Half Brother

Half Brother
BAB 5 Berlawanan




Sepulang sekolah, setelah beristirahat sebentar. Barra langsung dihadapkan dengan pelajaran lagi. Kinan telah menunggunya di ruang keluarga dengan setumpuk buku.


Setiap kali ada waktu luang, Kinan mengajari adiknya materi yang tidak Barra pahami. Terutama matematika.


“Jadi integral itu adalah kebalikan dari diferensial. Pangkatnya dinaikkan atau ditambah satu, lalu dijadikan pembagi konstanta di depan variabel. Contohnya ... .”


Lihai pena menari-nari di atas kertas. Melukis angka, variabel, dan pangkat mengikuti pola rumus integral.


Kinan menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana, berharap Barra akan lebih mudah mengerti.


Rasa kantuk cepat mengerjap Barra, matematika seperti obat bius yang paling ampuh untuknya.


Beberapa kali matanya terpejam, lalu dipaksa tetap terbuka.


Suara Kinan terdengar seperti alunan pengantar tidur, Barra perlahan pergi ke alam mimpi.


“Bangun.” Kinan mencubit pipi adiknya.


“A .. aduhh. Sakit Kak,” rengeknya manja seraya mengelus pipi.


“Siapa suruh tidur?”


“Ya jangan salahkan Barra. Otak cuma satu tapi dijejal semua mata pelajaran. Auto puyeng.”


Kinan tertawa kecil mendengar keluhan adiknya.


“Barr, apa pernah kamu dipaksa harus juara satu?” Barra menggelengkan kepala sambil manyun.


“Belajar itu-”


“Ambil berkah ilmunya. Gak perlu juara satu, yang penting jujur saat ujian.” Barra melafalkan nasehat Kinan dengan lancar.


“Nah itu kamu tahu. Mengerti atau tidak itu urusan belakang, setidaknya kita sudah berusaha dan berdo’a. Hasilnya kita tawakal kan pada Allah.”


“Tapi tetap saja malas. Belajar sesuatu yang gak disukai itu penyiksaan,” keluhnya.


“Terus nanti kalau kamu ujian gimana jawabnya?” tanya Kinan.


“Hah ... Nanti Barra pinjam otak Kakak saja.”


Kinan menghela napas. “Belajarnya kita lanjutkan nanti.”


Barra menempelkan dagu di meja, matanya memperhatikan Kinan yang sibuk membereskan buku. Rasa penasaran menghampirinya.


“Kakak kok bisa sih masih ingat rumus integral? Padahal sudah bertahun-tahun gak sekolah.”


Kinan berhenti merapikan buku. “Kalau kamu lama gak latihan basket, bisa lupa cara dribble gak?” tanya Kinan.


“Em ... Skill sih bisa turun, tapi gak sampai lupa cara dribble juga.”


“Kenapa?”


“Ya karena sudah mendarah gading. Hafal di luar kepala.”


“Nah sudah terjawab, kan.” Kinan berdiri dari tempat duduk. Barra hanya melongo tak percaya.


Di tengah kekaguman, Barra teringat piala milik Kinan. Sebab sudah membahas soal sekolah, ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek informasi.


“Berarti dulu Kakak sering menang olimpiade?”


“Yah lumayan,” jawab Kinan santai.


“Keren banget!” Kata Barra dengan semangat. “Terus Kakak juga sering juara kelas?”


“Haha ... Ada apa? Kenapa tiba-tiba antusias begitu?” Kinan masuk perangkapnya.


“Ya ... Siapa tahu Barra jadi ikut termotivasi, kan?” alibinya. “Jadi ceritakan waktu Kakak masih sekolah.”


“Hmmm ... Gak ada yang istimewa, sama seperti anak lain. Belajar, berteman, ikut olimpiade sama organisasi. Sudah.”


“Terima kasih Kak, Barra sungguh termotivasi. Horeee,” sarkas Barra dengan nada datar.


Kinan tertawa. Puas dengan reaksi adiknya.


“Ayolah Kak. Kalau semalas itu bercerita, setidaknya tunjukkan piala-piala yang Kakak menangkan."


"Bukti adalah motivasi yang lebih kuat daripada kata-kata," sambungnya.


Tawa Kinan terhenti, ekspresi wajahnya berubah dingin. Kinan berbalik membelakangi Barra.


“Tidak ada guna melihatnya. Belajar saja sebisamu. Benda itu tidak lebih dari rongsokan.”


Mendapat tanggapan negatif dari Kinan, membuat Barra semakin yakin piala itu adalah sebuah petunjuk penting.


Jika diingat-ingat sejak pertama Barra masuk ke rumah ini, dia tidak pernah melihat satupun piala yang terpajang.


