Half Brother

Half Brother
BAB 9 Peran Utama



Qais menoyor pelan jidat kembarannya dengan jari telunjuk, dibalas gigitan oleh Ceshy.


“Aduhh ... Lepas Ces! Jariku bisa putus.” Qais merintih kesakitan.


“Makanya jangan macam-macam!” Kecam Ceshy setelah melepaskan gigitannya.


Qais menyibas-ngibaskan tangannya kesakitan. “Kejam sekali.”


“Siapa suruh mulai duluan!”


“Kalian tolong jangan bertengkar.” Rion yang terbaring tidak bisa berbuat banyak.


Saudara kembar ini akhirnya berhenti ribut sendiri. Farisi dan Ubay sudah pulang. Ceshy datang ke rumah sakit bersama ayahnya setelah dihubungi Qais.


Kedua orang tua mereka memang sudah saling mengenal sejak lama. Mereka bertiga berteman sejak masih kecil. Ayah si kembar sedang mengurus admistrasi rumah sakit Rion saat ini.


“Selama ayahmu belum pergi, kamu menginap di rumahku saja,” ucap Qais.


“Tidak boleh!” Celetuk Ceshy tiba-tiba.


“Apanya? Dulu Rion juga sering menginap, kan.”


“Tapi itu saat kita masih kecil. Sekarang beda lagi. Ingat rumahmu itu rumahku juga. Kalau Barra tahu bagaimana?” Cerocos Ceshy.


“Tentu saja Barra akan setuju. Dia tidak peduli padamu tuh,” bantah Qais.


“Bohong! Tadi juga kamu bohong. Katanya ada Barra tapi nyatanya gak ada.”


“Sudah ku katakan dia pulang dengan kakaknya. Sebenarnya kamu niat menjenguk Rion gak sih?”


Kedua saudara ini kembali berdebat tanpa menghiraukan pendapat Rion. Mendengar penolakkan Ceshy sedikit mengganggu perasaan Rion, terlebih ada nama Barra di sana.


“Barra lagi,” gumannya.


Qais membekap mulut Ceshy dengan tangannya. “Kamu bilang apa tadi?” tanya Qais pada Rion.


“Bukan hal yang penting. Kalian berhenti berdebat, soal itu biar aku urus sendiri.”


......................


Sudah lima hari berlalu sejak kejadian itu. Jangankan mendapatkan jawaban yang ingin Barra ketahui. Dia bahkan sangat sulit bertemu Kinan. Kakaknya jarang datang ke rumah.


Kinan bahkan menyewa dua orang bodyguard, mengawal Barra ketika ke luar rumah. Barra juga dilarang naik motornya dan terus diantar dengan mobil oleh bodyguard.


“Selamat datang Big Bos."


Farisi dan Ubay berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Mengenakan kaca mata hitam, menyambut Barra yang turun dari mobil.


“Tuan-tuan, dari sini kami yang akan ambil alih.” Farisi menghampiri salah satu bodyguard yang membuka pintu mobil.


Barra menjewer telinga Farisi dan Ubay yang sedari tadi mempermalukannya. Menyeret mereka seraya berjalan menuju ruang kelas.


Rion sudah kembali bersekolah meski belum sembuh sepenuhnya. Sedangkan Qais duduk dengan tenang dalam kelas, membaca materi pelajaran hari ini.


Barra duduk di samping Qais. “Qai, bisa bicara sebentar?”


“Eh, Kamu sudah datang? Iya, ada apa?”


Barra memberikan kartu nama yang dia dapat dari Jaya. “Psikiater?” tanya Qais.


“Jaya yang memberikan kartu nama itu. Aku sudah menghubungi Jaya beberapa hari lalu. Dia bilang dokter itu pernah merawat ibu kak Kinan.”


“Jadi kamu ingin menemuinya?”


“Iya, tapi waktu pertemuaannya bertepatan dengan pertandingan basket pekan depan.”


“Gak bisa begitu dong. Rion juga belum bisa bertanding masa kamu juga?” celetuk Farisi dari belakang.


“Kenapa kalian kaget? Bro, ingat! kami juga temanmu.” Ubay merangkul Barra.


“Kalian membicarakan apa?” Rion yang datang tidak mengetahui masalahnya.


Ubay merangkul Rion dan membawanya menjauh, dia berniat untuk menceritakannya di tempat yang aman. Tersisa mereka bertiga sekarang.


“Farisi benar. Keduanya sama pentingnya. Begini saja, biar aku yang menggantikanmu. Pertanyaan yang ingin kamu tanyakan tulis saja. Aku juga akan merekam pembicaraan kami.”


“Baiklah. Aku percayakan padamu.”


......................


“Obsessive love disorder (OLD), penderita akan mengalami obsesi berlebihan pada orang yang dicintai. Cenderung posesif, overprotektif, cemburu berlebihan, dan berusaha membatasi kehidupan sosial orang yang dicintainya.”


Qais tengah mendengarkan penjelasan Psikiater mengenai diagnosis ibunya Kinan. Mereka berada di ruang praktek pribadi dokter tersebut.


