
Ruang ganti staf, mereka bertiga berakhir di sana. Bagaimana ini terjadi? Setelah perkelahian dapat dilerai, seharusnya mereka sudah diusir.
Namun Kala, kakak pemilik Retro Yummy bersedia memberi mereka ruang mediasi.
“Pukulanmu lumayan juga Bocah, haha.” Jaya mengelap darah di ujung bibirnya dengan tisu.
“Berhenti bicara omong kosong! Katakan! Apa tujuanmu sebenarnya!” Barra menggertakkan gigi dan kedua tangannya mengepal.
“Kau sangat tidak sabaran, ya. Tujuan, coba ku pikir dulu.” Jaya menautkan jari tangannya seraya memangku dagu. Membuat pose tengah berpikir serius.
“Hmmm ... Karena ... Kelihatannya bakal seru!” Jaya memotong-motong ucapannya sambil memperhatikan ekspresi Barra.
“Kau!” Barra naik pitam.
Jaya tertawa lepas. Puas seakan tujuannya memancing emosi Barra berhasil. Qais yang ada di dekat Barra segera mencegat temannya agar tidak lepas kendali.
“Tolong jangan bercanda. Bukannya kita sudah sepakat untuk menyelesaikan dengan kepala dingin.” Qais mencoba membuat kondisi kembali kondusif.
“Haaa ... Kalau Bocah sepertimu bicara begitu. Aku jadi terlihat tidak keren, kan.” Jaya memutar bola matanya malas.
Mereka kembali duduk, tidak lama terdengar suara dering ponsel milik Jaya. Ekspresi senangnya lekas menghilang berubah menjadi datar.
“Baiklah, aku akan jelaskan dengan benar sekarang. Jadi dengarkan baik-baik Bocah!” Jaya menatap Barra dengan tajam.
“Tujuanku adalah membantumu lepas dari balas dendam Kinan.” Jaya menyeringai.
“Apa kau pikir aku akan percaya!” Bantah Barra dengan tegas, tidak terima.
“Berisik!” Jaya menutup telinganya, seraya memotong ucapan Barra.
“Bodoh, jika kau langsung percaya. Makanya aku memberimu petunjuk.” Jaya kembali memperhatikan respon lawan bicaranya.
Barra tampak sedikit terkejut dengan pernyataan Jaya.
“Kenapa Anda ingin membantu Barra? Kalian bahkan tidak saling mengenal?” Qais mencoba menelisik lebih dalam.
“Kau memang cerdas Bocah. Seperti yang ku bilang sebelumnya, ini akan seru. Kau tidak perlu tahu siapa atau bagaimana aku mengenal Kinan. Bukannya petunjuk itu yang terpenting?”
Qais menambah kewaspadaannya. Orang ini tampak berbahaya baginya. “Anda menyinggung petunjuk. Bukannya lebih mudah langsung menceritakannya pada kami.”
Jaya mengangkat sebelah alisnya. “Kalau begitu tidak akan seru.”
“Berhenti bermain-main. Katakan saja apa yang kau tahu!” Barra menatap tajam.
“Dengar, Bocah tidak tahu terima kasih. Aku sudah membantumu, setidaknya aku harus bersenang-senang, bukan.” Perkataan Jaya membuat Barra terdiam.
“Ikuti aturan mainnya. Baru petunjuk itu akan berguna. Tapi Bocah sepertimu terlalu pengecut untuk menghubungiku.”
Barra menahan dirinya kuat-kuat.
“Baiklah, angap kami setuju mengikuti aturannya. Lalu buat kami yakin, kalau perkataan Anda benar.” Qais kembali memimpin pembicaraan.
"Baiklah, itu mudah. Aku akan memberitahumu bagaimana Kinan menjalankan balas dendamnya."
“Kinan mengikat Bocah ini dengan rasa bersalah dan hutang budi, hingga dia tidak bisa meninggalkannya."
"Lalu membuatnya hidup dengan menerima kebenciaan dari orang-orang yang menyayangi Kinan.”
Barra tidak bisa membantah, Jaya seolah mengoyak isi hatinya. Jaya mengalihkan pandangannya ke arah Barra.
“Kinan bisa saja melepaskanmu, hidup bersama ibumu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia juga menutup semua fakta hingga membuatmu menyalahkan diri sendiri.” Jaya tersenyum sinis.
“Lalu kau dengan bodohnya, berusaha memperbaiki hubungan Kinan dan ibunya. Agar mereka hidup bahagia. HAHAHA menggelikan.”
“Hentikan! Kakak tidak mungkin begitu!” Barra mendatangi dan mencengkaram Jaya. Matanya memanas berarir, tubuhnya bergetar menahan amarah.
"Luar biasa. Kinan sudah berhasil mengencangkan ikatan di leher adiknya. Hahaha."
