Half Brother

Half Brother
BAB 3 Di balik senyum



Kinan sudah menduga pamannya tidak akan menyerah semudah itu. Meski tidak mengatakan secara langsung, tindakan paman sangat jelas.


Sufyan menyerahkan posisinya di kantor pada Hardi. Membuat Kinan mau tidak mau akan lebih sering berurusan dengan Hardi.


Tentu dengan senang hati Hardi memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Kinan. Lebih yang membuat Kinan tidak suka, kadang Hardi melewati batas.


Lelah yang Kinan rasa bertambah dua kali lipat. Lingkungan kerja kini tidak lagi terasa nyaman baginya.


Kinan sudah mencoba bertahan selama satu pekan, namun sepertinya ini sudah mencapai batas toleransi.


Dia bisa membayangkan dirinya menghadapi masalah lebih besar kedepannya. Kinan ingin segera menyelesaikan semuanya.


......................


Di ruang kerja rumahnya, Kinan masih berkutat dengan setumpuk berkas. Kinan menopang dagu dengan telapak tangan kanan.


Sedang jari telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk meja berirama. Pandangan Kinan seolah menerawang ke tempat lain. Pikiran rumit Kinan perlahan menghilang di lahap rasa kantuk.


Beberapa kali dagunya jatuh dari tumpuan, ketika matanya terpejam. Akhirnya Kinan memejamkan mata dan menjadikan kedua tangannya bantal.


Hamparan hijau rumput, langit biru cerah, angin bertiup lembut menebarkan aroma bunga musim semi. Seorang perempuan tengah duduk menunggu putrinya.


“Mamaaa ... .” Gadis kecil berlari ke arah dekapan ibunya.


“Sini sayang,” ucapnya membentangkan kedua tangan bersiap memeluk.


“Manis sekali kesayangannya Mama,” ucapnya seraya memeluk erat putri kecilnya penuh kehangatan.


Tiba-tiba dari belakang, ayahnya muncul mengejutkan mereka. Lalu menggelitik perut putrinya. Tawa menyeruak ke luar dengan merdu.


Adegan berganti, memperlihatkan ketiganya tengah bermain kejar-kejaran.


“Tertangkap!” Jidan menggendong putri kesayangannya, sedang Kinan berontak tak mau.


“Huaaa ... Mama tolong Kinan,” rengeknya.


Jidan pura-pura kalah terkapar setelah istri dan putrinya menggelitik perut. Tawa anak itu kembali terdengar.


“Mama ... Mama,” Kinan menarik baju ibunya.


“Iya sayang,” jawab Vina seraya mengusap puncak kepala putrinya.


“Mama lebih sayang Kinan atau Ayah?” Jidan yang mendengar pertanyaan itu, langsung duduk di samping putrinya. Keduanya memasang mata berbinar.


Vina tertawa kecil, gemas dengan tingkah ayah dan anak. “Emmm ... Mama sayang-“


Kinan terbangun dari mimpi. Seutas senyum di bibir ketika tertidur perlahan menghilang, beriringan dengan kesadaran yang kembali pulih.


Bukan padang rumput atau langit biru, hanya ada dinding dengan sejumlah benda berdebu di depannya.


Perasaan rindu menyeruak memenuhi ruang hati. Kinan mengambil ponsel. Lama pandangannya terpaku pada satu nama kontak di sana.


Entah kapan terakhir kali mereka bertukar kabar, Kinan lupa. Kinan mengetik beberapa kata kemudian berhenti sejenak. Mulutnya terasa pahit.


Dia menghembuskan napas, menenangkan diri. Mencoba kembali mengetik beberapa kata, berulang-ulang dia baca memastikan tidak ada yang salah.


Kini tinggal menyentuh ikon kirim, tapi tangannya kelu. Perlahan tetesan air berjatuhan. Pesan itu belum juga terkirim, dadanya sesak.


Kuat-kuat dia tahan agar suara isak tangisnya tidak terdengar.


“Maa ... Kinan ... kangen.” Dia tutup aplikasi pesan tanpa mengirimnya. Tangis Kinan semakin deras.


Sementara itu tanpa di sadari Kinan, Barra menyaksikan apa yang terjadi pada kakaknya lewat celah pintu. Semula Barra ingin masuk lalu dia urungkan niatnya, memberi Kinan ruang.