Rumah dengan perabotan sederhana, tanpa banyak pajangan bahkan tidak ada foto keluarga.


......................


Barra kembali ke dalam kamarnya. Membuka laci meja belajar, di mana dia menyimpan piala Kinan. Barra memperhatikan setiap detailnya.


Kemudian, Barra menulis di buku fakta-fakta temuan serta pertanyaan yang muncul.


Pertama, Seseorang dari masa lalu Kinan bernama Jaya.


Hubungan, belum diketahui. Kedua, Piala Kinan dan fakta bahwa kakaknya tidak menyukai benda itu.


Ketiga, Kinan yang meminta ayah menikah dengan ibunya. Alasannya belum diketahui.


Keempat, tidak ada foto keluarga dan Barra belum pernah melihat rupa ibunya Kinan.


Dulu Barra pikir cara untuk menyatukan Kinan dengan ibunya, dengan menghilang dari hidup Kinan.


Selama ini, orang-orang di sekitar terus menyalahkannya. Sebab tidak mungkin menyatukan anak dari mantan suami, dengan ibunya Kinan dalam satu rumah.


Komentar negatif yang Barra dapat dari sekitar, membuat Barra yakin kalau dirinya penghalang kebahagiaan Kinan.


Namun Kinan selalu meyakinkan Barra, kalau dia adalah salah satu sumber kebahagiaannya. Ucapan Kinan cukup membuat Barra bertahan.


Pernah satu kali, Barra sangat tertekan hingga dia izin pada Kinan untuk tinggal sendiri. Berpisah dari kakaknya. Saat itu Barra baru kelas tujuh SMP.


“Barra kamu masih terlalu kecil untuk tinggal sendiri. Nanti kalau sudah lulus SMA, Kakak tidak akan melarang jika kamu ingin mengeksplor duniamu.”


“Tapi gara-gara Barra, Kakak harus tinggal terpisah dengan ibu Kakak. Kalau Barra pergi-”


“Barra itu bukan salahmu. Tinggal terpisah adalah pilihan terbaik untuk kami,” Kinan bicara tanpa menatap mata Barra.


“Kalau kamu pergi, Kakak akan tinggal sendirian. Apa Barra ingin Kakak sedih?” bujuk Kinan dengan mata berkaca-kaca.


Melihat kakaknya sedih, hatinya luluh. Barra menggeleng kuat-kuat. “Maafkan Barra Kak.”


Sejak saat itu. Mereka tidak pernah lagi membahasnya. Inilah alasan kenapa Barra harus mencari tahu masa lalu.


Sebenarnya apa yang terjadi antara Kinan dan ibunya? Mengapa Kinan bersikeras tinggal terpisah meski dia merindukan ibunya?


Apakah ada alasan selain kehadiran Barra di tengah-tengah mereka?


Potongan-potongan puzzle yang Barra kumpulkan masih sangat sedikit.


Barra menyadari banyak hal yang dia tidak ketahui tentang Kinan. Perjalanan Barra masih sangat panjang.


......................


Akhir pekan tiba, Barra tiduran di kasur. Tubuhnya terasa remuk sebab hampir setiap hari dalam satu pekan latihan Basket.


Amar memperketat jadwal mereka. Ditambah lagi Barra juga terus berusaha menggali informasi dari sekitarnya, meski sering menemui jalan buntu.


Suara ketukkan dari luar sangat mengganggunya. Malas sekali Barra melangkahkan kaki. Dia tutup telinganya dengan bantal. Suara pintu dibuka, Kinan yang melakukannya.


Jam menunjukkan pukul 09.12 pagi. Barra menguap, matanya mulai terpejam. Tiba-tiba sebuah sesuatu menimpa tubuhnya dengan keras.


Membuat Barra meringis kesakitan.


“Abaaaang.” Suara anak kecil terdengar.


“Eh? Yusuf. Datang kesini sama siapa?” Barra memindahkan tubuh anak kecil itu dari atas badannya.


“Sama Mamah,” jawabnya.


Yusuf adalah adik sepupu Barra. Anak dari tante Nilam, adik bungsu ayah Kinan dan Barra. Meski Barra tidak menyukai tantenya.


Barra tetap akrab dengan sepupunya, terutama Yusuf. Kinan mengajarkan pada Barra untuk menjaga tali silaturahmi.


Sekalipun pada keluarga ayah yang memperlakukan mereka dengan kurang baik. Kinan berusaha menjalankan ajaran agamanya sebaik mungkin.


Prinsipnya sederhana, kita tidak ditanya bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi kita ditanya, bagaimana kita memperlakukan orang lain.


Selagi Allah ridho maka itu sudah cukup.


