Half Brother

Half Brother
BAB 10 Obsesi



Perlahan-lahan Kinan kembali ke dunianya yang dulu. Meski sekarang tanpa ayah di sampingnya. Kondisi Vina jauh lebih stabil.


Sejak pertemuan di taman, Kinan sudah tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya. Meski dia sering merindukannya.


Kinan menepati janji untuk tidak menemui ayahnya. Sebagai gantinya, Vina mau mengikuti serangkaian pengobatan. Vina ingin memastikan Kinan selalu berada di sisinya.


Sayangnya kondisi stabil ini tidak bertahan lama. Tanpa sepengetahuan Kinan, Jidan masih berusaha menemui Vina.


Tentu saja, ini berpengaruh dengan kondisi mental Vina. Dia semakin mengisolasi Kinan dari dunia luar. Ketakutan berlebihan akan kehilangan putrinya, setelah terputus dengan suaminya.


Kinan hanya bisa ke luar rumah sendirian, ketika pergi ke sekolah dan tempat lomba. Vina bahkan diam-diam membayar orang untuk mengawasi putrinya.


“Kinan hari ini main ke rumahku, ya. Sudah lama kamu gak ikut gabung sama kita.”


“Iya. Setiap hari kamu langsung pulang terus.”


“Tapi aku-"


“Syuttttt. Nanti kita keluar lewat belakang. Jadi gak bakal ketahuan sama pak Samsul (supir Kinan).”


Kinan akhirnya setuju. Dia juga sudah merasa tertekan karena terus dikurung ibunya. Ketiga anak itu berhasil menjalankan rencana mereka.


Anak kelas 6 SD itu berjalan dengan riang. Kinan mendapat akselerasi kelas karena kecerdasannya. Meski berumur 10 tahun, dia sudah berada di kelas 6 SD.


Rumah teman Kinan berada di gang sempit, jalanannya juga sedang sepi. Langkah kaki mereka terdengar cukup jelas.


Mereka menyadari ada orang yang mengikuti sejak tadi. Ketiganya berlarian, Kinan berlari lebih cepat dari yang lainnya dan orang asing itu mengikuti Kinan.


Kedua teman Kinan yang menyadarinya berhenti. Salah satu dari mereka kembali berlari, agar tidak kehilangan jejak Kinan. Sedang yang satu lagi mencoba menelepon ayah Kinan.


Kinan tersudut di ujung jalan buntu. Dia bersembunyi, sehingga orang-orang asing yang mengikutinya kehilangan jejak.


Kinan tidak tahu berapa lama dia bersembunyi. Tubuhnya gemetaran, keringat dingin membahasinya. Di sisi lain, teman Kinan yang mengikutinya sudah memberi tahu ayah Kinan.


“Aaaa tolong!” Teriak Kinan, ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.


“Kinan tenang, ini Ayah.” Napas Jidan tidak teratur karena kelelahan berlari.


Kinan menangis ketakutan sambil memeluk ayahnya. Syukurlah kedua temannya Kinan cukup cerdas bertindak cepat.


Jidan tidak bisa menolak ketika Kinan memaksa diantar pulang ke rumah ibunya. Kinan menyesali perbuatannya, dia takut Vina kembali meledak mengetahui dirinya tidak pulang.


Kinan turun dari mobil ayahnya jauh dari jarak ke rumahnya. Meski berat hati, Jidan akhirnya pergi meninggalkan putrinya.


Suara pecahan kaca dan barang yang berjatuhan, diiringi teriakkan menyambut kedatangan Kinan.


Pintu rumah terbuka lebar. Ruang tamu dipenuhi patahan piala bercampur pecahan kaca, berserakan di lantai.


Kinan berlari ke arah sumber suara. Di dapur Vina lempar semua barang. Kaki Kinan membeku, tangannya menutup kedua telinga, begitu pula matanya reflek tertutup.


“Mau apa kau kemari! Sana pergi! Pergi!” Teriak Vina ketika melihat Kinan.


“Ma ... “ suara Kinan gemetar dan terdengar sangat kecil. Perlahan berjalan ke arah ibunya.


“Jangan mendekat! Kamu sama saja dengan dia! Kamu mau meninggalkan Mama, kan!”


“Kinan tidak akan meninggalkan Mama. Kinan sayang sama Mama.”


“Pembohong! Kamu mau kabur dengan ayahmu! Kalian pasti sudah merencanakannya!”


Kinan terkejut. Dia tidak tahu, bagaimana ibunya mengetahui pertemuan Kinan dengan ayahnya. Dia yakin sudah berpisah dengan ayahnya, jauh dari rumah.


Kinan menggeleng, masih berusaha mendekati ibunya. “Mama, Kinan ada di sini. Bersama Mama.”


“Aku mencintai kalian, tapi tidak ada satu pun yang mencintaiku.” Vina menangis histeris.


“Tidak ada gunanya aku di sini.” Vina mengambil benda berujung tajam dan mengarahkan ke pergelangan tangannya.


“Mama jangan!” Teriak Kinan menggenggam ujung tajam benda itu. Cairan merah mengalir keluar dari tangannya.


......................


“Setelah insiden, pasien menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Saya sendiri yang merawatnya.” Dokter memperlihatkan riwayat regestrasi perawatan ibunya Kinan.