Mendengar apa yang baru saja kakaknya katakan, hati Barra ikut sakit. Barra bersandar di dinding samping pintu. Tangan menggosok kasar air mata yang mulai berjatuhan.


......................


Barra mengendarai motor menuju rumah. Sehabis pulang dari latihan basket sore itu. Saat memasuki pekarangan rumah, Barra melihat mobil yang dia kenali bukan milik Kinan.


Terdengar suara percakapan serius dari ruang tamu. Topik pembicaraan tersebut menahan Barra untuk tidak masuk ke dalam rumah.


“Kinan coba kamu pikirkan ulang. Anggap Paman tidak mendengarnya.”


“Keputusan Kinan sudah bulat. Paman tidak perlu khawatir, Kinan punya rencana setelah ini.”


“Nak, mencari kerja di saat seperti ini bukan hal mudah. Kalau kamu mau, Paman bisa menaikkan gajimu.”


“Ini bukan masalah gaji, Paman juga tahu, kan alasannya.”


Sufyan mengerutkan dahi, merasa usaha membujuk keponakannya tidak berhasil. Bukan ini yang dia harapkan.


Harusnya hubungan Kinan dengan Hardi semakin dekat dan dia bisa menikahkan mereka. Kenyataannya Kinan malah semakin menjauh.


Sufyan berdiri, berjalan menuju foto yang terpajang di atas laci. Tangannya mengangkat pigura kecil, foto Barra dan Kinan yang diambil saat kelulusan SMP Barra.


“Sembilan tahun sudah lebih dari cukup,” ucap Sufyan.


“Mau sampai kapan kau mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?”


Sufyan bicara dengan membelakangi Kinan. Kinan menundukkan pandangan, rasa haru dalam sekejap menyergapnya.


“Paman ingin kamu bahagia. Membangun keluarga kecilmu sendiri. Menjalani sisa hidup dengan keluarga yang sebenarnya.”


“Kenapa Paman bilang begitu? Barra itu adik Kinan dan kami adalah keluarga.” Suara Kinan bergetar.


“Kinan ... Kinan bahagia tinggal bersamanya.” Sebisa mungkin Kinan menegaskan suaranya agar tidak terdengar gemetaran.


Sufyan menaruh kembali foto dan berbalik menatap keponakannya dengan iba. “Kau tidak bisa membohongi Paman.”


“Kau merindukan ibumu, kan? Paman dengar kau menghubungi Alex beberapa hari lalu.”


Kinan diam tanpa menjawab. Sufyan merapikan jasnya berniat pulang.


Dia tahu percuma memaksa bicara lebih lama dengan Kinan. Keponakannya itu tidak akan menyerah, jauh lebih baik untuk memberinya waktu berpikir.


“Jangan terlalu keras pada dirimu. Paman akan menunggu. Jadi pikirkan baik-baik,” jelasnya pada Kinan seraya berlalu.


Sufyan bertemu dengan Barra di depan pintu masuk. Tanpa menyapa dia berlalu pergi dengan mobilnya.


Barra melihat sosok Kinan yang membelakanginya lewat pintu. Dia masih saja mematung tidak bisa masuk ke dalam.


Kinan berjongkok, rasanya kakinya lemas seketika. Tidak lama terdengar suara orang memanggil namanya dari luar.


Ketika Kinan ke luar rumah, menghampiri sumber suara. Barra secara spontan bersembunyi. Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya melakukan hal itu.


Hardi berdiri di depan rumah dengan kondisi marah.


“Kinan apa maksudmu mengirim surat ini!” ucapnya seraya meremas surat pengunduran diri dan melemparnya ke tanah.


“Jelas seperti yang tertulis di sana.”


“Haaah, Kinan.” Hardi mendekat satu langkah. Kinan mundur dua langkah dari posisinya.


“Oke, aku minta maaf jika ada salah. Jadi tolong tetap di sampingku.” Hardi memohon dengan sungguh-sungguh.


“Apa Kak Hardi bisa janji tidak membicarakan pernikahan dan hanya bekerja secara profesional?”


“Kenapa kau selalu menolak! Apa yang kurang dari diriku. Beritahu aku Kinan!”