“Awas ya!” Barra mengejar Yusuf yang berlarian di kamarnya. Sedang anak itu berlari sambil tertawa.


“Kena kau! Mau lari kemana?” Barra menangkap Yusuf.


Dia menggigit tangan Barra hingga bisa terlepas dari cengkramannya. Kembali berlarian sambil mengejek.


Barra melemparkan diri ke kasur. Kelelahan.


“Nanti ya. Sekarang Bang Barra tidur dulu.”


“Gak mau! Ayo Baaaang!” Terus saja, Yusuf menarik tangan Barra.


“Abang Barra belikan es krim mau?”


“Mauuu! Es krim coklatnya dua.”


“Oke, tapi ada syaratnya. Kalau sudah dibelikan. Yusuf makan es krim saja, biarkan Bang Barra tidur. Janji?”


Yusuf mengangguk. Barra mengacak-ngacak puncak kepala Yusuf. “Anak pintar.”


Mereka berjalan menuju ruang tamu seraya bergandengan tangan. Di sana Kinan tengah berbicara dengan Nilam.


“Masa segitu saja tidak bisa!” Suara dengan nada meninggi menekan suasana.


“Kinan minta maaf Tante. Sekarang ini, Kinan juga perlu dana untuk mengurus bisnis.”


“Itu salahmu sendiri! Sudah enak kerja dengan gaji tinggi, malah sok-sokkan keluar segala. Memang kamu pikir cari kerja gampang!”


Barra menutup kuping Yusuf dan berjalan memutar ke arah pintu samping. Meski tidak sekeras sebelumnya percakapan Kinan dan Nilam masih terdengar.


“Kinan cuma bisa pinjamkan segini.” Kinan menyodorkan uang dengan jumlah setengah dari permintaan tantenya.


Cepat Nilam mengambil uang tersebut. “Ya sudah. Mau bagaimana lagi,” keluhnya.


Barra pergi ke minimarket terdekat. Membelikan es krim pada adik sepupunya. Pikiran Barra masih saja tidak karuan.


Tantenya hanya datang jika ingin meminjam uang. Terlebih selalu berperilaku kasar. Jika Barra ingin membalas, Kinan selalu menahannya.


Barra kembali dari minimarket, ingin membawa Yusuf masuk. Tante dan Kinan keluar, sehingga mereka bertemu di depan pintu.


Nilam masih mengoceh, mencela ibunya Kinan. Ekspresi marah Barra membuat Yusuf takut.


“Coba dulu kakakku tidak menikahi ibumu, dia mungkin bisa hidup lebih lama." Menghela napas.


"Hidup kami juga gak akan susah begini,” ucap Nilam yang belum menyadari kehadiran Barra.


“Mamaaah.” Yusuf berlari ke arah ibunya.


“Eh sayang. Ayo kita pulang,” nada bicara Nilam langsung berubah lembut.


Yusuf melepas pelukkan pada ibunya. Menghampiri Kinan. “Kak Kinan, Yusuf pulang dulu. Assalamualaikum.”


Kinan tersenyum. “Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan Yusuf.”


“Siap Kak Kinan,” jawabnya.


“Baang, Yusuf pulang.” Ucapnya memberanikan diri mendekati Barra.


“Iya. Nanti kita main lagi, Oke.” Barra memasang wajah tersenyum, seraya memberi tos.


“Okee.” Yusuf berhenti takut dan ikut tersenyum.


Ketika Nilam ingin memasuki mobil. Barra menghampirinya. Membisikkan sesuatu pada tantenya. Pembicaraan itu tidak terdengar oleh Kinan.


......................


Sesuai perjanjian, Barra bertemu dengan Nilam di sebuah kafe sore itu. Barra memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh Nilam.


Barra meminta Nilam membawakan foto ibunya Kinan dan menjawab pertanyaannya masalah keluarga mereka.


Sebagai gantinya Barra akan memberikan uang yang diperlukan Nilam.


Nilam memberikan selembar foto pernikahan. Di sana ada ayah dan ibunya Kinan. “Mana uangnya?” tanya Nilam.


“Barra akan berikan setelah puas dengan jawaban Tante.”


“Memangnya untuk apa kau mencari tahu masa lalu? Sudah bagus Kinan mau memungutmu. Nikmati saja hidupmu sekarang.”


Barra biarkan saja omongan itu berlalu. “Ibu Barra bilang, kak Kinan yang meminta ayah untuk menikahinya. Apa itu benar?”


“Ha? Hahaha ... Apa ibumu sudah kehilangan akal? Sebegitu ingin terlihat baik di depan putranya. Kasihan.”


“Tante, Barra disini ingin tahu kebenaran bukan mau mendengar kata-kata sampah.”