Qais mencoba memisahkan keduanya. Tiba-tiba Ubay datang dengan napas ngos-ngosan seperti habis berlari. Membuka pintu.
“Bro ... Kita harus segera ke rumah sakit ... Hah,” ucap Ubay mencoba menormalkan napasnya.
Qais langsung menghampiri Ubay dan menanyakan apa yang terjadi. Sedangkan Barra masih belum melepaskan Jaya.
“Wah ... Sepertinya kau punya janji lain.” Jaya menepis cengkraman Barra, lalu merapikan pakaiannya.
Jaya menyelipkan sebuah kartu nama ke dalam kantong baju Barra. “Kali ini pastikan kau menelepon, Bocah.” Dia kemudian pergi lebih dahulu.
......................
“Kenapa kalian sulit sekali dihubungi? Kamu tahu betapa paniknya aku!” Farisi sangat frustasi.
“Ceritanya panjang. Sekarang bagaimana keadaan Rion?” tanya Qais.
“Lukanya sudah dijahit. Tapi masih perlu satu kantong darah.” Farisi membawa Qais ke ruangan bersama perawat untuk mendonorkan darahnya.
Barra dan Ubay duduk di ruang tunggu. Mereka tidak saling bicara dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya kondisi Rion mulai stabil tapi masih belum sadarkan diri.
Mereka sudah masuk ke ruang rawat inap. Qais berjaga di dalam ruangan, sedangkan sisanya duduk di kursi samping ruangan. Barra akhirnya menceritakan masalahnya, setelah didesak Ubay.
“Hidup kalian kenapa rumit sekali.” Peryataan yang Farisi tujukan pada Barra dan Rion.
“Brro, seharusnya kamu juga ceritakan pada kami lebih awal.” Ubay menepuk pundak Barra.
“Aku tidak ingin menyusahkan kalian. Sorry.”
“Kali ini akan kami maklumi,” balas Ubay diiringi anggukan Farisi.
“Lalu, ada apa dengan yang satunya?” tanya Ubay.
“Bapaknya pulang dan BOM! Meledak!” jelas Farisi yang langsung mendapatkan jeweran Ubay.
Mereka kemudian masuk, ketika Qais berteriak meminta bantuan. Rion berusaha melepaskan infus, ingin kembali ke rumahnya. Setelah ditahan keempat temannya, Rion tidak bisa berkutik.
“Hei, sudah lepaskan. Aku tidak akan kabur,” pinta Rion yang terlilit tubuh teman-temannya.
“Gak! Memangnya kami tidak tahu akal bulusmu,” bantah Farisi.
“Jangan melawan! Tetap di sini sampai kamu sembuh,” perintah Ubay.
“Far, Bay, kalian lebih baik lepaskan Rion.” Barra melirik ke duanya.
“Kenapa kamu ikut-ikutan Barra! Kamu sendiri masih memegangnya,” protes Farisi.
“Barra benar. Kalian tolong panggil perawat sana,” pinta Qais.
“Hah?” Ubay dan Farisi bingung.
“Rasanya aku akan mati sebelum berhasil kabur. Kalian menekan lukanya,” ucap Rion menahan sakit.
“Aaaa ... Maaf.”
Mereka melepaskan Rion dan memanggil perawat. Luka Rion kembali diobati. Mereka pun juga dimarahi dan di suruh keluar.
Barra mengecek ponsel yang tadi sengaja dia matikan saat berbicara dengan Jaya. Barra mematikannya karena terganggu dengan panggilan grup dari Farisi. Tanpa tahu kalau itu hal yang penting.
Ketika dia menyalakannya. Notif panggilan tak terjawab dari Kinan muncul dalam jumlah banyak. Barra segera menghubungi Kinan.
“Assalamualaikum. Ada apa Kak?”
“Waalaikumussalam. Barra kamu di mana?”
“Barra di-“
“Cepat pulang! Apa kamu bertemu seorang laki-laki aneh? Em ... maksudnya, kalau ada orang yang mencurigakan mengikutimu, lapor polisi! Ah tidak. Kirim alamatmu, biar Kakak yang ke sana. Jangan sendirian mengerti!”
“Kak sebentar-“
“Halo? Kak! Kakak!” panggil Barra.
Suara Kinan terdengar panik, bicara tanpa memberi Barra kesempatan menjawab. Langsung menutup telepon dan meminta Barra mengirim lokasinya.
Pikiran Barra tiba-tiba dipenuhi kekhawatiran. Dia bahkan tidak tahu posisi Kinan sedang berada di mana sekarang.
“Kamu kenapa?” tanya Qais pada Barra yang berjalan bolak-balik tidak karuan.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan kakakku.”
“Apa yang kakakmu katakan?”
“Dia memintaku berhati-hati dari orang aneh.”
“Apa ini ada hubungannya dengan orang bernama Jaya itu?” Qais mencoba mengambil kesimpulan.
“Ku harap bukan.”
......................