“Kakak bahkan belum bisa mengontrol emosi.”


“Maaf.” Hardi memelankan suaranya.


“Seperti yang Kinan bilang sebelumnya, Kinan belum ada niat menikah. Masih ada banyak hal yang harus diselesaikan.”


“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Kalau kita menikah, aku yang akan urus semuanya.”


“Kinan rasa itu akan sulit, kalau Kak Hardi tidak bisa menerima keluarga Kinan.”


“Apa maksudmu? Tentu saja aku bisa menerima ibumu ... .” Hardi terdiam ketika matanya melihat Barra yang sedang bersembunyi. Ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal.


“Ck, maksudmu benalu itu? Mau sampai kapan dia menempel padamu?” ucap Hardi seraya melirik ke arah Barra.


“Kau harus membuangnya sebelum dia menghancurkanmu!”


“Lebih baik Kak Hardi pulang sekarang.” Kinan beranjak pergi menuju rumahnya.


“Tunggu Kinan! Kita belum selesai bicara!” Hardi menangkap pergelangan tangan Kinan.


“Lepaskan tangan Kakak! Kau menyakitinya!” Barra menghampiri keduanya.


“Barra?” Kinan agak terkejut mengetahui adiknya ada di sana.


Hardi tertawa dengan keras. “Haaa ... Lihat siapa yang bicara? Membuatku ingin muntah.”


Dia mengangkat tangan Kinan dan menampakkan telapak tangannya ke arah Barra.



“Bekas luka ini, harga yang harus dia bayar sebab kau dan ibumu! Dan kau tahu? Orang yang melukainya adalah-“


“CUKUP!” teriak Kinan.


“Tolong jangan melewati batas.” Kinan memberikan penekanan di setiap kata. Matanya memerah, tubuh Kinan gemetar menahan amarah.


“Lebih baik Kakak sekarang pergi, sebelum Kinan benar-benar membenci Kakak.”


Hardi melepaskan tangan Kinan, menyisakan bekas merah akibat kuatnya genggaman itu. Dia terpaksa pergi setelah melihat Kinan serius akan membencinya.


......................


Barra mengunyah makanan yang entah mengapa terasa hambar. Sesekali dia melirik ke arah Kinan, tanpa bisa menebak bagaimana kondisi kakaknya.


“Barra, lupakan apa yang kamu dengar tadi sore. Dia bersikap begitu karena terbawa emosi.”


Sebenarnya Barra masih kesal, ketika melihat bekas merah di lengan Kinan. “Iya Kak.” Barra memaksa dirinya tersenyum.


Kinan ikut tersenyum.


Ada banyak yang ingin Barra tanyakan, namun dia urungkan semua. Barra ingin membiarkan Kinan lebih dulu membahasnya. Bila pun Kinan tidak menjelaskan apa-apa, Barra akan terima saja.


Barra ingin fokus pada apa yang mungkin bisa dia lakukan untuk membantu Kinan. Misalnya mencari kerja sambilan, adalah salah satu cara.


Dia berpikir akan meminta rekomendasi pada Ubay, anak ini sudah ahlinya mencari pekerjaan sambilan.


“Jangan berpikir untuk mencari kerja. Tugasmu adalah belajar.”


Barra tersentak dari lamunan, seakan Kinan telah membaca isi pikirannya. Barra menggaruk kepala, tampaknya tidak ada yang bisa dia sembunyikan.


“Kakak berhenti bekerja bukan tanpa persiapan. Ada beberapa proyek yang Kakak kerjakan sejak beberapa bulan lalu. Alhamdulillah berjalan baik.”


“Yah, Kakak memang berniat berhenti. Hanya saja lebih cepat dari rencana awalnya,” jelas Kinan.


“Siap Bos!” Jawab Barra cepat.


Kinan mengelus puncak kepala adiknya. Barra kembali teringat memori lama. Saat pertama kali Kinan meletakkan telapak tangan di puncak kepalanya, dengan senyum hangat yang sama.


Barra berikrar di dalam hati, dia akan melakukan apa saja agar kakaknya bahagia.


......................