“Apa penyebab gangguan ini Dok?” tanya Qais.


“Penyebab OLD belum diketahui secara pasti. Diduga berkaitan dengan gangguan mental lain. Khusus pada kasus pasien, mengalami borderline personality disorder (BPD).”


“Perilaku impulsif yang pernah dilakukan pasien berupa percobaan bunuh diri,” jelas Dokter tersebut menunjukkan tingkat keparahan kondisi ibunya Kinan saat itu.


......................


Kinan mengakhiri panggilan dari teleponnya. “Alhamdulillah.”


Kecemasan yang dia alami beberapa hari ini telah berakhir. Kinan berada di sebuah kamar hotel bersama Laras, ibunya Barra.


Mantan suami Laras kabur dari penjara, dia melacak keberadaan Laras. Lalu mengancam Laras agar kembali padanya atau dia akan menyakiti Barra.


Laras bersembunyi dan menelepon Kinan, meminta bantuan. Dia tidak ingin Barra tahu kondisinya yang menyedihkan, meminta Kinan merahasiakannya dari Barra.


Keringat dingin membanjiri kulitnya, jantung berdebar-debar, dan tangan yang gemetaran. Laras masih merasa ketakutan.


Kinan memegang tangan Laras yang dingin dan basah. “Ibu tidak perlu khawatir lagi. Orang itu sudah berhasil diamankan oleh polisi.”


“Benarkah? Alhamdulillah."


"Lalu Barra ... Bagaimana dengan Barra?” Tanya Laras beralih menggenggam tangan Kinan dengan erat.


“Barra aman Bu. Apa Ibu ingin menemuinya? Sebenarnya Barra ada pertandingan basket hari ini. Dia akan senang kalau Ibu hadir mendukungnya. ”


“Tidak perlu. Ibu tidak ingin dia dalam bahaya lagi.”


Laras merasakan bekas luka ditelapak tangan Kinan. Menyadari hal itu, spontan Kinan menarik tangannya. Ekspresi wajahnya tampak tidak nyaman.


“Maaf, Ibu tidak bermaksud-”


“Saya baik-baik saja,” potong Kinan seraya tersenyum pahit.


"Terima kasih."


"Ibu tahu ini tidak cukup. Tapi Ibu benar-benar ingin berterima kasih padamu."


Laras menundukkan kepalanya.


"Bahkan setelah menghancurkan kebahagiaanmu.Tanpa tahu malu, lagi-lagi menyusahkanmu."


Suara Laras bergetar, menahan tangis. "Terima kasih sudah merawat dan melindungi Barra."


"Apa pun yang kamu butuhkan. Ibu akan berikan untuk membalasnya." Laras memandang Kinan dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau begitu. Boleh Kinan memeluk Ibu?"


Laras tertegun, tidak menyangka dengan permintaan Kinan. Laras mengangguk dan perlahan memeluk Kinan.


Sudah lama, Kinan lupa bagaimana hangatnya pelukan seorang ibu.


......................


Kinan memandangi bekas luka di tangannya. Hari di mana Kinan mendapatkan luka itu, dia tidak pernah melupakannya.


“Kamu sayang sama Mama, kan? Kamu akan menuruti semua permintaan Mama, Iya kan Putriku.” Vina mencengkram bahu Kinan dengan erat.


“Iya Ma. Kinan akan selalu dipihak Mama.”


“Banar, itu baru Putriku. Bawakan Mama lebih banyak piala lagi. Kamu adalah kebanggaan Mama.” Vina mendekap erat Kinan dalam pelukkannya.


Namun bukan rasa hangat atau kasih sayang yang Kinan rasa. Dia malah ketakutan. Tatapan ibunya terlihat menyeramkan bagi Kinan.


Vina melepaskan pelukannya, tangan kanannya memegang leher putrinya. “Kinan, kamu tahu kenapa Mama sangat menyukai wajahmu?”


Kinan merinding. Diam ditempat tanpa bicara.


Vina menatap tajam ke arah Kinan. “Kamu sangat mirip dengannya.”


“Setiap kali melihat wajahmu, Mama sangat bahagia. Tapi juga sangat membencinya secara bersamaan.” Cengkraman tangan Vina perlahan semakin erat.


“Kenapa ayahmu menghianatiku! Kenapa dia lebih memilih perempuan itu!” Suara Vina meninggi.


“Ma ... Sa ... Sakit.” Kinan merintih.


Vina melepaskan cengkramannya, ketika air mata Kinan membasahi tangannya. “Kinan, maafkan Mama. Maafkan Mama sayang.” Segera Vina kembali memeluk putrinya.


Tubuh Kinan lemas seketika, dia masih saja gemetaran. Bekas merah melingkar dilehernya.


Semenjak kejadian itu Kinan terus mengisi rak kaca dengan piala yang dia menangkan.


Berusaha memenuhi keinginan ibunya. Usaha Kinan tidak sia-sia, kondisi mental Vina terlihat semakin membaik.


Sampai hari itu tiba.


......................