“Lalu bagaimana kondisinya sekarang Dok?” Tanya Qais.


“Sekarang Saya sudah tidak bertanggungjawab atas perawatannya. Pasien dipindahkan pada dokter lain.”


“Bisakah Saya mendapatkan kartu nama dokter tersebut?”


“Maaf. Saya tidak bisa memberikannya. Waktu kita sudah habis.”


......................


Mata Kinan yang sedari tadi menatap bekas luka kini beralih lurus ke depan. Bisa-bisanya dia sempat mengingat masa lalu, sebelum turun dari mobilnya menuju tempat pertandingan basket Barra.


Sorak sorai dari kedua belah pihak memenuhi area. Kinan seakan bisa bernapas lega, terlepas dari lamunan masa lalunya. Syukurlah dia tidak terlambat menyaksikan pertandiangan adiknya.


Ubay menjitak Farisi yang mengoper (pass) bola ke tim lawan.


“Maaf. Tadi panik,” ucap Farisi mengajukan pembelaan diri.


Akibatnya skor tim lawan unggul tipis dari tim mereka. Peluit berbunyi tanda pergantian kuarter, mereka berkumpul dengan pelatih untuk beristirahat dan merencanakan strategi.


Barra berusaha bermain semaksimal mungkin meski pikirannya sedang tidak karuan. Ubay memberitahu Barra dengan menunjuk ke arah bangku penonton, kalau kakaknya ada di sana.


Barra menghampiri Kinan dengan tersenyum lebar. Semangatnya terisi penuh. Kinan mengeluarkan botol air mineral dari tasnya.


“Kakak datang.”


“Tentu saja. Kamu bilang mau melakukan dunk, kan. Kakak mau lihat.” Kinan menyerahkan botol kepada Barra.


Barra menyambutnya. “Ya, Kakak harus perhatikan hingga akhir!” Barra kembali ke timnya.


Kinan melambaikan tangannya seraya tersenyum.


......................


Mereka berhasil memenangkan pertandingan. Galang, kapten tim basket SMA NUSA mengangkat piala. Mereka berfoto bersama dengan Amar sebagai pelatih.


Barra berlari mencari Kinan di bangku penonton, tapi tidak menemukannya. Barra berhenti dan melihat ke sekelilingnya.


“Barra selamat ya,” Ceshy menghampiri Barra seraya berlari kecil.


“Eeeh, Hand Up!” Barra berusaha menghentikan Ceshy sebelum terlalu dekat dengannya.


Spontan Ceshy berhenti dan mengangkat kedua tangannya. Farisi dan Ubay yang berjalan mendekat tertawa terbahak-bahak.


“Wah Barr, sudah ketangkap penjahatnya? Sini biar aku bantu borgol,” ledek Farisi.


Bagaimana tidak, Barra membentuk pistol dengan tangannya dan Ceshy mengkat kedua tangan. Langkah ini cukup manjur menahannya, Barra agak trauma dengan gadis angresif ini.


Barra langsung menjepit leher Farisi dengan lengannya. Farisi menyatakan diri menyerah, berhenti menggoda Barra.


Ubay hanya sibuk menertawakan mereka tanpa melerainya.


“Hei!” Ketiganya bergidik ngeri, mendengar satu kata dari Ceshy yang sedari tadi diabaikan.


Mereka segera berbaris rapi. Ceshy menghela napas, menyeringai dengan mengerikan.


“Sebenarnya aku sangat kesal, tapi karena ini adalah hari yang bagus. Aku akan meneraktir kalian makan.” Suasananya berubah seperti musim semi.


“Horeeee.” Ubay dan Farisi bersuka ria.


“Hei kalian tidak melupakan ku, kan?” Ucap Rion yang tiba-tiba sudah ada di sana.


“Eh, tentu saja. Kau juga ikut Rion,” jawab Ceshy.


“Mau ke mana!” Suara yang tidak kalah mengerikan muncul dari belakang Ceshy.


Cashy yang kaget, menoleh ke belakang. Kakak super menyebalkannya sedang memengang ponsel di telinga.


“Ketemu Bu, Ceshy ada di-”


Ceshy merebut ponsel Qais. “Iya Ceshy akan pulang.” Lalu menutup panggilan telepon itu.


"Anak cewek gak boleh kumpul sama cowok. Bukan mahram," bisik Qais.


Dahi Ceshy berkerut, dengan mata melotot dia menginjak sepatu Qais lalu berjalan pergi. Qais segera memegang kakinya kesakitan.


“Tuan Putri tunggu! Traktirannya gimana?” Teriak Ubay.


“Minta saja sama si Cepu!” sarkasnya pada Qais.


Farisi dan Ubay langsung saja merangkul Qais seraya tersenyum licik. Qais tidak bisa berkutik lagi.


“Di tempatku Qing.” Ubay menyarankan tempat kerjanya Retro Yummy.


“Sepakat! Asik ketemu kak Kala,” cepat Farisi menyetujuinya.


“Iya, baiklah.” Qais pasrah.


Rion dan Barra diam saja, memperhatikan tingkah dua temannya.


“Qai, sudah ketemu?” tanya Barra.


Qais mengangguk. “Ceritanya panjang. Kita bicarakan di sana nanti.”


......................