Rutinitas mereka kembali seperti biasa, seolah tidak ada masalah yang terjadi. Kinan sibuk mengurus pekerjaan barunya. Ada banyak sekali hal yang harus Kinan selesaikan.


Pengalaman Kinan selama bekerja di perusahaan paman sangat membantu. Kinan juga banyak mendapat berbagai koneksi mitra bisnis.


Sebab sudah lama bekerja sama, mereka mengetahui kemampuan dan kejujuran Kinan. Tidak segan menjalin hubungan bisnis dalam jumlah modal yang besar.


“Kak, makan dulu.” Barra membawa nampan berisi makan malam ke ruang kerja Kinan.


Sudah hampir satu bulan berlalu, Kakaknya terlalu sibuk bekerja hingga sering melewatkan jam makan.


Barra sangat khawatir, di tambah lagi beberapa waktu lalu kakaknya sempat jatuh sakit.


“Letakkan saja di sana.” Kinan masih sibuk berkutat dengan pekerjaan di depan laptop.


Barra mengambil kursi, duduk di depan Kinan. “Bismillah ... Aaaa pesawat mau lewat.”


Kinan membaca bismillah lalu membuka mulutnya, membiarkan makanan masuk. Sedang mata dan tangannya fokus bekerja.


“Anak pintar,” puji Barra diiringi tawa kecil. Senang bisa membantu Kinan.


“Jangan begadang terlalu malam. Tubuh kakak juga perlu istirahat,” nasehat Barra.


“Uuuutututu ... lucu sekali adik kecil ini sudah bisa menasehati Kakaknya,” ledek Kinan.


“Kak Barra serius, baru beberapa hari-” perkataan Barra terpotong suara deringan ponsel Kinan.


Kinan menghentikan makannya dan mengangkat telepon. Ekspresi wajah Kinan berubah serius, seperti mendapat kabar tidak mengenakkan. Dia keluar meninggalkan Barra sendirian.


“Tapi Pak, acaranya tinggal dua hari lagi. Bagaimana bisa pengirimannya dibatalkan?”


“Pihak kami tidak bisa berbuat banyak. Kalau kami tidak mengikuti perintah pak Hardi, perusahan kami yang akan dirugikan. Sekali lagi kami minta maaf.”


“Pak ... Halo ... Halo.” Panggilan itu diputus secara sepihak. Kinan memegang dahinya, merasa tertekan.


Jarum jam menunjukkan pukul 21.09 malam. Kinan mengambil kunci mobil dan bergegas pergi.


Dia berusaha mencari pengganti lain agar acaranya tidak terkendala. Beberapa koneksi yang dia temui menolak dengan alasan yang sama.


Tidak berhenti di situ, Hardi terus menghalangi pekerjaan Kinan. Hingga Kinan kini harus mengganti rugi modal yang cukup besar.


Kinan terus berusaha memenuhi tanggung jawabnya pada mitra bisnis hingga akhir.


Kinan bekerja terus-menerus hingga lupa istirahat. Barra tidak bisa berbuat banyak, dia tidak mengerti soal bisnis.


Semakin hari kondisi kesehatan Kinan semakin memburuk. Dia sering kehilangan fokus dalam tekanan berat.


Tidak tahan melihat kakaknya berjuang sendirian, Barra memutuskan untuk meminta bantuan. Satu-satunya orang yang Barra tahu mengerti masalah kakaknya adalah Sufyan.


......................


Siang minggu seakan sudah senja. Langit sangat gelap dipenuhi awan mendung. Namun Barra sudah membulatkan tekad untuk mendatangi pamannya Kinan.


Sesampainya di sana, Barra disambut dengan tatapan sinis oleh Sufyan. Mereka duduk di ruang tamu.


“Ada urusan apa sampai kau berani datang kemari?”


Barra tak berani memandang lawan bicaranya. “Paman tolong bantu Kak Kinan.” Sufyan tidak langsung menjawab.


Dia membiarkan suasana tegang dan menekan terus membayangi Barra.


Perlahan dia menyeruput minuman di depannya. Setelah meletakkan gelas ke meja. Sufyan berujar, ”Kinan itu anak yang cerdas. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”


“Tapi Paman-” Sufyan memotong ucapan Barra sebelum dia selesai bicara.