“Barra jangan tidak sopan sama orang tua! Jaga omongan kamu!” Nilam marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah Barra.


“Sudahlah Tente, jawab saja. Tante juga gak mau lama-lama di sini, kan.”


Nilam mendengus kesal.


“Vina menuduh kakakku berselingkuh dengan ibumu. Dia minta cerai dan membawa Kinan pergi bersamanya."


"Setahun kemudian, kakakku menikah dengan ibumu.” Nilam menghela napas.


“Kami setuju saja. Lebih baik dia bisa terlepas dari perempuan tidak waras itu dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi ternyata ... .” Nilam menahan kata-katanya.


“Hah ... Kasihan sekali kakakku. Perempuan kedua yang dia nikahi, malah membawa masalah dengan mantan suaminya.”


Barra terkejut mendengar penjelasan Nilam. Melihat reaksi Barra, Nilam dapat menerka kalau ibunya Barra tidak menceritakan bagian ini.


“Sepertinya Laras menyembunyikan ini darimu. Asal kamu tahu. Mantan suami ibumu itu kriminal."


"Alasan terbesar ibumu menikah, karena ingin bersembunyi dari mantan suaminya.”


“Tante tolong jangan berbohong!” tolak Barra tidak terima.


“Terserah kamu mau percaya atau tidak, itulah faktanya. Mungkin saja ibumu tidak ada saat pemakaman sebab diculik mantan suaminya.”


Barra mengepalkan tangannya geram. Nilam melanjutkan perkataannya.


“Pikirkan dengan logis, mana ada anak yang menyuruh ayahnya menikah dengan selingkuhan.”


......................


Barra membenturkan pelan belakang kepala ke dinding seraya bersandar. Tangannya memegang foto ayah dan ibu Kinan.


Semakin Barra menggali masa lalu, makin banyak informasi yang tidak dia mengerti. Apa Barra harus mempercayai perkataan ibu atau tantenya.


Suara azan isya berkumandang. Barra menyelipkan foto ke dalam buku, yang ada di meja belajarnya sebelum pergi ke masjid.


Usai sholat Barra tidak buru-buru pergi, dia mengambil Al Qur’an dan membacanya. Lantunan ayat suci menenangkan hatinya.


Barra pulang ke rumah. Saat dia membuka pintu, Kinan menunggu di ruang tamu. Berdiri sambil memegang foto yang Barra selipkan dalam buku.



Barra panik mencari-cari alasan. Sebelum sempat menyusunnya, Kinan sudah bertanya.


“Barra dari mana kamu dapat foto ini?”


“Dari tante Nilam,” jawab Barra jujur.


“Barra. Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masa lalu,” tutur Kinan serius.


“Maaf Kak. Barra cuma penasaran dengan wajah ibu Kakak.” Barra menunduk.


“Ya sudah, kamu masuk dan beristirahatlah.” Kinan berjalan pergi membawa foto itu.


“Tunggu kak! Tolong kembalikan foto itu.”


“Barra-” Belum selesai Kinan bicara, Barra memotongnya.


“Sebenarnya kenapa? Kenapa Barra tidak boleh tahu!”


Kinan mengerutkan dahinya.


“Ada hal yang lebih baik tetap jadi rahasia.” Kinan kembali melangkah pergi.


“Kata ibu, Kakak yang meminta ayah menikahinya. Tapi tante bilang ibu adalah selingkuhan ayah. Sebenarnya apa yang terjadi?”


Barra mengepalkan tangannya, rasa sesak memenhuni dada.


“Masa lalu tidak akan bisa berubah. Lupakan itu dan fokus saja hidup di masa sekarang,” Kinan pergi meninggalkan Barra sendirian.


Belum selesai dengan perdebatannya dengan Kinan, tiba-tiba Barra mendengar suara ketukan pintu.


Saat dia membukanya. Sebuah bungkusan paket hitam berada di sana.


Barra melihat sosok mencurigakan berlari, dia pun bergegas mengejarnya. Namun Barra kehilangan jejak orang itu di persimpangan jalan.


Sebab jalan yang gelap Barra tidak melihat wajahnya dengan jelas. Barra kembali ke dalam rumah membawa paket tersebut.


Sebelum membukanya, Barra mengirim foto paket itu pada Qais. Qais bilang mungkin saja itu orang yang sama dengan sebelumnya.


Dia meminta Barra berhati-hati membukanya. Juga menyimpan semua benda yang ada, termasuk bungkus paket di tempat yang aman.


“Replika pesawat?” ucap Barra penuh tanya.


Barra juga menemukan kertas yang sama.


Bertuliskan nama Jaya dan nomor telepon.


Barra kembali memfoto benda itu dan mengirimnya pada Qais.


......................