aku Petiya, namanya."


"Bella tante," kataku malas-malasan. Ya semoga dia nggak setuju deh sama hubunganku, Aamiin.


"Yaudah, Ra, kamu katanua mau ngerjain dulu tugas? Yu Mas anter ke kamar tamu."


Pras mengantrkan Ara. Sementara tante Petiya mendekatiku. "Maaf banget ya Bella, tante nggak tahu. Habisnya Pras kalo ditanyain mana foto Bella nggak ngasih mulu."


Yaiyalah. Sejak kapan Pras nyimpen fotoku. Foto bersama aja belum pernah. Aneh-aneh aja nih si tante.


"Bella sudah makan?" Tanya mamanya Pras. "Makan dulu yu."


Sepertinya tante Petiya ini nggak tahu kalau anaknya main lamar anak orang. Mungkin dia pikir kita kenal di aplikasi dating kali ya. Bingung juga pala inces. Kalo mikirin kelakuan si Pras yang aneh itu.


"Hei, udah mau makan?" Tanya Pras.


"Iya dong kan mantu mama kan udah laper," kata mamanya Pras. Aku mah diam ajalah. Nggak usah banyak ngomong.


"Ara nanti biar Bi Minah aja yang anter. Yuk kita makan."


Aku hanya diam, dan menjawab seperlunya. Apalagi ketika mamanya Pras bilang Pras ini Pras itu. Terserahlah. Yang penting aku makan abis itu tidur. Besok ngajar ketemu pak Bram yang ganteng.


Eling-eling Bella.