“Kalau kau sebegitu khawatirnya, coba bantu kakakmu sendiri. Jangan mengharap bantuan orang lain.”


Hujan mulai turun. Barra pulang tanpa membawa apa-apa, selain penolakkan yang dia dapat. Bajunya basah terguyur hujan yang semakin deras.


Tubuhnya menggigil kedinginan. Ketika Barra mengucap salam, tidak ada jawaban dari dalam rumah.


Barra mengecek setiap ruangan sambil memanggil Kinan. Hingga Barra mendapati Kinan yang terbaring di lantai dapur.


Suara hujan yang deras, angin kencang, disertai guntur yang menggelegar menelan suara Barra.


“Kakak!”


Barra membaringkan Kinan di kamarnya. Suhu tubuh Kinan sangat panas, dia demam tinggi. Barra mengompres dahi Kinan dengan kain basah.


Barra menyentuh bekas luka di telapak tangan Kinan. Dari seberapa dalam ukuran bekas luka, Barra dapat membayangkan rasa sakit Kinan kala itu.


Sebenarnya, penderitaan apa yang sudah Kinan lalui untuk merawat dirinya. Barra terus bertanya-tanya. Hatinya terasa di hujam ribuan anak panah.


Setengah sadar kadang Kinan membuka matanya. “Panas,” gumannya. Sigap Barra mencelupkan ulang kain ke dalam air. Kinan kembali menutup matanya.


Tanpa sadar Barra tertidur di samping tempat tidur dengan posisi duduk. “Jangan tinggalkan Kinan.”


Barra terbangun mendengar suara Kinan.


“Iya Kak, Barra ada di sini.” Ucapnya menggenggam tangan Kinan.


“Maa jangan pergi. Mama ... .” Kinan kembali mengigau memanggil ibunya.


Barra tertegun mendengar Kinan memanggil ibunya. Seberapa keras pun Barra berusaha. Dia tidak akan bisa memenuhi posisi ibunya Kinan.


Selamanya ikatan setengah tidak akan bisa menggantikan ikatan penuh.


Barra mengelus rambut kakaknya perlahan. “Barra janji akan bawa mama Kakak kembali.” Barra mencium punggung tangan kakaknya tanda bakti.


......................


Kinan terbangun seorang diri di siang hari. Demamnya sudah turun. Kinan tidak ingat apa yang terjadi semalam. Terakhir kali yang Kinan ingat, dirinya sedang mengambil air minum di dapur.


“Sudah bangun?”


“Paman? Kenapa Paman bisa ada di sini?” tanya Kinan bingung.


“Tadi malam Barra menghubungi Paman, katanya kau sakit. Jadi Paman mampir menjenguk.”


“Lalu Barra di mana?”


“Tentu saja sekolah. Kau istirahatlah, biar Paman yang siapkan makanan.”


“Iya, terima kasih Paman.”


Malam itu, Barra mengabari Sufyan kalau Kinan sakit. Barra juga meminta waktu untuk berbicara lagi dengan Sufyan di pagi hari. Dia bilang ada hal penting yang akan ditawarkan.


Pagi sekali, Sufyan datang sesuai janji. Mereka berbicara di ruang tamu.


“Paman bilang ingin kakak bahagia, kan? Dan ... Tinggal bersama keluarga aslinya.”


Sufyan melipat kedua tangannya, mendengar ucapan Barra.


“Barra akan membuat kakak tinggal bersama ibunya. Jadi Barra minta tolong, jangan paksa kak Kinan menikah. Kakak ... akan bahagia dengan keluarga aslinya.”


Sufyan mendengus. Mengangkat satu sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang ibunya Kinan.”


“Barra akan mencari tahu dan membuat itu semua terwujud. Barra janji akan buat kak Kinan bahagia.”


Sufyan menolak mengakui, kalau dirinya sedikit terkesan dengan kesungguhan Barra. “Baiklah, akan aku beri kau satu kesempatan. Tapi jika kau gagal, Kinan harus menikah dengan putraku.”


Begitulah kesepakatan rahasia antara Barra dan Sufyan terbentuk, tanpa sepengetahuan Kinan. IsI perjanjian juga mencantumkan bantuan Sufyan untuk bisnis Kinan, serta menghentikan gangguan dari Hardi.


......................